
"Manda! Kau akan pergi ke mana?" sergah Lucy sembari mencekal lengan Cempaka yang hendak membuka pintu rumah.
"Aku akan menemui mereka dan mengatakan kepada mereka bahwa tidak ada Caesar di sini. Jika tidak, maka mereka akan kembali lagi ke sini dan membuat keributan yang sama," ucap Cempaka menatap Lucy dengan pasti.
Lucy terdiam, tapi cekalan tangannya tak urung mengendur. Yang dikatakan Cempaka memanglah benar, tapi mereka tidak akan pernah berhenti menggangunya jika tahu ada di tempat itu.
"Kau mengenal betul bagaimana mereka, Manda. Jika mereka tahu kau ada di sini, mereka akan tetap datang ke sini untuk mengganggumu meskipun tidak ada Caesar. Sudahlah, biarkan saja!" Lucy keukeuh pada pendapatnya.
"Setidaknya aku sudah berbicara dengan mereka, Lucy. Sudahlah, biarkan aku berbicara kepada mereka. Kau tunggu saja di sini," ucap Cempaka.
Ia melepas paksa tangan Lucy yang mencengkramnya. Menghela napas, kemudian membuka pintu.
"Yang dikatakan dia benar, Nona. Meskipun Anda menjelaskan mereka tetap akan datang dan membuat keributan. Biarkan mereka melakukan tugasnya, silahkan Anda kembali masuk. Keamanan Anda adalah tanggung jawab kami." Sang kepala pelayan mendengar perdebatan mereka, ia sudah berdiri di depan pintu ketika Cempaka membukanya.
"Tapi, Pak, aku hanya akan berbicara kepada mereka. Itu saja," ucap Cempaka.
"Saya sudah mengatakan dengan jelas kepada mereka, Nona." Laki-laki itu sama sekali tidak bergeming, tetap berdiri menutup jalan Cempaka.
Di tengah perdebatan itu, juga kegaduhan yang terjadi di depan gerbang. Satu buah mobil berhenti di dekat Eva dan yang lainnya. Cempaka mematung, dia tahu siapa yang datang.
****
"Lepaskan dia!"
Sebuah suara berat dan serak, menggema penuh wibawa. Sontak mereka semua terdiam dan para pengawal segera melepas cekalan mereka. Lalu, menunduk penuh hormat pada laki-laki yang baru saja tiba.
"Ayah! Ayah, mereka mengusirku dari rumah itu. Aku hanya ingin mencari Caesar dan anakku, Ayah." Eva merengek sembari memegangi tangan tuan Arya.
"Sayang! Suamiku! Astaga, ke mana saja aku selama ini, sayang? Kau tahu, aku begitu mencemaskanmu." Lisa tak kalah dramatis, dia bahkan mengeluarkan jurus andalannya. Menangis seolah-olah memang mencemaskan keadaan laki-laki itu.
Tuan Arya tersenyum, kepalanya mengangguk-angguk seolah-olah senang dengan sambutan mereka.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Bahkan, jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Lihat! Aku sehat," jawab tuan Arya sambil menunjukkan kondisi tubuhnya yang segar bugar.
Lisa nampak tak senang, tapi dia harus berpura-pura senang untuk dapat menguasai hatinya.
"Kau benar, sayang. Kau terlihat lebih sehat. Ah, syukurlah. Aku senang melihatnya," ucap Lisa tersenyum dipaksakan.
"Ayah. Aku adalah menantumu, aku hanya ingin memeriksa rumah itu, tapi mereka terus menerus mengusirku. Ayah, bisakah kau membantuku? Aku yakin, Evan ada di dalam karena Cempaka ada di sana." Eva menunjuk Cempaka yang berdiri di teras rumah.
Lisa dan Ani membelalak terkejut. Dia benar-benar Cempaka. Tuan Arya menatap Eva, kemudian beralih pada Cempaka. Tuan Arya menghela napas, belum sempat berbicara tangis suara bayi menggema membuat Eva semakin yakin anaknya ada di dalam.
Cempaka berlari masuk ke dalam, disusul Lucy. Si Kembar terbangun karena terlalu lama ditinggalkan ibunya.
"Ayah dengar? Kalian dengar? Evan ada di dalam. Aku yakin Evan ada di dalam. Itu anakku!" jerit Eva kegirangan. Dia hendak menerobos masuk, tapi para pengawal itu segera berbaris menutup jalan.
"Tenang, Eva. Tenangkan dirimu, itu bukan suara Evan. Ayah bisa pastikan itu," sergah tuan Arya dengan nada lemah lembut.
"Lantas suara siapa, Ayah? Itu jelas-jelas suara bayi, dan itu pasti suara Evan. Aku sangat yakin," ucap Eva keukeuh.
"Itu suara ...."
"Anakku. Anakku yang menangis. Tidak ada bayimu di sini," sela suara Cempaka yang muncul membawa bayi Zia diikuti Lucy yang menggendong bayi Zio.
Serentak mereka menoleh, mata-mata ketiga orang itu membelalak melihat Cempaka yang berjalan mendekat bersama bayinya.
Bibir Eva berkedut-kedut, tapi tak ada suara yang keluar. Lidahnya kelu, tak dapat digerakkan. Tubuh membeku tak percaya ada dua bayi bersama Cempaka.
"Tidak ada Caesar di sini, juga anak kalian. Tolong jangan membuat keributan, karena suara keras kalian kedua anakku terbangun," pinta Cempaka tak lagi menyematkan sebutan nyonya untuk Eva.
Sungguh di luar dugaan, Eva berkali-kali menatap kedua bayi itu. Memang bukan Evan, tapi wajah keduanya memiliki kemiripan dengan Caesar meskipun sedikit. Baik Eva maupun Lisa, tak menemukan kata-kata untuk menimpali ucapan Cempaka.
Bola mata Cempaka berputar menatap Ani, tersenyum bibirnya ketika mereka bersitatap. Cempaka dapat melihat dengan jelas wajah gugup Ani walau terhalang barisan para pengawal.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Ani? Kau pasti menjaga tuan muda dengan sangat baik," tanya Cempaka bersyukur karena wanita itu baik-baik saja.
Ani menunduk, entah mengapa lidahnya kelu begitu saja. Mata Cempaka kembali berputar, kali ini menatap Gyan yang nampak biasa saja walau mati-matian menyembunyikan rasa takutnya.
"Kau ... bagaimana bisa ada dua bayi bersamamu?!" bentak Eva setelah sekian lama terdiam.
Jelas dia kebingungan karena bayi yang dilahirkan Cempaka diberikan kepadanya. Tuan Arya masuk ke dalam gerbang, mengambil alih bayi Zia dan membawanya ke teras.
"Bagaimana? Tentu saja bisa. Bukankah kau menginginkan seorang anak? Kau sudah mendapatkannya, bukan? Jadi, apa lagi? Hanya jaga saja kepercayaan suamimu," sahut Cempaka sembari melirik Gyan yang sedikit terkejut.
"Apa maksudmu?" Eva kembali meradang.
Cempaka tersenyum, menatap bergantian kedua pengkhianat itu.
"Apa perlu aku beberkan semuanya di sini? Kurasa tidak. Siapa saja yang berani bermain api, harus siap-siap terbakar." Cempaka melirik Ani, dia menunduk setelah beberapa detik mendongak sembari memainkan jemarinya.
"Siapa mereka? Dan bagaimana mungkin ada tiga orang bayi? Apa kau melahirkan bayi kembar?" Eva mulai menyadari situasinya. Kedua mata berbulu lentik itu menatap tajam Cempaka, menuntut penjelasan.
"Kau benar. Aku melahirkan bayi kembar, tapi hanya dua. Bukan tiga. Bayi yang aku berikan bukanlah bayiku, melainkan bayi orang lain yang harus terlahir tanpa orang tua karena pelakunya tak ingin bertanggungjawab." Cempaka melirik Gyan, mata pemuda itu membelalak. Rasa takut kembali menjalar di dalam hatinya.
Rasa gugup Ani pun berubah menjadi amarah, mengingat anaknya yang mati setelah melahirkan.
"Apa maksudmu?!" Eva masih saja belum mengerti, tapi Cempaka tak ingin berkata lebih jauh lagi.
"Bersikaplah selayaknya kau seorang istri. Berpura-pura saja tidak tahu jika itu bukan anak Caesar karena aku yakin hidupmu akan berakhir jika dia tahu tentang kedua anakku," ucap Cempaka seraya berbalik meninggalkan Eva.
Istri Caesar itu merenung, tapi kemudian kembali berteriak.
"Hei, apa maksudmu?!"
"Sudahlah, Nona. Sebaiknya Anda pulang karena tuan Caesar sedang menunggu di rumah," sergah sekretaris tuan Arya yang membuat Eva tersentak.
__ADS_1