
"Selamat pagi! Bagaimana tidur kalian? Nyenyak?" tanya tuan Arya saat Cempaka dan Caesar tiba di ruang makan bersama kedua anak mereka.
Senyum-senyum tipis mengembang di kedua belah bibir mereka, rona merah pun tercipta dengan sendirinya tanpa dipaksa.
"Yah, begitulah, Yah. Sudah lama rasanya aku tidak tidur nyenyak seperti semalam," sahut Caesar sembari melirik ke arah Cempaka.
Tuan Arya menghela napas, tanpa melihat pun dia tahu seperti apa wajah mereka. Di sana, Lucy dan ibu pengasuh pun ada. Arjuna pun duduk di bangkunya sambil memangku bayi Evan. Beruntung, bayi Evan sudah dekat dengan asisten Caesar itu. Dia tenang dan anteng di sana.
"Yah, Ayah mengerti. Sudah, makanlah. Bukankah kau akan pergi ke kantor hari ini untuk mengurus semuanya," ucap tuan Arya sambil melanjutkan makannya.
Suasana pagi yang berbeda, terasa di hati mereka. Lucy tersenyum haru melihat kemesraan yang ditunjukkan keduanya. Perhatian untuk kedua anak mereka, membuat siapa saja akan merasa iri.
"Ingat, Caesar. Kau memiliki tiga orang anak sekarang. Jangan kau abaikan yang satunya." Suara tuan Arya berdengung seperti alarm yang mengingatkan. Hampir dia lupa kepada satu anaknya itu.
__ADS_1
"Yah, tentu aku tidak akan melupakannya. Dia juga anakku, tapi yang di sini ... aku baru memangkunya," ucap Caesar sembari melirik bayi Zia di pangkuannya.
Rasanya lengkap sudah, ada bayi perempuan dan laki-laki yang akan mengisi hari-hari mereka untuk ke depannya. Apa lagi? Caesar tidak membutuhkan yang lain lagi.
****
"Ayah berangkat kerja dulu, ya. Kalian baik-baik di rumah bersama Mommy kalian. Tidak, rasanya aku tidak ingin pergi bekerja. Aku ingin di rumah bermain bersama mereka," ucap Caesar mengeluh. Matanya menatap bergantian kepada ketiga anak di gendongan tiga orang wanita berbeda usia.
Bayi Zio bersama Lucy, bayi Zia bersama ibunya, dan Evan bersama ibu pengasuh. Ketiga bayi itu anak yang harus dijaganya, dirawat, dan dibesarkan dengan pendidikan yang bagus.
Laki-laki itu menunduk demi dapat melihat wajah keduanya yang sedikit memiliki kemiripan. Helaan napas terhembus, enggan melangkahkan kaki keluar rumah karena masih merindukan mereka.
Caesar memeluk tubuh Cempaka, mencium dahinya. Disusul dengan kecupan pada dahi sang anak, kemudian beralih pada dua yang lain.
__ADS_1
"Hati-hati!" Cempaka melambaikan tangan melepas kepergian suaminya. Ia juga mengangkat tangan sang anak menggerakkannya seperti lambaian.
Caesar menjatuhkan punggung pada sandaran, bibirnya mengulas senyuman, rasa bahagia benar-benar muncul di permukaan wajah yang beberapa hari terakhir selalu murung dan tampak emosi.
"Ke salon, Arjuna. Aku ingin memperbaiki wajahku. Rasanya, sudah lama aku tidak memperhatikan ini." Caesar mengusap dagunya yang ditumbuhi cambang tipis.
Teringat kejadian semalam, di mana Cempaka menggeliat kegelian karena sentuhan bulu-bulu itu.
"Kenapa kau tidak mencukurnya? Rasanya geli." Ucapan Cempaka semalam kembali mengiang membuat Caesar tersadar bahwa sudah terlalu lama membiarkan dirinya tak terurus.
"Baik, Tuan. Apapun itu!" Arjuna tersenyum senang, ikut merasakan kebahagiaan sang tuan. Mobil berbelok menuju salon langganan Caesar, memang sudah lama rasanya mereka tidak menyambangi tempat itu.
"Selamat datang, Tuan! Kenapa baru datang lagi? Rasanya saya sampai rindu karena sudah beberapa waktu Anda tidak datang," cerocos pemilik salon menyambut Caesar dengan sangat ramah.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum, seraya mendaratkan bokong di tempat yang disediakan secara khusus untuknya.
"Yah, aku hanya malas saja. Sekarang, aku sadar bahwa penampilan itu juga sangat penting," sahut Caesar sambil melempar senyum kepada pemilik salon. Ia bersiap untuk memperbaiki wajahnya yang kusam dan tak sedap dipandang. Semata-mata untuk menyenangkan Cempaka.