
Caesar beranjak dari ranjang, mengecup singkat dahi Cempaka yang tertidur pulas. Ia membenarkan selimut, menutupi seluruh tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun jua. Lalu, tersenyum sambil menatap dalam-dalam wajah damai itu.
"Tidurlah yang lelap, beristirahatlah yang cukup," gumamnya, seraya menyambar pakaian yang tersampir di sofa.
Caesar menutup pelan pintu kamar Cempaka, perlahan dan hati-hati. Rasanya ingin selalu menatap wajah itu. Wajah yang akhir-akhir ini memenuhi alam pikirannya. Tubuh kekar itu berbalik, menempel di dinding, menengadah, entah apa yang dia lakukan?
Tangannya mengusap-usap dada, menghembuskan napas panjang dan berat sebelum pergi ke kamarnya. Di dalam sana, Eva tengah menunggu dengan gelisah. Mulai berpikir untuk mencari wanita hamil dan membeli bayinya.
Eva dengan cepat menoleh begitu pintu kamar terbuka. Segera saja berhambur mendekati Caesar dan mengutarakan keinginannya.
"Sayang, aku punya ide lain bagaimana agar bisa secepatnya memiliki anak." Jemari lentiknya membuka kancing-kancing kemeja Caesar dengan lihai.
Alis tebal laki-laki itu saling bertemu, mendengar ucapan istrinya. Apa lagi yang direncanakan Eva kali ini. Dia mulai mengeluh lelah.
"Apa maksudmu? Bukankah kita sudah membuat perjanjian dengan Cempaka? Aku yakin cepat atau lambat dia pasti mengandung," sahut Caesar sedikit kesal karena selama ini kehidupannya selalu diatur Eva.
Namun, kembali lagi pada cinta yang dia miliki, Eva adalah salah satu primadona di kalangan atas sepertinya. Menjadi rebutan banyak pewaris tahta, dan dia merasa beruntung karena dapat menikah dengannya.
"Begini. Sampai saat ini aku belum melihat tanda-tanda kehamilan pada wanita itu. Bagaimana jika kita mencari wanita hamil dan membayar bayinya dengan harga yang mahal. Itu sudah sangat jelas, lagipula uang tidaklah masalah bagimu, bukan? Aku tidak enak hati ayahmu terus menerus menanyakan tentang bayi," ungkapnya tertunduk di akhir kalimat.
Caesar menahan napas, tak habis pikir otak kecil Eva selalu dipenuhi rencana-rencana yang bertolak belakang dengan keinginannya.
"Aku tidak setuju karena jika seperti itu, artinya anak itu bukan anak kandungku. Bersabarlah sebentar lagi, aku sedang berusaha mewujudkan impianmu memiliki anak." Caesar mengusap pipi Eva, merayu wanita itu agar tidak memaksanya untuk melakukan ide konyol yang lain.
Ia sudah merasa nyaman dengan keberadaan Cempaka di rumah itu. Eva memberengut, meninggalkan Caesar dan duduk di tepi ranjang dengan wajah yang ditekuk.
__ADS_1
Caesar menghela napas, ikut duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Eva dan menggenggamnya.
"Ada apa? Bukankan wanita itu idemu? Kau yakin dia akan mengandung anak untuk kita, bukan?" tanya Caesar mengulik keyakinan Eva disaat membuat rencana menikahkannya dengan Cempaka.
Eva menunduk, berpura-pura menangis sedih.
"Hei, kenapa kau malah menangis?" Caesar merangkul bahu Eva, menariknya ke dalam dekapan.
"Aku takut kau akan berpaling dariku. Aku takut kau akan mencintainya dan melupakan aku. Aku takut kau akan meninggalkan aku, Caesar." Eva mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata, basah dan memerah seolah-olah dia benar-benar bersedih.
Dengan sapuan lembut, pemilik rahang tegas itu menyingkirkan air mata dari pipinya. Mengulas senyum manis, meyakinkan wanita itu bahwa hati dan seluruh cinta Caesar hanya miliknya seorang.
"Apa kau sudah tidak percaya lagi padaku? Kenapa kau berpikiran seperti itu? Kau tetaplah istriku satu-satunya yang sangat aku cintai. Bersabarlah sebentar lagi, semua ini pasti akan berlalu." Caesar kembali mendekap tubuh itu, mencari-cari perasaan yang dulu selalu membuatnya mabuk.
Namun, ada yang salah di sini, rasa yang dulu selalu hadir tak lagi ia temukan. Eva tak lagi sama seperti dulu, ada sesuatu yang mengalir dalam dirinya yang tak ia ketahui.
Eva tersenyum licik, ada sebuah rencana yang sedang dia susun di dalam otaknya entah untuk apa. Ia merebahkan diri di ranjang, memainkan ponsel mencari-cari sesuatu yang selalu membuat dompetnya berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Oh, astaga! Ini tas yang aku inginkan, akhirnya. Hah ... hanya ada satu, aku tidak boleh tertinggal. Aku akan memesannya dan memamerkannya pada teman-teman."
Eva membentang kedua tangan, dia tidak pernah kalah dari semua teman sosialitanya dalam hal apapun. Kecuali masalah anak.
Eva terburu-buru membuka pesan dengan notif khusus. Tersenyum-senyum bibirnya, membalas dengan cepat dan menghapusnya secara langsung.
"Baiklah. Mungkin aku harus mulai bergerak. Sudah terlalu lama aku menunggu untuk ini," gumam Eva seraya meletakkan ponsel tersebut ke atas nakas seolah-olah tak ada rahasia apapun di dalamnya supaya Caesar tidak menaruh curiga.
__ADS_1
Berpura-pura tertidur, agar Caesar tidak menyentuhnya.
****
Sudah menjadi kebiasaan Cempaka di rumah itu, ia akan bangun di pagi buta membantu Yudi membuat sarapan. Kepala pelayan itu terus tersenyum sepanjang acara rutin yang mereka lakukan.
"Nona, apa yang akan Anda masak hari ini?" tanya Yudi mengingat kemarin Cempaka mengatakan akan mencoba semua menu.
"Aku ingin memasak sup jamur, Pak. Apa kita memiliki stok jamur?" tanya Cempaka, secepat kilat Yudi memeriksa lemari penyimpanan.
Secara kebetulan yang dibutuhkan Cempaka tersedia meski hanya sedikit.
"Saya belum pernah mencoba menu itu karena nyonya Eva tidak menyukainya. Akan tetapi, Anda boleh mencobanya. Tuan Besar sangat menyukai sup jamur buatan istrinya," ujar Yudi dimengerti Cempaka dengan segera.
"Sup jamur ini sangat bagus untuk kesehatan, dan cocok dikonsumsi tuan besar." Yudi melanjutkan sembari membantu Cempaka meracik bahan masakan.
"Anda sering membuatnya, Nona?" tanya Yudi sedikit memberi perhatian.
Cempaka menggelengkan kepala, untuk seumur hidup dia tidak pernah memakan makanan mewah dan enak seperti yang tersedia di rumah Caesar.
"Aku terkadang harus menahan lapar karena tidak memiliki uang, Pak. Yang terpenting untukku, kedua adik kembarku bisa makan dengan baik, tapi sekarang mereka telah pergi meninggalkan aku sendirian. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap Cempaka dengan hati yang tegar.
Dia sudah menerima takdirnya dengan ikhlas, jika setelah melahirkan nanti Caesar akan membuangnya itu lebih baik. Karena isi perjanjian itu hanya sampai dia melahirkan anak untuk keluarga Arya.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu tentang itu," ucap Yudi tak enak hati. Ia membungkuk di depan Cempaka, benar-benar menyesal dengan pertanyaannya sendiri.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak. Tidak perlu meminta maaf, aku sudah bisa menerima semuanya dengan hati yang ikhlas. Terima kasih karena Bapak sudah memperhatikan aku." Cempaka tersenyum manis, ada kerelaan yang memancar di kedua maniknya.
Aroma dari sup yang menguar menggugah indera penciuman tuan Arya. Ia datang dengan cepat ke dapur, dan tak sengaja mendengar perbincangan itu. Hati tuanya bertanya, siapakah gadis yang di sana? Apakah pelayan? Kenapa Yudi memanggilnya Nona?