(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 107


__ADS_3

Suara tangis Eva menggema di dalam mobil yang ditumpanginya. Membuat sang supir merasa iba, tapi tak berani untuk menegur. Laki-laki itu hanya diam sambil mengemudi dengan pelan. Eva belum mengatakan tujuan selanjutnya.


Berkali-kali diliriknya wanita itu dari spion tengah, memastikan keadaannya yang tampak memilukan. Dia pikir Eva adalah korban, dan laki-laki yang mengusirnya itu begitu tega.


"Maaf, Nyonya, ke mana selanjutnya tujuan kita?" Dia memberanikan diri bertanya setelah melihat kondisi Eva yang perlahan meredakan tangis.


Untuk berkata-kata saja rasanya tak sanggup, Eva mengetik alamat Lisa dan menyodorkan ponsel kepada supir tersebut. Ia tersenyum dan melaju di jalan menuju kediaman Lisa.


"Laki-laki tidak berperasaan. Kenapa dia ambil tempat usahaku juga!" lirih suara Eva di sela-sela isak tangisnya.


Supir tersebut melirik, menghela napas dan kembali fokus ke jalanan. Dia tidak ingin menduga-duga, karena tahu rumah siapa yang didatanginya tadi.


"Sialan! Kenapa aku tidak bisa berhenti menangis?" Eva mengumpat, masih tersedu-sedan merasakan sesak.


Kembali ke rumah? Rasanya Eva tidak sanggup menampakkan wajah di hadapan kedua orang tuanya. Terlalu malu untuk bercerita kepada mereka yang telah ia tinggalkan selama menikah dengan Caesar.


"Kita sudah sampai, Nyonya." Suara supir yang tiba-tiba terdengar menyadarkan Eva dari tangisan.


Ia mengangkat wajah, menatap ke samping kiri di mana rumah Lisa berdiri.


"Terima kasih." Eva menyeret koper masuk setelah diizinkan oleh penjaga gerbang. Berdiri di bawah teras, mengusap wajah dan memperbaiki semua. Semoga saja Lisa mau menerimanya.


Langkah kakinya berlanjut setelah hembusan napas panjang ia lakukan. Menapaki anak tangga di teras dengan degup jantung yang tak beraturan. Tak akan Lisa menolaknya, bukan? Selama ini hubungan mereka baik. Bahkan, bekerjasama dalam beberapa hal.


Helaan napasnya kembali terdengar saat tiba di depan pintu utama. Eva menyiapkan hati untuk berbagi penderitaan dengan mertuanya itu. Ketukan lembut ia lakukan sebanyak tiga kali, menjeda dan mendengarkan dengan saksama.


Sepi, tak ada sahutan. Bahkan, suara Gyan yang selalu terdengar seolah-olah lenyap ditelan bumi. Sekali lagi tangannya mengetuk, lebih keras dari sebelumnya.


"Ya!" Suara Lisa terdengar samar, Eva tak sabar menunggu. Ia membuka pintu tersebut sebelah Lisa tiba.


"Eva?" Langkah Lisa terhenti, terkejut dengan kedatangan wanita itu.


"Ibu!" Eva berpura-pura tegar, dia melangkah masuk ke dalam sambil menyeret koper dan menjatuhkan bobot tubuh di atas sofa. Lelah karena harus bolak-balik dan berteriak yang menguras tenaganya.

__ADS_1


"Ada apa malam-malam begini kau datang ke sini?" tanya Lisa seraya mendekat. Ia duduk di seberang Eva, memperhatikan keadaan wanita itu. Matanya berputar menatap koper besar yang berdiri di samping sofa yang diduduki Eva.


"Aku pergi dari rumah Caesar. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya kepada dia bahwa Evan bukanlah anaknya." Eva bersikap seolah dia baik-baik saja. Meyakinkan Lisa yang menelisik penuh curiga.


Wanita itu tertarik mendengar berita yang disampaikan Eva. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Caesar saat mengetahui hal tersebut.


"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Lisa antusias.


"Tentu saja dia marah. Dia merasa ditipu oleh Cempaka. Apa Ibu tahu, dia bahkan menghancurkan ruang kerjanya sendiri. Aku menyaksikan sendiri kemarahan Caesar," ucap Eva berbohong.


"Benarkah? Lalu, kenapa kau datang dengan membawa koper?" Lisa bertanya bingung.


Eva menghela napas, membanting punggung pada sandaran sofa.


"Dia menolak ideku untuk memenjarakan wanita itu. Padahal, jelas-jelas dia sudah menipu. Aku kesal, akhirnya aku pergi dari rumah untuk memberinya pelajaran," geram Eva memanipulasi kisah sesungguhnya.


"Kenapa dia menolak memenjarakan wanita itu?" Lisa tak habis pikir, kenapa Caesar menolaknya.


Eva menghendikan bahu tak tahu, melipat kedua tangannya di perut. Berakting seolah-olah merasa kesal terhadap suaminya itu.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Apakah Caesar akan mencarimu?" Lisa tak ingin wanita itu berlama-lama tinggal di rumahnya. Bisa-bisa Eva menguasai dan menjadikannya sebagai budak.


"Ibu tenang saja, aku yakin besok atau lusa dia akan datang mencariku." Eva terlalu percaya diri, matanya melirik Lisa dengan sinis, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan semua aset yang dimiliki mertuanya itu.


Lisa mendesah lega.


"Syukurlah. Jika begitu kau bisa menggunakan kamar tamu yang mana saja. Semuanya bersih. Kau sudah makan? Kebetulan kami baru saja selesai makan. Pergilah ke dapur jika kau lapar," ucap Lisa sembari mengulas senyum. Jika hanya satu atau dua malam, dia tidak keberatan.


"Terima kasih, Ibu." Eva tersenyum meski terpaksa.


Aku harus berpura-pura baik dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun. Semoga waktu tua di hadapanku ini tidak menaruh curiga. Eva bergumam di dalam hati.


Aku tidak bisa membiarkannya berlama-lama tinggal di sini. Tingkahnya yang selalu ingin menguasai membuatku merasa muak. Tak apa jika hanya satu atau dua hari dia menginap, tapi setelah itu dia harus pergi dengan atau tanpa Caesar. Lisa pula membatin, merasa risih dengan kehadiran menantunya itu.

__ADS_1


"Jika begitu aku akan pergi ke kamar dulu. Aku ingin membersihkan diri dengan berendam air hangat. Bisakah pekerja Ibu menyiapkannya?" pinta Eva benar-benar tidak tahu diri.


Belum beberapa jam berada di sini, dia sudah bersikap seolah-olah menjadi majikan.


Lisa mengumpat dalam hati, tapi demikian tak urung jua memanggil seorang pekerja dan memintanya untuk melayani Eva. Lisa memutar bola mata malas, mencibirkan bibir dengan sikap Eva yang tak pernah berubah.


"Jangan terlalu panas dan jangan dingin juga. Taburi dengan kelopak bunga, dan beri wewangian alami yang membuatku rileks. Kau tahu siapa aku, bukan?" titah Eva setelah tiba di kamar yang dipilihnya.


"Baik, Nyonya." Pekerja wanita itu membungkuk seraya berjalan masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan apa yang diminta Eva. Semua sesuai dengan keinginan wanita itu.


"Silahkan, Nyonya!"


Eva beranjak, berjalan dengan angkuh masuk ke dalam kamar mandi. Memeriksa suhu air sebelum menceburkan diri ke dalamnya. Seperti di rumah sendiri, dia selalu ingin dilayani bak ratu.


"Ah, rasanya menenangkan. Tunggu saja, Lisa. Sebentar lagi rumah ini akan jatuh ke tanganku. Kalian akan secepatnya pergi dari sini, dan tinggallah di jalanan." Eva terkekeh licik, benar-benar manusia tak berhati.


Sementara di ruang tamu, Lisa masih duduk di sana sambil membuka lembar demi lembar majalah fashion. Gyan yang sudah kembali tenang menghampirinya.


"Bu, kudengar Eva di sini." Gyan menatap sayu sang ibu, dia sedang menginginkan teman saat ini.


"Yah, dia di kamar tamu yang biasa. Pergilah!" jawab Lisa tanpa menatap Gyan dan terus fokus pada majalah.


Pemuda itu pergi mendatangi kamar yang biasa mereka gunakan disaat Eva datang berkunjung. Gyan mengusir pekerja yang berada di kamar tersebut, dan menggantikannya.


"Nyonya sedang di kamar mandi, Tuan." Ia membungkuk memberitahu Gyan.


"Pergilah! Biar aku yang berjaga," katanya seraya mengibaskan tangan mengusir pekerja itu. Gyan mengunci pintu kamar, menatap kamar mandi di mana Eva sedang menikmati sentuhan air hangat.


Tanpa segan dan tak harus meminta izin, Gyan masuk perlahan dan melihat wanita itu. Air liurnya berkumpul banyak secara tiba-tiba. Gyan meneguknya berkali-kali tak sabar ingin menuntaskan sesuatu yang merangsek.


Ia menghampiri tempat Eva berendam setelah menanggalkan pakaiannya. Berjongkok di atas kepala wanita itu dan dengan berani meraba-raba permukaan kulitnya. Bibir Eva tersenyum, dia tahu siapa yang datang. Sentuhan yang dia rindukan yang membuat keinginannya memuncak.


"Gyan! Aku tahu kau merindukanku," desis Eva dengan mata terpejam.

__ADS_1


Tak perlu dijelaskan lagi apa yang selanjutnya terjadi.


__ADS_2