(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 62


__ADS_3

"Boleh Ayah bertemu cucu Ayah?" pinta tuan Arya dengan pandangan berkaca-kaca.


Cempaka gamang, sesuatu yang nyeri perlahan-lahan melilit hatinya. Ia menunduk, memainkan jemari yang lembab. Digigitnya bibir kuat-kuat, sekuat apapun meyakinkan hati, tetap saja rasa takut datang menghampiri.


"Nak! Ayah tidak akan pernah memisahkan kalian karena seorang anak tak akan pernah bisa dipisahkan dari ibunya. Ayah hanya ingin melihatnya, dan jika diizinkan Ayah ingin berlama-lama tinggal di sini untuk melihat tumbuh kembangnya," ujar tuan Arya lagi semakin terlihat menyedihkan.


Penderitaan atas kehilangan separuh jiwa yang selama ini disembunyikan, kini tampak di kedua mata tua itu. Cempaka mengangkat wajah, mematri pandang di kedua manik berembun milik lelaki tua di hadapannya.


"Hanya melihat saja karena sedang tertidur. Esok datanglah lagi, dan bermainlah di sini," sahut Cempaka pada akhirnya setuju untuk mempertemukan mereka.


Tuan Arya menganggukkan kepala setuju, terlihat binar kebahagiaan di kedua mata itu. Mereka beranjak, beriringan menuju kamar di mana Cempaka dan anaknya tertidur. Tuan Arya cukup tahu diri, hanya memaku dirinya di ambang pintu tanpa berniat melangkah ke dalam.


"Dialah anak yang aku lihat siang tadi, dia cantik sekali persis seperti dirimu. Ayah yakin Caesar pasti menyesal telah melepas wanita baik sepertimu, Nak. Apalagi saat melihat wajah itu, wajah yang sedikit mirip dengannya," tutur tuan Arya dengan suara yang bergetar.


Dapat melihat saja, sudah cukup mengobati kepedihan hatinya. Ia menutup pintu itu dan menuntun Cempaka untuk kembali ke depan.


"Kau tahu, Nak. Saat pertama kali melihat anak yang dilahirkan Eva, Ayah sama sekali tidak memiliki ikatan emosional dengannya. Berbeda sekali saat Ayah melihat anakmu. Perasaan tak asing itu Ayah rasakan meskipun di jarak yang sangat jauh." Tuan Arya menatap Cempaka, mengusap bahunya dengan lembut.


"Terima kasih karena sudah melahirkan keturunan untuk keluarga Arya, dan terima kasih karena telah mengizinkan Ayah bertemu dengan cucu Ayah," ungkap tuan Arya dengan perasaan yang penuh haru.


Cempaka meraih tangan keriput itu, menggenggamnya dengan lembut.


"Ayah berhak mengenalnya meski keluarga Arya sekalipun tak akan pernah mengakuinya. Kalian memiliki ikatan darah yang kuat, bagaimana juga tak dapat dipungkiri." Cempaka tersenyum, lega hati karena telah mengenalkan putrinya kepada sang kakek.


"Malam sudah beranjak, Ayah. Sebaiknya Ayah segera ke kamar dan beristirahat. Pagi nanti aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan teh kepada Ayah." Cempaka menatap penuh perhatian pada laki-laki tua di hadapannya.


Tuan Arya merasa memiliki seorang anak perempuan, daripada Eva yang notabene adalah menantu sah di keluarga Arya, lebih baik Cempaka yang memperlakukannya seperti ayah sendiri.


"Terima kasih, Nak. Mungkin Ayah akan tinggal di sini untuk beberapa Minggu ke depan. Jika ada waktu, berkunjunglah ke villa Ayah." Tuan Arya menatap penuh harap pada wanita yang sudah tak memiliki ikatan keluarga dengannya lagi.

__ADS_1


Mendengar kata villa, dahi Cempaka mengernyit. Dia sempat membahas tentang bangunan itu.


"Villa? Jadi, villa itu milik Ayah?" tanya Cempaka memastikan.


Tuan Arya tersenyum, seraya mengangguk kecil.


"Kau sudah tahu? Itu memang milik Ayah, tapi sudah lama sejak ibu Caesar meninggal, Ayah tak pernah mendatanginya lagi. Villa itu dibangun atas keinginannya. Dulu, kami sering menginap di sana. Menghabiskan waktu berdua, menatap senja di ufuk barat. Dia sangat menyukai pemandangan senja di laut. Jika ada waktu, Ayah harap kau bisa berkunjung ke sana."


Ada harapan di kedua pancaran matanya. Hal tersebut membuat Cempaka tak dapat menolak permintaan si Laki-laki tua di hadapannya. Ia lantas menganggukkan kepala tanda setuju untuk berkunjung.


Senyum di bibir keriput itu terbit dengan sempurna, ada kebahagiaan menelusup dalam relung jiwa dapat bertemu kembali dengan wanita pengganti sang istri. Sekali lagi, tuan Arya tak ingin kehilangan mereka. Dia tak ingin Cempaka pergi lagi dari kehidupannya.


"Baiklah, jika begitu Ayah permisi dulu. Selamat beristirahat." Tuan Arya tersenyum sekali lagi sebelum berbalik dan menghampiri sang sekretaris yang masih setia menunggunya di gazebo.


"Tuan!" Sigap, laki-laki itu berdiri ketika melihat tuannya datang.


Ia berjalan membuntuti sang tuan menuju resort di mana mereka tinggal. Malam sudah semakin larut, para karyawan di resort sedang melakukan tugas mereka membersihkan restoran karena pengunjung sudah mulai sepi.


Di balik sebuah semak, Lucy dan dan Dinda mengintip. Mengawasi laki-laki tua yang baru saja keluar dari rumah mereka. Setelah mengetahui yang datang adalah tuan Arya, Dinda segera pergi memberitahu ibunya.


"Ibu, apa nona baik-baik saja?" bisik Dinda dengan cemas.


"Ibu tidak tahu. Ayo, kita memastikannya." Lucy menarik tangan anaknya untuk pergi ke rumah, memastikan keadaan Cempaka. Yang ada di dalam pikiran mereka, adalah dia yang sedang menangis tersedu-sedan karena akan dipisahkan dari anaknya.


"Nona!"


Brak!


Lucy membuka pintu dengan kasar seiring teriakan dari Dinda, anaknya. Keduanya terus mencari keberadaan Cempaka dengan raut wajah panik.

__ADS_1


"Manda!"


"Lucy? Ada apa dengan kalian? Apa ada masalah?" Cempaka yang mendengar kegaduhan segera muncul dari arah dapur. Di tangannya membawa sebuah sendok, sepertinya dia baru saja hendak makan.


Cempaka menelisik wajah pucat berkeringat mereka, dahinya mengernyit bingung. Seperti terjadi suatu masalah di tempat usaha mereka.


"Kau tidak apa-apa? Apa dia menyakitimu!" Lucy meraba-raba tubuh Cempaka, memeriksa setiap incinya.


Cempaka memutar bola mata malas, jelas dia terlihat baik-baik saja. Mereka terlalu berlebihan.


"Hei! Aku baik-baik saja, Lucy. Ada apa denganmu? Kenapa kau justru yang terlihat gelisah seperti itu?" Bola mata Cempaka bergulir kepada Dinda, remaja itu pun sama pucatnya seperti sang ibu.


"Dia tidak melakukan apapun pada kalian, bukan? Dia tidak akan berbuat macam-macam, bukan?" cecar Lucy tetap dengan nada panik dan gelisah yang begitu kentara.


"Lucy! Aku baik-baik saja, kami baik-baik saja. Tidak ada siapapun yang menyakiti kami, ok? Tidak ada. Kau jangan panik seperti ini." Cempaka mengguncang bahu Lucy, menyadarkannya dari kepanikan berlebih.


"Ayah hanya datang untuk melihat cucunya, dia tidak berniat memisahkan kami. Semua itu tidak seperti yang ada di dalam pikiranmu, Lucy. Kami baik-baik saja." Sekali lagi Cempaka mengguncang bahu wanita itu.


Meyakinkannya lewat tatapan mata ketika pandang mereka berserobok. Lucy meneguk ludah, menghela napas dan mengusap wajah. Ia ambruk di sofa, rasa panik yang berlebih itu membuatnya lelah.


"Kau terlalu cemas, Lucy. Padahal tidak ada yang perlu dicemaskan. Tuan Arya tidaklah sama seperti anaknya yang tak memiliki perasaan. Dia bahkan memintaku untuk memanggilnya ayah. Dia orang yang baik, Lucy. Kau tidak perlu khawatir." Cempaka duduk di samping wanita itu, mengusap dengan lembut punggungnya yang bergetar. Menenangkannya dari segala rasa gelisah.


Lucy menghela napas, berbalik dan memeluk Cempaka. Ia menangis.


"Aku hanya takut dia akan membuatmu menderita lagi. Aku takut itu terjadi lagi padamu." Lucy terisak, ikatan yang terjalin di antara mereka bukanlah main-main.


Cempaka terenyuh, memeluk Lucy dengan penuh cinta.


"Terima kasih, ya. Terima kasih karena kau begitu tulus menerimaku."

__ADS_1


__ADS_2