
"Sayang!" Lisa menerobos masuk, tapi barisan penjaga itu menghalangi jalannya.
"Minggir! Di sana suamiku. Kenapa kalian menghalangiku? Kalian lupa, aku nyonya besar kalian, istri dari tuan Arya!" hardik Lisa tidak terima dengan perbuatan orang-orang berseragam itu.
Lisa mendongak, menatap tuan Arya yang masih duduk di teras bersama salah satu cucunya.
"Suamiku! Aku ingin menemanimu di sini, tapi mereka menghalangi jalanku. Katakan pada mereka, untuk memberiku jalan!" teriak Lisa merayu suaminya.
Namun, tuan Arya tak menanggapi, justru beranjak dari teras dan masuk ke dalam.
"Sayang! Sayang!" Suara wanita itu melengking tinggi memekakkan telinga.
Sekretaris tuan Arya yang masih di sana menghela napas, berjalan mendekat untuk menegaskan kepada mereka.
"Maaf, Nyonya. Jika Anda ingin masuk ke dalam rumah ini, maka Anda harus meminta izin kepada pemiliknya-"
"Bukankah ini milik suamiku? Kepada siapa aku harus meminta izin?" sentak Lisa tetap tidak bisa menerima.
"Tuan sudah mewariskan rumah ini kepada kedua cucunya dan juga nona Cempaka. Kami tidak berwenang lagi mengizinkan Anda masuk. Silahkan kembali, jangan biarkan tuan Caesar menunggu terlalu lama," terang sang sekretaris bersungguh-sungguh.
"Sudahlah, Bu. Kita pulang sekarang, Caesar sudah ada di rumah. Aku tidak ingin dia semakin marah kepadaku, Bu." Eva menarik tangan Lisa agar segera pergi dari tempat itu. Dengan membawa kekalahan, mereka kembali.
Tak ada pembicaraan di sepanjang perjalanan. Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing terutama Lisa yang masih merasa bingung, juga Gyan yang terus saja memikirkan perkataan Cempaka.
"Kau pasti tahu sesuatu, Ani. Katakan, apa yang kau tahu?" tuntut Lisa yang duduk bersebelahan dengan Ani.
Wanita pengasuh itu terhenyak, mendongak dengan mata membelalak sejenak. Lalu, menunduk kemudian. Berpaling menghindari tatapan Lisa.
"Kenapa diam? Katakan sesuatu, Ani. Kau pasti tahu sesuatu!" Lisa semakin menuntut menyentuh bahu Ani dengan kasar.
Eva yang duduk di kursi depan melirik, dia tetap diam dan membiarkan Ani mengatakan semuanya.
"Katakan padaku apa yang kau tahu?" Lisa menggeram berdesis dari balik giginya yang merapat.
__ADS_1
Ani mendesis, memejamkan mata merasakan ngilu karena lengannya yang diremas Lisa cukup kuat.
"Sa-sakit, Nyonya!" desis Ani merintih kesakitan.
Lisa tak mengindahkan rintihan Ani, terus mencengkram lengan wanita itu dengan sangat kuat.
"Aku tidak akan lepaskan sebelum kau mengatakan yang sebenarnya kepadaku!" ancam Lisa geram.
Ani melirik Eva dalam kesakitannya, tapi wanita itu sungguh-sungguh tak peduli. Apa yang sebenarnya dia harapkan? Bantuan? Pertolongan?
"Ba-baik. Sa-saya akan mengatakannya, tapi tolong lepaskan. Sakit," rintih Ani sembari meringis.
Lisa mendengus, menghempaskan lengan Ani hingga tubuh wanita itu terhuyung ke jendela.
"Cepat katakan!" Lisa melipat kedua tangan di perut, menatap tajam pengasuh cucunya itu.
"Se-sebenarnya ...." Ani menghela napas, menguatkan hati untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Nona Cempaka meminta saya menjadi pengasuh anak nyonya Eva." Ani menunduk, tak akan mungkin dia mengatakan bahwa Evan itu adalah cucunya.
"Nona Cempaka memang melahirkan bayi kembar. Sesuai perjanjian nona harus memberikan bayi yang dilahirkannya kepada nyonya Eva, tapi sebagai ibu siapapun tak akan memberikan anaknya kepada orang lain termasuk nona Cempaka," ungkap Ani membuat Eva dan Lisa juga Gyan sama-sama terperangah.
"Apa? Jadi, anak siapa yang dia berikan kepadaku?" pekik Eva dengan mata mendelik tidak terima.
Ani menghela napas, melirik Gyan tak senang. Matanya berkilat-kilat penuh dendam, seolah-olah ingin mencabik seluruh daging dalam diri pemuda itu. Secara kebetulan Gyan pun melihat lewat spion tengah, ia mengernyit.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?!" sentak Gyan membuat Ani memutuskan pandangan.
"Seperti yang Anda dengar, Nyonya, bahwa nona Cempaka hanya melahirkan bayi kembar dua saja. Bukan tiga. Anak yang Anda terima bukanlah anak yang terlahir dari rahim nona Cempaka, melainkan dari rahim wanita lain yang dinodai oleh salah satu keluarga Arya dan tidak mau bertanggungjawab." Mata Ani kembali melirik Gyan.
Seketika tubuh pemuda yang sedang mengemudi itu menegang dengan sendirinya. Ia meneguk ludah ketika tak sengaja menerima hujaman manik Ani yang tajam. Rasa takut itu kembali menjalar ke seluruh pembuluh darah, berdesir hingga ke ubun-ubun.
"Keluarga Arya? Siapa yang kau maksud?" Lisa menggeram, curiga kepada anaknya sendiri. Dia ingat Gyan pernah bercerita tentang seorang gadis yang dinodainya.
__ADS_1
Mata Lisa membelalak, menatap sang anak yang sudah berkeringat dingin karena hawa di di dalam mobil berubah drastis. Ani bungkam, hanya tatapan mata saja yang menunjukkan kebencian pada seseorang yang tepat berada di dekatnya.
"Katakan, Ani! Siapa?!" bentak Lisa sembari mengguncang tubuh Ani.
Secara tiba-tiba mobil menjadi oleng, menjerit semua wanita di dalam sana. Gyan lepas kendali, mengemudi tak beraturan.
"Gyan! Apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuh kita semua! Hentikan mobilnya sekarang juga!" jerit Eva panik, kedua tangannya memegangi badan mobil dengan erat.
Jantung mereka berdebar-debar bersamaan dengan peluh yang membanjiri tubuh. Gyan seolah-olah menjadi tuli, tidak mendengar jerit ketakutan dari ketiga wanita yang berada di dalam mobil yang dikemudikannya.
"Gyan! Sadar, Gyan! Apa kau tidak mendengarku! Hentikan mobilnya sekarang juga!" Eva kembali berteriak sambil memperhatikan jalan dan wajah Gyan yang mengeras. Dadanya naik dan turun dengan berat, entah apa yang terjadi pada pemuda itu.
Eva merangsek mendekati kemudi, membanting stir ke kiri dan menginjak rem sekaligus. Ban berdecit kencang sehingga menimbulkan percikan api. Mobil berhenti, mereka bertiga bernapas lega. Eva menatap tajam Gyan yang mematung dengan wajah tegang.
Dia menjauh, dan ....
Plak!
Satu tamparan mendarat keras di pipi pemuda itu.
"Kau ingin membunuh kami semua? Jika kau ingin mati, matilah sendiri! Jangan membawa-bawa kami!" bentak Eva seraya membuka pintu kemudi dan meminta Gyan untuk keluar. Dia yang akan menggantikannya mengemudi.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menampar anakku juga memarahinya?" Lisa membentak tidak terima, terlebih saat melihat Eva memaksa Gyan untuk keluar.
"Diam kau! Jika masih ingin kembali bersama-sama, maka suruh anakmu untuk naik!" titah Eva bersiap mengemudi.
"Sial!" Lisa mengumpat seraya keluar dari mobil untuk mengajak Gyan masuk ke dalam. Seperti kehilangan dirinya, Gyan menolak untuk masuk.
"Ani, pindahlah ke depan. Biarkan mereka duduk di belakang." Eva kembali memerintah Ani, enggan berdampingan dengan laki-laki itu.
"Hei, cepatlah! Jika tidak, aku akan meninggalkan kalian di sini!" teriak Eva dari balik jendela mobil yang dibukanya.
Lisa panik, dia menyeret tangan Gyan dengan susah payah untuk secepatnya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Biarkan aku pergi, Ibu! Biarkan aku pergi! Aku harus menebus semua dosaku, Ibu!" Gyan meracau sambil menangis.
Eva mendengus tak peduli, menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk segera tiba di rumah.