
"Maaf, atas insiden tadi, Nona. Mereka memang sering dilaporkan membuat keributan dengan para pelanggan. Kecuali Anda memberikan uang tips lebih, mereka akan memperlakukan Anda dengan baik," ujar pemilik salon tetap saja tak membuat Cempaka merasa senang.
"Aku akan pulang!" Cempaka beranjak hendak pergi, tapi sang pemilik dengan panik mencegahnya.
"Tunggu, Nona. Biar saya yang memberikan pelayanan langsung kepada Anda. Saya dengar tuan sudah membayar biayanya." Dengan sikap sopan dan meyakinkan, ia memohon kepada Cempaka.
Mata wanita itu memicing, menaruh curiga karena tidak menutup kemungkinan pemilik salon pun akan melakukan hal yang sama seperti para pekerjanya.
"Anda tenang saja, Nona. Saya berjanji akan melakukannya dengan baik," ucapnya lagi meyakinkan Cempaka.
Wanita itu menghela napas, mengangguk kemudian. Sayang juga jika sudah dibayar. Pemilik salon memperlakukannya dengan baik, ia mendapat perintah langsung dari asisten Caesar, Arjuna.
Seringkali laki-laki itu membawa seorang wanita ke salon, tapi tak seperti Cempaka yang diwanti-wanti Arjuna agar dilayani dengan sangat baik. Biasanya, wanita itu datang terus ditinggalkan begitu saja tanpa dipedulikan.
****
Di kantor, Eva tengah duduk menikmati kekuasaannya sembari memainkan ponsel di tangan. Berkirim pesan pada seseorang yang membuat bibirnya tak berhenti tersenyum.
Pintu terbuka menyentak tubuhnya, ia tersenyum gugup manakala matanya bertabrakan dengan kedua manik Caesar yang tajam.
"Sayang!" Eva beranjak menghampiri, memeluk dan mencium singkat bibir suaminya.
"Kau sudah lama menunggu?" tanya laki-laki itu sembari berjalan mendekati sofa.
"Mmm ... lumayan, mungkin sekitar tiga puluh menit yang lalu aku tiba di sini. Kau pasti belum mengisi perut, aku bawakan makanan kesukaanmu." Eva antusias membukakan sebuah bungkusan berisi makanan.
"Kau yang memasaknya sendiri?" tanya Caesar berharap.
Eva tertawa renyah, mana mungkin seorang nyonya sepertinya pergi ke dapur untuk memasak.
"Sayang. Kau tahu, bukan. Aku selalu melakukan perawatan pada kulitku. Lihat, kukuku saja begitu cantik. Jika aku pergi ke dapur, aku takut akan merusak ini semua. Aku ingin selalu terlihat cantik dan sempurna di matamu," rayu Eva menunjukkan kuku-kukunya yang lentik dan dipoles cat berwarna merah muda.
Ia bergelayut manja di lengan suaminya, merayu dan meyakinkan Caesar bahwa apa yang dia lakukan semua hanya untuk laki-laki itu. Caesar membalasnya dengan senyum tipis nyaris tak terlihat, rasa kecewa timbul di hatinya mendengar ucapan Eva yang masih saja enggan pergi ke dapur.
"Aku suapi." Eva mengangkat sendok berisi makanan ke dekat mulut Caesar.
Laki-laki itu menerima. Suka diperlakukan seperti itu. Dimanja, disanjung, dicintai, dan dibutuhkan. Di sela-sela makan, ponsel Eva berdering membuat Caesar mengernyit. Setelah menerima telpon, dia pasti akan pergi.
__ADS_1
"Ya, ada apa nyonya Mona?" sapa Eva dengan tingkah sosialitanya.
"Oh! Ya Tuhan, aku melupakannya. Tunggu sebentar." Ia menutup sambungan, menoleh pada Caesar sambil tersenyum.
"Sayang, nyonya Mona mengadakan pesta di rumahnya. Semua sudah berkumpul, hanya tinggal aku seorang. Aku harus pergi, jangan lupa habiskan!" Eva mencium pipi Caesar, kemudian segera beranjak meninggalkan ruangan suaminya.
Oh, betapa kesalnya laki-laki itu? Eva tak pernah ada waktu untuknya selain di malam hari. Itupun hanya setengah malam saja. Beruntung, kini ada Cempaka yang sedikitnya memberi perhatian.
Laki-laki berahang tegas itu menatap pintu yang baru saja tertutup, menelan sang kekasih yang amat dia cintai. Caesar mendesah, menjatuhkan kepala pada sandaran sofa, memijitnya dengan pelan. Makanan yang terhidang di depan mata, tak lagi menggugah selera.
Teringat pada Cempaka yang ditinggalkan sendirian di salon, Caesar berniat mengajaknya untuk makan siang.
"Kau sudah selesai?" tanya Caesar saat telpon tersambung pada Cempaka.
"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan padaku."
"Apa masih lama?" Suara Cempaka yang bertanya pada pihak salon didengarkan Caesar dengan saksama.
"Sebentar lagi, Nona."
Caesar menegakkan tubuh, ia akan menjemput Cempaka ke salon tersebut.
"Ya, tentu saja. Aku akan menjemputmu." Caesar menutup sambungan, beranjak keluar menemui Arjuna.
Pandangannya beralih pada sekretaris yang duduk berdampingan dengan meja Arjuna. Terlihat puas dengan pakaian yang dikenakannya.
"Kita kembali!" Berbalik dan berjalan tanpa mendengar sahutan dari sang asisten.
Arjuna sigap berdiri mengekor di belakang sang tuan menuju lift khusus. Ia duduk dengan anteng, memperhatikan jalanan. Suasana hatinya sedikit tenang mengingat Cempaka selalu memiliki waktu untuknya.
Di salon, Cempaka menatap takjub sosok dibalik cermin itu. Rasa tak percaya jika dia adalah dirinya sendiri. Sesuai permintaan, rambutnya tetap digerai untuk menutupi bercak merah yang terus saja ada setiap harinya.
"Nyonya, apa benar itu aku?" tanyanya menunjuk seseorang di dalam cermin.
"Benar, Nona. Itu memang Anda. Cobalah berdandan seperti itu setiap kali kalian bertemu, tuan pasti akan semakin terpikat kepada Anda." Pemilik salon memuji, bersemu pipi Cempaka.
"Anda yakin tuan akan menyukainya?" Bertanya karena tak percaya, baginya Eva tetaplah yang tercantik dan yang bisa memenangkan hati Caesar.
__ADS_1
"Anda bisa mencobanya." Perempuan paruh baya itu tersenyum, seolah-olah mendukung apa yang akan dilakukan Cempaka pada Caesar.
"Silahkan, Nona. Sepertinya Tuan sudah datang," ucapnya ketika mendengar deru mobil berhenti di parkiran.
"Terima kasih, Nyonya. Anda sungguh baik. Semoga tempat usaha Anda ini semakin maju dengan pelayanan yang baik." Cempaka memeluk pemilik salon sebelum keluar ruangan dan menemui suaminya diikuti wanita paruh baya itu yang tertegun sejenak karena perlakuan Cempaka.
"Selamat datang, Tuan!" sambutnya dengan tubuh membungkuk sopan.
Caesar tercenung di ambang pintu, hampir-hampir tak mengenali sosok bergaun merah di dalam gedung tersebut. Jika saja ia mengganti dress juga tasnya sudah pasti Caesar tak akan mengenali.
"Silahkan, Nona. Terima kasih atas kunjungan Anda. Semoga Anda puas dan kembali lagi di lain waktu," ucap sang pemilik melepas Cempaka kepada pemiliknya.
Ini tak biasa seperti yang dilakukan Caesar kepada wanita-wanita lainnya. Ia tak akan pernah menjemputnya kembali seperti Cempaka.
"Terima kasih sekali lagi, Nyonya. Kami permisi!" Cempaka turut membungkuk kepada wanita itu.
Dia wanita yang sopan dan tidak arogan seperti wanita kebanyakan. Pemilik salon mendesah lega, semoga saja Cempaka tidak menceritakan kejadian tadi kepada laki-laki itu.
Caesar duduk berdampingan dengan Cempaka, tak henti matanya mencuri pandang ketika wanita itu tidak memperhatikan.
Oh, astaga! Jantungku. Kenapa dia cantik sekali? Astaga!
Caesar menekan debaran jantungnya yang terus berpacu hanya melihat Cempaka dengan dandanan sederhana itu. Tak hanya Caesar, bahkan Arjuna pun terpukau dengan penampilan Cempaka.
"Eh, Tuan? Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tegur Cempaka kala Caesar tak menyadari bahwa ia menoleh padanya.
Caesar mengusap tengkuk sambil berpaling. Entah harus berkata apa untuk menjawab pertanyaannya itu.
"Tidak ada. Apa kau merasa senang pergi ke salon? Kau terlihat sumringah." Asal saja, tapi semakin membuatnya gugup.
"Oh, benarkah? Entahlah, aku tidak tahu." Cempaka menghendikan bahu tak tahu.
Suara perut yang keroncongan, membuat kedua pipinya merona. Mata keduanya beradu, Cempaka menampakkan deretan giginya malu. Lalu, melengos menghindari tatapan Caesar.
"Kita akan makan di mana, Tuan?" tanyanya lirih tanpa berpaling pada laki-laki itu.
"Di sini."
__ADS_1
Benar saja, mobil berhenti di seberang jalan restoran. Arjuna keluar dan masuk ke dalam untuk memesan, tak lama kembali datang dengan seorang pelayan yang membawakan pesanan Caesar. Sementara dia kembali ke dalam restoran meninggalkan mereka berdua.