(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 108


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Caesar dan Arjuna telah bersiap untuk pergi ke rumah utama menemui tuan Arya. Begitu pula dengan Evan dan ibu pengasuh, mereka akan mengajak serta keduanya.


Di rumah utama, Cempaka dan Lucy pula telah bersiap kembali ke kediaman mereka di tepi laut. Keduanya merindukan suasana rumah, dan lagi Dinda tak henti terus menghubungi dan bertanya kapan pulang.


"Dinda masih menelponmu?" tanya Lucy di saat membantu Cempaka membereskan semua barang-barang.


Wanita itu tersenyum sembari memberikan anggukan kecil untuk jawaban dari pertanyaan Lucy. Helaan napas panjang terdengar dari arah ibu Dinda itu, merasa tak enak kepada Cempaka yang mungkin saja terganggu.


"Apa kau terburu-buru kembali karena dia?" Lucy bertanya lagi benar-benar tak enak hati.


"Apa yang kau katakan, Lucy? Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan gadis itu. Ini murni karena aku merindukan rumah kita. Lagipula aku merasa kesepian karena tidak ada Dinda di sini. Lain kali, aku akan mengajaknya," jawab Cempaka seraya menjatuhkan tubuh di tepi ranjang usai menutup koper.


"Kau tahu, Dinda mengatakan jika Caesar kemarin menginap di resort. Ya, itu bukan hal mustahil karena villa keluarganya berada dekat dengan tempat tinggal kita," ungkap Cempaka sembari menghendikan bahu.


Gerakan tangan Lucy yang membereskan pakaian si Kembar terhenti mendengar berita tersebut.


"Apa itu artinya dia masih di sana?" Lucy berpaling, raut wajahnya tampak gelisah.


"Tidak. Dia sudah di sini. Kau tidak dengar kemarin ayah mengatakan apa? Dia ada di rumah menunggu Eva kembali," jawab Cempaka melegakan hati Lucy. Ia kembali melanjutkan pekerjaan membereskan semua barang-barang.


"Syukurlah. Apa yang akan kau lakukan ketika bertemu dengannya, Manda?" Lucy bertanya iseng, ingin tahu seperti apa jawaban ibu Zia dan Zio itu.


Dia tahu Cempaka menaruh hati pada laki-laki yang sudah menikahinya itu meski hanya sebatas pernikahan kontrak.


"Aku tidak tahu. Aku belum memikirkannya, jika terjadi biarlah terjadi. Mungkin sudah takdir yang harus aku jalani," jawab Cempaka sembari mengelus kepala anaknya.


"Bagaimana jika dia memintamu kembali menjadi istrinya? Demi anak kalian misalnya?" Lucy kembali bertanya, Cempaka tercenung mendengar itu.

__ADS_1


Dia belum berpikir sampai tahap itu, entah jawaban apa yang akan dia berikan. Cempaka tidak memungkiri bahwa kedua anaknya membutuhkan sosok ayah. Mereka tidak pernah mengenal siapa ayah mereka sejak berada di dalam kandungan.


Cempaka menghela napas, sebuah pertanyaan berat. Dia ingin kembali dan berkumpul, tapi bagaimana dengan Eva?


"Entahlah, Lucy. Ada Eva di kehidupan Caesar, aku hanya takut wanita itu mencelakai kedua anakku. Itu saja," jawab Cempaka memandangi wajah keduanya dengan penuh cinta.


"Jika kau memutuskan kembali kepadanya, maka tinggallah di sini. Jangan menyatu dengan wanita jahat itu. Biarkan saja dia di sana. Bukankah dia tidak bisa melangkahkan kaki ke sini selain di luar gerbang? Kau akan aman jika tinggal di sini," usul Lucy yang sudah membuka hati dan menerima kenyataan bahwa Cempaka memang mencintai Caesar.


Wanita itu diam, mematri pandangan pada wajah kedua anaknya yang terlelap. Yang dikatakan Lucy memanglah benar, tapi apakah hatinya telah siap menerima laki-laki itu kembali. Dia sendiri masih belum yakin sepenuhnya.


"Aku tahu kau mencintainya, Manda. Aku juga melihat cinta yang sama di mata laki-laki itu. Kalian saling mencintai satu sama lain. Jika ada kesempatan untuk hidup bersama, janganlah disia-siakan. Ingat kedua anak kalian. Bukankah kau mengatakan jika dia laki-laki yang baik?" lanjut Lucy seraya berbalik menghadap Cempaka, menatap wanita itu dengan sungguh-sungguh.


Masih tak ada jawaban, keraguan di hati Cempaka enggan pergi meninggalkan tempatnya. Bayang-bayang kejahatan Eva terus bergelayut dalam ingatan, belum lagi Lisa yang tak kalah jahat. Bagaimana jika mereka bekerjasama mencelakai kedua anaknya.


"Aku yakin Caesar dan tuan Arya akan melindungimu juga kedua anak kalian. Aku sudah melihat sendiri bagaimana cara tuan Arya menyayangimu, terutama kedua anakmu itu. Dia memberikan rumah ini dengan pengawalan yang ketat kepadamu karena tahu hanya di sini tempat yang aman untuk kalian. Jadi, aku merestui jika kau ingin kembali padanya." Lucy meraih tangan Cempaka, menggenggamnya dengan lembut.


"Raihlah cintamu, raih kebahagiaanmu. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari. Aku tidak ingin kau menjadi seorang wanita yang menyedihkan karena hidup dalam kurungan rasa sesal. Meski tidak tahu kapan waktunya, tapi jika saat itu tiba kau jangan pernah menyia-nyiakannya." Lucy menatap dalam kedua manik Cempaka ketika ia menoleh.


Meyakinkan lewat sentuhan bahwa apa yang dikatakan adalah sebuah kesungguhan yang terlahir dari hati. Cempaka tersenyum, balas menggenggam tangan hangat Lucy. Ia mengangguk kemudian, seraya memeluk wanita itu.


"Terima kasih, kau begitu baik kepadaku, Lucy. Jika semua itu terjadi aku ingin kau ikut tinggal bersama kami di sini. Aku tidak ingin jauh darimu," pinta Cempaka sambil menitikan air mata.


Lucy tertawa mendengar itu, tapi rasanya tak mungkin karena ada yang harus dia urus di sana.


"Aku tidak mungkin meninggalkan tempat itu. Siapa yang akan mengelola jika aku pergi dari sana," sahut Lucy dengan hati yang berat. Dia juga tidak rela tempat usaha mereka dijual kepada orang lain.


Cempaka mengusap air mata, dan melepas pelukan. Bibirnya tersenyum mengerti apa yang mengganggu pikiran Lucy.

__ADS_1


"Tempat itu serahkan saja pada Gilang. Biar dia yang merawatnya nanti. Kau, Dinda, dan suamimu tinggal bersamaku. Nikahkan dia, aku rasa ada seorang karyawan wanita yang menarik perhatiannya," ucap Cempaka tanpa beban.


Lucy masih belum yakin jika Gilang bisa mengelola tempat itu.


"Aku belum yakin terhadapnya, Manda." Lucy menggelengkan kepala.


"Memangnya kapan akan terjadi? Kita saja tidak tahu kapan semua itu terjadi. Kau masih bisa membimbing Gilang untuk belajar mengelolanya. Aku yakin, lambat laun dia akan mampu menguasai dan patut kita andalkan. Kau hanya harus percaya padanya, Lucy." Cempaka meremas jemari Lucy, meyakinkan wanita itu bahwa anak sulungnya pasti mampu.


Tatapan Lucy masih terpaku pada Cempaka, tapi akhirnya ia tersenyum jua. Mengangguk kecil dan berjanji akan menjadikan anak sulungnya itu sebagai orang yang bisa diandalkan.


Tangis si Kembar menghentikan obrolan keduanya tentang sesuatu yang belum tentu terjadi. Cempaka menimang salah satu anaknya, dan Lucy mengambil yang lain.


Tanpa sepengetahuan mereka, diam-diam tuan Arya mendengarkan. Hati tuanya merasa lega dan menginginkan semua itu segera terwujud.


"Kau tidak tahu apa yang terjadi di rumah Caesar, Nak. Kau akan menjadi satu-satunya menantu di keluarga Arya. Selamat datang menantuku. Akhirnya doaku terkabul," gumam tuan Arya sembari menjauhkan diri dari kamar Cempaka.


Jauh di dalam lubuk hatinya, dia berharap Caesar akan datang sebelum kepergian dua wanita itu. Bertemu, berbicara, saling mengatakan perasaan, dan akhirnya bersatu seperti apa yang dia inginkan.


"Tuan, saya dengar dari rumah tuan Caesar bahwa mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini," lapor sang kepala pelayan bagai angin segar yang meniup di hatinya.


"Benarkah?" Kedua mata tuan Arya berbinar terang, langit mengabulkan harapannya.


"Ya, Tuan. Mereka bersama tuan muda dan pengasuhnya," jawab sang kepala pelayan dengan yakin.


Tuan Arya kehilangan kata-kata, hanya ukiran sempurna di bibir yang mengatakan bagaimana perasaannya saat ini. Dia bahagia, sangat bahagia.


"Harapanku terkabul. Terima kasih, Tuhan."

__ADS_1


__ADS_2