(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 105


__ADS_3

Caesar merebahkan diri di sofa, di mana Arjuna berada. Semenjak kemunculannya, senyum tak lekang dari bibir itu. Hal tersebut membuat dahi Arjuna berkerut dalam.


"Tuan! Anda baik-baik saja?" tanyanya meski ragu.


Caesar mendesah, memejamkan mata sambil mendekap tubuhnya sendiri.


"Jauh lebih baik dari sebelumnya, Arjuna. Ah, rasanya aku ingin hidup lebih lama lagi untuk bisa bertemu mereka," sahut Caesar membayangkan pertemuan itu terjadi.


"Mereka? Siapa yang Anda maksud?" Arjuna benar-benar bingung. Bukankah hanya Cempaka yang dicari Caesar? Tiba-tiba dia teringat pada satu hal. Tentang Cempaka yang mengandung bayi kembar.


"Jadi, Tuan sudah mengetahuinya?" Arjuna tanpa sadar bertanya, sebuah pertanyaan yang seharusnya hanya terucap di dalam hati saja.


Sontak kedua mata Caesar membelalak. Ingatannya berputar pada saat kehamilan Cempaka, Arjuna-lah yang selama itu menemaninya pergi ke dokter. Ia bangkit, berbalik badan menatap tajam sang asisten. Pemuda itu salah tingkah, mengusap tengkuk merasakan hawa yang mencekam.


"Saya permisi ke dapur, Tuan," katanya seraya beranjak dari sofa menghindari pertanyaan dari sang tuan.


"Kau mengetahui sesuatu, tapi tidak mengatakan apapun padaku. Sekarang, katakan apa yang kau ketahui?" pinta Caesar dengan nada menuntut.


Arjuna terdiam beberapa saat, mengunci rapat-rapat kedua belah bibirnya. Di sofa sana, Caesar menatap tajam, menuntut sebuah penjelasan. Arjuna menghela napas, kembali menghempaskan tubuhnya di sofa. Sudah tidak dapat berkilah lagi.


"Apa yang ingin Anda ketahui, Tuan?" tanyanya berpura-pura belum mengerti.


Caesar masih bergeming pada wajah sang asisten yang sedikit terlihat pucat.


"Semuanya. Semua yang kau ketahui tentang Cempaka. Bukankah kau yang selama kehamilan mengantar dia untuk melakukan pemeriksaan ke dokter?" terdengar tak ramah di telinga Arjuna.

__ADS_1


Lagi-lagi pemuda itu menghembuskan napas, benar-benar sudah tidak dapat berbohong. Arjuna berpaling muka padanya, tersenyum untuk melepas beban yang selama ini dia tanggung.


"Baiklah. Sepertinya memang sudah tiba waktu untuk Anda mengetahui semua. Anda benar, saya memang mengetahui tentang kehamilan kembar nona. Bahkan, saya ikut merahasiakan tentang itu atas permintaan nona sendiri. Katanya, agar ia tidak merasa jauh dengan anaknya. Hanya itu, Tuan. Mereka saat ini terpisah, satu bersama Anda dan yang lain bersama ibunya," ungkap Arjuna diakhiri helaan napasnya yang panjang.


Lega rasanya setelah mengatakan apa yang selama ini ia simpan. Caesar berhak tahu tentang mereka. Bagaimanapun, dia adalah ayah kandung dari kedua anak itu.


"Kau salah. Ada lagi yang kau sembunyikan dariku?" Caesar tidak puas dengan jawaban Arjuna, merasa pemuda itu masih merahasiakan yang lain darinya.


"Saya rasa sudah tidak ada lagi. Hanya itu yang saya ketahui karena selepas menyerahkan bayinya, saya tidak pernah bertemu dengan nona lagi sampai saat ini," jawab Arjuna dengan tegas.


Caesar menatap kedua manik itu, mencari kejujuran di sana. Dia tidak berbohong sama sekali, mungkin benar Arjuna tidak mengetahui tentang Evan. Ia menghela napas, memutuskan pandangan dari sang asisten.


"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya Arjuna penasaran.


Caesar menghembuskan napas, tersenyum membayangkan pertemuan mereka. Arjuna hampir tak percaya mendengar keterangan Caesar, dia tahu betul seperti apa rencana Cempaka waktu itu.


"Rasanya aku sedikit tidak percaya karena pada waktu itu nona merencanakan membawa salah satu bayinya saja. Dari mana Anda mengetahui hal itu? Jika tuan muda bukan anak Anda, lalu anak siapa?" ujar Arjuna dengan tatapan mata tak percaya.


Caesar menggelengkan kepala, itulah yang dia inginkan saat ini. Mengetahui siapa orang tua dari Evan.


"Aku sendiri tidak tahu, Arjuna. Besok aku ingin menemui ayah. Tidurlah, pagi-pagi sekali kita akan berangkat," titah Caesar seraya bangkit dari sofa dan pergi menuju kamarnya.


Arjuna masih duduk di sana, memikirkan tentang semua yang dikatakan Caesar tadi.


"Apa benar nona membawa semua anaknya? Jika memang iya, lantas anak siapa yang diberikannya?" Arjuna mengusap dagunya, berpikir lebih dalam.

__ADS_1


Dia memutar ingatan pada masa-masa di mana mengantar Cempaka memeriksa kehamilannya ke dokter. Tidak ada yang mencurigakan, tidak ada tanda-tanda dia bertemu dengan pihak lain. Apa Arjuna yang tidak mengetahuinya?


"Benar, mungkin hanya aku yang tidak diberitahu tentang perubahan rencana itu. Yah, sepertinya aku tahu alasannya. Nona takut aku mengatakannya kepada tuan. Ya, tentu saja seperti itu." Arjuna meracau, beberapa saat masih duduk di sana sampai rasa jenuh datang dan mengundang kantuk.


Arjuna beranjak dari sofa, masuk kamarnya sendiri. Sesuai perintah Caesar, dia harus tidur lebih awal untuk pergi esok pagi.


Di kamar Evan, Arjuna membuka pintu perlahan. Ibu segera bangkit dari sofa tempatnya berbaring. Ia pamit undur diri untuk pergi ke kamar tamu yang telah disiapkan. Kamar yang tak jauh dari milik Arjuna, majikannya.


Caesar merebahkan diri di samping sang anak. Dipandanginya wajah itu, menelisik setiap inci bagiannya. Mencari jejak siapa yang ada di sana. Dahi itu mengernyit manakala menemukan sedikit jejak seseorang pada bagian matanya.


"Kenapa rasanya mata ini mirip dengan Gyan. Apa hanya perasaanku saja?" Caesar bergumam, menatap betul-betul raut wajah bayi itu.


"Ah, benar. Di sini mirip sekali dengan Gyan. Apa Evan adalah anaknya?" Caesar mengusap lembut kepala sang anak. Terlepas siapa orang tuanya, Caesar sudah terlanjur menyayangi Evan.


"Jika orang tuamu tidak menginginkan kehadiranmu, maka tetaplah di sini bersama Ayah. Ayah akan selalu menyayangimu. Kau akan tetap menjadi anak Ayah," janji Caesar seraya mencium pelipis bayi Evan. Lalu, ikut merebah di sampingnya.


"Seperti apa wajah mereka? Rasanya tak sabar aku ingin bertemu dan melihat langsung. Apa mereka akan mengenaliku sebagai ayah mereka?" Caesar tersenyum, sudah dapat bertemu dan melihat saja ia sudah sangat bersyukur apalagi diakui.


"Cempaka. Semoga cepat atau lambat kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik. Aku rindu berkumpul bersamamu, Cempaka. Apa kau tidak merindukan aku?" Caesar menghela napas, memutuskan berpaling dari langit-langit kamar dan berguling memeluk bayi Evan.


Sementara itu, Eva telah bersiap pergi meninggalkan rumah Caesar malam itu juga. Ia menghela napas, menatap sekeliling ruangan yang dipenuhi kenangan bersama suaminya itu.


"Selamat tinggal." Eva bergumam, kemudian beranjak sambil menyeret koper miliknya ke lantai satu. Tak satupun pekerja yang datang membantu, Eva menyeret semua barangnya sendiri meski kesusahan.


Dari puncak tangga, ia dapat melihat dengan jelas Yudi yang berdiri menunggunya. Mungkin lelaki itu hanya ingin memastikan kepergiannya saja. Hanya itu.

__ADS_1


__ADS_2