(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 25


__ADS_3

Ruangan keluarga di rumah megah itu terasa dingin menusuk. Semua orang bungkam, tak satupun yang mengawali pembicaraan. Caesar duduk tak acuh, sedangkan Eva menunduk layaknya seorang yang manut.


Di kursi lain, seorang pemuda dengan sikap yang arogan menatap tak senang pada Caesar. Bibirnya mencibir, merendahkan laki-laki itu.


Di hadapan mereka, sepasang orang tua duduk dengan tenang. Sang Ibu terlihat seperti wanita yang begitu menyayangi suaminya, dan laki-laki tua di sampingnya sesekali akan mengurut dada yang terasa sesak.


"Jadi, bagaimana perkembangannya? Kapan kalian akan memberikan aku seorang cucu?" tanya laki-laki tua yang tak lain adalah ayah Caesar.


Napas yang tersengal membuat kalimatnya terpotong-potong.


"Ayah tenang saja, dalam waktu dekat ini kami pasti akan memberikan ayah cucu," sahut Eva begitu yakinnya.


Ia melirik Caesar yang hanya diam tak menanggapi, seolah-olah tak peduli pada semua harta yang akan diwariskan kepadanya.


"Yah, Ayah tunggu kabar baiknya. Bagaimana perusahaanmu, Caesar?" Pandangan laki-laki itu beralih pada anaknya.


Caesar menghela napas panjang, bukan dia tak menyayangi orang tua itu. Hanya saja wanita di sampingnya yang membuat Caesar tak bisa hidup tenang. Terlebih mereka tinggal berjauhan.


"Aman, Ayah. Sepertinya kesehatan Ayah semakin hari semakin memburuk, sebaiknya Ayah tinggal bersama kami. Di sana aku bisa meminta para pelayan melayani kebutuhan Ayah," ujar anak laki-laki itu membuat ketiga orang lainnya membelalakkan mata.


Eva tak senang bila laki-laki tua itu tinggal bersama mereka, ia tak akan mendapatkan kebebasan. Sang istri dan pemuda yang tak lain adalah anaknya itu memiliki rencana tersendiri mengapa tak setuju jika ayah Caesar tinggal bersamanya.


"Yah, kau benar, Nak. Ayah memang ingin tinggal bersama kalian." Ia tersenyum merasa diperhatikan anak semata wayangnya. Lalu, menoleh pada wanita yang duduk di samping.


"Jika kau ingin tetap tinggal di sini, aku tidak masalah. Tinggallah di sini, aku ingin tinggal bersama anakku. Sesekali kau bisa berkunjung ke sana, justru aku akan bersyukur jika kalian juga ikut tinggal di rumah itu," ucapnya yang kali ini justru membuat Caesar tak senang.


Ia hanya ingin membawa ayahnya, tidak dengan wanita dan pemuda itu.


"Suamiku. Sebenarnya aku tidak ingin tinggal berjauhan denganmu, aku ingin merawatmu setiap hari. Namun, jika aku ikut tinggal di sana bersamamu, siapa yang akan mengurus rumah ini. Kau tidak usah khawatir, aku akan sering-sering datang ke sana." Ia merayu sambil mengusap-usap lengan laki-laki itu.


Tersenyum pahit seperti sedang menyembunyikan sebuah rahasia. Ayah Caesar menepuk-nepuk lembut tangan wanita itu, tersenyum mengerti.

__ADS_1


"Jika begitu, aku akan mengemasi pakaianmu-"


"Tidak perlu, Ibu. Pakaian Ayah masih banyak di rumah sana. Tidak usah membawa pakaian. Aku akan langsung membawa Ayah saja," sergah Caesar menurunkan kembali tubuh wanita yang telah terangkat setengahnya.


****


Sementara di rumah, Cempaka yang baru saja membersihkan diri berlari menuju dapur. Dia harus menanyakan menu yang diinginkan Caesar kepada Yudi yang sesuai dengan seleranya.


"Pak Yud! Anda di mana?" Ia memanggil laki-laki paruh baya itu ketika tiba di pintu dapur.


"Saya di sini, Nona. Ada apa?" Yudi keluar dari sebuah ruang penyimpanan. Menghampiri Cempaka yang tampak lain dari biasanya.


"Pak, tuan ingin aku membuatkannya ayam bakar. Apa Pak Yud tahu seperti apa ayam bakar kesukaan tuan?" ucapnya antusias.


Ini adalah permintaan pertama Caesar. Ke depannya dia akan selalu membuat masakan untuk laki-laki itu. Yudi tersenyum, merasa ada perkembangan di dalam hubungan mereka.


"Mari ikut saya, Nona. Akan saya tunjukkan resep milik nyonya." Yudi mempersilahkan Cempaka untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Maksud saya, ibu kandung tuan. Beliau meninggal saat tuan masih kanak-kanak karena sakit. Silahkan duduk, Nona." Ia menarik kursi untuk Cempaka, dan mengambil sebuah buku menu peninggalan sang nyonya.


Lalu, duduk berhadapan dengan Cempaka, seraya memberikan buku tersebut kepadanya.


"Ini peninggalan nyonya, isinya adalah menu-menu masakan yang disukai suami juga anaknya. Beliau menyimpan ini dan berharap saya bisa menggantikannya untuk membuat masakan itu," ucap Yudi mengenang kembali masa-masa di mana ibu kandung Caesar masih hidup dan sehat.


Cempaka menatap takjub bacaan di dalamnya.


"Ini menakjubkan. Menu-menu di sini ditulis dengan sangat rapi dan detail. Lengkap dan sempurna. Ah, aku menyukainya. Aku ingin mencoba setiap menu yang ada di buku ini. Oh, coba lihat! Ini sepertinya enak sekali! Ayam bakar, ayam bakar. Di mana ayam bakar. Ini dia!" cerocos Cempaka sambil membuka setiap lembarnya untuk menemukan resep ayam bakar kesukaan Caesar.


"Anda bisa mencoba memasaknya satu per satu. Tuan menyukai semua masakan itu," ucap Yudi membuat Cempaka tercengang. Tak percaya dia diizinkan untuk memasak semua itu.


Ia menurunkan buku tersebut ke atas meja, menatap Yudi dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


"Benarkah? Aku boleh membuatnya?" Antusias bertanya dengan jiwa yang menggebu-gebu.


"Yah, itu menu setiap harinya yang saya hidangkan. Sebenarnya tuan tidak terlalu menyukai makanan restoran, beliau menyukai masakan rumahan yang dibuat dengan tangan sendiri. Terutama oleh istrinya." Yudi menatap Cempaka penuh arti.


Wanita itu tercenung, apa itu artinya dia spesial? Oh, tidak!


"Jika begitu aku akan membuat beberapa masakan. Ah, tidak. Menu utama saja dan menu menutup. Bagaimana menurut Anda, Pak?" Cempaka sangat berhati-hati.


"Yah, itu lebih baik. Anda sudah memutuskan akan membuat apa, Nona?" tanya Yudi memastikan.


Cempaka mengangguk yakin, ia berkata, "Bisakah aku membawa buku menu ini? Aku ingin mempelajarinya."


Yudi mengangguk setuju, bukan karena ingin lepas tangan, tapi karena Caesar lebih menyukai masakan istrinya. Jika dulu, laki-laki itu selalu ingin memakan makanan yang dibuat tangan ibunya sendiri.


"Terima kasih, Pak. Aku berjanji tidak akan mengecewakan," ucap Cempaka sambil mendekap buku tersebut seolah-olah itu adalah barang berharga yang harus dia jaga.


"Aku permisi untuk menyiapkan semua bahannya terlebih dahulu," pamit Cempaka seraya beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Menyibukkan diri memilih bahan-bahan dibantu Yudi dan pelayan dapur yang lain. Yudi membiarkan Cempaka belajar dengan sendirinya tanpa ikut campur. Wanita itu begitu gigih, seperti melihat sosok sang nyonya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


Sementara di rumah megah itu, Eva menarik Caesar menjauh dari ruang keluarga. Ia perlu membicarakan soal Cempaka yang tinggal di rumah mereka.


"Bagaimana dengan wanita itu? Apa ayah tidak akan mencurigainya? Bagaimana jika ayah bertanya?" cecar Eva panik.


Caesar menghela napas, semua itu idenya bukan ingin Caesar. Karena dia yang menginginkan warisan secara utuh dengan syarat seorang anak, sedangkan Caesar tidak begitu antusias.


"Kau tahu harus apa, bukan? Kenapa masih bertanya padaku? Apa perlu aku membelikannya rumah agar dia tidak tinggal bersama kita?" Seolah-olah sebuah usul, Eva berbinar setuju.


"Kau benar. Sebaiknya dia memang tidak tinggal di rumah kita. Dia bisa tinggal di rumah kecil saja." Tak rela jika Caesar justru akan membelikannya sebuah rumah mewah dan besar.


"Terserah!" Ia pergi meninggalkan Eva, jengah dengan sikap sang istri yang begitu banyak peraturan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2