
Beberapa hari terlewati, tuan Arya memutuskan kembali ke villa untuk mengadu kepada istrinya. Tak puas rasanya bermain dengan kedua cucu yang kembar, dia ingin menjaga mereka. Menggantikan Caesar yang telah tega menelantarkannya.
"Aku harap, kabar tentang kedua cucuku tidak sampai ke telinga Caesar. Mungkin dia sudah melupakan Cempaka juga anaknya karena sudah memiliki anak dari Eva. Biarkan saja," titah tuan Arya kepada sang sekretaris yang hendak berpamitan pulang ke kota mereka.
"Baik, Tuan. Saya akan menjamin kabar tentang mereka tak terdengar di rumah besar itu," sahutnya dengan pasti.
Keduanya berpisah untuk pertama kali setelah melewati hari-hari bahagia bersama si Kembar. Tuan Arya pergi ke halaman belakang villa setelah kepergian laki-laki itu. Melewati taman bunga dan sampai di pintu lain. Di mana rumah terakhir sang istri dibangun, sendirian di dalam sana.
Dibukanya pintu tersebut dan tutupnya kembali. Langkah tuan Arya terlihat tegap dan gagah untuk lelaki seusianya. Ia tersenyum melihat gundukan yang berada di tengah tangah lapang itu. Sebuah makam yang terawat, bersih dan dihiasi bunga-bunga di sekitarnya.
Tuan Arya berjongkok di samping makam sang istri, meletakkan ikatan bunga yang sempat dikumpulkannya pada batu nisan wanita yang amat dicintainya itu.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja di sana? Aku datang untuk menyampaikan kabar gembira kepadamu. Sayang, kita sudah mempunyai cucu. Dua orang, mereka kembar. Dulu, kau pernah berkata bahwa tanganmu sendiri yang akan merawat cucu kita. Tapi, kau pergi terlalu cepat, sayang. Aku harus sendirian merawat mereka. Beruntung, mereka memiliki ibu yang kuat, sekuat dirimu."
Tuan Arya menghela napas, menormalkan rasa di dalam hatinya yang bergejolak.
"Tenang-tenanglah kau di sana, aku di sini baik-baik saja. Cempaka merawatku dengan sangat baik, seperti yang kau lakukan dulu. Aku merasa kau bersemayam di dalam dirinya. Bolehkah aku berharap dia adalah reinkarnasi dirimu karena setiap yang dia lakukan selalu mengingatkanku kepadamu."
Tuan Arya mengusap nisan sang istri, perlahan mendekat dan mengecupnya dengan penuh cinta. Ia beranjak, tanpa berpamitan, tanpa berjanji akan kembali, berbalik dan pergi meninggalkan rumah terakhir sang istri.
Sementara di rumah Lucy, Cempaka asik bermain dengan kedua anaknya. Ditemani Dinda yang pandai mengasuh bayi Zia.
"Manda! Kau yakin tidak apa-apa tuan Arya ikut merawat mereka?" tanya Lucy yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Cempaka yang berbaring di lantai, beranjak duduk sambil mengangkat bayi Zio. Ia tersenyum tanpa beban, tak seperti Lucy yang terlalu mengkhawatirkan tentang kakek si Kembar.
"Kita lihat saja setelah ini, Lucy. Jika kabar tentang mereka sampai ke telinga Caesar, maka aku berjanji tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi untuk seumur hidup. Aku akan membawa mereka pergi sampai orang tua itu tidak dapat menemukan kami." Cempaka tersenyum tajam, kehidupan yang keras membuat sikap lemah lembutnya terkadang hilang.
__ADS_1
Lucy menghela napas, dia selalu percaya kepada Cempaka. Sedikit hatinya merasa lega meskipun belum meraih ketenangannya. Ia duduk dan ikut bermain bersama mereka.
"Bagaimana keadaan resort?" tanya Cempaka karena sangat jarang mengontrol tempat usahanya itu.
"Yah, seperti biasa. Tamu datang dan pergi, silih berganti. Kamar-kamar selalu terisi penuh, sepertinya ide membangun resort ini memang sangat diminati oleh para pengunjung. Kau luar biasa, Manda. Kau mengubah kehidupan kita," ungkap Lucy menatap Cempaka dengan penuh syukur.
Wanita beranak kembar itu tersenyum, ikut bersyukur karena dapat membalas kebaikan keluarga Lucy.
"Kalian pantas mendapatkannya. Setelah selama ini berjuang untuk seseorang yang tidak memiliki apapun. Aku bersyukur kau yang menjadi temanku waktu itu, Lucy." Cempaka menatap penuh kasih pada ibu Dinda itu.
Mereka berpelukan, saling mengucapkan terima kasih lewat sentuhan. Dinda terenyuh melihat persahabatan yang terjalin di antara Cempaka dan ibunya. Suatu saat, dia pun ingin memiliki sahabat seperti itu. Sahabat rasa saudara.
Tidak saling menikung, tidak saling menikam dari belakang. Saling mendukung satu sama lain, mencintai dengan setulus hati.
****
Dengan langkah anggun, Eva menghampiri bayi Evan. Malam itu, acara ulang tahun Evan akan digelar dengan meriah. Semua persiapan telah rampung, hanya tinggal menunggu para tamu datang.
"Hallo, sayang!" Eva mengambil alih bayi Evan dari tangan Ani.
Menggendongnya dan mengajaknya bermain di sofa. Dia tidak menyusui bayi itu, Evan diberi susu formula terbaik dan makanan yang sangat terjaga.
"Kau sudah memberinya makan, Ani?" tanya Eva pada pengasuh bayinya itu.
Ani yang berdiri di belakang Eva membungkuk, menanggapi pertanyaan sang nyonya.
"Sudah, Nyonya. Tuan Muda sudah siap dengan pestanya," jawab Ani. Kedua matanya dipenuhi binar-binar kebahagiaan yang jelas terlihat.
__ADS_1
"Baguslah. Dia terlihat sangat sehat sekali, kau pandai merawat bayi, Ani. Berapa anakmu?" Eva melirik pengasuh bayinya.
"Saya sudah mempunyai tiga orang anak, Nyonya. Mereka sudah besar-besar, dan sudah bersekolah," jawab Ani sambil menganggukkan kepala.
"Oh, pantas kau terlihat sekali berpengalaman. Beruntungnya suamiku membawamu ke rumah ini sebagai pengasuh. Kau terlihat menyayangi bayi Evan," ujar Eva yang kembali menatap anaknya.
"Saya memang menyukai anak-anak, Nyonya. Untuk itu, ketika Tuan menawari saya pekerjaan ini, saya langsung menerimanya." Ani berbohong, tapi itulah yang telah menjadi kesepakatan.
Entah apa alasan Cempaka mendatangkan wanita itu sebagai pengasuh anaknya. Sampai saat itu, Caesar belum juga menemukan alasannya.
"Ya, syukurlah jika begitu. Kau harus memastikan orang-orang di sekitar anakku tidak ada yang memiliki niat busuk, Ani. Terutama ibu mertua, dia wanita yang licik. Kau harus waspada ketika dia ada di sekitar bayiku." Eva memperingatkan Ani, sesuai dengan peringatan yang diberikan Cempaka sesaat sebelum mereka berpisah di malam itu.
Satu-satunya wanita yang harus dia waspadai, adalah ibu tiri dari Caesar. Wanita yang memiliki seribu rencana licik hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Baik, Nyonya. Saya akan mengingat itu semua," jawab Ani dengan pasti.
Tentu saja, aku akan melindungi tuan muda dari berbagai ancaman dengan nyawaku sendiri.
Dalam hati Ani bergumam, berjanji akan menghindarkan bayi tersebut dari segala marabahaya.
"Kau harus mendandaninya dengan sempurna, Ani. Aku ingin dia terlihat mencolok di acara pesta malam nanti," titah Eva sambil menimang anaknya.
"Apakah Anda ingin mendandani Tuan Muda sendiri, Nyonya?" Ani menawarkan apa-apa yang tidak pernah dilakukan Eva.
"Aku akan melihat, kau yang akan melakukanya." Eva menjawab tanpa memalingkan wajah kepada sang pengasuh.
"Baik, Nyonya."
__ADS_1