
Dalam keadaan marah, Caesar menghampiri sepasang orang yang tengah berbahagia dengan anaknya itu. Tawa canda mereka terdengar menjengkelkan di telinga Caesar. Tanpa basa-basi Caesar segera mengambil bayi Evan dari tangan Ani.
"Hei!" Ani sigap berdiri diikuti suaminya. Dia berbalik dan melihat siapa yang telah mengambil bayi Evan dengan lancang.
"Tu-tuan?" Ani membelalak kaget, segera saja menundukkan kepala saat bertabrakan dengan manik Caesar yang menggelap.
Begitu pula dengan laki-laki itu, dia yang tak pernah bertemu langsung dengan keturunan Arya dan hanya mendengar ceritanya dari sang istri gemetar ketakutan.
Caesar menatap keduanya seolah-olah ingin mencabik-cabik tubuh mereka. Napasnya memburu, dada naik dan turun penuh emosi.
"Kembali!" Perintah singkat darinya. Ani tahu kepada siapa perintah itu ditujukan.
Caesar berbalik sambil menggendong bayi Evan yang sempat tersentak, tapi kemudian tertawa karena melihat sang ayah. Arjuna datang menghampiri, berdiri di hadapan keduanya.
"Kali ini tindakanmu keterlaluan sebagai pengasuh, Ani. Siapa yang mengizinkanmu memberikan tuan muda kepada orang lain, sekalipun itu suamimu sendiri! Jika bukan karena nona yang memintamu menjadi pengasuh tuan muda, kau sudah lama dipecat dari pekerjaanmu ini. Kembali! Kau harus bertanggungjawab untuk tindakanmu ini!" tegas Arjuna sembari melirik kepada laki-laki yang terus menunduk itu.
Ia berbalik menyusul sang tuan, melaju tanpa mengajak Ani ikut bersama mereka. Bahkan, Arjuna memerintahkan kedua pengawal mereka untuk kembali lebih dulu tanpa harus menunggu Ani karena yang seharusnya mereka jaga adalah tuan muda.
"Bagaimana selanjutnya? Sepertinya tuan Caesar sangat marah," ucap laki-laki itu dengan cemas.
Ani sendiri tampak gelisah, selama ini dia tak pernah ditegur Caesar karena tak pernah ketahuan oleh laki-laki itu. Dia juga selalu bersembunyi dari kedua pengawal, jika ingin melakukan sesuatu.
"Ani! Bagaimana?" tegur sang suami membuyarkan lamunan Ani.
"Aku juga tidak tahu. Aku tidak tahu jika tuan akan melintas di sini. Aku harap dia tidak memecatku dari pekerjaan ini. Bisa-bisa balas dendamku tidak akan sampai," ucap Ani gelisah.
Dia belum menjalankan rencananya untuk membalas perbuatan Gyan. Kesempatan yang diberikan Cempaka akan menjadi sia-sia jika Caesar mengusirnya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau segera kembali!" titah sang suami, dia pun tidak ingin Ani dikeluarkan.
Wanita itu bergegas meninggalkan keramaian mal, pergi mencari kedua pengawal yang mengantarnya. Sialnya mereka telah menghilang tanpa menunggu. Terpaksa Ani mencari angkutan umum untuk membawanya kembali ke rumah Caesar.
"Kita ke rumah, Tuan?" tanya Arjuna meski tahu Caesar sibuk bermain dengan anaknya.
"Tidak! Sudah terlanjur, aku ingin mengajaknya bermain." Caesar menjawab sambil bermain dengan putranya.
Arjuna tahu ke mana mereka harus pergi, dia membelokkan mobil menuju mal lain untuk pergi ke Timezone. Caesar terlihat bahagia, di dalam sana dia menemani anaknya bermain. Seandainya Cempaka tidak pergi, sudah pasti kebahagiaannya akan sempurna.
"Ayah merindukan ibumu, Nak. Apakah kita harus mencarinya? Rasanya, Ayah telah jatuh cinta kepada ibumu," gumam Caesar saat mengistirahatkan dirinya di tempat permainan tersebut.
Ada banyak pasang mata yang memperhatikan, selain karena Caesar adalah keturunan keluarga Arya, dia juga tidak didampingi sang istri. Namun, terlihat bahagia, canda tawanya begitu sempurna. Mereka histeris, tapi tak dapat mendekat.
Caesar menunduk ketika tangan bayi Evan meraih pipinya. Tersenyum, membayangkan Cempaka ada di sana bermain bersama.
"Ibumu lebih membuat Ayah merasa nyaman, sayang. Ketika dia ada di sini, Ayah tak pernah kekurangan perhatian. Perut Ayah selalu kenyang, tak perlu mencari makanan di luar rumah. Sebaiknya kita mulai mencari keberadaan ibumu, dan kita ajak kembali bersama. Kau setuju?" Caesar menganggap tawa dan senyum Evan sebagai tanda setuju dari bayi itu.
Sementara Ani, terburu-buru kembali ke rumah. Dia tak ingin terlambat sehingga hukumannya akan ditambah. Dengan perasaan was-was tak menentu, Ani menuruni angkutan umum dan berjalan masuk ke dalam komplek. Langkahnya lebar dan tergesa, ingin segera tiba di rumah sang majikan.
Ani menundukkan kepala tatkala para pengasuh lain, juga para asisten rumah tangga di komplek tersebut menatapnya dengan tatapan bingung. Lantaran Ani tak pernah keluar tanpa membawa bayi Evan. Ani berlari dengan cepat, menghindari pertanyaan dari mereka.
"Bukankah itu pengasuh tuan muda keluarga Arya?" Salah seorang pengasuh bertanya heran.
"Benar, tapi kenapa dia sendirian? Tidak biasanya," sahut yang lain.
"Sekarang dia menunduk, biasanya mendongak angkuh seolah-olah menjadi orang paling beruntung."
__ADS_1
"Padahal sama-sama bekerja seperti kita."
"Mungkin dia pikir karena bekerja di rumah keluarga Arya, sedangkan kita di kalangan biasa."
Ada banyak gosip merebak di kalangan pekerja rumah tangga itu. Tentang Ani, tentang tuan muda yang diasuhnya. Ani jarang bertegur sapa dengan mereka meski berada di satu lingkungan taman ketika mengajak Evan bermain. Entahlah apa yang dipikirkan Ani?
Setibanya di gerbang rumah, napas Ani tersengal dan peluh membanjiri wajahnya. Ia meminta kepada penjaga gerbang untuk membukakan pintu dan membiarkannya masuk.
"Ani! Di mana tuan muda? Bukankah dia ikut pergi bersamamu?" tanya sang penjaga gerbang terlihat bingung, "dan ke mana pengawal yang bersamamu? Kenapa kau berjalan kaki?" lanjutnya kembali bertanya dengan raut wajah semakin bingung.
"...."
Ani tak dapat menjawab, dia sendiri bingung harus menjawab apa? Apa lagi saat nanti Eva bertanya tentang bayi Evan. Dia menggigit bibir, berpikir keras tentang jawaban yang akan diberikannya.
"Apa tuan Caesar belum kembali ke rumah?" tanya Ani kemudian setelah lama diam sambil berpikir.
Laki-laki itu berjengit, sedikit curiga kepada pengasuh tuan mudanya.
"Kenapa kau menanyakan keberadaan tuan Caesar? Tentu saja tuan ada di kantornya. Kau sangat mencurigakan Ani." Laki-laki itu menatap Ani dengan tajam.
Kerutan di dahinya jelas menandakan yang dia tengah menyelidik pengasuh tuan muda mereka. Ani tidak menjawab, bergegas pergi masuk ke dalam rumah untuk memastikan keberadaan Caesar. Dia berharap datang sebelum tuannya itu.
Ani menghela napas lega ketika tak mendapati Caesar di rumah. Ia mulai berjalan perlahan menuju kamarnya untuk beristirahat. Namun, langkahnya terhenti ketika suara Eva memanggil.
"Ani! Di mana Evan?" Ketus, itulah yang terdengar di telinga Ani.
Eva berjalan cepat menghampiri pengasuh anaknya, membalik tubuh mematung yang membelakangi itu. Ani menundukkan wajah, keringat mengalir dari rasa cemas yang hadir merundung hatinya.
__ADS_1
"Di mana anakku? Kenapa kau kembali sendirian?!" jerit Eva melengking hingga memenuhi seisi rumah dan membuat para pekerja berdatangan untuk melihat yang terjadi.
Plak!