(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 70


__ADS_3

Cempaka menghela napas usai menceritakan kisah pertemuannya dengan gadis remaja tersebut. Seorang gadis yang pada akhirnya mempertemukan Cempaka dengan Ani.


"Lalu, Ani ...?" Lucy bertanya ragu.


"Dia ibu dari gadis itu. Cukup lama aku menunggu sampai akhirnya mereka menghubungiku. Mereka setuju untuk menggantikan kedua anakku masuk ke dalam rumah itu. Sayang, gadis itu meninggal sesaat setelah melahirkan," ujar Cempaka mengingat kejadian di malam kelahiran anaknya.


"Memang apa yang kau dengar malam itu hingga memicu kontraksi?" tanya Lucy yang memang belum tahu apa yang terjadi.


"Malam itu, malam di mana kita akan pergi meninggalkan rumah, Ani menelponku. Dia memberitahuku bahwa anaknya mengalami pendarahan hebat dan dilarikan ke rumah sakit. Yang membuatku syok adalah nyawanya tak terselamatkan beberapa saat setelah bayi itu keluar." Cempaka menghela napas.


Dia bahkan meminta izin kepada pihak medis untuk dapat melihat jasad gadis tersebut sebelum dibawa ke rumah duka setelah mengantarkan bayinya ke ruangan Eva. Cempaka dan Lucy ikut mengantar Ani ke rumahnya dan di sana, ia memberikan surat yang ditulisnya untuk Caesar kepada Ani.


"Yah, kasihan sekali nasib gadis itu. Dia masih sangat muda, tapi masa depannya harus hancur karena perbuatan laki-laki yang tak bertanggungjawab. Pantaslah Ani sangat ingin membalas kematian putrinya," ujar Lucy saat melihat kilatan api dendam di kedua manik Ani pada malam perpisahan mereka itu.


"Lucy, apa kau bisa meminta seseorang untuk mendapatkan nomor Ani? Aku ingin menghubunginya," tanya Cempaka kemudian.


"Aku tidak tahu, tapi akan aku usahakan." Tak yakin, begitu yang ada di dalam hati Lucy.


Tangisan bayi yang mengusik keheningan malam, menghentikan obrolan mereka. Cempaka beranjak dan berpamitan kepada Lucy untuk kembali ke kamarnya. Menyusui si buah hati yang terbangun, menidurkan mereka kembali.


"Apa kabarmu, Caesar? Apa kau menyayangi anak itu? Sayangnya, dia bukan anakmu. Maafkan aku karena telah menipumu. Aku tidak bisa memberikan salah satu dari mereka kepadamu, aku ingin merawat mereka, melihat mereka tumbuh bersama-sama tanpa kekurangan kasih sayangku. Kuharap kau menyayangi dia, Caesar. Keluarga Arya harus bertanggungjawab atas kehidupannya."


Cempaka tersenyum, mengusap bayi Zio yang masih menyusu kepadanya. Dikecupnya dahi itu, sebelum memejamkan mata bersama sang anak.


****


Di rumah Lisa, pemuda itu sedang asik berpesta dengan teman-temannya. Merasa bebas karena tuan Arya tidak pernah datang ke rumah. Botol-botol minuman haram berjejer di atas meja, musik mengalun dengan suara yang sangat keras.

__ADS_1


Di malam itu, Gyan mendapatkan sebuah panggilan telpon dari nomor asing. Dia yang setengah sadar berpamitan kepada mereka untuk mengangkat panggilan. Berdiri sedikit jauh guna dapat mendengar suara orang di seberang sana.


"Mmm ... ya, hallo!" sapa Gyan dengan suara parau dan sayu khas seorang yang mabuk.


"Kau harus bertanggungjawab atas anak yang aku kandung. Kau tidak akan pernah bisa hidup tenang selama kau belum menerimanya. Ingat kata-kataku, kau tidak akan pernah bisa hidup tenang!"


Sebuah suara serak menyeramkan, sukses membuat tubuh Gyan menegang. Bulu romanya berdiri seketika, meremang seluruh tubuhnya. Wajah yang semula dihiasi senyuman, memucat seketika.


"Si-siapa kau? Jangan menakutiku! Aku tidak takut padamu!" ucap Gyan dengan lisan yang gemetar.


"Tentu saja kau harus takut. Aku akan datang untuk membawamu bertemu anak kita!" ancam suara itu lagi semakin menambah rasa takut di hati Gyan.


"Siapa kau sebenarnya, pengecut!" Gyan berteriak tanpa sadar, beruntung suara musik meredamnya hingga semua orang tak mendengar.


"Pengecut? Bukankah kau yang pengecut? Kau menculikku dan merenggut kesucianku, tapi kau tak ingin bertanggungjawab. Kaulah pengecutnya! Pecundang yang lari dari kenyataan. Kau pikir uangmu bisa menghalangi datangnya kehancuran? Tidak akan pernah bisa!"


Tubuh pemuda itu gemetar hebat, dia mematikan sambungan dengan napas yang memburu berat. Kehilangan udara, sesak, ditambah kepala yang berputar karena pengaruh alkohol, membuat Gyan tak sadarkan diri.


Gyan membuka mata dan melihat seorang gadis yang menangis di hadapannya. Gadis yang sudah tak dikenalinya, duduk di sebuah bangku taman.


"Kau harus bertanggungjawab, Gyan. Aku hamil, bukankah kau yang waktu itu memaksaku untuk menuruti kemauanmu? Kau tidak bisa lepas tangan begitu saja!" tuntut seorang wanita muda dengan air mata berderai dan wajah yang pucat pasih.


Ia berdiri di hadapan seorang pemuda yang tak acuh pada tangisannya.


"Siapa yang tahu jika itu adalah anakku? Kau mungkin saja tidur dengan banyak pria dan ingin aku bertanggungjawab karena kau tahu aku dari keluarga terpandang," ujar Gyan dengan sikapnya yang angkuh.


Gadis itu tertegun dengan air mata yang berjatuhan semakin deras. Rasa tak percaya pemuda yang sudah merenggut kesuciannya itu tak ingin bertanggungjawab pada janin yang tumbuh.

__ADS_1


"Kau pikir aku wanita murahan? Aku masih sekolah, dan kau tahu itu. Aku bekerja karena harus membiayai sekolahku, tapi kau menculikku dan menodaiku. Lalu, sekarang kau mengatakan aku seperti itu? Di mana nuranimu, Gyan? Kau harus bertanggungjawab atas janin ini. Kau ayah dari anakku!" pekik gadis itu tidak terima dengan sikap lepas tangan Gyan.


Namun, bukannya menyadari kesalahan, Gyan justru tertawa sambil berdiri dari bangku taman.


"Kau pikir aku bodoh? Semua orang tahu siapa Gyan? Anak tuan Arya yang terpandang, siapa saja pasti akan melakukan banyak cara untuk bisa mendapatkan aku. Termasuk kau, murahan!" tuding Gyan dengan sengit.


Gadis itu menunduk, meremas kepalan tangannya. Sakit batinnya, sakit hatinya, semua orang kaya selalu berbuat semau mereka. Gyan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet. Membantingnya di hadapan sang gadis dengan bengis.


"Ambil uang itu dan gunakan untuk menggugurkan kandunganmu jika laki-laki yang menodaimu tak ingin bertanggungjawab. Jangan pernah datang lagi padaku!" sengit Gyan, seraya berbalik meninggalkan gadis tersebut.


"Kesombonganmu akan menghancurkan hidupmu sendiri, Gyan. Aku bersumpah kau tidak akan pernah hidup dengan tenang! Tidak akan pernah!"


Ancaman gadis itu seolah-olah didengar langit, seketika saja gumpalan awan hitam menghalangi langit dan menutupi matahari. Dunia sekelilingnya menjadi gelap gulita, tak ada cahaya sepanjang mata memandang.


Gyan berbalik, menatap gadis bergaun putih yang perlahan bangkit dari bangku. Rambutnya yang panjang menjuntai ke depan, menutup seluruh wajah itu.


"Kau harus mendapatkan balasan atas semua perbuatanmu, Gyan. Kau harus bertanggungjawab atas anak yang ada di dalam rahimku!" ujar wanita itu dengan suara berubah menyeramkan persis suara orang asing yang menelponnya.


"Tidak! Jangan ganggu aku! Pergi! Pergi kau dari sini!" Kedua tangan Gyan terangkat ke depan, menghalau kedatangan si Gadis.


"Kau harus bertanggungjawab!"


"Tidak! Tidak! Pergi! Jangan ganggu aku!"


"Kau harus bertanggungjawab, Gyan!"


"GYAN!"

__ADS_1


__ADS_2