
Hari-hari berlalu, Cempaka semakin yakin dan siap dengan rencananya. Tak ada yang mengetahui kecuali Lucy dan keluarga kecilnya. Bahkan, Arjuna pun tak tahu apa rencana sebenarnya yang sedang dijalankan Cempaka.
Satu per satu semua barang yang diperlukan dibawa Lucy secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan para penjaga. Tuan Arya pun memutuskan untuk kembali menetap di rumah Caesar.
"Kau yakin tidak ada yang melihat?" bisik Cempaka sesaat Lucy tiba di rumah sambil membawa sayuran yang dibelinya.
"Aman, Nona. Saya yakin para penjaga itupun tidak akan menaruh curiga. Anda tenang saja," jawab Lucy sambil mengunci pintu rumah.
Tanpa disadarinya, seseorang telah mengintai di kejauhan. Secara tidak sengaja dia melewati komplek tersebut dan melihat Cempaka di teras rumah.
"Ternyata di sini kau tinggal." Dia bergumam dengan rahang mengeras. Tanpa tahu jika ada banyak penjaga yang bersembunyi.
Dia berbaik arah, berencana mendatangi Cempaka di malam hari. Kali ini, dia bertekad harus mendapatkan apa yang dia inginkan dari wanita hamil besar itu.
"Bagus jika begitu. Aku berharap mereka memang tidak curiga," ucap Cempaka seraya menjatuhkan bokong di atas sofa.
Sementara Lucy pergi ke dapur menyiapkan makan siang untuk mereka. Hidup layaknya saudara yang saling membantu satu sama lain. Lucy begitu memperhatikan Cempaka, mulai dari makanan dan kebutuhan lainnya.
"Kau dengar kabar tentang laki-laki tua itu, Lucy?" tanya Cempaka sambil membolak-balik majalah anak.
"Tuan Arjuna mengatakan jika beliau akan menatap di rumah tuan Caesar sampai nyonya melahirkan," jawab Lucy sesuai kabar yang diberikan oleh Arjuna.
Cempaka manggut-manggut, tanpa mengalihkan perhatian dari majalah ia tersenyum senang.
"Bagus jika begitu. Kita bisa lebih leluasa," sahut Cempaka tak acuh.
Lucy menyambut dengan senyuman, tangannya lihai merajang sayuran dan memotong daging yang dibelinya. Dengan kartu ATM yang diberikan Caesar padanya, Cempaka memenuhi semua kebutuhan hidup mereka.
__ADS_1
"Bagaimana jika tuan besar tahu jika kehamilan nyonya hanya palsu?" gumam Cempaka tanpa sadar.
"Saya dengar jika tuan muda tak dapat memiliki keturunan dari istrinya yang sah, maka posisinya akan dilengserkan oleh para dewan dan pemegang saham di perusahaan meskipun tuan sendiri sudah cukup kuat untuk menduduki posisi tersebut. Seiring berjalannya waktu tuan akan menua dan harus digantikan. Di saat itulah keturunan dibutuhkan," ujar Lucy membuat Cempaka tertegun mendengar penuturannya.
Ia tampak berpikir, hal tersebut akan menjadi rumit untuk ke depannya. Dia tidak terlalu mengerti tentang dunia bisnis beserta kekejamannya. Yang dia pikirkan hanyalah dirinya dan anak yang berada di dalam kandungan.
"Apa dunia bisnis memang sekejam itu?" tanya Cempaka tanpa sadar. Ia mengusap perutnya yang membuncit membayangkan anak-anaknya akan menjadi rebutan.
"Lebih kejam dari yang Anda dengar sekarang, Nona. Dunia bisnis selalu melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Untuk itulah nyonya melakukan ini. Karena nyonya tidak dapat memberikan keturunan untuk keluarga Arya, maka dia berani menyewa Anda demi seorang keturunan dan membohongi semua orang."
Cempaka tertegun, apa sangkut pautnya dengan Eva? Bukankah yang harusnya memiliki keturunan adalah Caesar?
"Untuk apa dia melakukan itu?" Cempaka tertarik.
"Untuk apa dia melakukan itu?" Cempaka menoleh ke belakang sambil mengulang pertanyaannya, menatap Lucy yang berada di dapur.
"Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya?" Semakin tertarik Cempaka untuk mendengar kelanjutannya.
"Entah. Saya tidak tahu pasti apa yang akan terjadi ke depannya. Yang pasti, kekayaan milik keluarga Arya tak lama lagi akan berada dalam genggaman nyonya. Lewat kehamilan palsunya juga nanti anak yang akan dia dapatkan." Lucy menggelengkan kepala tak tahu. Untuk ke depannya dia tidak tahu persis apa yang akan terjadi pada keluarga itu.
Cempaka menghela napas, berbalik sambil tersenyum aneh.
"Mungkin saja akan ada pertunjukan di masa depan. Kita tidak akan pernah tahu, bukan?" Cempaka memicingkan mata, bibirnya tersenyum sinis membayangkan kekacauan yang akan terjadi di masa depan perihal keturunan keluarga Arya.
"Tapi apapun itu, saya harap mereka tidak akan pernah melibatkan Anda lagi." Lucy berharap, tapi hatinya meragu.
"Bagaimana tidak? Akulah sumber kekacauan yang akan terjadi di masa depan, tapi semoga saja tidak terjadi apapun karena aku hanya ingin hidup dengan tenang tanpa gangguan dari mereka." Cempaka menurunkan pandangan, menatap puncak perut yang membuncit.
__ADS_1
"Anda benar. Hidup dengan tenang tanpa gangguan dari siapapun." Lucy tersenyum, melanjutkan kegiatan masak-memasaknya dengan perasaan yang lega untuk saat ini.
Sementara di rumah Caesar, laki-laki itu tengah menunggu Eva di lantai bawah. Sesuai kesepakatan yang mereka buat, keduanya akan pergi mengunjungi Cempaka di kediamannya.
"Eva! Kau sudah siap?" teriak Caesar dari tempatnya berdiri.
Tak ada sahutan, wanita yang dipanggilnya seolah-olah tak mendengar suara Caesar.
"Kalian akan pergi ke mana, Nak?" tanya tuan Arya sambil berjalan mendekati. Di sisinya, Lisa mendampingi menggamit tangan tuan Arya dengan erat. Seolah-olah tak ingin terlepas lagi.
Ditanya begitu, Caesar gelagapan. Salah satu yang ingin menggulingkannya dari tahta adalah wanita yang sedang bergelayut di lengan ayahnya. Jika dia tahu Eva hanya berpura-pura hamil, maka itu akan menjadi senjata ampuh untuk Lisa.
"Ah, kami hanya akan pergi berjalan-jalan, Ayah. Eva sudah terlalu lama berdiam diri di rumah, aku takut dia merasa jemu dan sedikit ingin memberinya hiburan," jawab Caesar mencoba bersikap tenang agar keduanya tidak menaruh curiga.
"Bukankah kandungan Eva sudah begitu besar? Apa tidak masalah mengajaknya pergi-pergi? Bagaimana jika terjadi sesuatu? Bukankah sebaiknya Eva berdiam diri di rumah agar kandungannya tetap terjaga," cecar tuan Arya begitu peduli pada menantunya.
Caesar terdiam, menahan kegugupan dari sederet pertanyaan yang diajukan ayahnya itu.
"Sudahlah, biarkan mereka menghabiskan waktu berdua. Lagipula, Caesar sudah pasti akan menjaga istri dan anak yang ada di dalam kandungannya. Kau hanya harus percaya pada mereka." Lisa mengusap dada suaminya, merayu tuan Arya agar tidak terlalu memikirkan Eva.
Laki-laki tua itu menghela napas dalam, dan menghembuskannya dengan kasar. Ia mendongak, menatap putranya yang telah menyia-nyiakan Cempaka. Bagaimana bisa?
"Baiklah. Berhati-hatilah selalu, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi." Tuan Arya melanjutkan perjalanan menuju halaman belakang. Tempat yang saat ini menjadi favorit sejak perbincangannya dengan Cempaka beberapa waktu lalu.
Oleh karena merasa jenuh dan bosan, Caesar menghampiri Eva di kamarnya. Tanpa mengetuk pintu, Caesar membukanya dengan sedikit kuat.
"Apa yang kau lakukan ... Eva?"
__ADS_1