
Satu tahun telah berlalu, Cempaka berhasil mengembangkan bisnisnya dengan menggunakan nama Amanda. Kehidupan mereka berubah drastis, bahkan dia sudah berhasil menyatukan rumah milik Lucy dengan tempat usahanya.
Cempaka jarang sekali datang ke resort karena ia mempercayakannya kepada Lucy dan keluarga. Sementara ia fokus mengurus bayinya. Bayi yang sudah mulai berdiri dan belajar berjalan.
"Lucy, kudengar di sekitar sini ada villa? Kau tahu di mana itu?" tanya Cempaka. Sempat mendengar desas-desus masyarakat yang mengatakan bahwa tak jauh dari pantai mereka berdiri sebuah villa megah milik satu keluarga kaya.
"Oh, itu lumayan jauh, Manda. Bukan di sekitar sini. Tempatnya juga tersembunyi, ada di tengah hutan. Ada apa?" jawab Lucy sambil melirik wanita itu.
"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya. Kukira ada di sekitar sini." Cempaka tersenyum, tak bermaksud apa-apa, hanya sekedar ingin tahu lokasi villa tersebut.
"Kukira kau tertarik untuk membelinya? Karena aku dengar pemiliknya sudah lama tak datang ke tempat tersebut," tanya Lucy sambil tersenyum.
Cempaka terkekeh kecil.
"Awalnya iya, tapi mendengar lokasinya yang jauh dari tempat ini aku tidak tertarik lagi." Cempaka menghendikan bahu. Tak lagi berbincang mengenai villa kosong, melainkan bermain dengan sang bayi.
"Aku tidak akan ke resort untuk beberapa hari ke depan. Apa kau tidak keberatan untuk hal itu?" ujar Cempaka mengutarakan keinginannya.
"Kau tenang saja. Beristirahatlah, masalah resort serahkan kepada kami." Lucy beranjak sambil menepuk bahu Cempaka, ia berlalu pergi menuju resort yang saat itu hampir tak pernah sepi.
Pengunjung selalu datang, kamar-kamar pun selalu terisi penuh. Para pengunjung selalu puas dengan pelayanan yang diberikan. Cempaka tersenyum puas, dengan sejumlah uang yang tak seberapa dia dapat mengembangkannya menjadi berkali-kali lipat.
"Semoga saja terus seperti ini." Cempaka bergumam, bersyukur di dalam hati karena semua kebaikan sang Pencipta.
****
Sementara di rumah lama, tuan Arya dengan ditemani sekretarisnya berencana pergi ke pantai di mana dahulu ia pernah berbulan madu bersama mendiang istrinya.
"Kau sudah menghubungi mereka?" tanya tuan Arya sembari berjalan keluar rumah menuju mobilnya.
"Sudah, Tuan." Sang sekretaris menjawab sambil membungkuk. Tak lagi banyak bicara, tuan Arya bergegas masuk ke dalam mobil duduk dengan anteng di dalam sana.
__ADS_1
Bertahun-tahun lamanya ia tak mendatangi tempat itu. Terhitung sejak menikah dengan Lisa, tuan Arya hampir melupakannya. Perjalanan yang tak sebentar, memakan waktu hampir seharian.
Mobil tuan Arya tiba di tempat tujuan saat sore hari. Mereka disambut sopan oleh para pegawai di dalam bangunan megah tersebut. Debur ombak menyapa telinganya, tak sabar rasa hati ingin pergi ke pantai mengulang apa yang terjadi di dalam hidupnya.
"Selamat datang, Tuan! Kami senang akhirnya Anda datang berkunjung," ucap kepala pelayan, ia membungkuk di hadapan tuan Arya diikuti para pekerja yang lainnya.
"Bagaimana perkembangan di sini?" tanya tuan Arya sembari melangkah mendekati ruang tamu villa yang begitu besar dan megah.
"Di sini sudah semakin berkembang, Tuan. Di bagian Utara pantai ini bahkan, sudah dibangun sebuah penginapan," beritahu pekerja tersebut membuat tuan Arya mengernyit penasaran.
"Benarkah? Siapa yang membangun? Penduduk lokal?" tanya tuan Arya sedikit ingin tahu.
"Bukan, Tuan. Saya dengar dia pendatang. Baru satu tahun sesuai dengan usaha penginapan tersebut. Apakah Anda tertarik untuk melihatnya, Tuan?" jawab kepala pelayan tersebut sambil meminta pelayan yang lain menyuguhkan minuman serta makanan yang ada tersedia.
"Hhmm ... sudah aku duga. Yah, kapan-kapan saja aku hanya ingin melihatnya." Tuan Arya menjawab dengan lirih dan pelan.
Jika ada kesempatan dia akan pergi untuk melihat penginapan yang dimaksud. Untuk sementara waktu, dia hanya akan menghabiskannya di villa tersebut. Mengenang mendiang sang istri yang amat dia cintai.
Batin Tuan Arya bergumam ketika debar jantung tak lagi sama. Seolah-olah akan bertemu dengan seseorang yang jauh yang selama ini terpisah darinya.
Di rumahnya, Cempaka terlihat gelisah. Entah apa sebabnya? Tapi dia benar-benar tidak ingin keluar rumah walaupun hanya sekedar duduk di teras rumah.
"Bu, aku ajak main baby Zia, ya. Hanya di sekitar halaman rumah, sepertinya dia bosan terus di dalam," pamit Dinda yang terbiasa mengasuh bayi itu.
"Perasaanku sedikit tak enak, Dinda. Jika kau ingin mengajaknya bermain, jangan terlalu jauh dari rumah." Cempaka memegangi dadanya, meremas kain tersebut sambil menahan nyeri yang ada.
"Anda tak perlu risau, Ibu. Aku berjanji tidak akan jauh dari rumah. Hanya di tempat biasa baby Zia bermain." Dinda tersenyum, tak sabar ingin mengajak bayi itu untuk pergi bermain.
"Mmm ... ya sudah, tapi ingat! Kau harus berhati-hati!" ingat Cempaka yang diangguki oleh anak gadis Lucy itu.
Dinda keluar membawa anak Cempaka bermain di sekitar rumah. Bayi itu kegirangan, tertawa dan terus bermain bersama gadis remaja itu.
__ADS_1
Cempaka menghela napas dalam-dalam, berharap rasa sesak yang tiba-tiba merebak di dalam dada pergi dengan cepat. Ia mencoba menenangkan diri, mengusir gelisah yang tiba-tiba saja merundung hati.
"Kenapa perasaan aku gelisah kayak gini, ya? Mau ada apa sebenarnya?" Cempaka bergumam seorang diri.
Perasaan yang selama tinggal di desa itu tak pernah ia rasakan, para penduduk ramah kepadanya, ia diterima dengan baik karena bersedia memperkerjakan anak-anak mereka yang menganggur.
Di villa, tuan Arya memanggil sekretarisnya untuk membicarakan satu hal. Ia duduk menunggu di ruang tamu, dengan perasan gelisah yang tak menentu.
"Tuan. Apa ada masalah?" tanya sang sekretaris begitu tiba di hadapan tuan Arya.
Laki-laki tua itu menegakkan tubuh, meminta sang sekretaris untuk duduk di sofa.
"Apa kau meminta orang-orang kita mencari keberadaan cucuku di sekitar tempat ini?" tanya tuan Arya menatap tegas pada manik sekretarisnya.
"Sudah, Tuan. Bahkan, mereka masih ada di sini terus mencari mereka," sahut sang sekretaris.
Tuan Arya mendesah berat, begitu sulit menemukan keberadaan Cempaka. Wanita itu begitu pandai menyembunyikan diri darinya.
"Apa kau tahu resort yang baru dibangun di sekitar pantai ini? Siapa pemiliknya?" tanya tuan Arya penasaran.
Sang sekretaris menganggukkan kepala, dia sudah mendapatkan laporan tentang resort di pantai tersebut dari orang-orang yang dimintanya untuk mengintai.
"Sudah, Tuan. Pemiliknya bernama Amanda, sesuai dengan nama resort tersebut. Dia pindahan, baru satu tahun menetap di sekitar pantai ini." Sang sekretaris membeberkan sesuai laporan yang diberikan orang-orangnya.
"Perempuan, ya? Kalian sudah coba masuk ke dalam dan bertemu langsung dengan pemiliknya?" tanya tuan Arya lagi.
Kali ini, ia menggelengkan kepala tak tahu.
"Tidak, Tuan. Menurut yang saya dengar, pemiliknya sangat jarang berada di tempat tersebut," jawab sang sekretaris.
"Antarkan aku ke sana!"
__ADS_1