(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 112


__ADS_3

Pagi itu suasana rumah utama terasa berbeda. Ada banyak kebahagiaan yang meliputi hati semua orang. Utamanya tuan Arya yang menginginkan dengan sangat pertemuan Caesar dan Cempaka terjadi.


Seperti halnya rumah utama, di rumah Lisa pun ada kejadian tak terduga. Suara pintu gerbang yang dibuka dengan paksa, disusul teriakan lantang membuat sang empu keheranan. Untuk pertama kalinya rumah itu disambangi preman.


"Gyan! Apa yang terjadi di luar sana?" pekik Lisa seraya mengekor langkah sang anak untuk melihat situasi di luar.


"Aku tidak tahu, Bu. Sebaiknya Ibu lihat ke sana. Masalah apa lagi yang Ibu buat sehingga mengundang orang untuk membuat keributan di rumah kita," ketus Gyan melengos pergi dan duduk di ruang keluarga dengan santai.


Ia membuka majalah yang sering Lisa baca meskipun tak sesuai selera. Amarah yang sudah memuncak bertambah besar hingga membuat seluruh tubuh wanita itu memanas. Mendengar suara kegaduhan, melihat sikap Gyan yang tak acuh. Sungguh, hati Lisa hilang kesabaran.


Dia berjalan cepat menuju pintu utama untuk mengusir orang-orang lancang yang sudah membuat keributan di pagi buta itu di rumahnya. Namun, tangan yang sudah mengudara hendak membuka gagang pintu, terhenti ketika mendengar apa yang sedang mereka ributkan di luar.


Lisa lebih memilih berdiam di balik pintu, menguncinya dengan rapat sambil mendengarkan dengan saksama suara-suara keras mereka.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa menerobos masuk ke dalam sini!" Begitu suara penjaga gerbang rumah Lisa yang terdengar keras dan tinggi setelah gerbang terbuka dengan paksa.


"Jangan halangi kami! Kau tahu siapa kami?" sentak mereka tak kalah keras.


Seseorang maju ke hadapan penjaga gerbang, dengan pembawaannya yang lebih tenang dan berwibawa. Mungkin dia pemimpin kelompok tersebut.


"Kami datang membawa perintah langsung dari tuan besar. Ingin menyampaikan bahwa rumah ini harus segera dikosongkan. Nyonya Lisa dan anaknya sudah tidak berhak lagi atas rumah ini," ucapnya sesuai yang diperintahkan tuan Arya kepada mereka.


Semalam, sesuatu yang tak diketahui terungkap setelah seorang mata-mata yang dikirim tuan Arya datang untuk melapor. Sebuah rahasia besar tentang kematian mendiang sang istri.


"Tidak mungkin! Kalian jangan mengada-ada. Tuan Arya sudah menyerahkan kepemilikan rumah ini kepada Nyonya. Atau jangan-jangan ... kalian suruhan seseorang yang ingin mengambil alih rumah ini," tolak penjaga gerbang menuding mereka dengan hal yang tidak-tidak.


Pemimpin kelompok itu tersenyum miring, mengikis jarak dengan sang penjaga gerbang membuatnya terintimidasi.


"Kami tidak bekerja untuk yang lain. Kami dari rumah utama yang bekerja di bawah perintah tuan Arya langsung. Kau pikir siapa yang memiliki kuasa untuk mencabut kepemilikan rumah ini? Kau tanyakan saja kepada majikanmu apakah dia memiliki berkas-berkas kepemilikan? Jika dia memilikinya, maka kami akan pergi dengan sukarela," tantang pemimpin kelompok tersebut serius.


Sang penjaga gerbang membusungkan dada, menerima tantangan tersebut.

__ADS_1


"Baik. Kalian tetap tunggu di sini sampai Nyonya Lisa membawa apa yang kalian inginkan!" Dengan penuh percaya diri dan keyakinan, dia menyanggupi tantangan dari sang pemimpin itu.


Kemudian, berlalu menapaki teras mencoba berbicara dengan sang empu rumah. Tanpa dia ketahui, Lisa sudah mendengar semuanya. Dia menggeram, menatap lurus pada deretan kamar di mana Eva berdiam di salah satunya.


Kurang ajar! Ini pasti ulah si wanita ular itu. Dia ingin mengambil rumah ini dan menguasainya.


Mata Lisa menjegil, teringat akan berkas-berkas kepemilikan yang dia simpan selama ini.


Jangan-jangan dia sudah mencuri berkas-berkas itu. Aku harus memeriksanya.


Lisa berbalik cepat, dan berlari menuju kamarnya.


"Dia datang bukan hanya untuk sekedar menginap, tapi untuk mencuri semua milikku. Kurang ajar! Memang wanita siluman, wanita ular. Sialan!" Lisa mengumpat di sepanjang menapaki anak tangga menuju kamarnya.


Sementara di luar, penjaga gerbang mengetuk pintu karena tak dapat membukanya.


"Nyonya! Tuan Muda! Tolong buka pintunya!" pintanya.


"Bu!" Dia memanggil Lisa, tapi tak ada sahutan.


"Ibu!" Sekali lagi, tapi tetap saja suara Lisa tak terdengar menjawab.


Gyan berdecak kesal karena gedoran pada pintu masih terdengar mengganggu. Dia beranjak dari sofa, berjalan malas menuju pintu utama.


"Ya! Hentikan memukul pintunya, kau sangat menggangu," bentak Gyan kesal. Seketika suara itu tak lagi terdengar, tapi dia tahu penjaga gerbang masih ada di sana.


"Ada apa? Kenapa kau ribut sekali? Kau menganggu ketenanganku!" hardik Gyan begitu membuka pintu lebar-lebar dan menatap tajam pada lelaki paruh baya yang bekerja di rumahnya itu. Dia belum menyadari adanya kelompok orang yang ingin mengosongkan rumah tersebut.


"Tuan Muda. Mereka mengaku sebagai utusan tuan besar dari rumah utama." Penjaga gerbang menunjuk kelompok tersebut. "Mereka mengatakan bahwa tuan Arya menginginkan Nyonya dan Anda pergi dari rumah ini sekarang juga." Dia melanjutkan ucapan yang sempat dijedanya.


Gyan mengangkat pandangan, menatap orang-orang berseragam yang berdiri tegap di halaman. Bibirnya mencibir, menganggap mereka hanyalah omong kosong belaka.

__ADS_1


Pemuda itu keluar melewati sang penjaga gerbang. Memandang remeh orang-orang yang bergeming di halaman. Satu per satu ditatapnya, menelisik wajah-wajah itu.


"Siapa yang memerintahkan kalian membuat kegaduhan di rumahku?" tanya Gyan dengan sikap angkuhnya yang tak lekang.


Sang Pemimpin kelompok maju beberapa langkah ke depan. Menatap Gyan dengan wajah mendongak dan memuakkan.


"Kami datang atas perintah tuan besar." Suaranya terdengar berwibawa, tenang tak ada aliran emosi sama sekali.


"Ayah? Apa yang diinginkan ayah hingga mengirim kalian untuk membuat keributan di sini? Rasanya tidak mungkin, ayah bukan orang yang seperti itu," tolak Gyan karena selama ini merasa tuan Arya begitu baik dan perhatian kepadanya serta sang ibu.


"Kalian pergi meninggalkan rumah ini. Sesuai perintah dari tuan besar, bahwa yang akan menempati rumah ini adalah tuan muda Evan setelah usianya beranjak dewasa. Selama itu, tidak ada yang boleh menepatinya kecuali para pekerja," jawab laki-laki pemimpin itu sesuai dengan apa yang diperintahkan tuan mereka.


Gyan menggelengkan kepala, tidak terima. Evan masih terlalu kecil untuk menjadi seorang pewaris. Lagipula, dia hanya seorang bayi yang tidak jelas siapa orang tuanya. Kenapa tuan Arya justru memberikan rumah itu kepada Evan?


"Kau terlalu mengada-ada. Evan sudah memiliki warisannya. Warisan dari ayahnya sendiri, Caesar. Kenapa ayah memberikan rumah ini juga kepadanya? Ini tidak masuk akal. Aku tidak bisa menerimanya." Gyan menggelengkan kepala dengan tegas, tak akan dia meninggalkan rumah dengan segala kemewahannya itu.


Pemimpin tersebut mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari saku jas. Melemparnya ke hadapan Gyan tanpa sopan santun. Mata pemuda itu membeliak, geram dengan sikap tak hormat dari orang rendahan di hadapannya.


"Di dalamnya berisi surat wasiat yang ditulis langsung oleh tuan besar. Kau bisa melihatnya sendiri," katanya dengan tegas.


Gyan mengepalkan tangan menahan gejolak emosi. Sungguh tak ada dalam benaknya bahwa dia akan diperlakukan tidak hormat seperti sekarang ini.


Sial! Apa yang sebenarnya terjadi?


"Bukalah, jika kau tidak mempercayai kami." Perintah itu kembali terdengar, semakin menyulut emosi Gyan yang sudah mencapai puncak.


Dia berjongkok untuk memungut benda itu, membukanya dan mengeluarkan isi di dalamnya. Dengan pandangan nyalang menatap sang pemimpin sambil membuka lebar-lebar kertas berisikan tulisan tangan yang tak asing.


Mata Gyan bergerak cepat membaca setiap huruf yang tertera di atas kertas tersebut. Semakin lama semakin melebar dan hampir melompat keluar. Raut panik perlahan terlihat seiring peluh yang bermunculan ke permukaan.


"Tidak mungkin! Tidak mungkin ayah melakukan ini semua! Tidak!" tolaknya cemas.

__ADS_1


__ADS_2