(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 86


__ADS_3

"Tuan, Anda melihatnya?" tanya Arjuna saat lampu berubah warna hijau.


"Yah, aku sudah meminta Yudi mengirim orang untuk memata-matai mereka. Sudah lama aku curiga pada ketiganya. Apa kau mengetahui sesuatu?" Caesar melirik Arjuna, sedikit curiga kepada asistennya itu.


"Sebenarnya, iya, tapi saya belum memiliki bukti yang kuat untuk melaporkannya kepada Anda. Tunggu sampai semua bukti terkumpul, saya pasti akan memberikan laporannya," sahut Arjuna sambil tersenyum ke arah atasannya.


Caesar mendelik jengah, tapi laporan tanpa adanya bukti yang konkrit pun hanya akan menimbulkan masalah baru yang tak berujung. Untuk itu Caesar akan bersabar menunggu penyelidikan Arjuna selesai.


"Bagaimana perkembangan pencarianmu?" Caesar bertanya lagi, tentang Cempaka.


Arjuna menghela napas, dirasanya sangat sulit mencari keberadaan Cempaka meski sudah menyebar banyak orang ke seluruh penjuru.


"Belum ada, Tuan. Mereka belum menemukan titik terang keberadaan nona." Arjuna tak melirik, fokus ke jalanan.


Dia merasa bersalah kepada Caesar karena menyembunyikan fakta tentang kelahiran kembar itu. Bagaimana nanti jika Caesar tahu, sudah pasti dia harus bertanggungjawab untuk menjelaskannya.


Caesar menghela napas, melirik Evan yang tertidur di pangkuan ibu. Perjalanan jauh pun akan mereka tempuh, untuk pertama kalinya Evan melakukan perjalanan ini.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Caesar, pesan dari Yudi yang melaporkan tentang kepergian Eva.


"Mereka pergi ke rumah utama. Mungkin mereka pikir aku di sana, atau mereka memiliki rencana lain kenapa pergi ke sana?"


Caesar menekan tombol dial, menghubungi kepala pelayan di rumah tersebut.


"Jangan biarkan ketiga orang yang datang masuk ke rumah ibuku. Bahkan, jangan sampai kaki mereka menginjak halamannya. Jangan ada yang peduli pada mereka, kau mengerti!" titah Caesar setelah telepon tersambung.


Caesar menutup sambungan setelah mendengar sahutan dari seberang sana. Dia tidak rela rumah yang ditempati ibunya didatangi oleh mereka.

__ADS_1


"Mereka pikir dapat dengan mudah masuk ke rumah itu?" Caesar mencibir.


****


"Kau yakin rumah itu ada di sini?" tanya Lisa sembari melihat ke kanan dan kiri yang tampak ramai oleh penduduk. Tidak seperti di lingkungan rumahnya yang hidup masing-masing tanpa peduli satu sama lain.


"Aku yakin, ini jalan menuju rumah itu," jawab Eva mengingat jalanan tersebut.


Lisa mengedarkan pandangan ke segala arah, jalanan yang mereka tempuh tak selebar jalan komplek rumah yang mereka huni. Kanan dan kiri terdapat bangunan rumah-rumah warga sederhana dengan pepohonan yang memayungi jalan. Bahkan, banyak binatang ternak yang berkeliaran. Sungguh jauh dari perkiraan Lisa.


"Lalu, di mana rumah itu?" tanya Lisa lagi setelah memperhatikan cukup lama keadaan lingkungan tersebut.


"Rumah itu ada di ujung jalan, rumah yang hanya kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya paling mewah di antara rumah-rumah di sini. Halamannya luas dengan berbagai tanaman bunga yang terawat." Eva mengingat-ingat detail rumah tersebut.


"Nah, itu! Kalian melihat atap itu!" Eva menunjuk sebuah atap yang menyembul di antara dedaunan. "Itu rumahnya!" lanjutnya setelah mereka melihat arah yang ditunjuknya.


Lingkungan rumah hijau yang asri, bersih, dan tertata rapi. Aneka bunga berwarna-warni bermekaran menghiasi halamannya yang luas. Ada beberapa pepohonan buah yang sedang berbunga. Bahkan, ada pula yang sudah berbuah. Rumah itu terlihat seperti sebuah villa di tengah taman bunga.


"Benar. Menurut Caesar, mendiang ibu memang menyukai warna hijau. Aku akan turun dulu," ucap Eva seraya membuka pintu, keluar dan menghampiri gerbang rumah yang tampak masih kokoh meski sudah belasan tahun ditinggal pemiliknya.


Seorang laki-laki paruh baya menghampirinya, dengan wajah tidak ramah dis bertanya, "Ada keperluan apa Anda datang ke sini?"


Eva mengernyit. Dulu, mereka begitu ramah ketika dia datang bersama Caesar. Lalu, kenapa sekarang tak seramah dulu?


"Kalian tidak mengingatku? Aku Eva, istri Caesar, tuan muda kalian! Aku ingin masuk. Jadi, buka gerbangnya!" ucap Eva sedikit meninggikan suaranya.


Laki-laki itu memindai penampilan Eva dari atas hingga bawah. Dia menggelengkan kepala, menolak permintaannya.


"Maaf. Kami tidak mengenal siapapun selain tuan kami. Jadi, pergilah! Jangan mengaku-ngaku sebagai anggota keluarga Arya di sini!" tegas penjaga gerbang itu membuat Eva membelalak tak percaya.

__ADS_1


"Sialan! Kau hanya pekerja di sini. Aku pernah datang ke sini bersama Caesar, kalian pasti melihat fotoku terpampang di rumah ini. Aku bisa mengadukan perbuatan kalian kepada Caesar!" ancam Eva menuding laki-laki itu dari luar pagar.


"Silahkan! Silahkan adukan. Jika tuan Caesar sendiri yang memerintahkan kami untuk membuka gerbang, maka akan kami bukakan untuk kalian!" katanya tak terlihat takut dengan ancaman Eva.


Wajah wanita angkuh itu merah padam, cengkeraman tangannya pada pagar besi terlihat menguat. Rahangnya beradu, gigi bergemelutuk saling berbenturan.


"Lihat saja! Ini adalah hari terakhir kau bekerja di sini!" Dia kembali mengancam seraya mengeluarkan ponselnya.


"Silahkan, Nona! Saya akan menerima jika memang itu yang terjadi," katanya dengan senyum yang menjengkelkan di mata Eva.


Tak menanggapi, Eva mencoba menelpon Caesar. Tersambung, tapi laki-laki itu tidak mengangkatnya. Berulangkali mencoba, tetap hasilnya sama. Caesar tidak menerima panggilannya.


"Bagaimana, Nona?" tanya penjaga gerbang saat melihat kekesalan di wajah Eva. Dia tahu, wanita itu tidak berhasil menghubungi tuannya.


Eva menurunkan ponsel dari telinga dengan kasar, menggenggamnya dengan kuat. Tatapan matanya seolah-olah ingin melahap laki-laki yang berada dibalik gerbang tersebut. Ia melengos, berbalik dan kembali masuk ke dalam mobil membawa kekesalan.


"Ada apa? Apa mereka tidak mau membukakan gerbangnya?" tanya Lisa heran.


"Mereka menolak membuka gerbang!" sahut Eva berlomba dengan deru napasnya yang tak beraturan.


"Kurang ajar! Mereka pikir mereka siapa dan kita ini siapa? Awas saja!" Lisa keluar dari mobil, menghampiri gerbang rumah itu.


"Hei! Buka gerbangnya! Kalian tidak tahu siapa kami? Aku nyonya kalian, istri sah tuan Arya! Aku perintahkan kalian untuk membuka gerbang ini, dan membiarkan kami masuk!" teriak Lisa tak tahu malu.


Penjaga gerbang tersebut keluar menemuinya. Kembali memindai penampilan Lisa dari atas hingga ke bawah. Lalu, kembali ke atas menatap wajah wanita yang kulitnya telah memerah.


"Maaf, Nyonya. Jangan berteriak di sini. Kami tidak terbiasa mendengar suara tinggi, lagipula yang kami tahu istri sah tuan Arya sudah lama wafat dan tidak tergantikan. Untuk itu, kami memohon maaf karena tidak dapat membuka gerbang ini untuk Anda." Dia tersenyum sama seperti kepada Eva, hanya saja di mata Lisa terlihat menjengkelkan.


"Apa yang kau katakan! Aku memang tidak pernah datang ke sini, tapi aku adalah istri majikan kalian. Dia sudah lama mati dan aku yang menggantikannya menjadi nyonya di rumah ini. Itu artinya rumah ini sekarang milikku. Buka gerbangnya!" Lisa masih berteriak sambil mengguncang besi gerbang yang digenggamnya.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Bagi kami tidak ada yang bisa menggantikan beliau. Rumah ini sudah memiliki pewarisnya. Bukan Anda, bukan pula wanita tadi, dan bukan tuan Caesar. Jadi, pergilah! Sebelum aku meminta keamanan di sini mengusir kalian dengan kekerasan," ucap penjaga gerbang tersebut membuat Lisa tak dapat berkutik.


__ADS_2