
"Apa?!" Kedua mata Eva membelalak sempurna. Melotot tajam menghujam orang-orang yang datang menghadapnya.
"Bagaimana bisa kalian melepaskan dia begitu saja? Kalian memang benar-benar tidak bisa diandalkan!"
Plak!
Tangan mulus itu melayang dan mendarat di pipi pemimpin kelompok tersebut hingga jemari lentik Eva meninggalkan jejak di sana. Laki-laki di hadapannya menunduk, tak berani melawan.
"Kami tidak mampu melawan mereka semua, Nyonya," kilahnya membela diri.
Eva mendengus, terkekeh mencibir kemudian.
"Apanya yang tidak mampu? Pekerjaan kalian sama seperti mereka. Kenapa kalian merasa tidak mampu?" Kemarahan Eva semakin memuncak. Wajah yang dipoles make-up seperti biasanya itu pun telah memerah. Bahkan, menghitam.
"Maaf, Nyonya. Walaupun kami memaksa, kami tetap tidak akan mampu melawan orang-orang dari rumah utama. Mereka tidak seperti kami yang hanya dilatih seadanya. Mereka dipersiapkan untuk keadaan mendesak dan darurat ketika kami tidak mampu melakukan pekerjaan. Mereka tameng terkuat keluarga Arya, pasukan inti dan khusus yang berada dibawah perintah tuan besar langsung. Sebab itulah kami tak mampu melawan," papar pemimpin kelompok tersebut membuat Eva semakin tercengang.
"Apa istimewanya wanita itu sampai-sampai orang-orang seperti mereka yang langsung turun menjaganya? Dia bukanlah siapa-siapa. Seharusnya aku yang mendapat keistimewaan itu karena aku menantu keluarga Arya!" sungut Eva tidak terima dengan apa yang dimiliki oleh Cempaka saat ini.
"Kami tidak tahu, Nyonya. Mereka hanya memperingatkan kami untuk tidak menyentuhnya lagi. Maafkan kami karena tidak akan mampu melakukan perintah Anda, Nyonya. Kami permisi!" Ia pamit undur diri, tanpa ingin mendengar protes dari Eva.
"Hei! Aku belum selesai, bodoh! Tunggu! Jangan pergi!" teriak Eva, tapi tak digubris mereka. Dia bahkan berlari mengejar orang-orang itu sampai ke pintu keluar, tapi tetap saja mereka tak mengindahkan panggilannya.
"Sial! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus mendatangi rumah itu lagi untuk memastikan?" Eva menggerutu kesal, berbalik ke dalam dan menyambar tas.
Dia benar-benar akan mendatangi rumah utama dan membuat kekacauan di sana.
"Apa mungkin Caesar ada di sana? Rasanya tidak mungkin dia mendapatkan pengawalan itu jika Caesar tidak ada bersamanya. Kurang ajar. Beraninya mereka mengkhianatiku!" geram Eva seraya masuk ke dalam mobil dan melaju pergi ke rumah Lisa. Dia tidak ingin pergi seorang diri, Lisa dan Gyan harus ikut serta dengannya.
Eva mengernyit ketika tiba di rumah Lisa, dia melihat wanita itu telah berada di teras bersiap untuk pergi. Tergesa-gesa, Lisa menghampiri Eva karena mendengar rumah yang mereka datangi kemarin sudah ditempati seseorang.
__ADS_1
"Ibu? Gyan? Kalian mau ke mana?" tanya Eva bingung.
"Kami baru saja mau ke rumahmu. Aku mendengar kabar bahwa rumah itu sudah ditempati seseorang. Apa kau tahu siapa? Aku begitu penasaran, apakah orang itu pewaris yang mereka maksud kemarin?" cecar Lisa begitu berhadapan dengan Eva.
Wanita itu menghela napas, rahasia tentang Cempaka akan terbongkar di sini. Biarlah, biar Lisa tahu siapa sebenarnya Cempaka itu.
"Aku juga tidak tahu dan ingin memastikannya. Aku ke sini ingin mengajak kalian pergi untuk melihatnya secara langsung," ucap Eva menjelaskan kedatangannya.
Lisa menganga, antusias untuk pergi.
"Ya udah. Ayo kita pergi sekarang juga!" katanya, seraya menarik tangan Eva untuk masuk ke dalam mobil.
Namun, belum sempat membuka pintu, sebuah teriakan menghentikan mereka.
"Nyonya! Tunggu, Nyonya!"
Sontak Eva dan dua orang lainnya menoleh, Ani melambaikan tangan di kejauhan sambil berlari mendekat. Dia tiba dengan napas tersengal dan keringat memenuhi seluruh tubuh.
"Nyonya, saya mau ikut. Saya juga ingin mencari tuan muda. Izinkan saya ikut, Nyonya. Saya mohon!" Ani menangkupkan kedua tangan di dada, air matanya jatuh berbaur dengan keringat.
Eva mengernyit, mungkin Ani pikir dia pergi untuk mencari Evan.
Kebetulan, sekalian saja pertemukan mereka. Ani tidak dapat mengelak jika dia sering membawa Evan menemui Cempaka.
Eva menatap tajam kepada Ani, mengingat kerjasamanya dengan Cempaka selama ini. Begitu yang ada di dalam pikiran Eva saat ini.
"Kenapa kami harus mengajakmu?" Pertanyaan dari Lisa menyentak Eva dari lamunan.
Ibu tiri Caesar itu masih merasa kesal dengan kelancangan yang dilakukan Ani di dalam pesta ulang tahun Evan. Tatapan matanya masih menyiratkan kebencian terhadap pengasuh tersebut.
__ADS_1
Kau tidak tahu, Lisa. Evan itu cucu kandungmu!
"Karena saya pengasuh tuan muda, saya ingin tahu keadaan tuan muda. Itu saja, Nyonya. Tolong izinkan saya ikut," pinta Ani setelah beberapa saat terdiam memikirkan jawaban.
"Sudahlah, Bu. Tidak apa-apa, kita ajak dia sekalian." Eva menengahi tatkala Lisa hendak menolak permintaan Ani.
"Aku khawatir dia akan membuat masalah di sana dan rencana kita gagal," ujar Lisa masih enggan mengajak pengasuh itu.
Ani diam, mengharapkan pembelaan dari Eva. Pandangan matanya tertuju pada sosok Gyan yang tak banyak bicara. Dia menangkap kegelisahan di raut wajah itu, ketakutan, juga kecemasan yang berlebihan.
Apa yang terjadi pada pemuda jahat itu? Apa dia dihantui arwah anakku? Jika memang benar, maka aku sangat bersyukur. Mati saja sekalian!
Ani mengumpat di dalam hati, kebencian yang tertanam di hatinya menumbuhkan dendam yang tak berkesudahan. Sampai pemuda di hadapannya meregang nyawa dalam penyesalan, api dendam itu barulah akan padam.
"Ibu tenang saja, aku yakin Ani tidak akan membuat masalah. Dia pengasuh Evan, wajar saja ingin ikut mencarinya. Sudahlah, biarkan!" Eva berbisik di ujung kalimat sambil menepuk bahu Lisa.
Kemudian masuk ke dalam mobil di susul Lisa yang merasa kesal terhadap sosok pengasuh itu. Menyisakan Gyan dan Ani yang bersitatap cukup lama. Ani mengingatkan pemuda di hadapannya terhadap gadis yang ia nodai. Sayang, Gyan tidak terlalu peduli dan masuk ke dalam mobil.
"Ayo, kau akan ikut tidak?!" bentak Lisa karena Ani tak kunjung masuk ke dalam mobil.
"I-iya, Nyonya." Terburu-buru Ani masuk dan menutup pintu. Rasanya canggung duduk berdekatan dengan orang yang dibencinya.
Mobil melaju meninggalkan rumah Lisa, entah ke mana mereka akan membawanya. Yang jelas Ani merasa lega karena tidak tertinggal. Tak sia-sia dia membuntuti mobil Eva dan mengejarnya.
"Apa kau yakin Caesar ada di sana?" tanya Lisa menghilangkan kesepian.
"Aku tidak terlalu yakin. Aku hanya ingin memastikannya saja. Apakah dia di sana atau tidak?" ujar Eva tak yakin dengan hatinya.
Tidak ada yang bisa memasuki rumah itu selain pewarisnya yang tak lain adalah Caesar sendiri. Cempaka? Jika tidak ada campur tangan Caesar rasanya tak mungkin dia berada di sana.
__ADS_1
Keyakinan Eva mulai tumbuh, pastilah Caesar membantu Cempaka. Yang paling menyakitkan adalah, saat ini mereka sedang berkumpul dan mungkin sedang tertawa bahagia.
Sialan!