
"Kau yakin tak ingin ikut bersamaku tinggal di rumah Caesar?" tanya laki-laki tua itu untuk terakhir kalinya sebelum mereka pergi.
Ibu tiri Caesar mendekat, merangkul lengannya yang memegang tongkat.
"Aku akan di sini, sayang. Besok atau lusa aku akan berkunjung menjengukmu," ucapnya merayu.
Ayah Caesar menghela napas, menepuk-nepuk pelan tangan wanita itu. Dibantu Caesar ia pergi menuruni anak tangga di teras menuju mobil anak laki-laki itu.
Lisa dan anaknya berdiri di teras, melambaikan tangan melepas kepergian suaminya.
"Bodoh! Dia tidak takut kita menghabiskan seluruh hartanya," cibir si pemuda masih menatap mobil Caesar yang membawa ayahnya.
"Ayo!" Lisa mengajaknya masuk ke dalam, dengan ketiadaan laki-laki tua itu dia bisa bebas melakukan apa saja di rumahnya, bahkan mengundang laki-laki yang selama ini menjadi selingkuhannya.
****
"Apa Ayah selama ini baik-baik saja?" tanya Caesar pada laki-laki tua itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang di bawah gelapnya langit malam.
Tuan Arya tersenyum, melirik sang menantu yang duduk di sampingnya.
"Yah, Lisa merawat Ayah dengan sangat baik. Dia tidak pernah lupa mengingatkan Ayah untuk meminum obat. Mungkin karena usia Ayah sudah tua, tubuh Ayah pun ikut menua." Wajah tua itu terlihat bahagia, dia mengatakan yang sebenarnya. Lisa memang memperlakukannya dengan sangat baik dan penuh perhatian.
"Ah, syukurlah, tapi kenapa aku merasa kesehatan Ayah semakin memburuk. Apa tidak sebaiknya kita pergi ke rumah sakit?" saran Caesar merasa cemas.
"Tidak perlu, Ayah masih memiliki obat. Dokter selalu rutin datang ke rumah untuk memeriksa kondisi Ayah," jawab tuan Arya menepis kecemasan di hati Caesar.
Ia menghela napas, jika memang begitu itu artinya usialah yang menggerogoti kesehatannya.
"Sayang, kita ke restoran untuk makan malam terlebih dahulu. Rasanya aku tidak berselera makan di rumah," pinta Eva teringat rencananya mengusir Cempaka dari rumah Caesar.
__ADS_1
"Tidak perlu. Yudi pasti sudah memasak, aku ingin makan di rumah." Caesar menolak teringat permintaannya pada Cempaka. Tak sabar ingin segera tiba di rumah dan menikmati masakan gadis itu meskipun masih belum sesuai dengan seleranya. Tak apa, dia akan tetap memakannya.
Eva menyilangkan kedua tangan di perut, mendengus sambil berpaling ke jendela. Bagaimana jika laki-laki tua itu bertanya tentang Cempaka, apalagi saat wanita itu harus ikut duduk di meja makan bersama mereka. Otak kecilnya berputar mencari-cari alasan serta jawaban untuk pertanyaan yang bahkan belum dipertanyakan.
Sementara di rumah, Cempaka baru selesai menghidangkan makanan di atas meja. Ia juga berhasil membuat makanan penutup sesuai resep dari buku peninggalan sang nyonya.
"Anda berhasil, Nona. Rasanya memang hampir sama seperti yang nyonya buat. Anda memang luar biasa," puji Yudi terkagum-kagum dengan wanita itu.
Dia masih muda, tapi begitu gigih dalam melakukan sesuatu. Cempaka tersenyum, pipinya merona dipuji seorang chef yang bekerja khusus di rumah itu.
"Terima kasih, Pak. Aku akan membersihkan diri dulu, mungkin sebentar lagi tuan akan pulang," pamit Cempaka sembari melepas apron dan menyimpannya.
"Silahkan, Nona!"
Baru saja wanita itu pergi, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Meminta Yudi untuk mengajak Cempaka bekerja sama agar merahasiakan statusnya di hadapan ayah Caesar.
"Kasihan sekali Nona, tapi apa boleh buat? Memang seperti itu jalannya." Yudi menghela napas, menatap pada tangga di mana Cempaka baru saja melintasinya.
"Apa Nona memang harus mengenakan pakaian pelayan? Rasanya sungguh keterlaluan. Mengapa nyonya begitu kejam?" gumam Yudi setelah membaca pesan-pesan yang dikirimkan Eva padanya.
Ia masuk ke ruang penyimpanan, mengambil seragam pelayan dengan berat hati. Kemudian duduk menunggu Cempaka turun.
"Nona! Maaf jika saya lancang." Yudi sigap berdiri saat melihat Cempaka yang mengenakan kemeja dan terusan celana panjang turun. Dia tidak pernah mengikat rambutnya.
"Kenapa, Pak?" Cempaka melirik sebuah kain di tangan kepala pelayan itu tanpa curiga.
"Maafkan saya, tapi ini perintah dari nyonya yang tidak dapat saya tolak. Tuan besar akan datang berkunjung ke rumah ini, dan nyonya minta Anda bekerjasama. Berpura-pura menjadi pelayan selama tuan di sini." Dengan berat hati Yudi menyerahkan seragam itu kepada Cempaka.
Ia menerima dengan tangan yang bergetar, apa memang harus mengenakan pakaian pelayan. Namun, tak dinyana, Cempaka tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada laki-laki itu. Lalu, berbalik pergi kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Cempaka bersandar di daun pintu, menengadah merasakan perih di hatinya. Berkali-kali ia meneguk saliva guna membasahi tenggorokan yang kering.
"Sebentar saja aku merasa dihargai, tapi kemudian dihempaskan kembali. Aku yang terlalu tinggi menilai diriku, padahal aku tahu hanyalah seorang budak belian." Ia mengusap air mata, terburu-buru mengganti pakaian.
Cempaka menguatkan hatinya untuk bisa menerima takdir yang harus dia jalani. Wanita itu memindai penampilan di depan cermin, menghela napas dengan sangat dalam, menguatkan diri agar air mata tidak tumpah ketika berhadapan dengan mereka.
Ia keluar begitu deru mobil Caesar terdengar di halaman. Yudi meneguk ludah, merasa iba dengan wanita itu. Namun, dia bisa apa? Eva adalah pemilik kekuasaan tertinggi di rumah
tersebut.
Cempaka mengekor di belakang Yudi, berjalan dengan kepala tertunduk menuju teras menyambut kedatangan Caesar. Dahi laki-laki itu mengernyit, hampir tidak mengenali sosok istri keduanya.
Astaga! Kenapa dia berpakaian seperti pelayan? Apa Eva yang memintanya?
Batin Caesar menggeram, rasanya tidak terima melihat Cempaka mengenakan pakaian pelayan itu. Ia menatap tajam kepala pelayan di sana, lagi-lagi tak berdaya karena Yudi pastilah hanya menerima perintah.
"Itu Tuan Arya, ayah Tuan Caesar. Wanita yang Anda lihat saat pertama kali ke sini, adalah ibu tiri Tuan." Yudi berbisik memberitahu Cempaka.
Kepala wanita itu mendongak, menatap wajah tua yang sedikitnya mirip Caesar. Lalu, pandangannya beralih pada sang suami. Cempaka meneguk ludah melihat ancaman yang nyata di kedua mata itu. Sedangkan Eva, tersenyum puas melihatnya.
Kau memang pantas mengenakan pakaian itu. Dalam waktu beberapa hari, aku akan melihatmu mengenakan pakaian pelayan itu. Oh, senangnya. Kini kau tahu di mana tempatmu.
Hati Eva bersorak riang gembira, menertawakan Cempaka yang berpenampilan pelayan.
"Selamat datang, Tuan!" Yudi membungkuk diikuti Cempaka yang membungkuk di belakangnya.
Sigap tangan Cempaka terulur mengambil tas kerja Caesar yang diberikan Arjuna. Sekilas mata mereka bertemu, tatapan sedih dilayangkan pemuda itu padanya. Caesar meneguk ludah, ingin mengakhiri semua drama, tapi sudah terlanjur hanyut di dalamnya.
Sembari menahan perih, Cempaka mengekor di belakang mereka memasuki rumah dan terus menuju ruang makan. Ia melakukan pekerjaan pelayan seperti yang lainnya. Melayani Caesar, membukakan piring untuknya. Dengan sengaja laki-laki itu menyentuh tangan Cempaka saat menerima piring darinya.
__ADS_1
Cempaka bergegas berlari menuju belakang rumah setelah menyelesaikan tugasnya sebagai pelayan. Duduk di sebuah kursi, menangis pilu.
"Nona!"