
"Panggil aku ayah!"
Seketika Cempaka mengangkat wajah menatap tuan Arya dengan mata melotot. Tiga kata itu cukup mengguncang detak jantungnya. Detik kemudian, dia tertawa garing. Merasa orang besar di hadapannya sedang membuat lelucon.
"Anda bisa saja, Tuan. Saya memang kurang kasih sayang seorang ayah, tapi bukan berarti saya harus memanggil Anda dengan sebutan ayah hanya karena perbincangan singkat kita kemarin. Apalagi Anda adalah seorang yang besar, itu mungkin saja mempengaruhi nama baik Anda," ujar Cempaka sambil berusaha menutupi kegugupannya.
Tuan Arya tersenyum simpul, dia tahu Cempaka tengah menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang seharusnya dia tahu.
"Kau tidak perlu lagi berpura-pura, Nak. Aku sudah tahu semaunya. Kau wanita yang dinikahi secara sembunyi-sembunyi oleh anakku. Kau pasti tidak tahu apapun tentang hal itu. Pernikahan seperti itu tidaklah menguntungkan bagimu, justru sangat merugikan. Apalagi saat rahasia ini diketahui semua keluarga, kau dan anakmu akan dibuang jauh-jauh dan tak akan pernah diakui," ungkap tuan Arya masih dengan senyum ramah tersemat di bibir.
Cempaka tercenung, satu rahasia besarnya telah terbongkar. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, mengusap perutnya yang membuncit. Bagus, jika Caesar tidak mau mengakui anaknya. Dia benar-benar akan pergi dan tak akan pernah kembali lagi.
Lucy membelalak mendengar pernyataan tuan Arya. Ekor matanya melirik Cempaka, khawatir dengan keadaan psikologis wanita hamil itu. Namun, yang terjadi kemudian, sungguh hal diluar dugaan.
Cempaka mengangkat wajahnya, tersenyum tenang menatap tuan Arya.
"Jika memang Anda sudah mengetahui semuanya dan memang itu yang seharusnya terjadi, aku tidak masalah. Aku akan merawat dan membesarkan anak ini sendiri ... diakui ataupun tidak oleh ayahnya. Anda tenang saja, aku berjanji tidak akan mengganggu kehidupan Anda ataupun anak Anda, dan jika aku harus pergi dari rumah ini maka, aku akan pergi sekarang juga," cerocos Cempaka tanpa takut pada orang besar di hadapannya.
Bukan tersinggung, senyum tuan Arya justru semakin berkembang lebar. Terlihat puas dengan jawaban yang diberikan Cempaka. Dia wanita yang tangguh dan pemberani dibalik semua kelemahannya.
"Aku bangga memilikimu sebagai menantu. Kau tenang saja, jika dia tak dapat memberikan perhatian serta kasih sayangnya terhadap kalian, aku yang akan melakukannya. Sebagai seorang ayah juga seorang kakek untuk cucunya kelak. Kalian sangat berharga untukku," ungkap tuan Arya menatap penuh kasih dan sayang pada Cempaka.
Tercengang wanita hamil itu, begitu pula dengan Lucy. Bingung dengan apa yang terjadi. Hanya kelopak matanya saja yang berkedip-kedip meminta penjelasan.
"Ma-maksud Anda, Tuan?" Cempaka bertanya terbata.
__ADS_1
Tuan Arya menghela napas, menyandarkan punggung pada sandaran sofa seraya melihat sekeliling.
"Caesar dibutakan cintanya kepada Eva, dia tidak bisa melihat kebaikan dan tidak dapat menemukan keburukan. Hatinya benar-benar tertutup dan sudah dikuasai Eva sehingga siapapun yang menasihatinya, tak akan pernah didengar. Eva sedang mengandung sekarang, dan Caesar berada dalam cengkramannya. Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya." Tuan Arya menggelengkan kepala sedih.
Melihat Cempaka seperti melihat mendiang istrinya.
"A-aku tidak mengerti," lirih Cempaka kembali menundukkan kepalanya.
"Kau mengingatkanku pada mendiang istriku, wanita yang sangat aku cintai. Aku tidak ingin kehilanganmu sama seperti kehilangan cintaku. Panggil aku ayah, jangan anggap aku ayah mertuamu. Aku adalah ayahmu," pinta tuan Arya dengan bersungguh-sungguh.
Rasa tak percaya yang singgah di hati Cempaka, membuatnya menolehkan kepala pada Lucy. Bertanya lewat sorotan mata, apakah dia sedang bermimpi?
Namun, senyum dan anggukan kepala wanita itu, menjawab keraguannya.
"Ah, mungkin aku hanya sedang bermimpi. Aku akan tidur dan saat terbangun maka semuanya akan kembali seperti biasa," kilah Cempaka seraya beranjak dari duduk dan berjalan pelan menuju kamarnya.
"Tuan, jika Anda hanya ingin membuatnya senang, tak perlu berbohong seperti ini. Nona sudah terlalu banyak bersedih bahkan, mungkin saja air matanya sudah kering. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi." Lucy memohon dengan sangat, ia menunduk sambil terisak pilu membayangkan kehidupan Cempaka yang belum jua menemukan kebahagiaan.
Tuan Arya tersenyum, kemudian menghela napas panjang. Ia memaklumi sikap Lucy yang seperti itu.
"Apa aku terlihat sedang bergurau? Atau apa yang kau katakan tadi ... berbohong? Ketahuilah, seorang Arya tidak pernah bermain-main dengan kata-katanya. Aku bersungguh-sungguh mengatakan semua itu." Tuan Arya menatap Lucy dalam-dalam, menilai dan menelisik wanita beranak dua itu.
Lucy mengangkat wajah, kedua matanya melotot lebar. Senyum tuan Arya meyakinkan dirinya.
"Aku akan tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan. Adakah kamar untukku?" tanya tuan Arya memberitahu maksud kedatangannya.
__ADS_1
"Sa-saya akan menyiapkannya, Tuan." Lucy menunduk, kemudian berbalik mengemasi barang-barangnya di kamar untuk ditempati tuan Arya.
Sementara dirinya, akan menempati kamar ketiga yang berada tak jauh dari ruang dapur.
"Kamar Anda sudah siap, Tuan!" ucap Lucy usai merapikan semuanya. Berselang, pintu diketuk. Lucy segera mendatangi pintu. Seorang laki-laki membawa sebuah koper dan menyerahkannya kepada Lucy.
"Milik Tuan." Tak ada lagi kalimat, laki-laki itu berbalik dan pergi meninggalkan halaman rumah Cempaka.
"Tuan!"
Tuan Arya menganggukkan kepala, ia beranjak dari kursi dan mengikuti Lucy menuju kamarnya. Wanita itu juga membantu merapikan pakaian milik tuan Arya ke dalam lemari. Setelahnya, dia berbalik pergi ke kamarnya sendiri.
Sungguh sebuah kejutan, kedatangan tuan Arya saja sudah tak terduga. Terlebih dia menganggap Cempaka sebagai menantunya.
"Semoga setelah ini, hanya ada kebahagiaan di dalam hidup nona." Lucy tersenyum berharap dengan setulus hatinya.
****
Sementara di rumah Caesar, laki-laki itu masih menunggu tuan Arya sampai sore hari. Begitu cemas memikirkan ayahnya itu, berkali-kali berdecak. Tak tenang rasa hati.
"Yudi, apa kau yakin ayah pergi ke pemakaman?" tanya Caesar pada kepala pelayannya itu.
"Baru saja saya mendapat kabar bahwa tuan pergi mengunjungi salah satu kerabatnya di luar kota bersama sekretaris keluarga Arya, Tuan," jawab Yudi yang mendapatkan pesan dari sekretaris tuan Arya.
Caesar menghela napas, sedikit merasa lega setelah mengetahui keberadaan sang ayah. Ia membanting diri di atas kursi di ruang kerjanya. Terlalu penat berada di luar ruangan, karena keluarga Eva masih saja berkumpul di sana.
__ADS_1
"Anda membutuhkan sesuatu, Tuan? Minum misalnya?" tanya Yudi dengan penuh perhatian.
"Yah. Ambilkan air untukku!" Caesar sedikit lesu tak bertenaga. Ketiadaan Cempaka di rumah itu menimbulkan kerinduan di dalam hati Caesar. Sungguh, dia ingin bertemu dengan wanita itu.