
"Bersiaplah!" Caesar berkata kepada Eva usai menerima telpon dari Arjuna.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Eva kebingungan.
Caesar berjalan cepat ke arahnya, dicengkeramnya lengan Eva sembari menatap kedua mata itu.
"Dia akan melahirkan!"
Eva terhenyak, diam dalam waktu beberapa saat lamanya sebelum akhirnya terburu-buru mengenakan perut palsu. Ia beranjak cepat, dengan menggandeng tangan Caesar keluar mengendap seperti maling.
Beruntung, semua orang sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing termasuk tuan Arya dan istrinya.
Caesar mempercepat langkah menuju garasi, masuk ke dalam mobil menyetir sendiri tanpa bantuan supir. Di dalam mobil, Eva melepas perut palsunya tak perlu lagi berpura-pura.
"Kenapa bisa secepat ini?" tanya Eva cemas.
"Aku sendiri tidak tahu. Sudahlah, semoga tak terjadi apapun terhadap mereka," jawab Caesar tak kalah panik. Yang ia cemaskan adalah Cempaka.
"Aku mengkhawatirkan anak itu, untuk ibunya aku tidak terlalu peduli." Eva melipat kedua tangan di perut. Dia memang wanita kejam, hanya mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain.
Caesar berdecak, tak lagi menanggapi celotehan Eva. Hati dan pikirannya sibuk memikirkan keadaan Cempaka juga bayinya. Apa yang membuat wanita itu melahirkan lebih awal?
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Eva bergegas turun diikuti Caesar. Keduanya berlari mencari Arjuna. Tepat di depan ruang bersalin, mereka melihat pemuda itu bersama Lucy.
"Arjuna!"
Pemuda itu menghampiri Caesar, masih terlihat sisa kecemasan di wajahnya.
"Tuan!"
"Bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya Caesar, ia tak menutupi rasa cemas dari wajahnya.
"Aku sendiri tidak tahu, Tuan. Tiba-tiba saja Lucy menelponku dan mengatakan jika nona mengalami kontraksi." Arjuna melirik Lucy yang duduk tertunduk di sebuah bangku.
Begitu pula dengan Caesar dan Eva. Keduanya mendatangi wanita itu untuk bertanya tentang kejadian sebelum kontraksi.
"Katakan, apa yang telah terjadi?" tanya Caesar.
Lucy perlahan mengangkat wajah, mata sembab wanita itu menandakan ia telah menangis cukup lama.
"Awalnya semua baik-baik saja, Tuan. Kami bercengkerama seperti biasa, berbincang, dan makan malam dengan tenang. Kemudian, tiba-tiba saja nona meringis sambil memegangi perutnya. Nona mengatakan bahwa perutnya sakit karena tidak mengira jika itu adalah kontraksi. Lalu, saya menelpon tuan Arjuna memintanya untuk membawa kami ke rumah sakit," papar Lucy sedikit berbohong.
__ADS_1
Wanita itu kembali menundukkan kepala, menangis terisak mencemaskan keadaan Cempaka. Eva mendelik, memijat pelipisnya pening. Caesar berdecak, tak habis pikir akan ada kejadian seperti sekarang ini.
"Lalu, bagaimana sekarang?" tanya Caesar lagi setelah cukup menenangkan hatinya.
"Saya tidak tahu pasti, Tuan. Nona ada di dalam sedang ditangani dokter." Lucy menunjuk pintu ruang bersalin yang ditutup tirai.
Di dalam sana, Cempaka sedang berjuang melahirkan dua kehidupan baru ke dunia ini. Suara jeritan gadis itu terdengar samar keluar ruangan. Cukup menyentak hati Caesar. Ia yang cemas segera mendatangi pintu berharap ada celah yang membuatnya bisa melihat.
"Tenanglah!" Eva datang menenangkan suaminya. Mengusap-usap bahu Caesar memberinya kekuatan.
Tubuh laki-laki itu luruh di lantai, menyesali tindakannya yang tak pernah datang menjenguk Cempaka. Ia menyugar rambut kasar, peluh dan air mata bercampur jadi satu. Eva bingung melihat keadaan itu.
Aku ingin menemaninya di dalam. Aku ingin menyaksikan perjuangannya melahirkan anak kami. Ya Tuhan, selamatkan dia. Selamatkan dia!
Caesar merintih, menangis pilu mendengar erangan kesakitan dari dalam ruang bersalin itu. Beberapa saat menunggu, tangis bayi pun menggelegar. Lucy berdiri dari duduknya, begitu pula dengan Caesar dan Eva.
Merasa lega mendengar tangisan tersebut. Perjuangan Cempaka tidaklah sia-sia.
"Nyonya, bukankah Anda seharusnya bersiap-siap? Dokter mengatakan jika Anda datang langsung menuju ruangan saja. Mari, saya antar. Dokter akan menyusul dengan membawa bayinya," ucap Lucy mengingatkan.
Mereka harus segera pergi dari tempat itu, karena jika tidak tangisan kedua akan menyusul dan mereka akan tahu jika Cempaka melahirkan anak kembar.
"Benarkah?" Caesar mengernyitkan dahi.
"Baiklah. Ayo!" Eva berjalan lebih dulu mengikuti Lucy menuju ke suatu ruangan yang telah disiapkan oleh dokter.
Caesar melirik ruang bersalin, entah mengapa dia keberatan untuk meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, panggilan Eva berhasil menggerakkan kedua kakinya untuk ikut melangkah mengikuti pelayan Cempaka itu.
"Anda harus berbaring di sini, berpura-puralah seolah Anda baru saja melahirkan," ucap Lucy menunjuk ranjang yang telah tersedia.
Eva menghapus makeup di wajahnya, membiarkan wajah itu begitu saja tanpa riasan. Dia mulai berbaring, menunggu kedatangan dokter yang akan membawakan bayi mereka.
"Kau akan memberi tahu mereka sekarang juga?" tanya Eva cemas.
Caesar menggelengkan kepala, memang tak berniat memberi tahu keluarganya malam itu juga.
"Besok pagi saja aku akan mengabari mereka. Ini sudah larut, biarkan mereka semua beristirahat," jawabnya dengan lemah.
Ia duduk di sofa, Lucy masih di sana menjaga. Beberapa saat tak ada yang mereka lakukan sampai kedatangan Arjuna menjawab rasa penasaran mereka.
"Selamat, Tuan. Bayi Anda laki-laki, sehat dan sempurna," ucap Arjuna dengan senyum tersemat di bibir.
__ADS_1
Caesar menganga, mematung tubuhnya tak dapat digerakkan. Sementara Eva, bersemangat karena yang dilahirkan Cempaka adalah seorang anak laki-laki.
"K-kau ...."
Suara kursi roda didorong terdengar menjeda lisan Caesar untuk berucap. Di sana, Cempaka duduk dengan wajahnya yang pucat. Di pangkuan wanita itu seorang bayi merah yang tertidur. Dokter mendorongnya masuk dan mendekati Caesar.
"Terima kasih, Dokter. Anda bisa pergi meninggalkan kami sekarang!" ucap Cempaka yang terdengar lain.
Dokter tersebut menganggukkan kepala, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Caesar melangkah tertatih mendekati sosok wanita sempurna yang dia sia-siakan.
Tangannya terjulur hendak menggapai bayi itu, tapi Cempaka justru mendekapnya dengan erat.
"Anda tidak akan pernah bisa menyentuhnya sebelum mengakhiri perjanjian, Tuan." Tegas dan dingin, kalimat yang diucapkan wanita itu.
Lucy tak kuasa melihat penderitaan dari sang majikan, begitu pula dengan Arjuna. Baru saja merasakan sakitnya melahirkan, dia harus kehilangan dua hal sekaligus. Bayi juga suaminya.
Caesar tertegun, mulutnya terbuka dan tak dapat mengatakan apapun. Kedua maniknya menatap Cempaka, tak ada lagi pandangan teduh dari pancaran wanita itu. Tak ada lagi kehangatan di dalam manik coklatnya yang selama ini memabukkan Caesar.
"Bukankah Anda berjanji akan menceraikan aku setelah berhasil melahirkan seorang anak? Sekarang, tunaikan janji itu agar aku bisa pergi dengan bebas setelah ini." Cempaka menatap dalam-dalam manik suaminya.
Sementara Eva, tersenyum penuh kemenangan. Tak perlu merayu Caesar untuk menceraikan wanita itu. Jika Cempaka sendiri yang menagih janjinya.
"Se-setidaknya tu-tunggu sampai kau pulih dulu," ucap Caesar menunda permintaan Cempaka.
"Tidak perlu! Aku akan pergi malam ini juga bersama Lucy. Kalian bisa tenang merawat bayi ini karena aku tak akan pernah datang untuk mengganggu." Kalimat itu terdengar tegas dan pasti dari lisan seorang wanita yang selama ini selalu berkata lembut.
"Cepatlah, Tuan! Mobil yang akan membawa kami sudah menunggu," ucap Cempaka lagi tak sabar.
"Sayang! Apa yang kau tunggu lagi? Dia sudah memenuhi perjanjian. Sekarang akhiri semuanya dan biarkan dia pergi!" sentak Eva tak sabar melihat Caesar yang justru diam tak mengatakan apapun.
Cempaka tersenyum sinis. Caesar menghela napas panjang, dengan berat hati dia harus memutuskan.
"Baiklah. Mulai malam ini kau bukan lagi istriku. Perjanjian di antara kita telah berakhir di sini!" Caesar meneteskan air mata, di hatinya telah ada cinta untuk Cempaka.
Wanita itu tersenyum puas, dia menyerahkan bayinya kepada Caesar dengan suka rela.
"Ayo, Lucy! Kita pergi sekarang juga!" titah Cempaka pada temannya itu.
"Tunggu! Setidaknya, biarkan Arjuna mengantar kalian," pinta Caesar.
"Tidak perlu! Aku titip anakku. Tolong rawat dengan baik, jika aku dengar kalian memperlakukannya dengan buruk maka, aku akan datang merebutnya lagi!" Cempaka tak berniat tinggal terlalu lama.
__ADS_1
Lucy mendorongnya keluar, di parkiran suaminya sudah menunggu. Biarkan mereka berbahagia.