(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 92


__ADS_3

Mobil Cempaka tiba di sore hari, mereka memutuskan untuk menginap di hotel dan esok hari baru akan mengunjungi pemakaman. Melihat kondisi si Kembar yang tidak memungkinkan untuk pergi dan perlu beristirahat.


"Nona, apa tidak sebaiknya Anda tinggal di rumah keluarga Arya? Saya diminta tuan untuk mengantar Anda ke sana," ucap sang supir setelah Cempaka memintanya mengantar mereka ke hotel.


"Rumah keluarga Arya? Tapi aku sudah tidak berhak atas itu? Lagipula di sana ada nyonya Eva, dan di rumah ayah ada nyonya Lisa juga anaknya. Lalu, aku harus kembali ke sana? Rasanya tidak mungkin!" Cempaka menggelengkan kepala sambil tersenyum aneh.


Tujuannya datang bukanlah untuk kembali ke rumah Caesar, dia hanya ingin mengunjungi makam ibu juga kedua adiknya saja. Setelah itu, mereka akan kembali lagi ke rumah. Sebuah tempat yang dipenuhi dengan kedamaian.


"Ekhem." Supir tersebut berdehem, salahnya karena tidak mengatakan dengan jelas. Mungkin saja Cempaka tidak tahu tentang rumah utama keluarga Arya.


"Maksud saya bukan ke rumah nyonya Eva atau ke rumah nyonya Lisa, tapi ke rumah utama keluarga Arya milik mendiang istri pertama tuan besar. Sesuai perintah dari tuan, saya diminta mengantar Anda ke sana karena bagaimanapun kedua anak Anda yang akan mewarisi rumah tersebut," terang sang supir sembari melirik Cempaka dengan senyum lewat spion tengah.


Cempaka tertegun, begitu pula dengan Lucy. Ingatannya kembali pada saat tuan Arya mengatakan bahwa sebagai istri yang dinikahi diam-diam, Cempaka tidak akan pernah dianggap sebagai anggota keluarga Arya. Lalu, bagaimana sekarang kedua anaknya akan mewarisi rumah tersebut?

__ADS_1


"Jangan mengada-ada. Itu rasanya tidak mungkin! Sudahlah, kita ke hotel saja. Lagipula ayah tidak mengatakan apapun tentang rumah itu," ujar Cempaka tersenyum mencibir karena rasa tidak percaya yang timbul di hatinya.


"Bukan saya tidak ingin mengantar Anda ke hotel, Nona, tapi di sana keselamatan Anda juga kedua anak Anda terjamin. Saya khawatir jika menginap di hotel, mereka akan mudah menemukan Anda." Sang supir akhirnya membuka suara soal Eva yang mencari keberadaan Cempaka.


"Mereka? Siapa?" Kali ini Lucy yang bertanya, dia mendekatkan tubuh pada kursi si Pengemudi untuk dapat mendengar lebih jelas.


"Saya dengar nyonya Eva mengerahkan orang-orangnya untuk mencari nona ke segala penjuru kota. Saya yakin, ada banyak mata-mata yang sewaktu-waktu bisa saja melancarkan rencana mereka. Jadi, sesuai arahan dari tuan sebaiknya Anda menginap di rumah utama itu," ucap sang supir lagi.


"Apa kau tahu untuk apa dia mencari nona?" tanya Lucy teringin tahu alasannya.


"Entahlah. Saya dengar karena masalah tuan muda," jawab sang supir tidak meyakinkan.


Lucy berpikir sejenak, mengingat-ingat kembali orang seperti apa Eva yang sebenarnya.

__ADS_1


"Baiklah. Jika begitu antar kami ke rumah utama itu," titah Cempaka pada akhirnya setelah berdiskusi dengan Lucy lewat sorotan mata.


"Baik."


Mobil yang seharusnya mengantar mereka ke hotel, berbalik arah menuju jalan rumah utama tuan Arya. Berbagai pertanyaan timbul di dalam benak Cempaka. Tentang rumah yang akan diwariskan kepada kedua anaknya.


Beberapa saat berkendara, mobil memasuki sebuah kawasan perkampungan yang padat penduduk. Ada banyak orang tua juga anak-anak yang bermain di sisi jalan. Cempaka menoleh kepada Lucy, tapi laki-laki tadi justru menghindari tatapannya.


"Benarkah di sini?" Rasa tak percaya di hatinya terlontar lewat lisan.


"Benar, Nona. Rumah itu ada di ujung jalan ini."


Cempaka begitu penasaran, seperti apa sosok mendiang ibunya Caesar itu?

__ADS_1


__ADS_2