(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 34


__ADS_3

"Bagaimana, Dokter?" Caesar bertanya saat tim medis yang menangani Cempaka keluar dari ruang pemeriksaan.


"Anda tidak perlu cemas, Tuan. Nona tidak apa-apa, tidak ada masalah apapun pada tubuhnya. Hanya saja ... entah apakah ini kabar baik ataukah kabar buruk." Dokter tersebut membuat bingung Caesar.


"Katakan, Dokter. Hanya saja apa?" cecar Caesar tak sabar.


Lucy dan Arjuna di belakangnya ikut merasa cemas. Mewanti-wanti apa yang akan dikatakan dokter tersebut.


"Mmm ... sebelumnya saya minta maaf jika yang saya katakan ini akan terdengar mengejutkan. Nona sedang mengandung, untuk lebih pastinya Tuan bisa membawa Nona ke dokter spesialis kandungan," ujar dokter tersebut sembari menilik wajah Caesar.


Laki-laki itu mematung, seolah-olah tak percaya pada pendengarannya sendiri.


"A-apa? Ja-jadi dia hamil?" tanya Caesar terbata.


Dokter tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


"Benar, Tuan. Sekarang Nona sedang beristirahat. Beberapa saat lagi beliau akan terbangun dari tidurnya. Saya permisi! Silahkan, Anda sudah boleh masuk!" Dokter tersebut mempersilahkan Caesar untuk masuk ke dalam. Sementara dia kembali memeriksa pasien lainnya.


"Arjuna, kau kembali saja ke kantor. Handle semua pekerjaanku, aku akan di sini menemaninya," titah Caesar sebelum masuk ke dalam ruangan.


Hatinya bergetar bahagia, selama bertahun-tahun dia ingin mendengar kabar itu dari mereka yang berseragam putih, akhirnya telinga itu tak lagi sepi. Berdenging riang sebagaimana hatinya yang berbunga.


"Kau, ikut aku ke dalam!" Perintah lanjutan yang ia tujukan pada Lucy.


"Baik, Tuan." Caesar masuk diikuti Lucy, sedangkan Arjuna kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan sang tuan.


Caesar duduk di kursi tepi ranjang, ruang VVIP yang terasa begitu nyaman. Seperti di rumah sendiri. Digenggamnya tangan Cempaka, diciuminya sesekali. Tak puas, dia beranjak naik ke atas ranjang, berbaring di sisi Cempaka dan mendekapnya.


Merasa tak enak hati, Lucy memilih beranjak dari tempat itu dan duduk di sofa lain berhadapan dengan televisi. Ia menghela napas, menyalakan benda tersebut dengan volume kecil saja. Guna mengusir rasa bosan.


Dari tempatnya itu, samar-samar ia mendengar suara lirih sang tuan.

__ADS_1


"Kau begitu sempurna, Champa. Darimu aku merasakan sesuatu yang beda yang selama ini tak pernah aku rasakan. Kau menghadirkan bunga-bunga indah di dalam hatiku, menabur wewangian yang semerbak dan harum. Rasanya aku telah jatuh cinta lagi." Caesar mengeratkan dekapan pada tubuh Cempaka yang masih terlelap karena pengaruh obat.


Ia juga menciumi tengkuk wanita itu, menyesapnya sesekali. Tangannya yang melingkar di pinggang Cempaka, mengelus-elus perut sang istri dengan lembut. Di dalam sana, akan tumbuh seorang anak. Benih yang ia tanam selama beberapa Minggu terakhir.


Lucy melirik mereka dari pantulan televisi, bibirnya tersenyum samar. Tak pernah sekalipun ia melihat wajah sebahagia itu pada Caesar. Cempaka membawa perubahan pada dirinya juga rumah yang mereka tempati.


Tuan terlihat begitu bahagia. Mungkin karena begitu menginginkan anak, sedangkan nyonya tak kunjung mengandung anak untuk beliau. Mudah-mudahan Anda terus berbahagia, Tuan, bersama Nona. Tentu saja.


****


Sementara Eva, ia pergi membawa kekesalan ke sebuah tempat bertemu dengan orang-orang yang selama ini bekerjasama dengannya.


"Apa lagi yang terjadi padamu?" tanya rekan Eva sembari memberikan segelas jus segar kepadanya.


"Tidak adakah minuman yang lain?" sengit Eva mendelik tak senang.


Ia tertawa, meletakkan gelas tersebut di hadapan wanita itu.


"Kau tahu Caesar tidak menyukai aroma menyengat dari minuman itu. Aku khawatir dia akan marah besar kepadamu dan membuat semua rencana yang sudah kau susun hancur berantakan." Dia menjatuhkan punggung pada sandaran kursi, menatap remeh pada wanita di hadapannya.


Ia menghela napas, berpikir tentang permintaan Eva yang terdengar sedikit sulit.


"Ini sedikit sulit. Jikapun ada wanita yang tengah hamil, belum tentu dia mau menyerahkan bayinya," ujarnya menimbang kemungkinan yang akan terjadi.


"Bisa saja. Kau janjikan dia apa saja yang tak ia miliki. Rumah, misalnya? Atau uang?" Eva menyeringai, semuanya akan tuntas bila sudah berkaitan dengan uang.


"Yah. Kau benar. Semuanya memang menjadi lebih mudah bila sudah ... uang!"


Mereka tergelak bersama, menertawakan rencana busuk mereka. Sungguh, Eva tak dapat lagi menunggu. Dia sudah terlalu bosan hidup di dalam kebohongan.


****

__ADS_1


Di rumah, tuan Arya keluar dari kamarnya karena merasa jenuh. Ia berniat untuk berbincang dengan Cempaka karena merasa nyaman dengan gadis itu.


"Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Yudi membungkuk di hadapan tuan Arya. Siaga membantu laki-laki tua itu.


"Ah, Yudi. Kebetulan, di mana gadis itu?" tanya tuan Arya dengan senyum tersemat hangat.


"Maksud Anda nona Cempaka?" Yudi balik bertanya khawatir salah menebak.


"Ah, iya. Kau benar, dia. Cempaka. Di mana? Aku ingin berbincang dengannya," ujar tuan Arya semakin lebar senyumnya terukir.


"Nona sedang keluar, Tuan, bersama Lucy. Mungkin sore nanti baru akan kembali. Anda butuh teman? Biar saya yang menemani?" tawar Yudi mengiringi langkah tuan Arya yang berjalan ke teras depan.


Keduanya duduk menunggu waktu menikmati saat siang hari dengan secangkir kopi yang mengepulkan asap.


"Apakah dia pelayan di rumah ini?" tanya tuan Arya memulai penyelidikan.


Yudi berdekhem, tersedak kopinya sendiri. Gugup perlahan datang, rasa cemas pun mulai merayap ke dalam hatinya.


"Mmm ... ya, dia hanya pelayan di rumah ini, Tuan. Pelayan nyonya Eva pribadi dan ditugaskan untuk membuat masakan kesukaan keluarga ini." Ampuni saya, Tuhan. Tolong maafkan saya, Nona.


Yudi tersenyum canggung untuk menutupi kebohongannya. Tuan Arya tercenung beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala.


"Terakhir aku berkunjung dia belum ada di sini, apa mungkin dia masih sangat baru? Aku tertarik dengan cerita kehidupannya," ujar tuan Arya sembari tersenyum kala mengingat Cempaka yang menangis saat berkisah.


Yudi sendiri tidak tahu seperti apa kehidupan Cempaka. Dia hanya tahu wanita itu adalah seorang istri yang rahimnya disewa Eva untuk melahirkan seorang anak di dalam keluarga itu.


"Anda benar, Tuan. Mungkin baru memasuki bulan kedua dia di sini. Yah, meski singkat, dia sudah banyak sekali belajar dan terbukti dapat menyuguhkan masakan dengan citarasa yang sama." Yudi menimpali, kali ini senyumnya terlihat lebih alami.


"Kau benar, Yudi. Masakannya sesuai dengan lidahku. Sup jamur itu mengingatkan aku pada mendiang ibu Caesar. Aku merindukan dia, Yudi. Aku ingin pergi ke pemakaman. Bisa kau mengantarku?" Tuan Arya menurunkan pandangan tepat di kedua manik Yudi.


Kepala pelayan itu menyembunyikan banyak kesedihan kala mereka membahas soal ibu Caesar.

__ADS_1


"Mari, Tuan! Sudah lama sekali rasanya saya tidak mengunjungi beliau," ucap Yudi dengan yakin.


Keduanya pergi setelah memberi kabar kepada Caesar.


__ADS_2