
Meninggalkan Lisa dan segala penderitaannya, di rumah Caesar Yudi melakukan tugas sesuai yang diperintahkan sang tuan.
Ani berdiam diri di dalam kamar sejak menerima pesan dari Eva. Desas-desus yang dia dengar, kabar tentang kepergian Eva dari rumah semalam, dan pertengkaran mereka. Ani mendengarnya dengan jelas, tapi ia tak dapat melakukan apapun.
Gelisah merundung hatinya, tiada lagi yang akan membela dan mempertahankan dia di rumah itu. Satu-satunya orang menjadi tameng telah pergi secara tidak hormat.
"Bagaimana nasibku selanjutnya? Apakah aku akan diusir dari rumah ini?" Ani bergumam gelisah. Terus berharap di dalam hati agar dia tetap bertahan di sana. Demi dekat dengan sang cucu, demi dapat melihatnya tumbuh.
"Semoga tuan Caesar berbaik hati kepadaku, dan mengizinkan aku untuk tetap tinggal. Ya Tuhan, kabulkan harapanku. Aku ingin tetap di sini melihat cucuku tumbuh," lirih Ani penuh pengharapan.
Ia menangkupkan kedua tangan di dada, memejamkan mata melangitkan doa. Hanya Evan yang dipikirkannya, bukan yang lain. Ia tak peduli dengan segala kemewahan, jika perlu Ani ingin membawa cucunya pergi dan tinggal bersama.
Sedikit rasa sesal hadir, mengganggu hatinya. Menyesal karena terlalu menggebu untuk membalas dendam. Menyesal karena begitu bernapsu untuk membuat menderita dia yang sudah menyakiti anaknya. Menyesal karena tidak mencoba untuk merelakan semua. Yang pada akhirnya, menjauhkan dia dari sang cucu.
"Ya Tuhan, ampuni dosaku. Aku hanya ingin berada dekat dengan cucuku. Tolong jangan jauhkan aku darinya. Tolong jangan pisahkan aku dengannya," mohon Ani semakin rapat kelopak matanya terpejam.
Seandainya dia tahu semua akan berakhir buruk, sudah tentu dia akan merawat sendiri cucunya itu. Ani menyadari sesuatu bahwa dia tidak membutuhkan balas dendam. Hanya saja, penderitaan yang dialami anak gadisnya membuat Ani gelap mata pada waktu itu.
"Oh, aku menyesal. Sungguh-sungguh menyesal." Ani meneteskan air mata, menutup wajah dengan kedua tangan. Terisak lirih dan pilu, sungguh bukan seperti ini yang dia inginkan.
Larut dalam tangisan, hanyut dalam rasa sesal yang tiada bertepi, Ani terhenyak ketika pintu kamarnya diketuk seseorang. Suara pekerja wanita terdengar memanggil namanya menyusul kemudian.
"Ani, keluarlah! Pak Yudi memintamu untuk pergi ke ruangannya," ucap pekerja tersebut membawa perintah dari Yudi.
Deg!
Jantung Ani berpacu dengan debar yang menggebu. Dugaan demi dugaan datang melanda, gelisah, cemas, dan rasa takut pun ikut meraja. Oh, dia takut itu adalah akhir dari perjalanan balas dendamnya. Balas dendam yang tak pernah terjadi. Bukan, tapi belum.
"Ani! Cepatlah! Pak Yudi sudah menunggumu." Suara itu kembali terdengar. Ani bimbang, menimang setiap kata untuk dijadikannya alasan bertahan. Atau perlukah dia memberitahu lelaki itu bahwa dia adalah nenek dari tuan muda mereka. Sungguh Ani berharap dapat mengatakan itu.
"Ani!" Panggilan itu kembali mengiang semakin terdengar tidak sabar.
"I-iya! Aku akan pergi," jawab Ani terbata-bata dan ragu.
"Pak Yudi memintamu untuk segera pergi." Suara terakhir yang dia dengar sebelum derap kaki yang menjauh.
Ani menghela napas, menyiapkan hatinya untuk sesuatu yang tidak dia harapkan. Disapunya jejak air mata, dibenarkan penampilan, kemudian keluar dengan membawa perasaan yang tak menentu.
Ia memainkan jemari di sepanjang perjalanan menuju ruangan Yudi yang terasa sangat jauh dan mencekam. Hawa di sekitar lorong itu menurun drastis. Menghantarkan rasa dingin yang tidak biasa. Bulu kuduk Ani meremang, merasakan kengerian meski bukan berada di film horor.
Langkah Ani terus berlanjut walau terasa berat, berkali-kali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri seolah-olah banyak makhluk yang sedang memperhatikan. Sampai di depan pintu, sebuah pintu yang tak ingin Ani masuki sebenarnya. Satu-satunya pintu yang membuat nyalinya menciut. Pintu ruangan Yudi, sang kepala pelayan.
Apa aku harus benar-benar berada di sini?
Tangan Ani gemetar, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Diangkatnya ke udara bersiap mengetuk pintu kayu tersebut. Pintu terseram yang ia jumpai di rumah besar Caesar.
Tok-tok-tok!
Pada akhirnya berhasil mengetuk meski dengan mata terpejam. Ani meringis, benar-benar tidak memiliki nyali lagi untuk melawan.
"Masuk!"
Bahkan, suara Yudi yang menggema di dalam sana terdengar seperti panggilan maut yang bersiap memisahkan nyawa dari raganya.
__ADS_1
Ceklak!
Suara pintu dibuka, tapi benda itu tak kunjung melebar. Yudi memicingkan mata, menanti tak sabar kedatangan Ani yang beberapa waktu lalu sempat melawannya. Yudi bergeming, pandangan mata terpatri pada daun pintu yang perlahan melebar dan terbuka sempurna.
Sosok Ani berdiri dengan tubuh gemetar, jemarinya saling bertaut satu sama lain, dimainkan. Dia tampak gelisah, menunduk tak berani mendongak lagi di hadapan Yudi.
"Masuklah! Aku sudah menunggumu," titah Yudi tegas, cukup memekakkan telinga Ani. Padahal, nyatanya dia berbicara dengan nada biasa-biasa saja.
Dengan hati yang ragu Ani melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan itu. Berdiri di hadapan Yudi sambil menundukkan kepala.
"Duduklah!" titah Yudi lagi sambil menunjuk kursi yang berada di sebrang mejanya.
Ani menarik kursi, duduk perlahan nyaris tanpa suara. Yudi menatap Ani dalam, menghembuskan napas panjang. Keadaan hening, tak terdengar suara apapun selain deru napas mereka.
Laki-laki itu membuka laci, mengeluarkan dua buah amplop putih dari dalamnya.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Yudi.
Bagai sedang didakwa di pengadilan, Ani menciut laksana binatang pengerat yang terpojok dan tak ada jalan untuk berlari.
"I-iya, Pak." Menjawab terbata, lirih. Kepalanya mengangguk lemah, pasrah pada takdir yang harus diterima.
"Bagus. Jadi aku tidak perlu lagi menjelaskannya kepadamu. Sesuai keputusan tuan Caesar semalam, aku diperintahkan untuk memulangkanmu." Yudi menjeda kalimat, melihat reaksi Ani yang terkejut.
Tubuh wanita itu tersengat, menegang seketika. Debar jantung yang sedari tak normal, semakin tak karuan dan tak beraturan. Kepalanya mendongak cepat dengan kedua bibir yang terbelah. Mata menatap sedih, ada genangan air di kedua sudutnya yang siap jatuh kapan saja.
"Kau tenang saja. Tuan memberimu uang jaminan yang tidak sedikit. Itu bisa kau gunakan untuk memulai usaha dan memperbaiki kehidupanmu." Yudi menyodorkan surat perintah dari Caesar, kemudian memberikan amplop berisi uang untuk digunakan Ani memperbaiki hidup.
"Pak, saya tidak ingin pergi dari rumah ini. Berikan saya pekerjaan apa saja yang penting saya tetap di sini. Saya berjanji tidak akan menyentuh tuan muda, apalagi menyakiti pengasuhnya. Tolong, Pak Yudi. Beri saya kesempatan sekali saja. Saya mohon!" ratap Ani dengan air mata bercucuran deras.
Dia terlihat begitu menyedihkan, dalam hati pun Yudi sebenarnya merasa iba, tapi apa yang sudah dilakukan Ani sangat fatal dan membahayakan tuan muda mereka.
"Tuan sudah memberimu kesempatan berkali-kali, tapi kau selalu menyia-nyiakannya. Kemarin adalah yang terakhir ... aku tidak tahu seperti apa jalan pikiranmu. Yang kau lakukan kemarin itu sangat fatal dan membahayakan keselamatan tuan muda." Yudi menghela napas, kepalanya menggeleng merasa heran terhadap Ani.
Menatap Ani yang langsung tertunduk menghindari manik Yudi.
"Kau tahu, ada banyak musuh tuan dalam dunia bisnis. Mereka menginginkan kehancuran tuan dan seluruh bisnis yang dimilikinya. Yang kau lakukan kemarin bisa mengundang mereka untuk melakukan kejahatan. Bisa saja mereka menculik tuan muda dan menjadikannya sandera untuk melemahkan tuan. Tentu kau tahu apa yang akan terjadi setelah itu, bukan?"
Panjang kali lebar, Yudi menjelaskan. Membuat Ani mengerti bahwa tak sembarangan jika ingin bekerja di rumah keluarga Arya. Segala sesuatu harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Memikirkan secara matang segala resiko yang akan dihadapi ke depannya.
Ani tergugu, menyesal karena terlalu ceroboh. Hanya karena merasa paling berhak atas Evan dia lupa batasannya. Dia lupa pada statusnya yang hanya sebagai pengasuh, bukan nenek dari Evan. Semuanya sudah terlambat, dan dia tidak akan pernah bisa lagi berada dekat dengan sang cucu.
"Ambillah, dan segera pergi dari sini. Kemasi barang-barangmu sebelum tuan datang kembali ke rumah. Gunakan uang itu dengan baik karena kau tidak akan mendapatkan kesempatan lagi jika menolak," titah Yudi menyodorkan kedua buah amplop semakin mendekati Ani.
Sungguh tak dapat dijelaskan seperti apa perasaannya saat ini. Apa yang akan dia katakan kepada sang anak jika dia datang dalam mimpi dan bertanya tentang anaknya. Apa yang akan dia jelaskan kepada seluruh keluarga tentang kepulangannya.
"Apa saya tidak diizinkan untuk melihat tuan muda sebentar saja? Saya ingin sekali melihatnya sebelum pergi dari rumah ini," pinta Ani tersedu-sedan, sungguh memilukan.
Yudi menggeleng tegas, menolak permintaan Ani meskipun itu yang terakhir. Tangis Ani semakin menjadi, Yudi membiarkannya beberapa saat sampai ia mampu menguasai keadaan.
Berangsur-angsur tangisan Ani mereda, tangannya menyeka air yang berjatuhan di kedua pipi. Mendongak, menatap Yudi dengan matanya yang sembab.
"Baiklah jika begitu. Saya titip tuan muda. Saya harap semua orang di sini akan merawat dan menjaganya dengan baik." Sebuah permintaan yang tak wajar dari seorang pengasuh.
__ADS_1
Dahi Yudi mengernyit heran, tapi kemudian ia menganggukkan kepala.
"Kau tidak perlu risau. Aku pastikan semua orang yang ada di rumah ini akan merawat dan menjaga tuan muda dengan sangat baik. Kau bisa pergi dengan tenang tanpa membawa beban berat di pundak." Yudi menimpali dengan tegas, meyakinkan Ani bahwa orang-orang yang bekerja di rumah Caesar adalah orang-orang baik dan bisa dipercaya.
Ani mengambil kedua amplop itu dengan berat hati, beranjak dari duduk dan berbalik pergi meninggalkan ruangan Yudi. Menutup pintu dengan pelan, nyaris tak menimbulkan suara. Hembusan napas Yudi terdengar, tapi dia harus melakukan itu sekalipun tidak tega.
Ani terus menangis sepanjang kembali dari ruangan Yudi dan menuju kamarnya sendiri. Bahkan, untuk melihat wajah sang cucu terakhir kali saja dia tidak diizinkan. Ani mengemas barang-barangnya, bersiap pergi meninggalkan rumah beserta cucunya.
"Kau akan diantar supir." Suara Yudi kembali terdengar di saat Ani baru saja muncul dari lorong kamar para pekerja.
Wanita itu tidak menjawab, terus melanjutkan langkah keluar sambil menyeret tas besar berisi barang-barang miliknya. Di luar, seorang supir yang disiapkan Yudi telah menunggu. Ani bergegas masuk, dan mobil melaju dengan cepat meninggalkan halaman rumah.
Isak tangis Ani kembali menjadi sesaat ia duduk di bangku belakang. Meratapi nasib diri yang begitu bodoh karena termakan napsu balas dendam. Pada akhirnya, tidak ada yang namanya balas dendam. Yang ada diri sendirilah yang merugi. Ani menyadari itu.
"Ke mana kita pergi?" tanya sang supir setelah beberapa jauh meninggalkan kediaman Caesar.
"Ikuti saja jalan ini, nanti aku akan memberitahumu," jawab Ani di sela-sela isak tangisnya yang memilukan. Mobil keluar dari gerbang perumahan Caesar, melaju di jalan raya sesuai dengan petunjuk Ani.
Samar-samar mata Ani yang memburam menangkap beberapa sosok yang dikenalnya. Berdiri di tepi jalan dengan membawa koper di masing-masing tangan.
Bukankah itu nyonya Eva, nyonya Lisa, dan anaknya? Kenapa mereka di tepi jalan?
Hati Ani bergumam, penasaran dan tentunya ingin melihat dengan jelas wajah ketiga manusia itu.
"Pelankan mobilnya, aku ingin memastikan apa yang aku lihat," pinta Ani kepada supir.
Laki-laki itu melirik kiri jalan, tersenyum ketika melihat ketiga sosok itu.
"Kau memang tidak salah melihat, itu mereka. Entah akan pergi ke mana mereka bertiga?" ujar sang supir tak acuh terhadap ketiga manusia itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Ani teringin tahu alasan Lisa dan anaknya ada di jalanan bersama Eva.
"Tuan Arya mengusir mereka dari rumahnya. Bahkan, tanpa diberi uang sepeser pun. Mungkin saja mereka akan pergi ke rumah nyonya Eva. Mengingat dia masih memiliki keluarga yang ditinggalkannya setelah menikah dengan tuan," jawab supir itu lagi menjelaskan kepada Ani bahwa semua yang bersalah sudah pasti akan mendapatkan hukuman. Tidak terkecuali.
Bahkan, keluarganya saja diusir dari rumah mereka. Apalah aku yang hanya sebatas pekerja, pengasuh yang lupa akan statusnya.
Ani bergumam dalam hati, berpaling dari jendela dan menghadap lurus ke depan. Hukuman tidak hanya berlaku untuk para pekerja saja, tapi juga berlaku untuk anggota keluarga Arya sendiri. Ani sudah menyaksikan sendiri dan hatinya tidak terlalu sedih karena itu. Setidaknya dia tidak menderita seorang diri, ada Eva, ada Lisa, dan juga Gyan yang kehilangan hidup mewah mereka.
Setidaknya aku masih memiliki rumah untuk tempat kembali. Ada keluarga yang akan menerimaku, tapi bagaimana dengan mereka? Apakah keluarga nyonya Eva akan menerima mereka dengan baik?
Ani mendesah, untuk apa memikirkan mereka. Ia mulai berpikir tentang uang yang diberikan Caesar kepadanya. Akan ia gunakan untuk membuka usaha, membuat kehidupannya menjadi lebih baik lagi.
"Ambil kanan, kemudian berhenti di depan rumah paling ujung. Itulah rumahku," titah Ani ketika tiba di sebuah belokan yang mengarah ke rumahnya.
Mobil berbelok dan terus menyusuri jalan sempit menuju perkampungan di mana Ani tinggal. Dia akan mempercayakan pengasuhan Evan kepada Caesar dan yang lainnya. Mereka memang orang-orang baik, tak sekalipun Ani melihat kecurangan yang dilakukan para pekerja.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana, rumah yang berada di paling ujung dan sedikit terpencil. Di teras rumah tersebut, dua orang remaja dan satu anak kecil secara bersamaan menoleh.
"Ibu!" Mereka berteriak ketika Ani keluar dari mobil sambil membawa tas besarnya. Dia disambut dengan baik, pelukan kerinduan dari ketiga anaknya yang ia tinggalkan.
"Ibu sudah pulang? Ibu tidak akan pergi lagi, bukan?" tanya mereka antusias.
"Iya, sayang. Ibu tidak akan pergi lagi. Ayo, masuk!" jawab Ani sambil menggiring ketiganya untuk masuk ke dalam rumah. Ani tersenyum, kenapa dia lupa ada tiga orang anak yang membutuhkan perhatiannya di rumah dari pada terus memikirkan tentang balas dendam.
__ADS_1