
Cempaka tak tahu harus melakukan apa untuk menghadapi laki-laki bajingan itu. Jangankan melihat wajahnya, mendengar suaranya saja dia enggan.
"Cepatlah, Cempaka. Berikan aku uang, jika tidak maka ibu tirimu yang gila itu akan mengusirku. Ayolah, apa kau tidak merasa kasihan pada ayahmu ini?" ucap Baron dengan sikap yang tak sopan.
Cempaka menelisik wajahnya yang bengis, dia merasa tak akan dapat mengusir laki-laki itu. Cempaka memutuskan untuk berbalik dan pergi tanpa menanggapi lebih jauh.
Namun, siapa nyana, Baron menarik paksa tas Cempaka hingga tubuh wanita itu terjungkal ke belakang. Ia membongkar tas tersebut dan menemukan sebuah kartu yang akan diberikannya kepada Caesar.
"Dasar anak tak tahu diri! Pasti isi kartu ini banyak sekali uangnya. Hahaha ...."
Cempaka meringis, menatap tak rela pada kartu di tangan Baron. Ia bangkit dan hendak mengambil kembali kartu tersebut.
"Itu bukan milikku! Kembalikan, brengsek! Sialan!" umpat Cempaka tak tahan lagi dengan sikap Baron yang semaunya. Tanpa sengaja Cempaka mencakar wajah laki-laki kejam itu dan membuatnya seketika marah.
"Sialan!" Tangan Baron terangkat hendak menampar pipi Cempaka, tapi kemudian sebuah tendangan berhasil membuatnya mundur.
Bugh!
"Nona! Anda baik-baik saja?" tanya penjaga tersebut memastikan keadaan Cempaka.
Wanita itu terkejut ketika tubuh Baron tiba-tiba terjungkal ke belakang. Dia menatap orang-orang berseragam serba hitam yang mencekal kedua tangan ayahnya.
"Ah, aku baik-baik saja," sahut Cempaka sedikit bingung.
Dia tak tahu siapa orang-orang ini, mungkin saja tak sengaja lewat dan melihat perdebatan mereka.
"Nona, ini ...." Yang lain memberikan kartu yang diambil Baron darinya.
"Terima kasih." Cempaka menatap tajam wajah tak berkutik Baron, berbalik dan pergi tanpa peduli pada teriakan para penjaga itu.
"Nona, sebaiknya Anda pulang bersama kami!" kejar salah satu dari mereka tak membiarkan Cempaka untuk pergi.
Wanita itu berbalik, menatap dua orang yang mengejarnya. Ia melihat Baron yang berhasil melarikan diri dari cekalan para penjaga Caesar. Berdecak kesal sendiri.
"Maafkan aku, dan terima kasih telah menolongku. Aku akan pulang sendiri, terima kasih!" Cempaka membungkuk sebelum berbalik hendak pergi meninggalkan taman.
__ADS_1
Namun, sesosok tubuh yang tiba-tiba berdiri di belakangnya, membuat tubuh Cempaka hampir terjengkang. Jika saja, tangan kekarnya tak sigap menahan punggung itu. Cempaka membuka mata, sungguh terkejut saat melihat wajah suaminya.
"Tu-tuan? Kenapa Anda bisa di sini?" tanyanya spontan. Ia meletakkan kedua tangan di depan dada membentuk penghalang untuk tubuh mereka bertabrakan.
Caesar mengambil tas Cempaka yang diberikan salah satu penjaga. Menegakkan tubuh wanita itu dan membenarkan penampilannya. Ia juga memakaikan tas tersebut ke bahu Cempaka sebelum menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam mobil.
"Eh, Tu-tuan! A-aku akan pulang sendiri," ucap Cempaka, tapi tak dapat melepaskan genggaman tangannya.
Caesar tidak mendengar, justru mengeratkan pegangannya pada tangan cempaka.
"Masuk!" Memerintah dengan dingin disaat Arjuna membukakan pintu untuk mereka.
"I-iya!" Tanpa dapat menolak, Cempaka masuk ke dalam mobil dan duduk. Ia melirik takut-takut pada sosok jangkung yang masih berdiri di sisi mobil tersebut.
"Geser!"
Kedua mata Cempaka menjegil ketika kepalanya berbalik menghadap Caesar. Tanpa perintah kedua, mata laki-laki itu begitu tajam menghujam.
"Ah, i-iya." Cempaka menggeser tubuhnya berpindah ke kursi sebelah. Tak mengira laki-laki itu akan duduk di sana.
Ia menatap jendela, terasa canggung duduk bersisian dengan Caesar meskipun mereka suami istri. Tak ada pembicaraan di antara keduanya, tak seperti saat Caesar duduk berdua bersama Eva.
"Tuan, aku menemukan ini saat merapikan kamar. Mungkin tidak sengaja terjatuh semalam." Cempaka mengulurkan tangannya yang memegang kartu tanpa menoleh pada Caesar.
Laki-laki itu melirik, kemudian menjawab dengan dingin, "Itu milikmu!"
Mata Cempaka kembali membelakak, rasa tak percaya dia memiliki sebuah kartu.
"Maaf, Tuan, tapi aku tidak memilikinya. Jika bukan milik Anda, berarti ini milik nyonya. Semalam nyonya bermalam di kamarku," ujar Cempaka menerka-nerka.
Arjuna melirik mendengar itu, bagaimana mereka bisa berada dalam satu ruangan, sedangkan Eva begitu membencinya. Caesar melihat Cempaka tak senang, dia sengaja meletakkan kartu tersebut untuk wanita itu memenuhi semua kebutuhannya.
"Itu milikmu, bukan milik Eva. Dia sudah memiliki banyak kartu, tapi yang satu itu milikmu." Caesar menegaskan bahwa kartu tersebut memang miliknya.
Bukannya senang, Cempaka justru terlihat bingung dengan ucapan laki-laki itu.
__ADS_1
"Maksud Tuan, memberikan kartu ini kepadaku?" tanya Cempaka menegaskan ucapan Caesar yang terdengar ambigu.
Laki-laki itu berpaling pada jendela, menutupi kegugupan.
"Ya, anggap saja begitu. Gunakan saja kartu itu untuk memenuhi semua kebutuhanmu," sahut Caesar tanpa melirik pada Cempaka.
Wanita itu memandangi kartu di tangan, tak tahu harus melakukan apa dengannya. Semua kebutuhan telah terpenuhi sejak tinggal di rumah megah Caesar. Pakaian, makanan, dan hal lainnya telah tersedia di sana.
"Tapi kebutuhanku sudah terpenuhi, rasanya aku tidak memerlukan kartu ini, Tuan." Cempaka bingung karenanya.
Mendengar itu, hati Caesar merasa aneh. Sedikit terkejut, juga tak percaya. Kerutan di antara kedua alisnya terbentuk, menyusun kata yang tepat untuk membalas ucapan Cempaka.
"Eva setiap Minggu selalu berbelanja, bahkan terkadang setiap hari. Kau bisa melakukannya jika ingin dengan kartu itu," ucap Caesar berharap Cempaka akan menerimanya.
"Apa ini kartu kredit? Atau ATM?" tanya Cempaka yang tak mengerti dengan dua jenis kartu itu.
"Itu ATM, uang di dalamnya adalah milikmu. Kau bisa menggunakannya untuk berbelanja apa saja. Pakaian, tas, sepatu, dan perhiasan," jawab Caesar.
Cempaka menghela napas, menggenggam kartu tersebut tanpa mengalihkan pandangan darinya. Menerka berapa isi di dalamnya?
"Tapi aku tidak membutuhkan apa-apa lagi, semua kebutuhanku telah terpenuhi. Pakaianku banyak di lemari, tas dan sepatu sudah tersedia di sana, bahkan perhiasan ... lalu, apa lagi? Kurasa aku tidak membutuhkan apa-apa lagi selain tempat tinggal, Tuan," tutur Cempaka lebih seperti gumaman.
Caesar membelalak tanpa menoleh. Terlalu malu menunjukkan wajah terkejutnya kepada Cempaka. Tak mengira bahwa Eva dan Cempaka adalah dua wanita yang berbeda. Doa pikir semua wanita sama saja. Suka berbelanja, shoping apa saja, bahkan nongkrong di cafe dan menghabiskan uang jutaan dalam sehari.
Caesar menyusun kata untuk menjadi kalimat jawaban, sungguh semua yang diucapkan Cempaka diluar dugaannya.
"Jika begitu simpan saja. Suatu saat kau pasti membutuhkannya," pungkas laki-laki tersebut kali ini menolehkan kepala kepada Cempaka.
Ia ikut berbalik menatap Caesar, pandang mereka bertemu untuk beberapa saat. Caesar meneguk ludah saat matanya terjatuh pada bibir Cempaka yang telah menjadi candu untuknya. Dia manis, lebih manis dari pada milik Eva.
Caesar salah tingkah, berpaling dengan segera. Begitu pula Cempaka, menunduk sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Bagaimana jika kau pergi ke salon? Kau harus melakukan perawatan pada tubuhmu," saran Caesar membuat napas Cempaka terhenti beberapa saat.
"Tapi aku tidak tahu ke mana harus pergi?" lirih Cempaka tak tahu.
__ADS_1
"Juna, kau dengar?"
"Siap, Tuan!"