(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 78


__ADS_3

"Sial! Kenapa dia tidak mau menjawab teleponku?" umpat Eva kesal. Berkali-kali mencoba menelpon Caesar saat di perjalanan, tetap saja laki-laki itu tak kunjung menjawab.


Eva meremas ponsel di tangan, rahangnya mengeras penuh emosi. Bukan menyadari kesalahan, dia justru menjadi kesal terhadap sikap Caesar yang tak mengindahkan panggilannya.


"Percepat mobilnya! Kenapa kau begitu lambat seperti siput!" bentak Eva pada supir saat dirasa mobil begitu lambat melaju.


"Maaf, Nyonya. Di depan macet, kita tidak bisa maju ke depan," beritahu sang supir.


Eva mendengus, semakin kesal karena kemacetan yang begitu padat. Ia melipat kedua tangan di perut, menggerutu tak karuan.


Dia kembali mencoba menelpon Caesar, tapi hasilnya tetap sama. Laki-laki itu sama sekali tidak mengangkatnya. Eva mengerang kesal, frustasi dibuat Caesar. Mobil kembali melaju setelah kemacetan terurai sedikit demi sedikit.


Tak sabar rasanya ingin segera tiba di kantor sang suami, dan melihat sendiri anaknya di sana. Eva berlari keluar beberapa saat setelah mobil berhenti di parkiran kantor.


Tanpa bertanya kepada resepsionis, dan tak acuh pada sapaan karyawan, dia terus memasuki lift khusus Presdir menuju ruangan Caesar. Dengan langkah lebar dan cepat, Eva tak mendengar peringatan dari sekretaris suaminya itu.


"Tuan tidak di tempat, Nyonya."


Tak acuh dan tak peduli, Eva terus masuk ke ruangan suaminya.


"Caesar!"


Brak!


Kosong. Tak ada siapapun di dalam sana, hanya ada kursi kebesaran Caesar yang tampak sepi. Eva merangsek masuk, membuka ruangan khusus Caesar dan juga kamar mandi. Tetap saja, laki-laki itu tak ada di sana. Ia kembali keluar menghampiri sekretaris wanita Caesar, bertanya padanya.


"Di mana suamiku?" tanya Eva sembari menggebrak meja wanita itu.

__ADS_1


Ia tersentak, berdiri dengan kepala tertunduk.


"Tu-tuan keluar, Nyonya, bersama tuan Arjuna. Sa-saya tidak tahu ke mana tuan pergi karena hari ini tidak ada jadwal apapun," jawab wanita tersebut terbata-bata.


Eva mengepalkan tangannya yang masih di atas meja, merapatkan rahang hingga semua giginya beradu.


"Sudah berapa lama dia pergi?" tanyanya lagi meski harus menahan geram.


"Dari pagi, Nyonya." Dia menjawab tanpa mengangkat wajahnya.


"Kau tahu ke mana mereka pergi?" Meski tahu perempuan itu tak mengetahui ke mana Caesar pergi dia tetap bertanya.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak pernah tahu ke mana tuan pergi bila tidak sesuai jadwal seperti ini."


Eva mematung dengan napas memburu, belum ingin beranjak dari hadapan wanita itu. Seperti sedang melakukan interview kerja, wanita di hadapannya terintimidasi oleh sikap Eva. Peluh mulai bermunculan di sekitar pelipis, berkali-kali menahan napas hingga menimbulkan sedikit sesak.


Wanita itu mengangguk cepat mendengar perintah Eva. Dia ingin istri atasannya cepat pergi dari hadapan. Pada akhirnya dia bisa bernapas lega dan membanting diri di kursi setelah kepergian Eva.


"Astaga! Wanita itu seperti akan memakanku saja." Dia menggelengkan kepala, dan kembali kepada pekerjaannya.


Eva duduk di kursi Caesar, dengan lancang memeriksa meja laki-laki itu. Dia tercengang saat membuka laci dan menemukan secarik kertas yang mencurigakan. Eva membukanya, membaca tulisan Cempaka.


Emosi kembali memuncak setelah tahu Ani adalah orang suruhan Cempaka untuk mengasuh bayinya. Dia meremas kertas tersebut, merasa dibodohi Caesar.


"Sial! Kenapa dia tidak meminta pendapatku tentang ini. Apa dia masih memikirkan Cempaka sampai saat ini? Kurang ajar kau, Caesar!" Eva menggeram marah.


Pantas saja Ani begitu berani karena dia orang yang disuruh Cempaka. Mungkin selama ini juga dia pergi membawa bayi Evan kepada ibunya ketika meminta izin keluar.

__ADS_1


"Mereka bekerjasama untuk membodohiku. Lihat saja, Cempaka! Aku akan menemukanmu dan memberimu pelajaran. Kau tidak bisa merebut kembali anak itu!" kecam Eva.


Dia mengira Ani membawa Evan bertemu Cempaka setiap kali izin pergi keluar. Dia mengira Cempaka masih berada di kota tersebut karena tak ingin kehilangan anaknya. Diam-diam bertemu dan mengambil hatinya.


Eva melakukan panggilan telepon, meminta orang-orangnya untuk mencari keberadaan Cempaka di kota tersebut.


"Aku ingin kalian menemukan wanita itu dan membawanya ke hadapanku!" Perintah dari Eva yang disambut kesanggupan mereka.


Ke mana mereka akan mencari? Cempaka tidak ada di kota tersebut.


"Awas saja kau, Cempaka! Saat mereka berhasil menemukanmu, aku tidak akan membiarkanmu berkeliaran dengan bebas di kota ini. Kau tidak boleh menampakkan diri di hadapan bayiku. Kalian tidak boleh bertemu!"


Eva kejam. Ya, itulah dia. Wanita yang penuh dengan ambisi dan selalu melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


****


Sementara di tempat lain, Lisa sedang menikmati hari. Tertawa bersama kumpulan teman-temannya, setelah berhasil mengadu domba Caesar dan Eva.


Bagaimana keadaan mereka, ya? Aku jadi ingin mengetahuinya. Apakah mereka bertengkar hebat? Aku senang sekali rasanya saat mengetahui Eva tak berkutik di hadapan Caesar.


Batinnya bergumam senang, membayangkan Eva tak mampu melawan kemarahan Caesar.


Aku yakin, cepat atau lambat dia akan datang kepadaku untuk meminta bantuan.


Tiba-tiba perasaan Lisa berubah emosi, mengingat Eva selama ini datang hanya untuk meminta bantuannya saja. Setelah itu, dia lupa dan tak peduli padanya.


"Aku tidak akan membiarkan dia berbuat semaunya lagi!"

__ADS_1


__ADS_2