(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 84


__ADS_3

"Tidak! Jangan!"


Gyan meronta tak jelas, meracau tak karuan, sampai-sampai mendorong tubuh Eva yang berada di atasnya hingga terjungkal ke lantai.


Brugh!


"Aww!" Eva memekik sambil meringis, merasakan sakit akibat bokong yang menghantam lantai.


Gyan beringsut mundur hingga menabrak kepala ranjang. Menarik selimut menutupi tubuh polosnya yang nyaris menyatu dengan Eva. Sementara wanita itu, masih meringis di lantai sambil mengusap bokongnya.


Dengan wajah cemberut dan tubuh tanpa sehelai benangpun, Eva berdiri. Wajahnya merah padam karena emosi, menatap nyalang pada Gyan yang telah berani mendorongnya hingga terjatuh.


"Apa yang kau lakukan?!" bentak Eva sembari menarik selimut yang menutupi tubuh pemuda itu.


"Tidak! Jangan! Tolong, jangan ganggu aku! Tolong, jangan ganggu aku! Pergi!" racau Gyan memegang erat selimut di dadanya.


Mendengar itu Eva mengernyit, matanya menelisik Gyan yang tampak meringkuk ketakutan. Dia seperti binatang pengerat yang terpojok dan lemah, tak mampu melawan.


"Jangan! Kumohon, jangan ganggu aku! Pergi! Jangan ganggu aku!" Gyan terus meracau tak jelas, membuat Eva kebingungan.


Melihat ada yang aneh dengan pemuda di ranjang itu, Eva memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dan bergegas mengenakannya. Dia menghampiri Gyan, mencoba menyentuh pemuda itu.


"Gyan-"


"Tidak! Kumohon, tinggalkan aku! Aku akan mencarinya, aku akan mencarinya. Pergi! Jangan ganggu aku!" Suaranya semakin bergetar ketakutan, dia bahkan menutupi wajah dengan selimut.


Seperti melihat hantu, Gyan menepis tangan Eva yang hendak menyentuhnya. Wanita itu semakin bingung dengan reaksi Gyan yang tak biasa. Apa yang terjadi pada pemuda itu? Eva berdiri, mengepalkan kedua tangan dengan kesal. Mengira dia sedang bersandiwara.


"Aku tahu kau hanya berpura-pura karena ingin menghindariku, bukan?" Eva mencoba menarik selimut itu lagi, tapi Gyan semakin kuat mencengkeramnya.


Terjadi tarik menarik antara mereka, sekuat tenaga Eva melakukannya. Akan tetapi, tenaga Gyan tetap lebih kuat darinya. Eva menyerah, menatap nyalang dengan dada bergemuruh hebat.


"Baiklah. Jangan pernah menghubungiku lagi! Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku! Ingat itu, kau tidak akan mendapatkan apapun dariku!" sentak Eva penuh emosi.


Dia berbalik dan keluar dari kamar dalam keadaan yang kacau. Keinginan yang seharusnya tuntas, tak ia dapatkan. Gyan justru bertingkah aneh dan membingungkan.


"Eva! Kau akan ke mana? Bagaimana dengan Gyan?" seru Lisa saat melihat Eva yang melintasinya begitu saja.

__ADS_1


Eva tak acuh, terus melanjutkan langkah keluar rumah sehingga Lisa harus mengejarnya untuk dapat mengetahui apa yang terjadi.


"Eva!" Lisa menarik tangan Eva, mencegahnya untuk pergi.


Dengan kasar, istri Caesar itu menepis tangan Lisa dan melipatnya di perut. Dia memalingkan wajah kesal, enggan menatap Lisa.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat marah seperti itu?" tanya Lisa yang tak tahu apapun tentang anaknya.


Eva mendengus, berpaling murka pada ibu mertuanya itu.


"Kau tanyakan sendiri pada anakmu. Dia menjadi aneh hanya karena ingin menghindariku. Pergi dan tanyakan padanya!" ketus Eva kemudian berbalik dan pergi meninggalkan kediaman Lisa.


Lisa mematung, menatap Eva yang pergi membawa kemarahan.


"Apa yang terjadi dengan Gyan? Dia tidak pernah bercerita apapun tentang masalahnya? Aku harus menanyakan itu padanya," gumam Lisa masih berdiri di sana menatap mobil Eva yang perlahan meninggalkan gerbang.


Ia melengos masuk ke dalam, terus menuju kamar anaknya. Tanpa mereka tahu, sepasang mata memperhatikan dan merekam apa yang mereka bicarakan. Seorang utusan tuan Arya yang memata-matai Lisa dan anaknya.


"Gyan!" Lisa membuka pintu dengan kasar, membuat tubuh Gyan tersentak dan semakin mengkerut ketakutan.


Lisa yang awalnya ingin memarahi anak itu, urung dan bingung saat melihat keadaan Gyan yang terbungkus selimut dengan tubuh menggigil.


"Pergi!" Gyan mulai meracau, membuat Lisa semakin heran.


"Gyan!" Ia mendekat dan menyentuh tubuh anaknya, tapi Gyan dengan kasar menepis tangan itu.


"Jangan ganggu aku! Pergi!" tolak Gyan semakin kuat tangannya menahan selimut.


Dahi wanita itu mengernyit, bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan anaknya.


"Gyan, ini Ibu!" Lisa menarik sekuat tenaga selimut yang menutupi tubuh anaknya hingga tersibak bagian wajah Gyan.


"Ampun! Tolong ampuni aku! Aku tahu aku salah, aku minta maaf!" Gyan menutupi wajahnya dengan kedua tangan, kelopak terpejam rapat takut melihat wajah seseorang di hadapan. Semua dalam pandangan Gyan, wajah mereka menjadi wajah gadis yang dia nodai.


"Gyan!"


Plak!

__ADS_1


Lisa menarik tangan anaknya dari wajah, dan menamparnya dengan sangat kuat untuk menyadarkan pemuda itu dari halusinasi yang mengganggu.


"Sadar, Gyan! Ini Ibu!" teriak Lisa seraya duduk di tepi ranjang dan mengguncang kedua bahu anaknya dengan sangat kuat.


Perlahan tangis Gyan mereda, mendongak untuk menatap wajah sang ibu yang tampak gelisah dengan keadaannya.


"Ibu! Apa ini Ibu?" lirih Gyan bergetar.


Lisa menghela napas, menormalkan dadanya yang sempat bergemuruh karena emosi.


"Iya, ini Ibu. Kau pikir siapa?" jawab Lisa menatap kedua manik Gyan yang ketakutan.


"Ibu! Aku takut, Bu! Dia ... dia datang ingin membalas dendam. Tolong aku, Bu!" ucap Gyan setelah melabuhkan diri dalam pelukan ibunya.


Kerutan di dahi Lisa semakin dalam hingga kedua ujung alisnya nyaris menyatu. Dengan gerakan cepat, dia melepas pelukan Gyan dan menyelidik manik putranya.


"Dia siapa yang kau maksud? Katakan pada Ibu, Gyan. Dia siapa? Kau membuat Ibu bingung," pinta Lisa menahan tubuh Gyan dengan kuat.


Tangis pemuda itu semakin menjadi, dia harus menceritakan semuanya kepada Lisa.


"Di-dia ... dia Risa ...."


Gyan menceritakan semua tentang gadis bernama Risa dan apa yang dia lakukan padanya. Hal tersebut membuat Lisa terkejut karena Gyan tak pernah mengatakan apapun tentang gadis yang hamil olehnya.


"Bodoh! Seharusnya kau membicarakan ini dengan Ibu. Lalu, ke mana dia sekarang?" tanya Lisa ingin tahu.


Gyan menggelengkan kepala, dia pun tidak tahu di mana gadis itu berada.


"Aku tidak tahu, Ibu. Aku bermimpi dia datang bersimbah darah, wajahnya menyeramkan. Dia mengatakan, tak akan membuatku hidup dengan tenang." Gyan menangis mengisahkan tentang mimpinya.


"Aku kira dia sudah meninggal, Bu. Dia ... dia memintaku untuk menemukan anaknya, Bu. Anak aku dan dia, jika aku berhasil maka dia akan pergi untuk selamanya dariku. Tolong aku, Bu!" Gyan menggenggam tangan ibunya, menunduk menempelkan dahi pada lengan wanita itu.


"Ke mana kita harus mencarinya? Kau sendiri tidak tahu di mana keberadaan gadis itu? Apakah dia masih hidup atau sudah mati!" ketus Lisa kesal.


Gyan tak mampu menjawab, terus menangis dan meracau tak jelas. Sampai teringat pada pesan yang dia terima.


"Bu, dia bilang anak itu ada di dekatku, Bu. Sangat dekat, kemungkinan masih berada di lingkungan keluarga kita," terka Gyan mulai mengerti maksud pesan tersebut.

__ADS_1


Lisa tercenung, berpikir keras mencerna semua yang terjadi.


__ADS_2