
Pagi hari yang ditunggu pun tiba, baik Caesar maupun Cempaka keduanya telah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Bersama si Kembar mereka akan kembali ke kota kelahiran untuk mengunjungi makam keluarga.
"Manda, apa kau akan menggunakan jasanya? Apa tidak apa-apa kita pergi bersama dia?" tanya Lucy sembari menunjuk seorang laki-laki berseragam rapi yang duduk di sebuah gazebo.
Seorang pengawal yang sengaja diperintahkan tuan Arya untuk menjaga Cempaka dan kedua cucunya.
"Tidak apa-apa, Lucy. Aku percaya padanya," jawab Cempaka sambil mengulas senyum.
Mereka masing-masing membawa sebuah koper ukuran sedang berisi keperluan mereka, dan satu buah koper berisi keperluan si Kembar. Dibantu suami dan anak sulung Lucy, koper-koper tersebut dimasukkan ke dalam bagasi.
"Nona!" Pengawal itu sigap berdiri dan membuka pintu mobil untuk Cempaka dan Lucy. Sesuai yang diperintahkan majikannya, dia akan mengantar sekaligus melindungi mereka selama berada di dekatnya.
"Terima kasih." Cempaka masuk sambil menggendong bayi Zia, disusul Lucy yang menggendong bayi Zio.
"Ini adalah perjalanan pertama kalian, Mommy harap kalian baik-baik saja," bisik Cempaka sembari mencium ubun-ubun kedua anaknya.
Perjalanan pun dimulai. Dinda, Gilang, dan suami Lucy melambaikan tangan melepas kepergian mereka. Untuk pertama kalinya berpisah setelah kepindahan mereka ke tempat itu.
****
Sementara di villa, Arjuna duduk menunggu di teras sambil berbincang dengan seorang pekerja laki-laki. Darinya, sedikit dia tahu tentang pendiri bangunan tersebut.
"Kau pernah mendatangi tempat itu?" tanya Arjuna setelah mendengar keterangan darinya.
"Pernah, tapi saya tidak pernah bertemu dengan pemiliknya. Bahkan, karyawan yang bekerja di sana pun sangat jarang sekali melihat pemilik tempat itu padahal mereka tinggal berdampingan," jawab pekerja itu dengan mimik wajah meyakinkan.
"Berdampingan? Apakah pemiliknya tinggal di sana?" Arjuna semakin penasaran.
"Yah. Di sana ada sebuah rumah yang tak jauh dari resort. Menurut mereka, itu rumah pemilik resort. Sayangnya, mereka jarang melihat." Dia menggelengkan kepala, mendesah penuh sesal.
Arjuna yang sedikit membungkuk, menegakkan duduknya. Kerutan yang terbentuk di dahi pemuda itu, menandakan yang ia tengah berpikir keras mengenai siapa pemilik bangunan itu. Kenapa hatinya begitu penasaran ingin tahu?
"Ekhem!" Suara itu menyentak keduanya, rupanya sudah cukup lama Caesar berdiri di ambang pintu dan mendengarkan.
__ADS_1
"Tuan!" Arjuna terlonjak dari duduknya, begitu pula dengan pekerja tersebut.
"Kita pergi sekarang," ucap Caesar yang segera naik ke dalam mobil bersama Evan di gendongannya.
Mereka pergi menuju resort Cempaka tanpa mengucap sepatah kata pun. Dilihat dari mimik Caesar, dia masih nampak kesal karena bukti rekaman yang semalam diberikan kepala pelayan.
"Rasanya aku ingin segera kembali ke rumah, Arjuna," desis Caesar dari balik giginya yang merapat.
"Anda harus mendengar apa yang dikatakan ayah Anda, Tuan. Ada waktu yang tepat untuk kita membuka semuanya," ucap Arjuna mengingatkan.
Caesar menghela napas, rekaman semalam menyadarkannya bahwa selama ini dia sudah dibodohi Eva, Lisa, dan Gyan. Utamanya Eva yang selama ini dia ratukan.
"Aku memang benar-benar bodoh, Arjuna. Selama ini dibutakan cinta kepada Eva. Aku hanya tidak menyangka dia akan berbuat itu di belakangku, dan Lisa tahu." Caesar berdecak.
"Aku menyesal karena terlalu membebaskannya, tapi kini aku bersyukur telah mengetahui semuanya. Aku tidak akan tinggal diam," kecam Caesar sembari mengepalkan tangan erat.
Urat-urat di wajahnya menegang, bersamaan dengan hati yang bergejolak dan memanas. Namun, sentuhan lembut tangan bayi di pangkuannya, mengendurkan amarah Caesar. Ia tersenyum manakala tatapan mereka menyatu. Diciumnya wajah Evan, sembari membayangkan ada Cempaka di sisi mereka.
"Mereka memang sudah keterlaluan dan seharusnya mendapat pelajaran, Tuan. Terutama Lisa dan anaknya yang diangkat tuan menjadi keluarga terhormat, tapi mereka tidak bersyukur." Arjuna ikut merasa kesal, mengingat keangkuhan Lisa dan anaknya yang seolah-olah sudah menjadi anggota inti keluarga Arya.
"Ya, Tuan. Ulang tahun tuan besar sebentar lagi akan tiba, sudah pasti banyak kolega yang datang untuk menyumbangkan doa seperti tahun-tahun sebelumnya. Di sanalah kita akan memulai semuanya," ucap Arjuna melirik Caesar dan tersenyum tajam.
Caesar mengangguk setuju, biasanya Lisa dan Eva akan menjadi sorotan sebagai wanita paling beruntung karena dipersunting keluarga besar tersebut. Keduanya akan menjadi idola para wanita dengan penampilan yang sempurna.
Caesar mengedarkan pandangan, ia terkesiap saat melihat sebuah mobil melintas di samping mobil mereka. Sekilas ia mengenali mobil tersebut milik keluarganya, tapi tidak tahu siapa yang ada di dalam.
"Siapa yang ada di dalam mobil tadi, Arjuna?" tanyanya kepada sang asisten.
"Maaf, Tuan. Saya tidak terlalu memperhatikan," sahut Arjuna karena terlalu fokus mengemudi.
Caesar kembali terdiam, tapi pikirannya mengelana pada mobil tadi.
"Apakah ini tempatnya?" tanya Caesar saat mobil mereka berhenti di depan sebuah gerbang.
__ADS_1
"Sepertinya benar ... resort Amanda." Arjuna mengeja tulisan yang tergantung di atas gerbang tersebut.
Tak lama seorang penjaga mempersilahkan mereka masuk dengan sopan. Arjuna membuka kaca, tersenyum sambil menganggukkan kepala. Tindakannya itu membuat tubuh laki-laki yang menyambut mereka menegang seketika.
Arjuna melajukan mobil masuk ke parkiran resort. Di sana, mereka hanya akan menginap selama satu malam saja atas saran sang ayah.
"Bukankah tadi tuan Caesar? Astaga! Kenapa kebetulan sekali, Cempaka baru saja pergi." Suami Lucy mengelus dada, menormalkan keadaan jantungnya yang sempat berdegup.
Dia menghubungi Gilang, memberitahu anaknya perihal kedatangan mantan suami Cempaka itu. Ketiganya merasa bersyukur, baik Lucy maupun Cempaka tidak ada di sana.
"Kakak! Apa yang terjadi?" Dinda mendekati Gilang, bertanya karena melihat reaksi sang kakak yang tiba-tiba menegang setelah menerima telpon.
"Tuan Caesar dan asistennya ada di sini. Kakak minta kau lebih berhati-hati, jangan sampai mereka tahu jika ini milik Amanda," bisik Gilang dengan tegas.
Dinda mengganggukkan kepala mengerti, dia beralih pekerjaan menjadi seorang penjaga kasir di restoran resort karena tak ingin melayani keduanya. Beberapa tamu dan pekerja perempuan menjerit histeris melihat dua sosok laki-laki yang memasuki lobi. Terlebih Caesar yang tak malu menggendong Evan. Dia seperti hot Daddy yang kesepian.
"Selamat datang di resort Amanda, Tuan! Kenyamanan Anda adalah tanggung jawab kami," sambut dua orang resepsionis dengan ramah dan sopan.
"Kami pesan satu kamar dengan ukuran yang luas. Apakah ada?" Arjuna mendekat, memesan kamar untuk mereka.
"Semua kamar di sini memiliki ukuran yang sama, Tuan. Lantai tiga adalah lantai yang menjadi andalan para tamu di sini. Menyuguhkan view yang menarik dari laut bebas, tapi jika Anda ingin memilih kamar di lantai lain, pekerja kami akan mengantar," ucap resepsionis tersebut sembari menunjuk dua pekerja laki-laki yang siap mengantar.
"Kami pesan di lantai tiga."
Mereka memberikan kunci kepada pekerja dan berterimakasih. Kedua pekerja membawa mereka ke lantai tiga menggunakan lift. Membuka pintu, dan merapikan seisi kamar. Tak lupa tirai dibuka. Arjuna berdiri di depan jendela kaca menatap hamparan laut luas.
"Benar-benar menarik. Kita bisa melihat lautan bebas dari sini." Arjuna mengagumi bangunan itu, mulai berpikir tentang siapa pemilik dari tempat tersebut.
Sementara Caesar, asik bermain dengan sang anak di atas ranjang.
"Kau benar, kamar di sini juga terasa nyaman. Sayangnya hanya ada satu ranjang saja." Caesar melirik sofa, Arjuna mendesah. Menyesal kenapa tidak memesan dua kamar saja.
"Kata Ayah makanan di restoran bawah sangat enak, aku ingin mencicipinya," ucap Caesar teringat perkataan sang ayah.
__ADS_1
"Semoga."