
"Manda, bagaimana jika mereka ingin mengambilnya darimu? Apa kau tidak takut kehilangan anakmu?" ujar Lucy mengutarakan kecemasannya kepada Cempaka.
Wanita itu tetap terlihat tenang, ia berbalik menatap Lucy dengan senyum tersemat manis.
"Kau lupa apa yang dikatakan tuan besar saat di rumah dulu? Anak-anakku tidak akan pernah diakui oleh keluarga Arya karena pernikahan kami tidak tercatat secara sah. Mereka juga tidak berhak atas anakku, begitu pula sebaliknya. Jadi, apa yang kau khawatirkan, Lucy? Tenanglah, mereka tidak akan berani menjilat lidah mereka sendiri."
Cempaka menyeringai, sampai kapanpun seorang tuan Arya tak akan pernah bisa merampas anak-anaknya. Hal tersebut tetap tidak membuat hati Lucy menjadi tenang, kekhawatiran tetap ada dan terus menghantuinya.
"Sudahlah, tenang saja. Tuan Arya sudah memiliki satu cucu di rumah Caesar, itu saja sudah cukup baginya." Cempaka menepuk bahu Lucy, memenangkannya dari kecemasan.
Suara tangisan bayi menghentikan obrolan mereka, Cempaka berpamitan kepada Lucy untuk pergi ke kamarnya. Bayi yang sempat tertidur, lantas terbangun karena tak mendapati sosok sang ibu di sana.
Lucy menghela napas, mengikuti Cempaka ke kamarnya, dari ambang pintu ia menatap cemas bayi yang tengah disusui ibunya. Ia khawatir keluarga kaya itu akan merampas bayi tersebut dari mereka. Lucy terlanjur menyayangi anak Cempaka seperti kepada cucu sendiri.
Semoga apa yang dikatakan Cempaka memang benar adanya. Mereka tidak akan pernah berani mengambil bayi itu.
Setelah puas memperhatikan ibu dan anak tersebut, Lucy kembali ke resort. Pikirannya tak tenang, terus gelisah bila mengingat tuan Arya yang menginap di tempat tersebut.
"Ibu! Ada apa?" tanya Dinda saat melihat Lucy yang berjalan lesu memasuki resort.
Wanita beranak dua itu menghela napas, seraya mendaratkan bokong di atas kursi resepsionis tempat anaknya berjaga.
"Di mana kakakmu?" tanya Lucy ketika tak mendapati sulungnya.
"Kakak di depan, ada apa?" Dinda mengerutkan dahi melihat sikap sang ibu yang membingungkan.
"Tidak ada, Ibu hanya bertanya. Kau bekerja dengan baik, tapi nona ingin kau melanjutkan sekolah. Saat awal tahun nanti, Ibu akan membawamu mendaftar sekolah. Ini keinginan nona, kau tidak boleh menolaknya." Lucy mengusap tangan si Bungsu.
__ADS_1
Gadis itu terlena dengan pekerjaan sehingga tak ingin melanjutkan sekolah. Namun, karena itu adalah permintaan Cempaka, ia mengangguk setuju meksipun malas. Lucy tersenyum, kembali berdiri meninggalkan tempat tersebut dan menghampiri anak sulungnya di depan.
"Gilang!"
Pemuda seusia Cempaka itu menoleh, tersenyum pada ibunya.
"Ada apa, Bu?" Ia mendekat dan berdiri sejajar dengan wanita tersebut.
Lucy mengusap-usap punggung sang anak, sambil tersenyum penuh harap. Tak ada yang dia katakan, hanya menyentuh lembut hatinya lewat tatapan mata.
"Ada masalah?" Pertanyaan darinya membuat Lucy tertegun. "Katakan, Bu. Apa ada masalah dengan nona?" Ia menekan pertanyaannya sambil memegang tangan Lucy.
Sang ibu menghela napas, menatap sendu kedua manik anak sulungnya.
"Di dalam ada tuan Arya menginap. Kau tahu siapa tuan Arya?" Lucy bertanya karena siapapun pasti mengenal nama besar itu. Sayangnya, kedua anak Lucy tak pernah menjumpai sosok tersebut.
Gilang menganggukkan kepala ragu, mengingat-ingat setiap tamu yang datang.
Pemuda itu menganggukkan kepalanya lagi, mendengar hal tersebut dia sendiri ikut cemas.
"Ibu tidak menyalahkanmu karena sudah menerima mereka sebagai tamu. Ibu hanya meminta padamu agar tetap waspada di dekat nona karena tidak menutup kemungkinan mereka akan menemukannya." Lucy mengusap kedua bahu anaknya, tak ingin pemuda itu merasa bersalah karena sudah menerima tamu sembarangan.
"Lalu, nona sendiri bagaimana, Ibu?" tanya sang anak ikut gelisah. Mereka semua menyayangi Cempaka dan anaknya, tak ingin berpisah ataupun dipisahkan.
"Entahlah. Dia terlihat sangat tenang, dia yakin tuan Arya tidak akan berani berbuat yang macam-macam terhadap anaknya. Kita hanya harus waspada, Ibu khawatir akan ada kejadian tak terduga." Lucy mengharapkan anaknya dapat diandalkan.
Gilang menganggukkan kepala lagi, bertekad untuk melindungi Cempaka dari apapun itu. Lucy kembali ke dalam, ke ruangannya untuk menyendiri. Sementara Gilang memberitahu ayahnya perihal kedatangan tuan Arya.
__ADS_1
"Bukankah kau yang menerima tamu?" tanya ayahnya sesaat setelah Gilang bercerita.
"Iya, Ayah. Itu karena aku tidak mengenal seperti apa sosok tuan Arya. Aku hanya menerima tamu siapa saja yang datang." Gilang terlihat gelisah, mulai merasa bersalah karena keteledorannya.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ingat saja kata-kata ibumu." Sang ayah menepuk bahu pemuda itu, mereka akan bersama-sama menjaga Cempaka.
Padahal, belum tentu juga tuan Arya akan melakukan hal buruk terhadap cucunya. Akan tetapi, waspada tetap diperlukan sebagai jaga-jaga jika terjadi hal yang tak diinginkan.
****
Hari berganti malam, tuan Arya terlihat segar setelah membersihkan dirinya. Ia bersiap untuk keluar pergi makan malam dan menikmati keindahan pantai di malam hari. Di luar kamarnya, sang sekretaris sudah berdiri menunggu. Tanpa mengetuk pintu karena khawatir akan mengganggu.
"Kau sudah di sini rupanya. Bagaimana dengan makanan di restoran bawah? Jika tidak sesuai selera, sebaiknya kita mencari tempat makan lain." Tuan Arya tersenyum ramah pada laki-laki yang usianya hampir setara dengannya itu.
"Tidak, Tuan. Saya yakin Anda akan menyukainya. Saya sudah mencicipi satu menu siang tadi, dan ... dan langsung jatuh hati pada apa yang mereka suguhkan. Pelayanan di sini juga patut diacungi jempol, mereka ramah dan sopan. Mari, Tuan!"
Sekretaris tuan Arya mengajaknya masuk ke dalam lift untuk sampai di lantai satu. Ada beberapa pengunjung juga yang ikut di dalamnya. Kamar-kamar telah penuh, dan tidak menerima tamu yang ingin menginap lagi untuk sementara waktu.
"Kebanyakan tamu di sini adalah pasangan muda. Mungkin mereka sedang berbulan madu, menikmati waktu-waktu berdua," bisik tuan Arya kepada sekretarisnya.
"Benar, Tuan. Sangat jarang sekali tamu yang menginap yang sudah berkeluarga. Hanya segelintir saja," balas sang sekretaris sambil melirik tamu yang berada di dalam lift bersama mereka.
Sama seperti keduanya, para tamu itupun pergi ke restoran lantai bawah untuk makan malam. Mereka memilih tempat duduk, menunggu para pramusaji datang menawarkan menu.
Dengan gaya bahasa asing, deretan menu itu ditulis sehingga menyamarkan tuan Arya pada masakan yang selalu dibuat Cempaka di rumahnya. Ia menunjuk beberapa menu juga minuman, dan memberikannya kembali kepada pramusaji yang datang.
"Kau yakin masakan di sini enak? Biasanya hanya masakan sederhana, ataupun makanan bintang lima dengan harga fantastis," ujar tuan Arya kembali bertanya.
__ADS_1
"Hanya namanya saja yang terlihat modern, Tuan. Untuk masakannya lebih kepada masakan rumahan yang diolah dengan sempurna. Rasanya akan menarik kita ke masa lalu, masa di mana kita kecil dan menikmati hidangan orang tua." Sekretaris tuan Arya menggambarkan.
Mendengar itu, lidah sang tuan tak sabar ingin segera mencicipi. Seperti apa masakan yang diceritakan sekretarisnya itu.