
Esok hari yang dinanti pun tiba, Cempaka, Lucy, dan kedua anaknya telah bersiap untuk pergi ke pemakaman. Sesuai yang diperintahkan, mobil telah siap mengantar.
"Apa perlu kami kawal, Nona?" tawar sang kepala pelayan penuh perhatian.
Cempaka tersenyum, berada di rumah itu dia benar-benar merasa dihargai juga dihormati.
"Tidak perlu, Pak. Terima kasih, makan malam dan sarapan pagi ini terasa begitu lezat. Mungkin kami akan kembali saat siang nanti," jawab Cempaka tak lupa memuji masakan para koki di dapur rumah itu.
"Terima kasih. Kami senang jika Anda menyukai pelayan kami di sini." Dia membungkuk, Lucy benar-benar merasa takjub melihat pemandangan di depan matanya.
"Kami pergi, Pak."
"Berhati-hatilah, Nona."
Cempaka berbalik mendahului Lucy masuk ke dalam mobil, sedangkan ia menatap kepala pelayan dengan pandangan takjub. Lucy tersenyum sebelum berbalik menyusul Cempaka.
Setelah kepergian mereka itu, kepala pelayan memanggil seseorang. Memintanya untuk menjaga Cempaka karena orang-orang Eva pastilah masih mencari mereka.
"Bawa orang-orangmu dan awasi mereka!" titah kepala pelayan itu seraya berbalik kembali kepada pekerjaannya.
"Baik, Pak!"
Tanpa sepengetahuan Cempaka, dua buah mobil membuntuti mereka di kejauhan. Mengawasi, menjaga, dan membuka jalan agar perjalanan mereka lancar tanpa hambatan.
"Tumben sekali lancar. Kemarin begitu macet dan padat kendaraan," gumam Lucy setelah mengamati perjalanan.
"Kau benar. Sepertinya perjalanan kita akan lebih cepat sampai," timpal Cempaka sembari bermain dengan sang anak yang berdiri di jendela.
Supir yang mendengar hanya tersenyum tanpa menimpali obrolan mereka. Dia sudah menduga semua ini akan terjadi untuk membuat nona mereka nyaman selama perjalanan.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, mobil mereka tiba di pintu gerbang pemakaman. Suasana sunyi, hening, dan sepi pun menyambut. Nisan-nisan yang terpasang seolah-olah tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Tunggu di sini saja, Pak. Kami tidak akan lama," ucap Cempaka sebelum keluar dari mobil.
__ADS_1
Hanya bersama Lucy ia masuk ke dalam pemakaman, masing-masing menggendong bayi menyusuri jalan setapak yang disediakan oleh pihak pengelola.
Tanpa rasa curiga, atau sikap waspada, mereka terus berjalan menuju lokasi di mana ibu dan kedua adik Cempaka dimakamkan. Sekelompok orang berseragam mengawasi dari balik tembok pemakaman tersebut. Orang-orang suruhan Eva yang masih terus mencari keberadaan Cempaka.
"Dia ada di sini, Nyonya." Mereka menelpon Eva, membuat wanita itu berbinar senang.
"Tangkap dia, dan bawa menghadapku!" Perintah dari Eva penuh emosi.
"Baik, Nyonya!"
Mereka mulai menyebar, mengepung Cempaka dari berbagai arah. Masuk ke pemakaman, berdiri mengelilingi keduanya yang tengah duduk berjongkok di antara tiga makam.
"Nona terkepung, kalian di mana?" tanya sang supir panik.
"Tenang saja, kami sudah berada di sini."
Cempaka dan Lucy masih belum menyadari kehadiran orang-orang yang mengepung mereka itu. Lucy mengernyitkan dahi ketika membuka mata disambut bayangan beberapa orang berdiri di belakangnya. Ia mendongak, betapa terkejut melihat ada banyak laki-laki berseragam.
"Si-siapa kalian?" tanyanya terbata-bata.
"Jangan melawan! Hanya ikut dengan kami secara suka rela maka, kalian akan baik-baik saja," pinta mereka dengan wajah yang tak ramah sama sekali.
Cempaka berdiri, tak ada raut ketakutan di wajahnya. Dia justru menantang karena merasa tak perlu mengikuti ucapan mereka.
"Maaf. Apa urusan kalian dengan kami? Mengapa kami harus ikut dengan kalian? Kurasa kita tidak memiliki urusan," tegas Cempaka menatap orang yang memintanya untuk ikut.
Mata elang itu menatap tajam tepat di kedua netra Cempaka, mengancam. Dia mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Sontak, dekapan Cempaka pada sang anak mengerat. Pikirkan buruk mulai menjalar, mengingat ucapan Lucy tentang tuan Arya yang ingin memisahkannya dengan si Kembar.
"Kami berjanji, Anda dan anak Anda akan baik-baik saja jika bersedia untuk bekerjasama dengan kami. Jangan memaksa kami melakukan kekerasan," katanya secara terang-terangan memaksa.
"Itu jika kalian mampu mengalahkan kami semua!" sahut sebuah suara yang berasal dari belakang mereka.
Sontak semua mata tertuju pada sumber suara tersebut. Di paling depan, berdiri supir yang mengantar Cempaka. Dia memindai, menelisik keadaan sang nona dari tempatnya berdiri. Antara bingung dan lega, Cempaka tahu kedua belah pihak itu sama-sama berada di bawah naungan keluarga Arya.
__ADS_1
Namun, entah mengapa, orang-orang yang mengepung mereka tampak terkejut. Supir tersebut mulai melangkah, mendekati Cempaka. Ia berdiri berhadapan dengan pemimpin kelompok itu. Tatapan matanya seolah-olah meminta jalan, dan kerumunan itu membelah. Supir tadi melanjutkan langkah mendekati Cempaka.
"Apa mereka menyakiti Anda, Nona?" tanyanya persis seperti seorang bodyguard yang mengkhawatirkan majikannya.
"A-aku baik-baik saja." Dengan raut bingung Cempaka menjawab.
"Mari! Sebaiknya kita kembali. Tempat ini tidak aman untuk Anda dan anak Anda," pintanya seraya menyingkir memberikan jalan untuk Cempaka.
Ibu dari dua anak itu menatap bingung orang-orang yang mengepungnya. Mereka tak berkutik setelah kedatangan sang supir dengan bala tentaranya. Cempaka mengajak Lucy untuk meninggalkan tempat itu, digiring supir tersebut yang menjaga dari belakang.
"Aku ingatkan kepada kalian, jangan sekali-kali berniat menculik nona kami! Jika kalian bertekad, maka kalian akan berhadapan dengan para bodyguard dari keluarga Arya!" ingat sang supir sebelum menyusul Cempaka ke mobil.
Orang-orang yang mengawal Cempaka membubarkan diri setelah mobil yang membawa wanita itu pergi. Tentu saja mereka tidak akan bisa melawan para bodyguard handal yang berada di bawah titah tuan Arya langsung.
"Bagaimana?"
"Kita laporkan apa adanya kepada nyonya. Tidak akan mungkin kita melawan mereka. Mereka berada di bawah perintah tuan besar langsung." Dia berbalik mengajak semua orang yang ikut bersamanya pergi.
"Aku tidak pernah melihat mereka di perusahaan. Dari mana mereka datang?" tanya salah seorang di antara mereka.
"Mereka dari rumah utama. Orang-orang terlatih yang memiliki loyalitas tinggi kepada tuan besar."
Alangkah terkejutnya mereka, apalagi Eva saat mendengar berita itu. Jantungnya bisa-bisa tak lagi berfungsi.
****
"Mereka itu siapa?" tanya Lucy setelah mendapatkan ketenangannya kembali.
"Mereka orang-orang yang berjaga di rumah nyonya Eva. Mereka ingin membawa Nona ke hadapan nyonya Eva."
Lucy membelalak, merasa tak ada urusan lagi dengan Eva.
"Maaf, tapi kenapa mereka diam tak berkutik di hadapan kalian?" Cempaka bertanya untuk menuntaskan kebingungannya.
__ADS_1
"Tentu saja, Nona. Orang-orang yang bekerja di rumah utama adalah orang-orang pilihan dan terlatih. Mereka tidak akan berani melawan kami karena kami berada dibawah perintah tuan besar langsung," jawab sang supir membuat Cempaka mengerti.
Sekali lagi, pikiran buruk yang sempat datang menyambangi hatinya, terpatahkan oleh kejadian tadi. Lucy semakin mempercayai tuan Arya dan bahkan mengaguminya.