
"Apa ini? Jadi Caesar menceraikanmu? Apa semua ini karena wanita tidak tahu diri itu?" maki sang ibu setelah melihat dan membaca surat cerai yang dibawakan seorang utusan.
Caesar benar-benar menceraikan Eva, wanita yang hampir separuh hidupnya dia cintai dengan sangat. Bahkan, sampai melupakan segalanya.
"Iya, Ibu. Aku benar-benar tidak bisa menerima ini semua. Aku tidak bisa menerimanya. Selama ini Caesar begitu patuh kepadaku, Bu. Tiba-tiba dia jadi seperti ini apalagi jika bukan karena wanita sialan itu!" Eva meradang, hatinya menjerit tidak terima. Cempaka tidak boleh lebih unggul darinya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Eva. Kau harus merebut kembali Caesar dari tangan wanita sialan itu," sahut Lisa ikut merasa geram dengan tindakan Caesar.
"Betul, Ibu setuju dengan Nyonya Lisa. Memang seperti apa wanita yang sudah merebut suamimu itu?" Ibu Eva mengepalkan tangannya erat-erat. Keluarga Arya adalah keluarga yang diidam-idamkan setiap orang.
"Sebaiknya kita menyusun rencana untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu, Eva. Kau tidak bisa tinggal diam di sini dan mengalah begitu saja." Lisa terus mengompori Eva juga ibunya agar mengambil tindakan tegas terhadap sikap Caesar yang tiba-tiba melayangkan cerai.
"Anda benar, Nyonya. Ayo, Eva. Kau jangan diam saja!" tegas sang ibu mendukung rencana Lisa untuk merebut Caesar kembali.
"Ya, kalian benar, tapi rencana kita harus benar-benar matang agar tidak terjadi kesalahan," ujar Eva menyetujui usulan keduanya.
Mereka mulai menyusun rencana, berempat dengan Gyan yang sebenarnya tak ingin ikut campur.
****
Hari-hari berlalu, setelah melayangkan surat cerai Caesar memboyong Eva beserta sang ayah ke rumah lamanya untuk mengadakan pesta. Pesta ulang tahun perusahaan sekaligus mengumumkan pernikahan mereka secara resmi. Kini, Cempaka telah resmi menjadi istri Caesar.
"Bagaimana jika Eva marah padaku?" tanya Cempaka gelisah saat di perjalanan menuju rumah lama Caesar.
"Tidak akan, dia tidak akan marah," sahut Caesar sembari menggenggam jemari Cempaka dan menciumnya.
"Bagaimana jika marah? Aku takut, apa aku berhak menempati rumah itu juga? Kenapa tidak membiarkan aku untuk tetap tinggal di sana saja," ucap Cempaka masih dengan gelisah dan cemas.
Eva tidak suka miliknya direbut orang lain, apalagi Caesar terlihat tak acuh terhadap tindakan yang akan dilakukan Eva ketika melihatnya datang nanti.
__ADS_1
"Kau tenang saja. Ada aku di sisimu, aku tidak akan pernah membiarkan dia menyakitimu. Kau istriku sekarang, dan tidak akan ada yang bisa menolaknya." Caesar mencoba menenangkan Cempaka agar tidak selalu merasa gelisah.
Kenapa tidak jujur saja bahwa Eva sudah tidak tinggal di rumah itu lagi. Mungkin dia ingin membuat rencana atau sebuah kejutan untuk Cempaka.
"Bagaimana dengan Ani? Apakah dia masih di rumah itu?" tanya Cempaka lagi teringat pada Ani.
"Kurasa Yudi sudah mengeluarkannya. Itu karena kesalahan yang dia lakukan." Caesar menghendikan bahu, tidak terlalu peduli pada orang lain selain Cempaka dan kedua anaknya.
"Kenapa?" Eva mengernyit heran.
"Aku tidak suka melihatnya bertindak sesuka hati walaupun Evan itu cucunya. Dia selalu membawa pergi Evan keluar tanpa izin dariku dan Eva tidak pernah mengatakannya. Aku tidak suka." Caesar melirik Cempaka, merasa akhir-akhir ini wanita di sampingnya itu terlalu banyak bertanya kepadanya.
"Lalu, siapa pengasuh Evan itu?"
Mata Cempaka terkesiap tatkala Caesar membungkam mulut itu dengan bibirnya. Cukup lama, lagi-lagi tak peduli pada Arjuna yang sibuk menenangkan hati karena adegan tak terduga yang mereka lakukan. Ia membenarkan letak spion tengah agar tidak melihat pemandangan di kursi belakang.
"Kenapa kau menciumku tiba-tiba?" geram Cempaka dengan suara tertahan sambil melirik Arjuna yang ternyata tetap fokus menyetir.
"Kau terlalu banyak bicara akhir-akhir ini. Apakah satu tahun berpisah denganku membuatmu berubah menjadi cerewet?" ucap Caesar tanpa memberi kelonggaran pada rangkulannya.
Cempaka mendongak, memukul dada suaminya dengan pelan.
"Aw! Sakit!" keluh Caesar berpura-pura.
Cempaka mendengus, memaksa untuk melepaskan lingkaran tangan itu, tapi tak bisa.
"Jangan memaksa jika tak ingin aku melahapmu lagi!" bisiknya membuat Cempaka terdiam.
"Akan ada pesta ulang tahun perusahaan di kantor. Melibatkan seluruh karyawan juga kolega bisnisku dan ayah. Aku ingin kau tampil mendampingiku sebagai istri," ungkap Caesar semakin erat merangkul tubuh Cempaka.
__ADS_1
"Bukankah sudah ada Eva? Dia pasti akan cemburu." Lagi-lagi Cempaka membahas soal Eva.
"Bisakah kau tidak menyebut namanya lagi saat berdua denganku? Aku muak mendengarnya," pinta Caesar terdengar kesal.
Alih-alih melepas rangkulan, ia justru semakin mendekap tubuh Cempaka. Wanita itu berbeda dengan Eva yang akan merajuk bila menyangkut kekuasaan.
"Memangnya kenapa? Bukankah dia istrimu? Kau bahkan terlihat sangat mencintainya dan mengganggap yang lain hanya angin lalu. Termasuk aku," sindir Cempaka cemberut.
Entah mengapa rasa cemburu tiba-tiba saja timbul di hatinya, mengingat Caesar begitu meratukan wanita itu. Rasanya tak rela. Caesar melirik, bibirnya tersenyum nakal.
"Apa kau cemburu?" tanyanya menggoda.
"Tidak! Siapa juga yang cemburu?" Cempaka melepas rangkulan Caesar dan berbalik menghadap jendela.
Rasa hangat mengalir di pembuluh darah pada bagian wajah. Ia tahu, kedua pipinya pastilah sedang merona. Dia malu.
"Katakan saja jika kau memang cemburu," bisik Caesar yang entah kenapa sudah menempel di ceruk lehernya.
Cempaka menggigit bibir menahan suara yang hampir menguar. Sentuhan Caesar bahkan terasa lain setelah mereka bersatu lagi. Ada hasrat terus ingin menikmati jika tak ada Arjuna di sana.
"Hentikan!" Cempaka menghendikan bahu meminta Caesar untuk berhenti menyesap kulit lehernya.
"Aku merindukanmu, Champa. Tidakkah kau tahu itu?" Suara Caesar terdengar parau.
"Tapi tidak di sini. Kau tidak ingat kita sedang di perjalanan," sentak ibu bayi kembar itu mengingatkan Caesar tentang keberadaan mereka.
Caesar tersenyum jahat, menjauh dari leher Cempaka setelah meninggalkan cap kepemilikannya di sana.
"Baiklah. Tunggu saja di rumah nanti. Kau tidak akan aku biarkan jauh dariku!" lirih Caesar membangkitkan bulu kuduk di seluruh tubuh Cempaka.
__ADS_1
Cempaka merinding mendengar ancaman itu. Teringat hari-hari kemarin di mana Caesar tak cukup hanya satu kali saja melakukan pelepasan. Diam-diam kedua pipinya kembali merona kala mengingat kegiatan yang telah mereka lalui beberapa hari sebelumnya.
"Jangan menjauh. Sudah cukup satu tahun kau menjauh dariku, sekarang jangan lagi." Caesar kembali menarik tubuh Cempaka untuk bersandar di dadanya. Senyum penuh cinta terbit dengan sempurna. Bunga-bunga serasa berjatuhan memenuhi taman hati mereka. Sungguh, Caesar jatuh cinta kembali dalam keadaan yang berbeda. Akan tetapi, itu adalah kali pertama untuk Cempaka.