
"Kau bisa mengemudi?" tanya tuan Arya kepada Gilang setelah mereka kembali berkumpul di gazebo tempat pemuda itu duduk.
"Bisa, Tuan," jawab Gilang tanpa berani menunjukkan wajahnya di hadapan tuan Arya.
Laki-laki tua itu tersenyum, memberikan sebuah kunci kepada Gilang.
"Gunakan ini untuk keperluan kalian, terutama cucuku. Mobil di depan itu sengaja aku siapkan untuk kalian bawa pulang," ucap tuan Arya meletakkan kunci mobil di hadapan mereka.
"Tidak perlu, Ayah. Kami tidak pernah pergi ke mana pun," tolak Cempaka tak enak hati menerima hadiah besar tersebut.
"Tak apa. Selama menikah dengan Caesar, kau tidak difasilitasi apa-apa. Kau berhak mendapatkan apa yang seharusnya kau nikmati. Pakailah, surat-surat mobil itu atas namamu." Tuan Arya tersenyum, sudah mengetahui Cempaka pastilah akan menolak. Untuk itu, dia membeli kendaraan tersebut atas nama Cempaka.
Tak tahu harus apa, Cempaka hanya diam sedikit terkejut begitu berniat tuan Arya memberikannya hadiah.
"Mmm ... terima kasih, Ayah." Sudah terlanjur, meski terpaksa Cempaka menerima hadiah tersebut.
Cukup lama mereka berada di villa tuan Arya, kedua anak Cempaka terlihat senang bermain di sana. Mungkin karena mereka memiliki darah keturunan keluarga Arya. Mereka berpamitan saat sore hari, tak enak jika terlalu lama di sana.
"Jangan lupa untuk meminum tehnya, Ayah. Agar kesehatan Ayah benar-benar terjaga," pesan Cempaka sebelum pergi meninggalkan villa tersebut menggunakan mobil pemberian tuan Arya.
"Mereka terlihat nyaman bermain di sana," celetuk Gilang saat di perjalanan pulang.
Cempaka yang memilih duduk di belakang, menatap kedua anaknya sambil tersenyum.
"Mereka tahu keluarga sendiri meskipun masih bayi," sahut Cempaka.
Celoteh kedua anaknya menerbitkan senyum di wajah wanita itu. Sekarang, tak ada lagi penderitaan setelah perjalanan penuh luka ia tempuh dengan derai air mata.
__ADS_1
Bagaimana keadaan Baron di dalam penjara? Bagaimana pula keadaan istri yang ditinggalkannya? Kehidupan yang sulit ditambah laki-laki itu yang sangat pemalas, pastilah menambah semakin sulit. Hanya ibunya yang sanggup bertahan dengan segala tindak tanduk buruk seorang Baron.
Teringat pada mendiang kedua adiknya, rindu ingin bertemu hadir dan mencuat ke permukaan. Dia ingin pergi mengunjungi mereka karena sudah lama sekali tidak datang ke pemakaman.
"Aku ingin mengunjungi ibu dan kedua adikku. Suatu hari aku ingin kembali ke sana untuk menyapa mereka," gumam Cempaka yang masih terdengar oleh Gilang.
Pemuda itu meliriknya dari spion, wajah yang semula berseri berubah sendu dan berkaca-kaca. Kematian kedua adiknya, menjadi pukulan terhebat sepanjang hidup Cempaka.
"Apa kau yakin ingin pergi mengunjungi kota itu? Setidaknya kau harus menginap karena perjalanan tidaklah dekat," ujar Gilang mengingatkan tentang jarak yang harus mereka tempuh.
"Ya, aku tahu. Itu tidak masalah, lagipula aku tidak berniat pergi sekarang. Mereka masih sangat kecil untuk melakukan perjalanan jauh. Mungkin dua atau tiga tahun lagi sampai fisik mereka cukup kuat, aku akan pergi mengunjungi ibu dan kedua adikku," jawab Cempaka sesuai yang sudah direncanakannya.
Gilang tidak lagi menyahut, rindu kepada sanak saudara memang tidak dapat dipungkiri meskipun mereka sudah meninggalkan dunia. Apatah lagi Cempaka yang merawat kedua adik kembarnya sejak kecil karena ditinggal sang ibu.
Pemuda itu melirik Cempaka dari spion, ia sudah bermain kembali dengan anaknya. Wajah sendu yang sempat menghiasi kecantikan sederhananya telah raib berganti senyum berseri.
Lucy yang mendengar itu segera mendekat untuk dapat melihat siapa yang mengunjungi kediaman mereka.
"Mungkin Amanda dan Gilang yang diantar pekerja tuan Arya," jawab Lucy seraya meninggalkan resort menyusul mobil yang telah tiba di depan rumah mereka.
Cempaka keluar bersama salah satu anaknya, tak lama Gilang muncul dari posisi pengemudi dan mengambil salah satu bayi Cempaka.
"Manda! Gilang!" panggil Lucy masih dengan raut bingung.
Keduanya menoleh dan tersenyum, menunggu Lucy menghampiri mereka.
"Mobil siapa yang kalian bawa?" tanya ibunya Gilang itu sambil melirik mobil mewah yang dibawa sang anak.
__ADS_1
"Mobil kita, Lucy. Ayah memberikannya untuk kita," jawab Cempaka sembari memegangi tangan Lucy. Wajahnya terlihat berseri, ada kebahagiaan yang terlahir dari hati.
Lucy terlihat tak senang, prasangkanya tak pernah benar terhadap laki-laki tua itu. Menurutnya, dia sama saja seperti Caesar. Tentu saja, karena mereka adalah ayah dan anak. Bukankah buah jatuh tak akan pernah jauh dari pohonnya?
"Ada apa, Lucy? Kau terlihat mencemaskan sesuatu." Cempaka mengernyit ketika melihat wajah Lucy yang gusar.
Wanita itu menghela napas, meminta mereka untuk masuk ke dalam. Ada ketakutan di dalam hatinya akan rencana tersembunyi yang sudah disusun tuan Arya.
"Kau tidak merasa cemas? Bagaimana jika itu hanya tipu daya darinya. Kau diiming-imingi dengan banyak hal, untuk selanjutnya dia akan meminta imbalan berupa kedua cucunya. Jangan mudah percaya begitu saja, Manda. Kau tidak ingat Caesar? Mereka ayah dan anak ... aku yakin kau mengerti maksudku," ujar Lucy menegaskan kepada Cempaka.
Dia menatap wanita beranak kembar di hadapannya dengan tatapan serius. Lalu, pandangannya beralih pada si Kembar yang duduk terpisah.
Cempaka menghela napas, mematri pandangan pada kedua anaknya dengan penuh keragu-raguan. Entah mengapa dia begitu percaya bahwa tuan Arya tidak seperti Caesar yang sedang berada dalam kuasa Eva.
"Kau tahu, Lucy ... sebenarnya Caesar itu laki-laki baik, aku bisa menilainya. Hanya saja, dia begitu takut kepada Eva ... entahlah. Apakah dia terlalu cinta atau terlalu bodoh? Aku pernah merasakan kebaikannya. Arjuna mengatakan bahwa dia selalu menanyakan kabar tentangku setelah kita melakukan pemeriksaan, tapi dia tak dapat pergi karena Eva selalu mencegahnya."
Cempaka menatap Lucy, sebagai wanita yang pernah berada satu ranjang bersama Caesar, sedikitnya Cempaka tahu seperti apa laki-laki itu sebenarnya. Dia diam dan mengamati, mengawasi dan memperhatikan.
Lucy tercenung, membayangkan dirinya saat masih bekerja di rumah itu dan belum bertemu Cempaka. Caesar tidak pernah memberikan aturan yang menyulitkan semua pekerja, dia bahkan memberi kebebasan kepada mereka untuk pergi yang terpenting ada kejelasan alasan. Tak seperti Eva, yang memiliki segudang peraturan untuk mereka.
Namun, tetap saja, laki-laki yang sudah berada di dalam kuasa perempuan tentu akan sulit untuk melihat kebenaran. Dia tidak akan melihat yang lain karena di matanya hanya ada perempuan itu.
"Entahlah, Manda. Aku tetap saja khawatir. Orang-orang kaya dan berkuasa seperti mereka selalu punya cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Aku khawatir, suatu hari tuan Arya akan meminta imbalan dan memisahkanmu dari mereka. Untuk itu, aku selalu mewanti-wanti dirimu agar tetap waspada dan tidak terlena," ucap Lucy, layaknya seorang ibu yang menasehati anaknya.
Cempaka terenyuh, bibirnya tersenyum haru. Ia menunduk, menatap bayi Zia di pangkuan.
"Kalian dengar, sayang. Nenek Lucy begitu peduli kepada kita. Kalian harus menyayanginya sebagaimana menyayangi Mommy kalian." Cempaka mengecup ubun-ubun bayi itu, kemudian menatap Lucy dan mengucapkan banyak terima kasih lewat sorot mata dan sentuhan.
__ADS_1