
"Kalo bukan Caesar siapa yang menjadi pewaris rumah ini?" sengit Lisa dengan mata menatap tajam tak terima.
Penjaga gerbang itu tersenyum, sesuai yang diberitahukan oleh sekretaris keluarga Arya, sifat serakah dan angkuh keduanya memang sangat menonjol. Ia mendekat, mengikis jarak dengan Lisa.
"Anda tidak perlu tahu siapa, tapi yang pasti cepat atau lambat mereka akan datang dan menempati rumah ini. Jadi, pergilah, Nyonya. Sampai pemiliknya datang dan mengizinkan Anda untuk masuk, kami tidak akan pernah membukakan gerbang ini," usir penjaga gerbang itu seraya berbalik setelah melayangkan senyum tajam untuk Lisa.
Lisa menggeram, kedua tangan terkepal dengan sendirinya. Gemelutuk gigi pun ikut menguar ke permukaan. Percikan kebencian berkilat-kilat di kedua matanya, juga rasa penasaran yang kian menggebu. Dia berbalik sembari menghentak langkah mendatangi mobil dan masuk ke dalamnya.
"Bagaimana, Bu? Apa mereka bersedia membuka gerbangnya?" tanya Eva setelah Lisa mendaratkan bokong dengan cukup keras di kursi depan.
"Apanya? Mereka mengatakan rumah itu sudah memiliki pewaris, tapi bukan kita juga bukan Caesar. Entah siapa yang dimaksud penjaga gerbang itu?" sungut Lisa berapi-api.
Eva mengerutkan dahi mendengar itu, setahunya Caesar adalah orang yang akan mewarisi rumah tersebut dan perusahaan yang sedang dikelolanya saat ini.
"Itu tidak mungkin, Bu. Seingatku Caesar pernah mengatakan jika ayah sudah menyerahkan rumah ini untuknya. Mungkin mereka hanya mengada-ada agar kita tidak dapat memasukinya," ujar Eva tak yakin dengan apa yang didengar.
"Sudahlah. Terlepas dari itu, sebaiknya kita kembali dulu hari ini karena mereka tidak akan mungkin membuka gerbang itu. Kapan-kapan kita datangi lagi untuk memastikan pemiliknya," ucap Gyan mulai jengah. Dia yang sejak tadi diam dan hanya mendengarkan pada akhirnya membuka suara jua.
"Yah, kau benar. Sebaiknya kita kembali saja, aku juga takut Caesar pulang ke rumah dan tidak menemukan aku." Eva setuju, mengenakan sabuk pengamannya kemudian meminta mobil berputar dan kembali.
****
Setelah menempuh perjalanan hampir satu hari, mobil Caesar akhirnya tiba di kawasan villa. Deburan ombak menemani perjalanan mereka menuju villa keluarga Arya. Di kejauhan resort milik Cempaka pun terlihat. Caesar berkerut dahi saat menatapnya.
"Seingatku tidak ada bangunan itu saat terakhir kita ke sini," celetuk Caesar tanpa mengalihkan pandangan dari puncak bangunan milik Cempaka itu.
"Benar, Tuan. Sepertinya baru dibangun. Dilihat dari cat dan bentuk bangunan, saya rasa pendatang yang mendirikannya," sahut Arjuna menerka-nerka.
Caesar menilik, dia masih dapat melihat dengan jelas meski dengan jarak yang begitu jauh.
__ADS_1
"Kau benar, tapi hal itu justru menarik. Akan ada banyak wisatawan yang datang mengunjungi pantai yang sebenarnya indah ini. Sayang, penduduk di sini tidak melihat potensi itu." Caesar tersenyum sembari mengalihkan pandangan dari tempat itu.
"Atau mereka tidak memiliki kuasa untuk membangunnya," tambah Arjuna dibenarkan laki-laki di sampingnya.
Caesar melirik kursi belakang, ibu tertidur nyenyak sekali setelah Evan diambil alih olehnya. Dia kembali melirik bangunan itu, entah kenapa seperti ada hal yang memanggilnya untuk datang. Rasa penasaran pun hadir, tapi ditepisnya dengan segera.
"Apa Anda berencana mendatangi tempat itu, Tuan?" tanya Arjuna tetap memfokuskan pandangan lurus ke depan.
Caesar berpaling sembari menghela napas, Arjuna seperti dapat membaca isi hatinya.
"Aku tidak tertarik. Villa ibu jauh lebih menarik untuk dikunjungi daripada tempat lain," jawab Caesar sembari melirik anak di pangkuannya, sangat bertolak belakang dengan isi hatinya.
"Jika kau ingin melihatnya lebih jelas, pergilah! Aku tidak akan melarangmu sekalian cari seorang gadis untuk kau nikahi. Usiamu itu sudah lebih dari cukup untuk menikah, kapan aku akan melepas masa lajangmu itu?" sindir Caesar melirik asistennya dengan ekor mata.
Arjuna tidak menyahut, bibirnya mengulas senyum tipis sampai tiba di gerbang villa. Seorang penjaga gerbang sigap membuka jalan untuk mereka, menunduk sopan menyambut kedatangan sang majikan.
Kepala pelayan di villa sudah berdiri menunggu kedatangannya di teras. Seperti biasa, dia selalu tahu akan kedatangan sang pemilik. Ia membungkuk sopan ketika Caesar telah berada di hadapannya.
Ia menegakkan tubuh lagi setelah Caesar menepuk pundaknya. Mengekor di belakang sang tuan bersama Arjuna.
"Apa ayah datang ke sini?" tanya Caesar tanpa berbalik ke belakang.
"Beliau sudah menunggu Anda di halaman belakang," jawab sang kepala pelayan.
Senyum Caesar terbit, keputusannya untuk datang ke villa adalah hal yang tepat. Dia ingin mengunjungi sang ibu dan menemukan ayahnya di sana. Bersama Evan, ia menuju halaman belakang di mana ayahnya berada.
"Kau sudah datang?" tanya tuan Arya saat mencium aroma anak dan cucunya.
Ia menoleh, lantas tersenyum ketika tatapannya jatuh pada bayi kecil di gendongan anaknya.
__ADS_1
"Kau sudah besar sekali! Rasanya sudah lama Kakek tidak melihatmu," ucap tuan Arya sembari membentang tangan merengkuh cucunya.
Caesar memberikan bayi Evan kepadanya, seraya duduk di kursi samping sang ayah.
"Bagaimana keadaan Ayah? Apa Ayah baik-baik saja? Aku sangat mencemaskan Ayah, kenapa sulit sekali menghubungi Ayah?" cecar Caesar meluapkan kecemasannya selama berjauhan dengan sang ayah.
Tuan Arya menciumi cucunya, terlihat jelas pancaran kebahagiaan di wajah tua itu.
"Ayah merasa lebih baik berada di sini. Jauh dari hiruk-pikuk dunia bisnis yang tiada akhirnya. Ayah ingin menghabiskan waktu di sini menemani ibumu." Tuan Arya tersenyum saat menoleh kepada Caesar.
Sosok tua itu memang terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Wajah yang dulu selalu terlihat pucat dan letih, kini berseri. Tak lupa senyum yang menghiasinya.
"Syukurlah, Ayah memang terlihat lebih sehat. Aku akan menginap di sini untuk beberapa hari saja. Apa Ayah tidak keberatan aku temani?" ucap Caesar menatap sang ayah dalam-dalam.
"Untuk apa keberatan? Ibumu pasti senang kau ada di sini. Di mana Eva? Kau tidak mengajaknya?" Tuan Arya menoleh pada putranya, dia tahu apa yang terjadi hanya saja sedang berpura-pura.
"Tidak, Yah. Aku hanya datang dengan Evan. Dia bahkan tidak tahu aku pergi ke sini," jawab Caesar diiringi helaan nafasnya yang dalam.
"Apa yang terjadi?" Tuan Arya menelisik wajah sang anak dengan saksama. Dia ingin mendengar langsung darinya tentang apa yang telah terjadi.
Caesar menoleh kepada tuan Arya, matanya berembun menyiratkan rasa bersalah yang besar terhadap laki-laki tua itu. Ada penyesalan yang perlahan mengendap di dalam hati dan harus segera diluapkan.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya tuan Arya lagi setelah menelisik kedua manik Caesar.
Laki-laki itu mendesah, kemudian menunduk, menghindari tatapan sang ayah.
"Arjuna, bawa Evan beristirahat bersama ibu," titah Caesar tanpa mengangkat wajah. Sudah seharusnya dia jujur kepada tuan Arya tentang Evan dan Cempaka.
Tuan Arya menyerahkan Evan kepada asisten anaknya. Sesuai arahan dari kepala pelayan, Arjuna mengajak serta ibu untuk beristirahat di kamar tamu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Sekali lagi tuan Arya bertanya karena belum mendapatkan jawaban. Siapkah Caesar menceritakan semuanya?