
Malam datang menjelang, kesibukan pun mulia berangsur menghilang. Begitu pula di rumah Caesar, Eva sibuk menyusun rencana di dalam kamarnya, Ani menyiapkan hati untuk menerima kenyataan, dan Caesar tengah bersiap untuk pergi.
Waktu makan malam tiba, Eva sengaja menunggu Caesar di meja makan untuk dapat berbicara dengannya. Dia sendirian, hanya ditemani sepi.
"Kenapa Caesar belum turun juga?" Dia menggeram, mengepalkan tangan di atas meja, menatap tajam hidangan di sana.
"Tuan!" Yudi yang melihat Caesar segera menghampiri, diikuti lirikan mata Eva yang mengekor ke arah datangnya laki-laki itu.
"Bagikan saja makanan pada semua pekerja. Malam ini aku akan makan di luar saja," titah Caesar sambil tersenyum kepada kepala pelayan itu.
"Baik, Tuan." Yudi membungkuk. Beruntunglah dia hanya menyiapkan menu sedikit.
Eva yang mendengar tidak tinggal diam, dia beranjak dan segera membawa dirinya mendekati Caesar sebelum keluar dari rumah.
"Sayang, kau akan makan di luar? Apa aku boleh ikut?" Suara Eva menghentikan langkah Arjuna, tapi tidak dengan Caesar.
Laki-laki itu terus membuka pintu dan keluar bersama ibu yang menggendong bayi Evan. Melihat itu, Arjuna mendesah seraya melanjutkan langkah menyusul atasannya.
"Caesar, tunggu! Kenapa kau tidak mengajakku juga?!" bentak Eva setelah berlari menyusul mereka.
Panggilan itu menghentikan langkah Caesar, tubuhnya berbalik mengernyit menatap Eva.
"Kenapa aku harus mengajakmu? Memangnya siapa kau?" tanya Caesar dingin dan tak acuh.
Mendengar itu, Eva menganga tak percaya. Sesuatu yang tak kasat mata menghujam jantungnya. Rasanya bagai ditusuk ribuan sembilu, ngilu, perih, sakit tersayat-sayat.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Caesar? Aku istrimu!" lirih Eva dengan suara yang bergetar.
Air mata wanita itu disambut gelengan kepala oleh Caesar. Dia sudah tidak menganggap Eva sebagai istrinya lagi sejak mengetahui pengkhianatan yang dia lakukan.
"Aku tidak memiliki istri pengkhianat. Aku sudah mengurus perceraian kita di pengadilan, kau hanya tinggal menandatangani surat itu. Setelahnya, kau akan bebas pergi ke manapun yang kau suka. Aku tidak akan lagi melarangmu," ucap Caesar, kemudian berbalik dan melanjutkan langkah bersama yang lainnya.
Tubuh Eva luruh di lantai, sesak merebak memenuhi rongga dada. Bukan ini yang dia inginkan, bukan seperti ini yang dia mau. Tidak!
"Kenapa? Kenapa semuanya jadi kacau begini? Kenapa semuanya tidak sesuai dengan rencanaku? Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Caesar tidak boleh menceraikan aku. Tidak!" Eva tergugu di teras, tapi tak satupun dari pekerja yang membantunya.
Dia dibiarkan sendiri, meratapi nasib malang yang menimpa.
"Kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini, Caesar! Kau tidak boleh melakukan ini padaku! Tidak boleh. Sampai kapanpun kau harus berada di genggaman tanganku." Eva menggeram penuh emosi, sesak di dada membuatnya kesulitan mendapatkan udara.
__ADS_1
Eva beranjak, masuk ke dalam rumah. Pergi ke kamarnya, membongkar seisi kamar. Bertekad mencuri semua aset yang dimiliki Caesar dan hanya dia yang tahu di mana semua itu disimpan.
"Biarkan!" Yudi mencegah para pekerja yang hendak menenangkan majikan mereka dari emosi. Suara benda-benda berjatuhan yang dilemparkan terdengar menggema dari kamar utama.
Yudi membubarkan mereka semua, hanya beberapa orang yang dia tugaskan mengawasi Eva dari lantai satu rumah. Suara jerit putus asa memekik keras, disusul benda-benda yang kembali dilemparkan sang empu.
Dapat mereka bayangkan seperti apa keadaan Eva saat ini. Perasaannya, kesakitannya, juga rasa putus asa yang mengalun lewat suara.
"Kasihan sekali nyonya Eva, kenapa tuan setega itu kepadanya?" Salah satu pekerja perempuan merasa iba terhadap majikannya.
"Semuanya salah nyonya. Nyonya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak pernah mengurus tuan muda. Seharusnya nyonya bisa lebih memperhatikan tuan muda meskipun itu bukan anak yang dilahirkannya," timpal yang lain dibenarkan kebanyakan pekerja.
"Selain itu, aku dengar nyonya mengkhianati tuan. Dia berselingkuh dengan laki-laki lain di belakang tuan."
Mata-mata mereka membelalak mendengar kabar terbaru itu, termasuk Ani yang diam-diam menguping dari balik pintu kamarnya.
"Jangan asal bicara jika kau hanya sekedar mendengar. Kau bisa dihukum karena berbicara sembarangan." Rekan kerjanya mengingatkan, tapi pekerja itu justru menggelengkan kepala dengan tegas.
"Aku tidak asal bicara. Tuan mengatakan tidak memiliki istri pengkhianat, dan apa kalian tahu siapa laki-laki itu?" Kalimat yang sengaja digantung itu membuat Ani merapatkan tubuh pada daun pintu.
"Memangnya siapa?" Penasaran, itulah yang mereka rasakan. Ingin tahu laki-laki mana yang sudah berani menantang tuan mereka.
Pekerja itu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada orang lain di sana selain mereka. Dia melambai, meminta semuanya untuk mendekat.
Tubuh mereka terhenyak, sontak menjarak satu sama lain. Terkejut bukan main, mereka saling menoleh, bertanya-tanya kebenaran tentang kabar itu.
"Apa kau yakin?" tanya salah satunya disambut anggukan pasti.
"Sungguh tidak tahu diuntung. Memiliki suami yang begitu sempurna, masih mencari kesenangan di lain tempat. Mereka berdua benar-benar tidak manusiawi."
Menggeleng kepala mereka, Ani mengepalkan tangan mendengar percakapan itu. Hampir-hampir menghantam daun pintu karena amarah yang memuncak. Helaan nafasnya terhembus, menyadarkan Ani dari kesilapan.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya laki-laki itu bersenang-senang setelah menyakiti anakku. Lihat saja! Kau tidak akan pernah hidup tenang!" Ani menggeram penuh dendam.
Tangannya gatal tak tertahan ingin mencabik-cabik wajah memuakkan itu. Bayangan sang anak datang melintas, membangkitkan rasa sakit yang dia pendam sendirian. Tangisannya, keluhannya, senyumnya yang hilang, dan berganti dengan air mata yang mengalir setiap waktu.
Ani tak sanggup mengingat itu semua, tubuhnya luruh di lantai sambil berderai air mata. Eva adalah satu-satunya pengobat. Namun, karena kecerobohan yang dia lakukan, menjauhkannya dari sang cucu. Dia tak lagi dapat menyentuh bayi itu, apalagi menimangnya.
"Evan, cucuku!" rintih Ani sembari mendekap tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Dia merindukan harum aroma tubuhnya, merindukan bermain bersamanya. Merindukan tidur di ranjang yang sama. Kini, semua itu tidak akan pernah terjadi lagi. Dia hanya bisa memandangi tanpa dapat mendekati.
****
"Kurang ajar! Caesar sialan! Ke mana dia memindahkan semua dokumen itu?!" Eva frustasi karena apa yang dicarinya tak ia temukan.
Matanya berputar menatap sekeliling kamar, bagai medan tempur di mana mayat-mayat bergeletakan tak beraturan. Baju-baju berserak di lantai, lampu tidur, semua make-up, berkas-berkas yang tidak penting, semuanya berhamburan di lantai.
"Aku tidak boleh menyerah. Aku harus mendapatkan semua aset Caesar dan menjualnya." Eva berjalan keluar, terus menyusuri lorong lantai dua menuju ruang kerja suaminya.
Namun, emosi Eva semakin naik ke puncak, ketika pintu ruangan itu terkunci dan tak dapat dibukanya.
"Sial! Aku yakin, semua yang aku cari ada di dalam sini. Aku harus bisa membukanya!" Eva menendang pintu kayu tersebut, berpikir mencari cara untuk dapat membukanya.
Dia mengambil sebuah jepitan dari rambut, mengingat bagaimana cara pencurian di televisi yang sering dia lihat. Pelan-pelan Eva memasukkan benda kecil itu ke dalam lubang kunci, dan mulai mengutak-atiknya.
Namun, aksinya itu terpergok Yudi yang sengaja mendatangi lantai dua untuk memeriksa.
"Apa yang sedang Anda lakukan, Nyonya?"
Tubuh Eva menegang, dia berdiri dan berbalik sambil menyembunyikan benda kecil di tangannya.
"Memangnya apa? Aku hanya ingin masuk ke dalam ruangan ini. Kenapa sekarang dikunci? Selama ini yang aku ingat, ruang kerja Caesar tidak pernah terkunci. Apa yang disembunyikannya di dalam sini?!" kilah Eva menatap tajam orang kepercayaan Caesar itu.
Yudi mendekat, mengeluarkan kunci yang ia kantongi dan membukakan pintu itu untuk Eva.
"Kenapa Anda tidak memintanya dari saya? Saya bersedia membukakan pintu ini untuk Anda," ucap Yudi sembari membuka pintu tersebut lebar-lebar.
"Silahkan, Nyonya. Anda bisa mencari apapun yang ingin Anda cari di sini," ucap Yudi lagi menjulurkan tangan ke dalam ruangan.
Eva mendengus, melangkah masuk dan menutup pintu dengan kasar. Yudi kembali mengunci pintu tersebut dari luar, dan berlalu kembali ke lantai satu. Biarlah Eva puas mencari apapun di dalam sana, tapi dia tidak akan pernah bisa keluar lagi.
"Jangan dengarkan teriakan apapun sampai tuan kembali!" titahnya pada semua orang yang berjaga di lantai satu.
"Baik, Pak!"
Yudi kembali ke ruangannya, ada banyak hal yang harus dia kerjakan setelah meminta semua pekerja di dapur merapikan meja makan.
"Syukurlah, akhirnya tuan menyadarinya juga." Yudi merebahkan punggung pada sandaran kursi, melepas penat setelah seharian bekerja.
__ADS_1
Sedikitnya dia bisa bernapas lega setelah semua rahasia diketahui Caesar. Tak ada lagi beban yang mengganggu pikirannya, kecuali Ani yang masih bertahan di rumah itu. Bagaimana caranya dia pergi?
"Sepertinya aku harus memulangkan Ani. Aku khawatir dia akan membuat masalah dengan pengasuh tuan muda jika tetap di sini." Yudi menghela napas, berniat mendiskusikannya dengan Caesar dan Arjuna.