(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 17


__ADS_3

Di kamar lain, Eva tengah bersiap dengan dandanannya. Duduk di sofa menunggu kedatangan Caesar. Sudah dua jam berlalu sejak kedatangannya di rumah itu, tapi Caesar tak kunjung muncul.


"Sial! Apa yang dilakukan laki-laki itu di kamar si ******? Mengapa larut malam begini belum juga kembali?" Eva menegakkan tubuh, menggeram menahan kesal yang meluap-luap.


Ia meremas udara, mengumpulkan emosi dalam genggaman tangan. Mata merah memicing, rahang mengeras, gigi beradu hingga terdengar bunyi gemelutuk yang nyaring.


"Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus menemuinya di kamar perempuan itu apapun yang sedang mereka lakukan," tekad Eva seraya beranjak dari sofa.


Sementara di kamar Cempaka, Yudi duduk menunggu di sofa kamarnya, laki-laki itu siaga menjaga sang tuan. Sementara Cempaka duduk di lantai, dengan kepala bersandar pada ranjang. Berkali-kali kepalanya terkantuk tepian ranjang, tapi ia tetap menahan kedua mata agar tidak terpejam.


"Nona, jika Anda mengantuk tidurlah. Naiklah ke atas ranjang dan berbaring bersama tuan," titah Yudi merasa kasihan melihatnya yang harus menahan kantuk.


"Aku memang mengantuk, tapi siapa yang akan menjaga Tuan jika aku tertidur?" Cempaka menutup mulutnya ketika menguap lebar.


"Biarkan saya yang menjaga, sebaiknya Anda tidur." Yudi mengangguk saat wanita itu menoleh, meyakinkan Cempaka untuk tidak terlalu mencemaskan keadaan dirinya.


"Baiklah. Tolong bantu aku menjaga Tuan," ucap Cempaka seraya beranjak hendak menaiki ranjang. Akan tetapi ....


Brak!

__ADS_1


Pintu kamar yang terbanting dengan sangat keras membuat tubuh Cempaka terlonjak dan jatuh menimpa Caesar. Buru-buru ia bangun, kemudian memeriksa keadaan laki-laki itu.


"Nyonya, ada apa? Bisakah Anda mengetuk pintu terlebih dahulu? Anda mengejutkan kami," ucap Cempaka sambil memegangi jantungnya yang berdegup-degup. Ia berbicara perlahan karena tak ingin mengusik tidur Caesar.


Eva melirik Yudi, senyum mencibir pun terkembang di bibir wanita itu.


"Aku tidak peduli! Kenapa kau ingin menguasai suamiku? Seharusnya dia tidur bersamaku, bukan dengan dirimu!" bentak Eva berapi-api.


Cempaka meringis, kepalanya menoleh ke belakang memastikan Caesar masih terlelap.


"Nyonya. Tenang, Nyonya. Jangan berteriak karena Tuan sedang demam. Jika Anda ingin menemani Tuan, maka aku bisa keluar. Silahkan!" ucap Cempaka tak ingin Eva salah faham terhadapnya.


"Aku tidak sudi tidur di kamar ****** sepertimu!" sentak Eva masih dengan nada ketus dan sengit.


Mata wanita itu mendelik, mulai menerka apa yang dilakukan Yudi dan Cempaka di dalam kamar tersebut.


"Aku tidak peduli! Minggir!" Eva berjalan cepat menghampiri ranjang Cempaka, mematung di sana ketika melihat sebuah kain menempel di dahi laki-laki itu.


"Jangan, Nyonya! Kumohon. Tuan baru saja tertidur, sejak tadi terus mengigau memanggil-manggil ibunya. Kumohon, Nyonya. Anda bisa menemani Tuan di sini, aku akan keluar," sergah Cempaka ketika Eva hendak mengguncang tubuh Caesar.

__ADS_1


Eva mengurungkan niatnya, kembali menegakkan tubuh sambil terus memandangi wajah damai Caesar yang terlelap.


"Baiklah. Kalian keluar saja, aku yang akan menemaninya," ucap Eva mengusir mereka berdua.


Cempaka menunduk, dia harus rela meninggalkan Caesar.


"Jangan lupa untuk mengganti kompresan jika sudah dingin, Nyonya. Jika tidak, Tuan akan kedinginan," ingat Cempaka sebelum berbalik meninggalkan kamar.


Namun, sesuatu mencegahnya, sebuah tangan yang terasa panas mencekal jemarinya. Cempaka berbalik, melihat Caesar yang sudah membuka mata.


"Sayang. Astaga, aku tidak tahu jika kau sakit. Cempaka tidak memberitahuku, aku akan menemanimu di sini," ucap Eva berpura-pura sedih. Ia melepaskan cekalan tangan Caesar pada Cempaka, tapi genggaman itu justru menguat.


"Jangan pergi, Cempaka. Tetap di sini!" pinta Caesar dengan suara yang parau.


"Sayang, kau tidak membutuhkannya. Ada aku di sini, biarlah aku yang menungguimu." Eva tak senang bila harus berada dalam satu kamar dengan Cempaka.


Wanita itu menguatkan hati untuk menoleh, tersenyum pada Caesar yang tengah menatapnya.


"Aku harus keluar, Tuan. Anda beristirahatlah dengan nyaman. Ada Nyonya yang akan menjaga Anda," ucap Cempaka sembari melepaskan genggaman tangan Caesar.

__ADS_1


Laki-laki itu menggelengkan kepala, memohon lewat sorotan mata yang sayu.


"Kau juga tetap di sini. Ini adalah kamarmu, aku ingin kalian berdua ada di sini." Caesar menguatkan genggaman, sebelum melepasnya. Dia ingin memandangi wajah sederhana milik Cempaka di sepanjang malam.


__ADS_2