(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 22


__ADS_3

"Eh? Tuan ...." Cempaka memekik tatkala dua orang wanita membawanya masuk ke dalam sebuah gedung. Dia tahu itu adalah salon, dari namanya. Hanya saja, dia masih bingung apalagi laki-laki yang membawanya tak ikut serta masuk ke dalam.


Caesar menggerakkan lima jemarinya yang lentik sembari mengulas senyum. Ingin tertawa melihat ekspresi wajah Cempaka yang memucat bingung.


"Ah, Tuan! Mengapa Anda duduk di sana? Tidak ikut masuk ke dalam?" Ia memegangi tiang pintu dengan kepala sedikit menyembul.


Caesar tidak menanggapi, ia justru mengedipkan mata dengan nakal membuat cekalan Cempaka pada tiang terlepas dengan sendirinya.


Brugh!


Prang!


Entah apa yang terjadi, dan bunyi apa di dalam sana. Caesar tidak peduli, ia tertawa anggun sambil menggelengkan kepala. Memainkan ponsel, melepas jenuh juga rasa penasaran ingin melihat hasil para pelayan salon mempercantik Cempaka.


Cempaka terjatuh menabrak sebuah guci hingga pecah terburai. Ia meringis menatap para pelayan salon yang justru terkekeh merasa lucu dengan tingkah istri seorang besar.


"Mari, Nona. Tenang saja, kami tidak akan menyakiti Anda. Tuan ingin agar kami memberikan perawatan para tubuh Anda. Jedi, rileks saja. Soal kecantikan serahkan kepada kami!" ucap sang manager sembari membantu Cempaka untuk beranjak.


"Emh! Soal itu ... berapa harganya?" Ia berbisik di dekat telinga sang manager salon.


Wanita cantik dan anggun itu terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Ah, tidak perlu dikhawatirkan. Mari!"


Cempaka tersenyum getir, pastilah guci itu mahal harganya. Ia meringis, malu-malu mengikuti langkah mereka masuk ke sebuah ruangan.


Sementara Caesar, masih duduk memainkan ponsel. Ia mengernyit ketika Eva menghubunginya.


"Sayang, kau di mana? Kenapa tidak ada di kantor?" tanya Eva dengan manja. Ia duduk di meja kerja Caesar menggantikan laki-laki itu.


"Kau di mana?" Caesar balik bertanya tanpa terlihat cemas.


"Aku di kantormu membawakan makan siang, tapi kau tak ada. Sekretarismu mengatakan kau pergi terburu-buru bersama Juna," jawab Eva memutar-mutar kursi kebesaran Caesar.

__ADS_1


Ia tersenyum sinis, kursi itulah yang dia inginkan. Seandainya saja dia mampu memiliki seorang anak, maka setengah dari saham perusahaan akan menjadi miliknya.


"Tunggulah! Aku akan kembali," ucap Caesar tanpa menunggu Cempaka selesai.


Ia keluar dan mengajak Arjuna untuk kembali ke kantor.


"Tuan, bagaimana dengan Nona?" tanya Arjuna cemas.


"Aku hanya sebentar, setelah urusanku selesai kita akan kembali lagi ke sini." Caesar bergegas duduk di mobil.


Tak ingin membantah, Arjuna membawa mobil keluar parkiran gedung. Hal tersebut dilihat oleh sang manager salon yang merasa iri kepada Cempaka.


"Apa kau benar seseorang spesial untuk tuan Caesar?" tanyanya menyelidik. Ia bersedekap dada menatap remeh pada wanita yang tengah melalukan perawatan rambut itu.


Cempaka melirik meski susah payah. Alisnya bertaut tak mengerti, sebentar saja dia bersikap baik, tapi sekarang begitu kasar dan tatapannya amat merendahkan.


"Kenapa, Nona?" tanya Cempaka dengan ramah.


Ia tertawa mengejek. "Kenapa? Kau tanya kenapa? Tentu saja kau tidak pantas menjadi istrinya. Seorang wanita kampungan, norak, dan memiliki kulit kusam juga kotor ... jauh sekali dengan nyonya. Oh, aku tahu ...." Kedua mata wanita itu mendelik lebar.


Karyawan lain tertawa meski tetap melakukan pekerjaan mereka secara asal-asalan.


"Argh! Kenapa kasar sekali?" jerit Cempaka sembari memegangi rambutnya yang ditarik dengan kasar.


"Yah, seperti inilah salon, Nona. Kau pastilah tak pernah pergi ke salon. Oh ... aku lupa, aku pasti tidak memiliki uang." Mereka kembali tertawa.


Cempaka tak tahan berlama-lama di sana, bukan hanya dirinya yang dihina, tapi juga harga dirinya diinjak-injak.


"Hentikan! Aku akan pulang!" titah Cempaka pada tangan-tangan yang memainkan rambutnya.


"Maaf, Nona. Kami tidak bisa berhenti karena tuan sudah membayarnya." Mereka menarik paksa kepala Cempaka hingga membentur. Ia meringis, air matanya jatuh tak tertahan.


Jika bukan karena si Brengsek Baron, dia pun tak ingin menjadi istri seorang laki-laki yang sudah memiliki istri. Sambil menahan tangis, dan jeritan hati, Cempaka membiarkan mereka menyakitinya.

__ADS_1


Dia segera beranjak melempar handuk ke lantai, dan menatap para pegawai salon yang terlihat tak acuh.


"Apa untuk ini kalian dibayar? Apa pemilik salon ini memerintahkan kalian untuk menyakitiku? Apa memang seperti ini pekerjaan salon? Menjambak rambut pelanggan hingga berceceran, menyisirnya dengan kasar bahkan berkata-kata kasar dan mengejek? Apa untuk ini kalian dipekerjakan? Menginjak-injak harga diri seseorang, sedangkan kalian tidak tahu apapun. Bukankah pengepul barang bekas lebih baik daripada kalian kerena mereka tidak pernah merendahkan orang lain!" sarkas Cempaka menuangkan kemarahan.


"Apa maksudmu?" Sang manager mengurai lipatan tangan di perut, menatap tak senang pada Cempaka. Begitu pula dengan tiga karyawan lainnya, begitu bencinya mereka pada wanita itu.


"Aku rasa kalian adalah orang-orang berpendidikan. Kalian juga mendapat gaji yang besar dari pekerjaan kalian ini, tapi sikap kalian sama sekali tidak mencerminkan selayaknya orang-orang yang pernah duduk di bangku sekolah." Cempaka menatap berani pada mereka.


"Kurang ajar! Tahu apa kau soal pendidikan? Aku yakin sekolah dasar saja kau pasti tidak merasakannya!" sahut sang manager tetap mengolok-olok Cempaka.


"Yah. Kau benar, aku memang tidak bersekolah sama sekali. Aku hanya menyayangkan sikap kalian yang arogan dan-"


"Ada apa ini?"


Kalimat Cempaka terpotong oleh sebuah suara tegas yang menyela. Menyusul, derap langkah terdengar memasuki ruangan. Keempat wajah pekerja itu memucat seketika saat seorang wanita paruh baya dengan tampilan elegan dan modis berada di ruangan tersebut.


Matanya memindai Cempaka, menilik wajah merah dan berair miliknya. Lalu, beralih pada manager dan tiga orang pekerja yang bersamanya.


"Apa yang kalian perdebatkan? Kudengar tuan Caesar datang berkunjung dia membawa seseorang yang spesial. Untuk itu aku datang," ucap wanita tadi menyentak tubuh keempat orang di hadapan Cempaka.


Mereka menundukkan kepala, sungguh tak menduga pemilik salon akan datang.


"Maaf, Nona. Apa yang terjadi? Kenapa Anda berantakan seperti ini?" tanya pemilik calon memperhatikan Cempaka dari atas hingga bawah.


"Anda bisa menanyakannya sendiri kepada pegawai Anda, Nyonya. Atau Anda bisa melihatnya dari CCTV. Kurasa salon ini memilikinya," sahut Cempaka tanpa mengalihkan pandangan dari sosok sang manager yang membeliak ketakutan.


"Oh, bagus juga! Jika begitu ... ada yang ingin menjelaskan sebelum aku menontonnya?" Wanita elegan itu mendongak menatap para pekerjanya, menunggu beberapa saat berharap salah satu dari mereka menjawab.


"Tak satupun? Baiklah, aku akan langsung melihatnya." Ia berbalik dan berbisik pada asisten yang bersamanya.


"Nyo-nyonya ...?" Lidah mereka kelu, seketika bungkam disaat tangan wanita itu terangkat.


"Pastikan mereka tidak pergi ke manapun!" Ia menghadap Cempaka yang berdiri, memperhatikan dadanya yang naik dan turun.

__ADS_1


"Saya minta Anda juga menunggu, Nona." Ia mengangguk sopan, kemudian pergi meninggalkan ruangan.


Sang asisten mempersilahkan Cempaka untuk duduk beristirahat, sedangkan mereka dibiarkan berdiri dengan gelisah.


__ADS_2