(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 28


__ADS_3

"Siapa yang membuat masakan itu?" Caesar menjatuhkan punggung pada sandaran kursi, memutar-mutar bolpoin di tangan sambil tersenyum samar menatap kepala pelayan yang berdiri di depan meja kerjanya.


"Tentu saja nona, Tuan. Saya hanya memberikan resep yang dimiliki ibu Anda. Selebihnya nona sendiri yang berusaha menyajikan masakan lezat tersebut." Yudi tersenyum, tersirat kekaguman juga kebanggaan di wajahnya yang sudah mulai keriput.


Senyum Caesar terkembang lebih lebar, senyum yang telah hilang belasan tahu lamanya. Kini, Yudi melihatnya lagi.


Nona, Anda memang luar biasa. Pelan-pelan Anda mengembalikan Tuan Muda kami.


Hati Yudi bergumam penuh syukur. Ada banyak perbedaan yang dia rasakan semenjak Cempaka hadir di rumah itu. Caesar lebih banyak tersenyum meskipun sikap dinginnya terkadang masih muncul.


"Sudah kuduga. Dia berkilah ... dia mengatakan semua karena bantuanmu juga pelayan yang lain. Kau tahu, Yud." Caesar menghela napas, mendongakkan wajah menatap langit-langit ruangan yang sudah terlihat kusam.


Yudi diam mendengarkan, bibirnya turut tersenyum melihat wajah manis sang tuan.


"Sudah lama sekali aku tidak merasakan kebahagiaan ini. Sejak ibu pergi meninggalkan aku. Hati ini terasa hampa, lidahku hambar. Semua makanan yang aku telan, tidak memiliki cita rasa yang pas." Caesar menoleh pada laki-laki paruh baya itu.


Raut kebahagiaan jelas sekali terpancar di wajahnya. Semakin tampan dan bercahaya.


"Dan malam ini ... malam ini aku menemukannya lagi. Sesuatu yang hilang dari dalam diriku, kembali secara perlahan. Yudi, beritahu aku apakah dia reinkarnasi ibuku? Apa jiwa ibuku ada di dalam dirinya? Mengapa setelah dia ada di rumah ini, aku merasakan keberadaan ibuku. Katakan, Yud. Aku tidak berharap itu. Aku berharap dia hanya istriku," ungkap Caesar dengan tatapan yang sulit diartikan.


Istriku. Kata itu berdenging keras di telinga Yudi. Baru saja Caesar menyebut wanita itu sebagai istrinya. Apakah dia sudah memiliki tempat di hati laki-laki itu?


"Kurasa bukan, Tuan. Itu hanya bentuk kebaikan Tuhan, hadiah dari Tuhan untuk setiap kebaikan yang Anda lakukan. Dia didatangkan Tuhan sebagai pengganti nyonya yang akan mengisi kesunyian di dalam rumah ini. Mungkin seperti itu kiranya, Tuan." Yudi membungkuk usai mengutarakan pendapatnya.


Caesar membanting tubuhnya kembali, membenarkan apa yang diucapkan sang kepala pelayan itu. Namun, detik kemudian senyumnya surut tatkala bayangan Cempaka mengenakan seragam pelayan melintas dalam benak.


Ia kembali menegakkan tubuh, menatap serius laki-laki berjanggut tipis itu.


"Apa Eva yang memintanya mengenakan pakaian pelayan?" tanya Caesar terdengar dingin menusuk.


Yudi terhentak, rasa gugup terus saja mengisi hati hingga terpancar di wajahnya yang beberapa detik memucat.


"Sudah kuduga. Kau tak perlu menjawabnya, diammu adalah jawaban." Ia menghela napas, salahnya juga yang telah membuat peraturan untuk tidak menunjukkan hubungan mereka di depan semua orang.

__ADS_1


Bodoh!


Dia mengumpati diri sendiri. Tak pernah terpikir olehnya jika Cempaka adalah sosok istimewa yang dihadirkan Tuhan untuknya.


Sementara itu, Cempaka baru saja akan masuk ke kamar ketika suara Eva menyurutkan maksudnya.


"Tunggu!"


Cempaka berbalik, menurunkan kembali tangannya yang telah mengudara hendak menarik tuas pintu.


"Nyonya, ada apa?" Ia menundukkan kepala kala mata tajam Eva menyerang netranya. Jantung berdegup tak beraturan mewanti-wanti apa yang akan diucapkan wanita itu.


Ketukan langkah Eva terdengar seperti dentuman meriam yang mengejutkan hati Cempaka. Kedua tangannya saling bertaut, meremas ujung pakaian yang ia kenakan.


"Apa sudah ada tanda-tanda kau akan mengandung? Aku tidak ingin berlama-lama. Jika kau tak mampu memberikan seorang anak aku akan mencari gadis lain, tapi ... kau harus mengembalikan semua uang yang sudah berikan. Atau ... kau bekerja di rumah ini sebagai pelayan sampai hutang-hutangmu lunas." Eva mengancam lewat bisikan.


Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu. Untuk makan saja aku kesulitan. Akan membutuhkan waktu seumur hidup untukku bekerja agar dapat melunasinya.


"Aku ingin secepatnya. Kau dengar, secepatnya! Secepatnya berikan aku seorang anak, maka kau akan bebas." Eva menegakkan tubuhnya kembali, menatap tajam manik Cempaka yang seketika mendongak mendengar permintaannya.


"Kau pantas mengenakan ini. Mengapa tidak bekerja saja di sini, kau akan aku bayar." Ia tersenyum mencibir.


Eva berbalik dan pergi meninggalkan wanita itu, bergetar tubuh Cempaka. Menatap nanar punggung wanita yang selalu bersikap semena-mena padanya.


Cempaka berbalik dan masuk ke dalam kamar. Berlari ke arah ranjang seraya menjatuhkan tubuh di atasnya. Ia menelusupkan wajah ke dalam bantal, meredam tangis yang tiba-tiba datang.


Beberapa saat berselang, Caesar dan Yudi keluar secara bersamaan setelah selesai berbicara. Ia yang hendak masuk ke kamarnya, terhenti saat melihat pintu kamar Cempaka yang terbuka.


"Apa dia belum kembali ke kamarnya? Atau ...." Tergesa Caesar mengayun langkah menuju kamar wanita itu.


Jantung yang sempat berdegup, seketika bernapas lega saat melihat tubuh itu tergolek di atas ranjang dalam keadaan tertelungkup. Caesar masuk ke dalam, menutup pintu dan menguncinya. Melangkah perlahan mendekati ranjang, memeriksa keadaan Cempaka.


Caesar tersenyum, pakaian laknat itu masih melekat di tubuh molek Cempaka. Tubuh yang berisi dan sintal, kenyal selayaknya belum terjamah. Ia duduk di tepi ranjang, dengan ragu hendak membangunkan Cempaka.

__ADS_1


"Champa, bangun! Kau tidak mengganti pakaianmu?" gugah Caesar sedikit mengguncang tubuh wanita itu.


Namun, Cempaka bergeming. Tertidur pulas karena terlalu lelah melakukan pekerjaan hari itu.


"Hai! Bangun, kau harus mengganti pakaianmu terlebih dahulu." Caesar tidak menyerah, kembali mengguncang punggung Cempaka berharap wanita itu akan terbangun.


"Sebentar lagi, Ibu. Aku lelah. Aku masih ingin tidur," racau Cempaka lirih.


Deg!


Segumpal daging dalam dada Caesar berdenyut nyeri. Cempaka sama sepertinya, merindukan sosok ibu yang mungkin juga telah pergi meninggalkan dunia. Ia mengepalkan tangan di atas punggung wanita itu, berbalik dan termenung.


Cempaka melenguh pendek, membuka mata kemudian.


"Ya ampun! Aku tertidur." Ia lekas beranjak duduk ketika menyadari pakaian itu masih melekat di tubuhnya.


"Astaga! Tuan!" Cempaka termundur, ruang di hatinya berdegup tak beraturan. Terkejut. "Sejak kapan Anda di sini?" tanyanya dengan mata terbelalak lebar dan terus berusaha menormalkan detak jantung.


Caesar menghela napas, mengusap wajah sebelum berbalik menghadap Cempaka. Kedua alisnya saling menyatu saat menemukan jejak tangisan di mata wanita itu.


"Apa ini? Apa kau menangis?" Caesar menyentuh lembut rahang Cempaka, beringsut semakin mendekati tubuh kaku wanita itu.


Caesar menangkup wajah Cempaka dengan kedua tangan, mengusap pipinya menggunakan ibu jari dengan sapuan lembut.


"Apa yang membuatmu menangis? Katakan, Champa. Apakah Eva?" Laki-laki itu bertanya sambil menahan gejolak di hatinya.


Cempaka membelalak, menggeleng kemudian.


"Ti-tidak, Tuan. Bu-bukan. Aku hanya merindukan ibu juga kedua adikku," kilah Cempaka menurunkan pandangan menghindari tatapan Caesar.


Tak ada yang dapat ia katakan, lekas menarik tubuh Cempaka ke dalam dekapan.


Maafkan aku, Champa.

__ADS_1


__ADS_2