
Beberapa hari setelah kejadian itu, redam begitu saja bahkan, Caesar dan semua orang di rumahnya tak mengetahui insiden yang terjadi di rumah Cempaka.
Sore itu, Cempaka tiba-tiba mengemasi barang-barang miliknya yang tersisa. Tanpa sepengetahuan Lucy, dia berencana pergi dari rumah tersebut. Tak ada lagi yang perlu ditakuti di perjalanan karena satu-satunya monster telah mendekam di dalam penjara.
Lucy berniat mengajak Cempaka berbincang di teras belakang sambil menikmati teh hangat buatannya. Apa saja, yang terpenting Cempaka tak lagi melamun seorang diri.
"Nona ... ah, astaga!" Lucy dikejutkan oleh Cempaka yang masih mengepak barangnya.
Ia masuk dengan segera dan membantu secara refleks.
"Apa yang akan Anda lakukan?" tanya Lucy sambil terus membantu Cempaka menutup tas yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil itu.
"Aku berencana pergi dari sini, Lucy. Nanti malam." Cempaka menatap Lucy dengan serius.
"Bagaimana dengan para penjaga? Mereka bahkan tidak terlihat tidur sama sekali," pekik Lucy cemas.
Cempaka menghela napas, beranjak pelan dibantu Lucy untuk duduk di sofa kamar.
"Aku sudah mengamati mereka beberapa malam terakhir. Mereka selalu berganti waktu jaga di setiap tiga jam sekali. Apa kau tahu? Setiap pergantian, mereka tak pernah kembali berjaga di bagian belakang." Cempaka berbisik khawatir ada seorang penjaga yang sedang berada di dekat kamarnya.
"Bagaimana dengan CCTV?" Lucy kembali bertanya.
"Apa kau melihat ada benda itu di sini?"
Lucy menggelengkan kepala.
"Benda itu hanya ada di depan, itupun untuk memastikan tidak ada orang yang datang ke rumah ini selain mereka suruhan tuan. Namun, semenjak tuan besar kemarin tinggal di sini, benda itupun sudah tidak berfungsi lagi." Cempaka menyeringai ketika Lucy menatapnya.
"Apa yang Anda katakan ini benar, Nona?" tanya Lucy tak percaya.
"Tentu saja. Satu-satunya penghalangku di jalan sudah tiada. Tak ada lagi yang aku takutkan di luar sana. Aku sudah tidak bisa tinggal di sini lagi, Lucy. Aku ingin pergi sejauh mungkin," ungkap Cempaka tersirat rasa lelah di dalam ucapannya.
Lucy memahami itu, pernikahan kontrak sangatlah merugikan pihak perempuan dan Cempaka tak pernah menginginkan pernikahan kontrak itu. Semuanya terjadi karena Baron yang tergila-gila pada uang.
__ADS_1
"Baiklah, Nona. Kita akan pergi dari sini malam ini juga. Jika begitu aku akan menelpon suamiku agar bersiap-siap untuk menyambut kita." Lucy berucap dengan tegas.
Cempaka menganggukkan kepala, beruntung ada Lucy yang menemani hari-harinya. Jika saja wanita itu tak ada, ia tak tahu apa jadinya kehidupan yang akan dia jalani.
"Terima kasih karena kau begitu peduli padaku, Lucy. Padahal kau bukanlah siapa-siapa. Kita hanya orang lain, tapi kau lebih dari itu bahkan, keluargaku satu-satunya saja tidak memperlakukan aku dengan baik. Terima kasih." Cempaka merengkuh tubuh Lucy.
Kata terima kasih saja tak akan cukup untuk membalas kebaikan wanita itu. Apalagi yang bisa dia perbuat, selain hidup bersamanya menemani wanita itu sampai tua nanti.
Persalinan Cempaka sudah hampir mendekati waktunya, mereka akan singgah di suatu tempat sebelum pergi meninggalkan kota tersebut. Seorang bidan yang dikenal Lucy yang siap membantunya.
****
Di rumah Caesar sanak saudara jauh sudah berdatangan, mereka berkumpul ingin menyaksikan kelahiran pewaris pertama dari keluarga Arya. Setiap orang antusias menyambut, berbagai macam hadiah diterima Eva dari mereka.
"Sayang. Kenapa semua orang berkumpul di rumah kita? Bagaimana jika nanti mereka tahu soal kehamilan palsu ini?" Eva bertanya dengan cemas.
Caesar terdiam, ia sendiri pun tidak menyangka akan ada banyak orang yang datang untuk menyaksikan kelahiran Eva. Ini benar-benar diluar dugaannya.
"Lalu, bagaimana selanjutnya?" Eva mencengkeram lengan Caesar, kepanikan tak jua enyah dari raut wajahnya. Mereka benar-benar berkumpul di rumah itu.
"Kau tenang saja, aku akan memikirkan cara agar kita bisa pergi tanpa mereka curigai." Caesar menepuk-nepuk jemari Eva yang melingkari lengannya.
Keriuhan di lantai bawah terdengar hingga ke kamar mereka. Suara anak-anak berceloteh, bercanda dan tertawa, menggema memenuhi isi rumah. Terdengar juga suara tuan Arya bermain dengan anak-anak itu.
Saudara dari ibu Caesar, dari tuan Arya juga dari Lisa, ibu tiri Caesar.
"Baiklah, aku percayakan semuanya kepadamu. Kabar bahwa kau menikah lagi jangan sampai tersebar di telinga mereka. Bisa-bisa mereka berlomba-lomba merebut posisimu," ucap Eva begitu mencemaskan keadaannya.
Dia khawatir, keadannya yang tak sempurna menjadi senjata ampuh untuk mereka menyerang. Menggulingkan Caesar dari tahta, dan pada akhirnya mereka tak memiliki apapun untuk dibanggakan.
Caesar menghela napas, begitu takutnya Eva posisi itu jatuh ke tangan orang lain. Padahal, Caesar tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.
"Sudahlah kau jangan terlalu memikirkan hal itu. Selama tak ada orang yang berkhianat, rahasia ini tidak akan pernah diketahui siapapun," ucap Caesar menenangkan.
__ADS_1
Eva menarik napas dalam, membuangnya perlahan. Mencoba untuk mengusir rasa gelisah dan rasa takut yang akhir-akhir ini sering datang merundung hatinya.
Berkhianat? Siapapun yang berkhianat, aku tidak akan pernah memaafkannya. Tidak akan!
Eva mengancam di dalam hati, dia tidak akan segan menghukum siapa saja yang sudah berani berkhianat kepadanya, hukuman yang seberat-beratnya. Tiada kata maaf lagi.
"Kau akan menghukum pengkhianat itu, bukan? Seandainya ada," ucap Eva sambil menatap kedua matanya.
"Pasti. Aku tidak akan pernah memaafkannya." Caesar memicingkan mata dengan tajam.
Eva tersenyum puas, tak perlu lagi ada yang ditakutkan.
****
Di malam hari Lucy berdiri di dekat jendela, di tangannya menggenggam ponsel bersiap menghubungi sang suami.
"Suamiku. Kami akan pergi keluar malam ini juga. Kau bersiaplah!" pinta Lucy setelah sambungan terangkat. Ia diam mendengarkan, kemudian menganggukkan kepala.
"Baiklah ... ah, sebentar ada telpon masuk." Lucy memotong pembicaraan dengan suaminya ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
Lucy membuka tirai, memastikan para penjaga masih di tempatnya.
"Hallo, ada apa?"
Kedua mata Lucy membelalak seketika, kepanikan segera saja terlihat di wajahnya. Bulir-bulir keringat bermunculan sebesar-besar biji jagung, dia berlari ke kamar Cempaka.
"Nona ...."
"A-apa? Argh! Perutku ... Lu-lucy, perutku ... argh!" Cempaka meringis kesakitan. Kabar yang diberikan Lucy begitu tiba-tiba dan mengejutkan. Memicu kontraksi rahim Cempaka sehingga membuatnya kesakitan.
"Nona ... ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan?" Di tengah kebingungan itu, Lucy menelpon Arjuna.
"Tuan! Nona kesakitan, cepatlah ke sini!"
__ADS_1