(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 38


__ADS_3

"Di mana Cempaka?" tanya Eva begitu tiba di rumah dan menemui Yudi.


"Nona sedang beristirahat di kamar, Nyonya. Beliau tidak enak badan dan minta tidak diganggu malam ini." Yudi menjawab panjang lebar menjelaskan keadaan Cempaka.


"Ya sudah. Biarkan dia istirahat. Besok kita akan berbicara padanya," ucap Caesar seraya mengajak Eva ke kamar mereka.


Yudi menghela napas, berbalik menuju ruangannya sendiri. Bersyukur karena mereka tidak mengganggu Cempaka.


****


Keesokan harinya, mereka berada di atas satu meja yang sama. Begitu pula Cempaka yang duduk berdampingan dengan tuan Arya. Sesuai permintaan laki-laki tua itu, tak ada yang memprotes termasuk Eva sendiri.


"Selamat pagi!" seru sebuah suara yang menyeruak datang memenuhi ruang tengah rumah.


Lisa datang seorang diri ke rumah Caesar untuk menjenguk suaminya. Atau hanya sekedar berpura-pura peduli padanya.


"Nyonya! Semua orang ada di ruang makan. Silahkan!" Yudi datang seraya membungkuk di hadapan wanita itu.


Ia membawa Lisa masuk ke ruang makan menemui suaminya. Alis wanita itu terangkat manakala melihat Cempaka duduk berdampingan dengan tuan Arya.


"Kenapa dia duduk di sini? Pergi dan cari tempatmu sendiri!" sengit Lisa menatap tajam pada Cempaka.


Wanita itu segera beranjak, membungkuk sopan seraya mundur ke barisan pelayan.


"Maaf, Nyonya."


Lisa mendengus, terus menduduki tempat Cempaka yang tadi. Ekspresi wajahnya berubah manis ketika tuan Arya menatap.


"Seharusnya kau tidak perlu berbicara ketus seperti itu. Aku yang memintanya untuk duduk di sana," tegur tuan Arya menasihati istrinya.


"Aku hanya tidak suka orang rendahan berada di tempat yang sama dengan kita. Sudahlah, aku datang menjenguk suamiku. Bagaimana kabarmu?" ujar Lisa sambil bertanya dan menyentuh lengan tuan Arya.


Laki-laki itu menyuapkan makanan ke mulutnya, ia makan dengan lahap tak seperti saat berada di rumah mereka.

__ADS_1


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Mereka merawatku dengan sangat baik di sini," jawab tuan Arya sambil melirik Caesar yang tetap memakan makanannya.


"Syukurlah jika begitu. Apa kau akan tetap di sini? Tidak kembali ke rumah kita," tanyanya merajuk manja.


Tuan Arya menyelesaikan makannya terlebih dahulu. Mengelap bibir dan meminum air putih dengan sekali tenggakan.


"Aku tidak tahu. Mungkin beberapa Minggu lagi, aku masih ingin di sini." Tuan Arya tersenyum meminta pengertian. Berada di rumah Caesar membuatnya berkali-kali kembali ke masa lalu, terutama berada dekat dengan sosok Cempaka.


"Aku harap Ayah akan tetap tinggal di sini, sampai Eva melahirkan," sambar Caesar tiba-tiba.


Uhuk-uhuk!


Eva tersedak makanannya sendiri, sementara Cempaka menundukkan kepala sedih. Seharusnya yang diumumkan hamil adalah dirinya bukan Eva, tapi kembali lagi siapa dia di rumah itu.


"Jadi, Eva sedang hamil?" Lisa membelalak tak percaya, menatap Eva dengan mata berkedip-kedip.


"Hati-hati!" Caesar mengurut tengkuk Eva, membantunya meredakan batuk akibat tersedak makanan.


Mereka terlihat bahagia, Caesar, Eva, tuan Arya. Sedangkan Cempaka berusaha mati-matian menekan rasa sakit yang mendera hati. Dari tempatnya, Lucy menatap iba pada wanita itu. Tak ada yang tahu jika Cempaka sedang mengandung kecuali dirinya, Caesar dan tuan Arya sendiri.


"Baiklah. Jika begitu selamat untuk kalian. Ibu ikut senang mendengarnya. Caesar benar, kau harus tetap di rumah. Jaga kesehatan dirimu juga janin yang ada di dalam kandunganmu," ujar Lisa begitu perhatian.


"Terima kasih, Ibu." Eva melirik suaminya, kemudian tuan Arya terakhir pada Cempaka yang menundukkan kepalanya.


****


Eva menarik tangan Cempaka ke kamarnya, dia juga mengemasi barang-barang wanita itu dan memasukkannya ke dalam koper. Cempaka hanya diam memperhatikan. Memang lebih baik dia tidak tinggal di rumah itu.


"Hari ini juga kau harus meninggalkan rumah ini. Kau tenang saja, pelayan setiamu itu akan ikut bersamamu." Eva menyerahkan koper tersebut kepada Cempaka.


"Aku sudah menyiapkan sebuah rumah untukmu. Kuharap kau ingat dengan perjanjiannya. Kau harus menjaga anak itu sampai terlahir ke dunia ini. Apa kau mengerti?" tegas Eva lagi kembali mengingatkan Cempaka untuk apa dirinya berada di rumah Caesar.


"Aku mengerti, Nyonya." Cempaka menyahut singkat. Ia mencoba untuk bersikap tegar dan tidak menangis. Lelah rasanya bila harus terus mengeluarkan air mata untuk hal yang tak perlu ditangisi.

__ADS_1


"Keluarlah, Arjuna sudah menunggumu. Dia yang akan mengantarmu ke rumah itu," titahnya lagi ketus.


Cempaka menyeret kopernya keluar. Tanpa banyak bicara karena dia sendiri pun ingin segera meninggalkan rumah itu. Meski ada tuan Arya yang memperlakukannya seperti manusia lain, tetap saja yang lebih berkuasa adalah Eva.


Arjuna membukakan pintu untuknya, Cempaka bahkan tidak diizinkan berpamitan pada tuan Arya yang tengah berbincang di halaman belakang rumah bersama istrinya.


Lucy dan Caesar sudah berada di dalam mobil yang sama. Cempaka tersenyum karena pelayan itu ikut bersamanya. Setidaknya ia tidak sendirian.


"Nona, Anda harus kuat," ucap Lucy sembari menggenggam tangan Cempaka.


Wanita itu mengangguk tanpa menyahut, ia menyandarkan kepalanya pada jendela mobil menatap deretan gedung-gedung yang berdiri kokoh di sepanjang jalan.


Jangan pernah berharap pada sesuatu yang bukan milikmu, Cempaka. Kuatlah, setelah ini kau akan terbebas dari segala aturan.


Cempaka menghela napas, merenungi nasibnya yang jauh dari kata beruntung. Diam-diam Caesar melirik istri sirinya itu dari kaca spion tengah. Hatinya berdenyut menerima kenyataan bahwa mereka akan hidup terpisah.


Maafkan aku, Champa. Kuharap kau akan mengerti. Sepertinya aku telah jatuh cinta padamu, tapi masih tak dapat mengutarakannya. Tunggu waktu yang tepat, aku tidak akan pernah melepaskanmu.


Caesar bergumam dalam hati. Melirik jendela tak tega melihat wajah sendu wanita itu. Sampai mobil mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana, tak sebesar rumah yang ditempati Eva.


Semua orang beranjak, Arjuna membawakan koper Cempaka diikuti oleh Lucy. Sementara Caesar membawa wanita itu ke kamar utama. Rumah hanya berlantai satu, tak jauh dari rumah Caesar sendiri.


"Bukan maksudku ingin membuangmu, tapi ini demi kebaikan semua orang termasuk dirimu. Di sini, kau pemiliknya. Tak akan ada yang mengatur hidupmu. Aku jamin Eva tidak akan pernah datang ke sini membuat kekacauan. Hiduplah yang baik, rawat anak kita dengan baik." Caesar berjongkok di hadapan Cempaka, mengusap perut rata wanita itu dan mendekapnya.


Menciuminya berkali-kali seolah-olah tak ingin berada jauh dengannya. Dia ingin menemani Cempaka melewati masa-masa sulit kehamilan. Melihat dan menyaksikan tumbuh kembang janin yang ada di rahimnya seperti laki-laki lain.


Namun, Caesar harus menepis semua keinginan itu dikarenakan keadaan.


"Anda tenang saja, Tuan. Aku akan menjaga dan merawat anak ini karena dia hidup di dalam rahimku," jawab Cempaka dengan pasti.


Caesar berdiri dan memeluk wanita itu. Diciumnya wajah Cempaka sebelum melepaskan pelukan.


"Aku akan sering datang ke sini karena bagaimanapun kau adalah istriku sama seperti Eva," katanya sebelum pergi meninggalkan Cempaka bersama Arjuna.

__ADS_1


__ADS_2