(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 124


__ADS_3

Merasa tidak dapat melawan Caesar, Eva mengalihkan pandangan pada Cempaka. Wanita yang sejak kedatangan laki-laki itu hanya diam dan menyaksikan betapa menyedihkannya dia.


"Kau puas sekarang! Apa kau puas sekarang?!" bentak Eva menyalang pada sosok Cempaka. Ibu si Kembar itu mengernyit, memiringkan kepalanya sedikit heran.


"Aku yang membawamu ke rumah ini, aku yang menjadikanmu hidup enak di sini. Sekarang kau menusukku dari belakang. Kau rebut suamiku, dan tertawa di atas deritaku. Sungguh, kau memang wanita yang tidak memiliki tahu diri. Menginginkan kebahagiaan dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain." Eva menggelengkan kepala, menyesal karena telah membawa Cempaka ke dalam kehidupannya.


Caesar berjengit tak senang, semua yang terjadi di antara mereka bukanlah karena Cempaka.


"Jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain. Dia bahkan sudah menunaikan janji sesuai surat kontrak yang kau buat meski tidak sepenuhnya. Semua ini tidak akan terjadi jika kau tidak bermain api di belakangku." Caesar mulai geram dengan sikap egois Eva.


Kenapa dia baru menyadarinya sekarang bahwa Eva adalah wanita egois yang arogan. Eva semakin naik pitam mendengar pembelaan dari Caesar.


"Dia sudah menipumu, Caesar! Apa kau lupa itu?" sentak Eva mengingatkan Caesar pada tindakan Cempaka yang membawa pergi kedua anaknya.


Caesar menggenggam tangan sang istri yang bergetar dan lembab. Meyakinkannya bahwa apa yang dilakukan Cempaka tidaklah salah.


"Perlu kau tahu, Eva. Justru aku merasa bersyukur karena Champa membawa kedua anakku pergi bersamanya. Aku sudah melihat sendiri bagaimana kau memperlakukan seorang anak. Tidak seperti kebanyakan wanita yang benar-benar menginginkan anak. Beruntung, Champa membawa mereka sehingga tidak merasakan diasuh olehmu." Caesar tak lagi berbelas kasih terhadap mereka.


"Lagipula, aku merasa dihormati sebagai suami saat bersamanya. Dia selalu ada untukku, melayaniku setiap saat. Tidak seperti dirimu yang selalu sibuk di luar. Sebenarnya itu bukan masalah bagiku jika saja kau tidak mengkhianati pernikahan ini. Terlebih, laki-laki itu adalah adik tiriku sendiri. Sekarang, kau bebas datang kepadanya tanpa takut aku akan mengetahui. Pergilah! Datangi kekasihmu itu, bersenang-senanglah kalian!" Caesar melambaikan tangan mengusir Eva yang membelalakkan mata tak percaya.


Begitu pula dengan Lisa, utamanya sang ibu yang sekarang terlihat marah kepada Eva. Caesar tidak berniat melayani mereka terlalu lama, ia mengajak Cempaka masuk ke dalam meski terus mendengar teriakan Eva. Sampai kedatangan dua buah mobil dengan bunyi sirine yang khas, menghentikan langkah mereka.


"Polisi? Kenapa mereka datang ke sini? Apa terjadi sesuatu?" Cempaka menoleh, pancaran matanya menyiratkan banyak pertanyaan.


"Entahlah. Aku tidak tahu untuk apa mereka datang?" sahut Caesar sembari mengangkat bahu dan kembali berbalik keluar.


Ketiga wanita penyihir pun kebingungan dengan kedatangan para petugas tersebut. Mereka kira Caesar tengah membuat masalah, atau justru Cempaka. Eva tak berniat pergi lebih cepat, dia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh mereka.


"Siang, Tuan! Maaf mengganggu waktu Anda," ucap seorang polisi setelah melakukan hormat di hadapan Caesar.


"Ada apa, Pak?" tanya Caesar dengan kerutan di dahi.


Eva mencibir sembari mendelik ketika pandangannya beradu dengan Cempaka.


"Kami mencari seseorang, Tuan. Seorang wanita yang dilaporkan telah mencuri aset seseorang di dalam penjara."


Ibu Eva terhenyak, jantungnya berdetak lebih cepat.

__ADS_1


"Apa di antara kami?" Caesar menunjukkan semua orang yang berada di teras kepada para polisi.


Pandangan polisi tersebut menyapu satu per satu wajah dari beberapa orang yang ada di teras rumah Caesar. Tatapannya jatuh pada sosok ibu Eva yang seketika membelalak, kemudian menunduk cepat.


"Sesuai keterangan dari Bapak Baron, istrinya telah mencuri aset milik keluarga yang seharusnya menjadi hak milik sang anak," ucap polisi tersebut, seraya memerintahkan yang lain untuk menangkap ibu Eva.


"Tidak! Kalian salah orang, saya tidak mencuri apapun! Tidak!" tolak wanita itu meronta-ronta meminta dilepaskan.


Namun, borgol polisi lebih cepat mengikat kedua tangannya. Ia tak berkutik meski terus memberontak dan meracau sambil berlinang air mata.


"Ibu!" Eva tak percaya, di depan matanya sang ibu digelandang seperti penjahat. Dimasukkan ke dalam mobil tanpa diberi kesempatan untuk membela diri.


"Sayang, apa kita juga perlu melakukan itu?" tanya Caesar menatap kepergian ibu Eva sampai masuk ke dalam mobil.


"Eh?" Cempaka celingukan bingung harus menjawab apa. Ia tahu, Caesar tengah menyindir kedua orang di depan teras.


Baik Eva maupun Lisa, keduanya merasa gelisah. Wajah mereka pucat, merasa cemas dengan gurauan laki-laki itu.


"Mohon maaf, Nyonya. Apa Anda anak dari Pak Baron?" tanya polisi sembari menatap Cempaka yang masih kebingungan. Ia tak tahu menahu masalah aset keluarga yang dimaksud.


Cempaka melirik Caesar, anggukan kepala sang suami membuatnya menghela napas panjang. Dia harus mengakui laki-laki itu sebagai ayahnya.


"Dia sangat menyesali perbuatannya, dia menitipkan salam untuk Anda. Salam permintaan maaf atas semua yang dia lakukan kepada Anda dan kedua adik Anda. Setiap malam dan siang, dia hanya melamun dan terkadang menangis. Memanggil-manggil nama Cempaka, meminta maaf kepadanya. Hanya itu yang ingin kami sampaikan. Masalah aset keluarga yang dicuri, kami akan segera mengembalikannya kepada Anda. Kami permisi. Selamat, siang!"


Caesar dan Cempaka menganggukkan kepala seraya menyahut salamnya. Pandangan Caesar beralih pada kedua wanita yang masih berdiri di sana. Entah apa yang dilakukan mereka sehingga terpaku di teras tersebut.


"Kenapa kalian masih di sini? Pergilah! Jika kalian membuat kegaduhan lagi, aku tidak akan segan melaporkan kalian kepada pihak berwajib. Kau lihat ibumu? Seperti itulah yang akan terjadi," ancam Caesar membuat Eva gentar.


Lisa terburu-buru menarik tangan Eva untuk pergi meninggalkan rumah Caesar. Niat ingin merebut kembali laki-laki itu raib dengan kejadian tadi.


"Kau sudah menipuku, kau katakan kau yang pergi dari rumah. Nyatanya, Caesar menceraikanmu, dan bukan hanya itu. Dia bahkan memberimu uang yang tidak sedikit. Kau dua kali menipuku!" geram Lisa setelah berada di pinggir jalan.


"Bukan urusanmu! Pergilah dari rumahku karena aku tidak ingin kau dan anakmu tinggal di sana!" Eva mendengus, seraya berjalan meninggalkan Lisa seorang diri.


"Kurang ajar!"


****

__ADS_1


"Sayang, apa kau tidak bisa memaafkan ayahmu?" tanya Caesar setelah keduanya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga.


"Entahlah. Bayangan kematian dua adikku, masih sangat jelas terlihat. Mungkin nanti, tidak sekarang." Cempaka menghela napas, melabuhkan segala kegundahan di atas dada bidang suaminya.


Tangan kekar Caesar melingkar hangat di tubuhnya, sebuah pelukan yang tak ia dapatkan dari sosok ayah.


"Aku yakin, istriku ini orang yang baik dan pemaaf. Ya, mungkin nanti, tidak sekarang." Caesar menghirup aroma shampo yang menguar dari rambutnya. Merekatkan pelukan seolah-olah tak rela terlepas barang sedetik saja.


Caesar memutuskan untuk pulang ke rumah saat menerima laporan tentang Eva yang mendatangi rumah.


****


Beberapa hari berlalu, setelah melalui pemikiran panjang. Siang dan malam, ditelan, dimuntahkan lagi. Begitu yang dia lakukan. Akhirnya, Cempaka memutuskan untuk mengunjungi Baron di penjara.


Bagaimanapun, tanpa lelaki itu ia tak akan pernah ada di dunia ini. Bersama kedua anak mereka, Cempaka mendatangi jeruji besi yang mengurung sang ayah. Ia terpaku di depan kurungan tersebut. Menatap sesosok laki-laki kurus dengan wajah yang pucat.


Baron termenung, menatap hampa dinding di hadapannya. Hati Cempaka terenyuh, setetes cairan bening jatuh menimpa pipinya.


"A-ayah!" Caesar meremas pundak Cempaka, menguatkan sang istri.


Mendengar suara sang anak, Baron perlahan menoleh. Air matanya yang sudah jatuh, turun semakin deras. Mulutnya terbuka dengan kedua belah bibir yang berkedut-kedut.


"A-anakku! Cempaka!" Bergetar hati Cempaka mendengar suara serak Baron. Laki-laki itu merangkak mendekati jeruji besi, meracau meminta maaf atas semua yang terjadi.


"Sudah, Ayah. Sudah. Aku sudah memaafkan Ayah, aku sudah melupakan semuanya. Semua yang terjadi adalah takdir yang harus aku jalani." Cempaka menggenggam tangan ringkih Baron, terasa kering dan kasar.


Benar. Laki-laki jahat itu sudah tua. Matanya yang berkabut beralih pada dua sosok mungil di gendongan mereka. Baron menatap Caesar, sorot maniknya mengucapkan terima kasih karena sudah menjaga sang anak.


"Ini Zia, dan itu Zio. Mereka anakku, cucu Ayah." Cempaka mengenalkan keduanya sambil tersenyum haru.


Tangis Baron semakin menjadi, dia berjanji bila suatu saat dapat keluar dari sana, akan menebus semua dosanya.


"Cucuku!"


Cempaka memutuskan mencabut tuntutannya dan membebaskan Baron. Mereka memboyong lelaki tua itu ke rumah, berbakti untuk waktu yang telah terbuang. Kehidupan Cempaka berbanding terbalik cukup drastis.


Dia memiliki suami, memiliki dua orang anak, memiliki dua orang ayah yang menyayanginya. Lengkap sudah kehidupannya, tak ada apapun lagi yang dia inginkan. Semuanya tak sepahit empedu. Pertemuan dengan Caesar walaupun dipaksakan, merubah garis takdir hidupnya.

__ADS_1


Teruslah berbahagia.


\=TAMAT\=


__ADS_2