
Gadis itu mendengus, menatap pada pintu yang baru saja dibanting Eva. Ia beranjak, membersihkan diri dengan cepat. Meski rasa perih masih membuatnya meringis, tapi Cempaka tak peduli.
Sementara Eva tersenyum cerah ketika memasuki ruang makan di mana Caesar menunggunya.
"Selamat pagi!" sapanya dengan ceria, seraya mencium pipi laki-laki itu yang bergeming di kursinya.
Piring dibukakan pelayan, makanan pun dihidangkan sesuai keinginan. Menikmati santap pagi yang disebut sarapan, sebelum bergelut dengan aktivitas yang melelahkan. Eva tersenyum karena Caesar sama sekali tidak menanyakan ketiadaan sang saingan.
Suara derap langkah yang terdengar begitu cepat, membuat wanita angkuh itu mendengus kesal. Hampir kehilangan selera makannya. Namun, berbeda dengan Caesar, laki-laki itu justru tertegun sedikit terkejut karena Cempaka telah terbangun setelah semalaman melayaninya.
"Maaf, saya terlambat!" ucapnya setelah tiba di belakang kedua manusia yang sedang menikmati sarapannya.
"Kau sudah bangun?" tanya Caesar tanpa menoleh dan tetap melanjutkan makannya.
"Iya, Tuan."
Panggilannya untuk Caesar membuat Eva tersenyum jahat di dalam hati. Dia senang mendengar panggilan Cempaka itu. Seolah-olah menunjukkan tempatnya di mana.
"Duduk. Makanlah!" Sebuah perintah yang tak disangka-sangka datang dari Caesar.
Eva menghentikan gerakan tangannya di bibir ketika baru saja menyuapkan makanan ke mulutnya mendengar perintah laki-laki iti. Cempaka mendongak, mematung beberapa saat. Ia baru bergerak saat tangan Yudi sedikit mendorong punggungnya untuk duduk di kursi.
"Ah, aku bisa sendiri!" sergah Cempaka ketika seorang pelayan hendak membalik piringnya.
"Biarkan mereka melakukan tugasnya! Kau diam saja," sentak Eva tak senang dan menilai Cempaka hanya sedang mencari muka di hadapan Caesar.
Wanita itu tersenyum dan menyahut, "Saya tidak bisa membiarkan orang lain melakukan pekerjaan yang saya masih mampu melakukannya."
Eva menggeram, berselang suara sendok dibanting membuat Caesar terkejut. Laki-laki itu menghela napas, mereka berdua seperti sedang bersaing memperebutkan sesuatu.
"Aku Nyonya di sini! Siapa kau berani membantah ucapanku! Kau bahkan tidak pantas berbicara denganku. Kau dengar!" bentak Eva geram. Dia telah kehilangan selera makannya, emosi memuncak tak peduli meski di hadapan Caesar karena selama ini dia tak pernah ikut campur.
"Pelayan itu juga manusia, Nyonya. Tidak semua pekerjaan harus mereka yang mengerjakan. Hanya membalik piring saja, bukanlah hal yang berat," ujar Cempaka dengan berani.
Hal tersebut semakin membuat Eva terbakar dan Caesar menghentikan makannya. Menggenggam erat sendok di tangan, sudah tak lagi merasa tenang di meja makan.
"Mereka dibayar untuk itu! Kau pikir untuk apa?" Eva tak mau kalah.
Brak!
Mulut Cempaka yang sudah terbuka hendak menimpali, seketika terkatup kembali karena suara keras tersebut. Tak ada yang diucapkan laki-laki itu selain menenggak air putih kemudian berdiri.
"Jika kau sudah selesai makan, pergilah ke mobil lebih dulu. Aku tidak suka ada perdebatan di atas meja makanku!" titah Caesar pada Eva.
__ADS_1
Wanita itu mendengus, melirik Cempaka yang menundukkan kelapa. Mencibirkan bibir karena merasa sikap wanita itu hanyalah tipuan. Berpura-pura menjadi seseorang yang lemah, padahal menyerang saat lengah.
Eva berdiri dan meninggalkan ruang makan diantar dayang-dayang yang membawakan tas miliknya.
"Dan kau!" Suara Caesar yang bernada tinggi, menyentak tubuh Cempaka. Bahunya terguncang sedetik, jemarinya saling meremas satu sama lain.
"Habiskan makanmu dan beristirahatlah. Aku tahu kau pasti lelah, jangan membantah Eva. Dia tidak suka ucapannya dibantah." Caesar mengusap kepala Cempaka, suaranya pun berubah menjadi lembut.
Ah, wanita itu tercenung. Tak menyangka dia yang kejam di awal ternyata memiliki sisi lembut. Hal tersebut pun membuat semua pelayan di sana tercengang, selama mereka bekerja tak sekalipun melihat Caesar mengusap kepala Eva seperti yang dia lakukan pada Cempaka.
Wanita itu memberanikan diri untuk mendongak, menatap Caesar dengan pandangan bingung. Caesar bahkan tersenyum meski tipis, setelahnya ia pergi meninggalkan meja makan diikuti gerakan kepala Yudi yang meminta Cempaka untuk mengantar suaminya ke teras.
Dahi wanita itu mengernyit, tidak mengerti dengan isyarat tersebut.
"Anda harus mengantar Tuan, Nona. Silahkan!" bisik Yudi yang diangguki Cempaka.
Ia beranjak, kembali bingung ketika Yudi memberikan tas kerja Caesar kepadanya.
"Ini tas kerja Tuan, bawakan dan berikan kepada Tuan," ucap Yudi menjelaskan.
Cempaka lagi-lagi membulatkan mulut, menerima dan mengekor di belakang Caesar bersama Yudi sang kepala pelayan. Caesar berbalik, kedua alisnya saling bertaut melihat keberadaan Cempaka di sana.
"Ini. Hati-hati, dan selamat bekerja. Jangan lupakan makan siang Anda, Tuan," ucap Cempaka sembari menyerahkan tas kerja Caesar.
Bekerjalah dengan giat karena kebutuhan hidup semakin meningkat.
Kalimat itulah yang sering diucapkan Eva ketika melepas kepergiannya. Caesar menerima tas tersebut dengan hati yang menghangat, pipinya yang putih sedikit merona. Kemudian berbalik dengan perasaan yang lain, terasa damai dan hangat.
"Jangan lupa habiskan makan Anda, Nona. Sesuai perintah dari Tuan," titah Yudi yang diangguki Cempaka.
Wanita itu masih berdiri di teras, ia membalas senyum Arjuna ketika laki-laki itu menunduk menyapanya. Cempaka melambaikan tangan bersikap seperti seorang istri di film-film yang pernah ditontonnya.
"Silahkan, Nona! Hati-hati, di sini ada banyak CCTV yang setiap waktu memantau gerak-gerik Anda." Yudi menggiring Cempaka kembali ke ruang makan.
Ada yang kepanasan melihat Cempaka mengantar Caesar ke teras. Eva tak suka, dia menatap tajam suaminya yang sibuk memeriksa ponsel.
"Kenapa dia mengantarmu dan membawakan tas kerjamu?!" tanya Eva dengan ketus.
"Mungkin Yudi yang memintanya. Aku tidak tahu," sahut Caesar tanpa menoleh pada istrinya.
"Tapi kau juga suka, bukan? Kulihat kau tersenyum padanya. Apa yang sudah dia lakukan padamu? Apa dia ingin merebut hatimu dan menjauhkanmu dariku?!" sengit Eva sembari melipat kedua tangan dan berpaling ke arah jendela.
Caesar menghela napas, menyimpan ponsel di pangkuan dan berpaling pada jendela. Ia melipat bibir masih sedikit kesal karena perdebatan di meja makan tadi.
__ADS_1
"Bisakah kau tidak merusak pagiku? Aku ada banyak pekerjaan hari ini. Jadi, berhenti membahas hal yang tidak masuk akal lagi!" pinta Caesar masih dengan nada lembut sambil melirik istrinya.
Eva menoleh, melayangkan tatapan tajam pada laki-laki yang telah menikahinya selama lebih dari enam tahun itu.
Kau berubah karena dia, Caesar. Aku tidak akan membiarkanmu melabuhkan hati padanya. Tidak akan!
Eva mengendurkan emosi, melingkarkan tangan pada lengan Caesar seraya menjatuhkan kepala di bahu laki-laki itu.
"Baiklah. Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku hanya takut kau berubah dan berpaling dariku. Itu saja." Eva merajuk manja, berpura-pura sedih dan menyesal.
Caesar merangkul bahunya, mencium kelapanya dengan mesra. Mengusap-usap lengannya dengan sentuhan lembut. Menghilangkan kekhawatiran di hati Eva.
Wanita itu tersenyum puas, tapi si pengemudi merekam dengan jelas percakapan mereka di dalam ingatannya.
****
Di ruang makan, Cempaka melanjutkan sarapannya ditunggui oleh para pelayan. Ia segan dan gugup, seumur hidup tak sekalipun ketika makan ditonton seperti pagi itu.
"Kenapa kalian tidak makan juga? Duduklah, dan makan bersamaku," ucap Cempaka sambil tersenyum ramah.
Pelayan di hadapannya saling menatap satu sama lain, tangan mereka meremas ujung gaun pelayan yang dikenakan.
"Ma-maaf, Nona. Kami tidak bisa, kami punya tempat sendiri untuk makan," jawab salah satu dari mereka dengan gugup.
"Nona, jangan pikirkan kami. Habiskan saja makan Anda. Lalu, beristirahatlah!" ucap Yudi tak terbantahkan.
"Kalian tetap di sini, kau ikut denganku membersihkan kamar Nona!" titah Yudi pada salah satu pelayan perempuan.
Uhuk-uhuk!
Cempaka tersedak, teringat pada bercak darah yang mengering di atas sprei. Dia akan malu jika mereka melihatnya.
"Nona!"
Cempaka dengan cepat meminum air putih, menoleh dan ingin mencegah Yudi untuk tidak merapikan kamarnya. Ia beranjak dan berlari, tapi sayang laki-laki itu telah tiba di depan kamarnya.
"Rahasiakan apa yang kau lihat! Jangan pernah mengatakannya kepada siapapun termasuk keluargamu sendiri!" ingat Yudi pada pelayan itu.
"Baik, Pak!"
Ia melipat selimut, seketika tertegun dan mengerti dengan perintah Yudi saat melihat bercak merah. Pelayan tersebut menggulung sprei dan menumpuknya menjadi satu dengan pakaian kotor milik penghuni kamar itu.
"Tidak!" Cempaka membuka pintu dengan cepat, tapi sudah terlambat.
__ADS_1