
"Hhmmm!"
Kedua laki-laki yang duduk di meja paling pjok, tercengang saat mencicipi satu menu masakan di restoran yang disediakan resort tersebut. Mata mereka membelalak, tubuh seketika mematung, seolah-olah tertarik kembali ke masa lalu di mana ibu-ibu mereka membuatkan masakan.
"A-apa aku tidak salah merasa? Ini ... persis seperti masakan ibu," lirih Caesar mulai tersadar dan kembali mengambil makanan.
Arjuna berkedip, setuju dengan apa yang diucapkan tuannya.
"Anda benar, Tuan. Lidah kita tidak mungkin salah mengenali," timpal Arjuna sembari mengedarkan pandangan.
Keduanya menikmati makanan di meja, sampai pada satu titik Caesar tersadar akan sesuatu.
"Cempaka? Apa Cempaka ...?" Caesar mengangkat kepala, mencari pelayan untuk bertanya.
"Pelayan!" Dia melambaikan tangan, meminta pelayan yang menoleh untuk mendekat.
"Ya, Tuan!" Pelayan laki-laki itu melirik bayi di gendongan Caesar, asik sendiri meminum susunya.
"Siapa yang memasak di restoran ini?" tanya Caesar membuat kening pelayan tersebut berkerut.
"Tentu saja koki di dapur, Tuan." Sedikit bingung dia menjawab. Di mana-mana yang memasak menu di restoran pastilah seorang koki.
"Perempuan?" tebak Caesar tak sadar bibirnya mengulas senyum. Itu terlihat aneh di mata sang pelayan.
"Laki-laki, Tuan, tapi mohon maaf di jam makan seperti ini koki biasanya sangat sibuk." Ia tersenyum setelah senyum aneh yang tiba-tiba muncul di bibir Caesar, surut kembali.
"Ya sudah. Terima kasih banyak." Caesar memaksakan bibirnya tersenyum, ia menghela napas sambil menatap masakan yang terhampar di hadapannya.
Arjuna diam memperhatikan, dia sendiri pun merasa dekat dengan seseorang yang membuat menu makanan ini.
"Aku pikir Cempaka yang bekerja di sini karena menu ini sering dia buat di rumah dan rasanya sama persis." Dia kembali diam, merenungi olahan sayur di depan matanya.
"Saya juga berpikir begitu, Tuan. Mungkin hanya kebetulan, karena kenyataannya kita tidak melihat nona juga pekerja itu di sini," sahut Arjuna diakhiri helaan napasnya.
__ADS_1
"Aku mendengar pekerja di villa mengatakan bahwa pemilik resort ini tinggal berdampingan. Apa mungkin rumah yang ada di sana!" Caesar menunjuk ke arah jalan yang menuju rumah tinggal Cempaka.
Memang tidak terlihat karena terhalang pepohonan. Dia hanya menebak dan mengira karena terdapat jalan lain di sana.
"Saya akan mencari tahunya, Tuan. Sekarang, lebih baik habiskan makanan Anda dulu." Arjuna berjanji dengan pasti.
Caesar menganggukkan kepala, selalu percaya pada asistennya itu. Keduanya kembali menikmati makanan, sesekali akan menyuapi bayi Evan dengan sayuran.
****
Di kota mereka, Eva berjalan bolak-balik di kamarnya. Dia tidak ke manapun sejak kehilangan kabar suami juga sang anak.
"Argh! Sial!" Eva membanting ponsel ke atas ranjang setelah berusaha puluhan kali menelpon nomor Caesar dan Arjuna, tapi tak kunjung terjawab.
"Ke mana sebenarnya mereka pergi? Apa mereka sengaja meninggalkan aku tanpa kabar seperti ini? Caesar sialan! Awas kalian kembali!" Eva meradang, meremas jemarinya sendiri.
Ia banting bobot tubuh dengan kasar di atas ranjang, memukul kasur, menjambak selimut. Apapun dia lakukan untuk melampiaskan kekesalan. Sampai dering ponsel menghentikan kegiatan mengamuknya, Eva buru-buru mengambil benda tersebut.
"Sial! Kukira Caesar atau Arjuna!" Kembali dilemparnya ponsel tersebut setelah melihat nama si Pemanggil.
"Ada apa? Kenapa kau menggangguku?!" Deru napas Eva yang memburu sampai di telinga penelepon tersebut.
"Maaf, Nyonya. Kami hanya ingin melaporkan tentang pencarian kami," jawab suara di seberang membuat Eva mengendurkan urat-urat emosinya. Dia lupa bahwa sedang menunggu kabar lain selain Caesar dan Evan. Yaitu, Cempaka.
"Yah, katakan apa kalian menemukannya?" Eva terduduk bersiap mendengarkan.
"Maaf, Nyonya. Kami sudah mencari ke segala penjuru kota, tapi nona Cempaka tidak dapat kami temukan. Bahkan, kami sudah mendatangi kediaman ayahnya, tetap saja tidak kami temukan. Sepertinya benar, nona Cempaka memang sudah pergi dari kota ini."
Kekesalan Eva kembali lagi, urat-urat di sekitar wajah dan leher mulai bermunculan seiring mengeratnya tangan dalam genggaman.
"Bodoh! Kukira kalian mampu menemukannya! Ternyata kalian semua memang tidak bisa diandalkan. Percuma aku bayar kalian, jika pada akhirnya nol besar! Jangan menampakkan wajah kalian di hadapanku!" bentak Eva berapi-api.
Dia langsung mematikan sambungan, mengerang penuh emosi.
__ADS_1
"Argh!" Dilemparnya benda pipih di tangan hingga membentur dinding dan jatuh berserakan di lantai. Kesepuluh jemari Eva mencengkeram pinggiran ranjang, napasnya kembali naik tak beraturan. Bukan kabar baik, tapi selalu kabar tak mengenakan yang ia dapat.
"Kenapa semuanya jadi kacau begini? Caesar pergi dan tidak ada kabar, dan semua orang tidak dapat diandalkan untuk mencari Cempaka. Sial, sial, sial!" Eva kembali menjerit, menjambak rambutnya sendiri.
Tubuhnya luruh di lantai, duduk sambil menangis. Keadaan yang berbanding terbalik dengan Eva yang biasanya. Tidak ada riasan make-up di wajah, tidak ada sanggul ala bangsawan Eropa, atau harum aroma parfum yang selalu melekat di tubuhnya. Eva benar-benar kacau.
****
"Tuan, nona pergi ke kota itu. Aku mendapat kabar dari supir yang mengantarnya."
Di villa, seorang pekerja melaporkan kepergian Cempaka kepada kepala pelayan. Mendengar itu, dia segera pergi menemui tuan Arya yang selalu duduk di halaman belakang sambil menikmati secangkir teh herbal dari Cempaka.
"Tuan!"
Lelaki yang sedang membaca surat kabar itu mendongak, menatap dengan senyum di bibir pada orang kepercayaannya.
"Ada apa? Apa ada hal darurat yang ingin kau sampaikan?" tanyanya sembari melipat surat kabar dan menyimpannya di atas meja.
"Saya baru mendapat kabar, bawah nona pergi ke kota itu lagi bersama kedua anaknya. Apa kita perlu menghubungi mereka untuk melindungi nona selama di sana? Karena saya mendengar jika nyonya Eva sedang mencarinya," ujar kepala pelayan yang begitu sigap dan selalu menerima kabar yang akurat.
"Benarkah?" Tuan Arya menjauhkan punggung dari sandaran kursi.
"Benar, Tuan."
Lelaki yang tak lagi muda itu menghela napas, apa yang ingin mereka lakukan dengan mencari Cempaka?
"Pinta orang-orang menjaga mereka dan arahkan mereka ke rumah utama karena itu akan menjadi milik kedua cucuku," titah tuan Arya yang kembali menjatuhkan punggung pada sandaran.
"Baik, Tuan!" Kepala pelayan itu membungkuk. Lalu, pamit undur diri untuk menghubungi orang-orang yang ada di rumah utama.
Tuan Arya merenung, apa yang akan dilakukan Eva terhadap Cempaka?
"Tidak puaskah dia sudah mengkhianati Caesar? Dan mengapa mencari Cempaka lagi?" Tuan Arya menghela napas, benar-benar tak habis pikir dengan menantunya yang satu itu.
__ADS_1
Ia meraih teh yang masih mengepulkan asap, menyeruputnya beberapa teguk. Rasa tenang dan damai kembali ia rasakan di saat ramuan tersebut menyentuh tenggorokan.
"Semoga tidak terjadi apapun terhadap mereka," gumamnya penuh harap.