
"Ekhem! Bisa aku bicara denganmu?"
Suara serak dan berat menghentikan perbincangan Cempaka dan Lusy. Istri Caesar itu melompat turun dari kursi diikuti Lusy yang sigap berdiri dan menunduk. Kini, kedua gadis itu terlihat selayaknya pelayan biasa.
"Tuan! Saya permisi." Cempaka merasa tidak ada urusan sehingga memutuskan untuk pergi.
"Tunggu! Aku ingin berbicara denganmu, bukan dengannya," tolak tuan Arya mencegah kedua kaki Cempaka untuk pergi.
Lusy membungkuk sebentar, dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Cempaka yang kebingungan. Ketukan tongkat tuan Arya menggetarkan kedua kaki Cempaka yang perlahan menjauh dan bergeser.
Laki-laki tua itu duduk di kursi yang baru saja diduduki Cempaka. Ia mendongak, menatap wanita berpakaian pelayan di hadapannya yang terus menundukkan kepala.
"Siapa namamu?" tanya tuan Arya. Suaranya yang tiba-tiba menyentak tubuh Cempaka dan membuatnya tegang.
"Cem-cem-cempaka, Tuan." Ia menjawab terbata, keadaan hati yang terus bertalu-talu membuat lisannya sulit untuk digerakkan.
"Usiamu?" Pertanyaan lanjutan itu semakin membuat Cempaka menegang.
"Du-dua pu-puluh empat, Tuan." Cempaka kembali menjawab dengan gugup.
"Tidak usah tegang begitu, aku tidak akan mengigitmu. Duduklah!" Tuan Arya menepuk ruang kosong di sampingnya, meminta Cempaka untuk duduk di sana.
"Sa-saya di sini saja, Tuan." Dengan gerakan cepat Cempaka duduk di atas batu bekas Lusy.
Tuan Arya tersenyum, kemudian menghela napas. Pandangannya belum beralih dari sosok Cempaka yang penuh misteri.
"Apa kau yang memasak untuk Caesar?"
Cempaka mendongak, menatap kaget sosok tua di hadapannya yang ternyata tengah tersenyum ramah. Ia menggelengkan kepala menolak mengakui.
"Hmm ... Yudi mengatakan kepadaku bahwa kau yang memasak sup jamur pagi ini. Apa kau tahu? Masakan yang kau buat sama persis seperti masakan istriku. Apa kau menggunakan resepnya?" Tuan Arya kembali tersenyum disaat Cempaka menundukkan kepalanya lagi.
"Ma-maaf, Tuan, jika saya sudah lancang. Sa-saya tidak akan melakukannya lagi jika Anda tidak menyukainya," ucap Cempaka merasa rendah diri. Siapalah dia?
Tuan Arya tergelak, merasa lucu dengan sikap ketakutan Cempaka.
__ADS_1
"Tidak! Bukan seperti itu. Kau teruskan saja memasak semua itu, aku tidak keberatan sama sekali. Justru aku merasa senang pada akhirnya ada seseorang yang bisa menghadirkan cita rasa istriku. Aku ... ah, hanya merindukan dia dan kau sedikit mengobatinya," ungkap tuan Arya sejujurnya.
Cempaka mendongak perlahan, maniknya yang terlihat sendu bertatapan dengan pancaran kebahagiaan milik tuan Arya. Senyum itu menghangatkan, mendamaikan hati Cempaka.
"Kau suka memasak?" tanya tuan Arya sedikit mencondongkan tubuh ke depan.
Cempaka mengangguk, menahan senyum karena ragu.
"Istriku dulu juga suka memasak. Dia wanita yang baik, meski sudah ada pekerja, tapi dia selalu memasak sendiri. Katanya, aku selalu puas setiap kali melihat keluargaku menikmati masakanku. Apa kau juga seperti itu?" Tuan Arya semakin dalam menelisik kedua manik Cempaka.
Wanita itu tertunduk, bayangan kedua adiknya yang selalu tak sabar menunggunya memasak kembali melintas. Cempaka menganggukkan kepala sembari mengusap kedua sudut mata yang tiba-tiba berair.
Dahi tuan Arya mengernyit, apa yang membuat wanita itu menangis? Apakah dia memiliki kisah yang sama sepertinya.
"Apa kau menangis? Apa yang membuatmu menangis?" tanya tuan Arya ingin tahu.
Cempaka menggelengkan kepala, kedua tangannya bergantian mengusap mata yang terus menjatuhkan airnya.
"Tidak apa-apa. Jika kau ingin bercerita aku akan mendengarkan, tapi jika tidak ... tidak masalah. Mungkin lain kali," ucap tuan Arya memaklumi.
"Saya ... saya teringat kedua adik saya, Tuan. Sebulan yang lalu mereka pergi meninggalkan saya dan menyusul ibu. Saya ... saya sendirian di dunia ini. Mereka ... mereka sama seperti Anda yang menyukai masakan istri Anda. Mereka tidak pernah memakan apapun pemberian dari orang lain, tapi hari itu ... hari ini ...." Cempaka tak sanggup melanjutkan.
Tangisnya pecah seketika, tangisan yang dulu tak dapat ia lakukan karena laki-laki brengsek itu. Tuan Arya tersentuh, ia beranjak dari kursi membantu Cempaka untuk berdiri dan duduk di sampingnya.
"Ya Tuhan. Menangislah jika kau ingin menangis. Menangislah sepuas hatimu." Tuan Arya mendekap bahu Cempaka, menepuk-nepuknya dengan pelan.
Di luar, demi menuntaskan perasaannya yang tertinggal kepada Cempaka, Caesar kembali ke rumah setelah mengantar Eva.
"Tuan! Apa yang membuat Anda kembali?" tanya Yudi yang kebetulan melihat sang tuan yang hendak menaiki anak tangga.
"Apa dia di kamarnya?" tanya Caesar tanpa basa-basi.
"Maaf, Tuan. Nona ada di belakang bersama tuan besar," jawab Yudi memberitahu.
"Ayah?" Caesar menurunkan kakinya kembali, mengernyit heran.
__ADS_1
"Benar, Tuan. Tuan Besar sedang berbincang dengan nona di halaman belakang." Yudi kembali menegaskan.
Tanpa bertanya lagi, Caesar bergegas pergi ke belakang. Ia mematung di ambang pintu, melihat gadis itu menangis di dalam dekapan sang ayah. Caesar mengurungkan niat untuk menghampiri, dia ingin mendengar apa yang terjadi.
Beberapa saat lamanya tuan Arya membiarkan Cempaka menangis. Setelah cukup tenang, wanita itu beranjak sambil menyapu wajahnya.
"Jika boleh tahu, apa yang terjadi setelah itu?" tanya tuan Arya penasaran dengan kisah lanjutan Cempaka.
Cempaka menghela napas, isak tangis masih tersisa menyesakkan dada.
"Hari itu ... saya pulang dari bekerja membawa makanan kesukaan mereka, tapi sesampainya di sana ...." Cempaka terisak. "Mereka sudah makan, seseorang memberikan mereka makanan yang ditaburi racun. Saya menyesal karena tidak dapat menyelamatkan keduanya. Mereka meninggal dan detik itu juga meninggalkan saya sendirian."
Cempaka menghela napas lagi, mengurai sesak yang merebak dalam dada. Tuan Arya terenyuh, melirik iba pada gadis di sampingnya. Sementara Caesar bergeming, mendengarkan dengan saksama kisah kelam kehidupan Cempaka.
"Ah ... maaf, Tuan. Saya tidak seharusnya menangis di hadapan Anda. Saya permisi!"
Tanpa menunggu jawaban, Cempaka beranjak. Ia berbalik masuk ke dalam, tapi kemudian langkahnya terhenti karena Caesar menghadangnya. Kedua bahu wanita itu masih terguncang ringan, bekas tangispun masih menjejak di wajahnya.
Laki-laki itu mendekat, menarik tubuh Cempaka ke dalam pelukan. Menciumi pundak wanita itu penuh penyesalan. Erat, seolah-olah tak ingin terlepas lagi. Namun, Cempaka ragu membalasnya, ia takut tuan Arya akan memergoki.
"Tu-tuan, lepaskan aku! Ada tuan besar di belakang. Bagaimana nanti jika beliau melihat?" ucap Cempaka lirih dalam dekapan Caesar.
"Diamlah!" Seolah-olah tak peduli tuan Arya akan tahu tentang siapa Cempaka. Caesar hanya ingin mendekap tubuh itu dalam waktu yang lama.
Beberapa saat Cempaka membiarkan Caesar memeluknya. Berpasang-pasang mata mengintip, ada rasa haru di hati mereka terutama Lusy.
Laki-laki itu melepas dekapan, mengusap kedua pipi Cempaka dengan lembut.
"Apa yang membuat Anda kembali, Tuan?" tanya Cempaka sembari menatap manik Caesar.
"Kau." Menjawab tanpa ragu.
"Aku?"
"Ya, kau!"
__ADS_1