(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 116


__ADS_3

"Jadi, bagaimana? Apa kau menerima Caesar kembali?" tanya tuan Arya di perkumpulan keluarga malam itu.


Ada Caesar, Cempaka, dan tuan Arya sendiri. Sementara Lucy mengajak si Kembar bermain bermain ibu pengasuh Evan dan Arjuna.


"Demi kedua anak kami, Ayah. Zia dan Zio membutuhkan kasih sayang ayahnya. Aku bersedia kembali kepada suamiku." Jawaban Cempaka bagai angin segar yang menerpa hati keduanya.


Caesar tersenyum sempurna, melirik tiada henti pada wanita yang akan kembali mengisi hari-harinya itu.


"Syukurlah. Ayah senang mendengarnya. Semoga kehidupan kalian ke depannya akan dilimpahkan kebahagiaan. Ah, satu lagi. Bolehkah Ayah serakah? Berikan Ayah cucu yang banyak."


Gelak tawa tercipta di antara mereka bertiga, hal yang tak pernah terjadi saat bersama Eva. Perkumpulan keluarga seperti inilah yang dirindukan tuan Arya dan Caesar setelah kepergian wanita yang mereka cintai.


"Aku rindu masa-masa seperti ini. Masa-masa di mana ibu masih bersama kita, Ayah." Caesar melirik tuan Arya tersenyum hangat. Hubungan mereka sebagai ayah dan anak pun kembali menghangat dengan kehadiran Cempaka di tengah-tengah mereka.


"Kau benar, semua ini karena Cempaka. Dia persis seperti mendiang ibumu. Ceria dan selalu bisa mencairkan suasana. Terima kasih, Nak, karena kau bersedia kembali kepada keluarga kami. Kita sekarang adalah keluarga," ucap tuan Arya bersungguh-sungguh dalam mengucapkan kalimat tadi.


"Aku juga tidak menyangka akhir perjalananku yang penuh derita akan tiba di titik ini. Di mana semua impian aku dapatkan. Sebuah keluarga yang hangat dan menyenangkan," timpal Cempaka sambil tersenyum penuh syukur.


"Segera umumkan pernikahan kalian. Ayah tidak ingin menunggu terlalu lama lagi untuk berkumpul bersama kalian. Lengkap rasanya kehidupan Ayah saat ini. Ada menantu yang baik, ada cucu yang mengisi hari-hari Ayah yang sepi." Tuan Arya beranjak dari sofa, meninggalkan keduanya.


"Kalian lanjutkan saja, Ayah ingin bermain dengan cucu Ayah," katanya tanpa menoleh lagi ke belakang.


Caesar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah karena ditinggal berdua dengan Cempaka.


"Champa!" panggil Caesar lirih. Hanya itu, entah kenapa rasanya kembali canggung setelah ditinggal sang ayah.


"Ya. Ada yang ingin kau katakan lagi?" sahut Cempaka sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Ia menunduk, menyembunyikan rona merah di pipi yang terasa memanas.


Caesar meraih tangan wanita itu, menariknya dengan lembut.


"Kau mau apa?" Cempaka menatap kian kemari, khawatir ada mata yang melihat.


"Kemarilah! Aku merindukanmu," ucap Caesar yang terus menarik tangan Cempaka untuk mendekat.


"Tapi aku malu jika ada yang melihat," ungkap Cempaka masih mencari-cari mata yang tersembunyi.


"Tidak ada. Percaya padaku. Esok aku harus kembali ke kantor. Sudah lama aku meninggalkannya." Caesar memelas yang akhirnya membuat Cempaka menuruti kemauannya.


Caesar mendekap tubuh hangat itu dari belakang, mengendus bau yang ia rindukan.

__ADS_1


"Sudah lama sekali aku kehilangan kehangatan ini. Aku tidak ingin kehilangannya lagi. Kau, tidak akan aku biarkan pergi lagi dari kehidupanku," bisik Caesar dekat telinga Cempaka.


Meremang tubuh wanita itu, ia pun merasakan hal yang sama, sebuah kerinduan.


"Yah. Aku pun begitu."


Caesar membalik tubuh Cempaka menjadi berhadapan. Manik mereka saling menatap satu sama lain, menghantarkan kerinduan. Perlahan, tapi pasti. Wajah keduanya mendekat, dan semakin dekat. Mengikis jarak yang tercipta menyatukan sebuah kerinduan.


Bibir mereka saling bertemu satu sama lain, merasakan sensasi yang sudah sangat lama tak mereka temui. Kali ini, tidak ada keterpaksaan dilakukan Cempaka. Hatinya sudah bisa menerima Caesar, dia bahkan mengimbangi permainan laki-laki itu.


Caesar menurunkan sentuhan ke leher Cempaka, memberi sebuah tanda di sana. Wanita itu berdesis, sesuatu bergejolak naik ke permukaan, tapi sekuat tenaga menahan agar tidak melewati batasan.


"Aku mencintaimu, Champa. Sangat mencintaimu. Aku juga merindukanmu," lirih Caesar, seraya kembali memagut mesra bibir ranum yang ia rindukan.


Bukan kecantikan semata yang ia inginkan, tapi lebih kepada rasa nyaman dan aman dalam menjalani sebuah hubungan. Eva memang cantik secara lahiriah, tapi nyatanya Caesar tak membutuhkan itu.


"Berjanjilah padaku untuk tetap tinggal bersamaku. Kita rawat dan besarkan bersama anak-anak kita. Aku juga ingin melihat tumbuh kembang mereka. Menemani mereka tumbuh, mendengar mereka memanggilku ayah." Caesar kembali berbisik setelah melepas pagutannya.


Ia menempelkan dahi mereka, menangkup wajah Cempaka dengan kedua tangan. Menyalurkan rasa cinta yang ia miliki seutuhnya. Hanya untuk ibu dari anak-anaknya itu.


Cempaka mengangguk kecil, ia pun tak ingin pergi lagi. Mengingat kedua anaknya membutuhkan sosok ayah yang akan menjaga mereka dan melindungi mereka dari segala marabahaya.


"Apa kau ingin tidur bersama mereka?" tanya Cempaka mendongakkan kepala menatap manik Caesar.


Satu kecupan mendarat di bibirnya, dilakukan Caesar karena gemas.


"Kenapa rasanya kau berubah? Apa ini hanya penglihatanku saja? Atau kau memang berubah?" tanya Caesar mengalihkan bahasan.


Cempaka mengernyit tidak mengerti.


"Berubah? Apa yang berubah? Seingatku tidak sama sekali," sahut Cempaka yang tidak merasakan perubahan dalam dirinya.


"Kau berubah, sayang. Kulihat kau terlihat lebih fashionable walau tidak seperti Eva, tapi aku menyukainya. Inilah dirimu yang selalu apa adanya. Jangan pernah berubah," ucap Caesar sembari mengulas senyum menatap dalam-dalam mata Cempaka.


"Kau merayu?"


Caesar menggelengkan kepala. "Tidak! Aku bersungguh-sungguh."


"Jangan berkilah. Aku tidak pernah berubah. Ya, mungkin sedikit. Tidak masalah aku akan menyesuaikan diri dengan suamiku," ucap Cempaka lagi dengan pasti.

__ADS_1


"Aku menyukainya."


Caesar kembali mendaratkan bibir pada benda di hadapannya yang mulai menjadi candu. Selalu ingin dan tak pernah puas, sampai-sampai Cempaka kewalahan.


"Mereka menangis!" pekik Cempaka seraya melepas pagutan dan bergegas menghampiri sumber suara.


Diikuti Caesar yang mengekor dari belakang sampai masuk ke kamar. Ia menutup pintu dan menguncinya. Tersenyum nakal ketika Cempaka membelalakkan mata.


"Apa yang kau lakukan?" Cempaka menutup bagian dada yang terbuka. Rasanya malu walau yang ada di hadapannya saat ini adalah suaminya sendiri.


Caesar tidak menyahut, justru merebahkan diri di samping Cempaka yang sedang menyusui bayi kembarnya.


"Aku ingin tidur di sini. Sudah, cepat tidurkan mereka," ucap Caesar tanpa rasa bersalah menutup mata dengan bibir tersenyum.


Pipi Cempaka memanas, rasanya sudah seperti kepiting rebus yang berada di dalam kuali. Merah merona. Berkali-kali ekor matanya melirik Caesar yang berpura-pura tidur. Sejurus kemudian, laki-laki itu bangkit dan meletakkan kepala di atas pundak Cempaka.


Sesekali menyesapnya, meninggalkan jejak kebiruan yang kontras.


"Hentikan! Kau bisa membangunkan mereka," bisik Cempaka sembari menggeliat.


"Tidak akan jika kau hanya diam saja. Diamlah!" balas Caesar berbisik pula. Dia melanjutkan apa yang ingin dilakukannya. Mengganggu Cempaka yang tengah menyusui kedua anaknya.


Erangan samar terdengar, membuat Caesar tersenyum penuh kemenangan.


"Lihat! Mereka sudah tertidur. Aku bantu baringkan!" Caesar berinsiatif memindahkan bayi Zia yang sudah terlelap lebih dulu. Hanya tinggal menunggu bayi laki-lakinya yang begitu lahap dan masih terus menyusu.


"Kenapa dia belum tidur juga? Apa memang seperti itu?" bisik Caesar bertanya gemas.


"Yah, laki-laki itu biasanya memang kuat menyusu. Tidak lama lagi dia juga akan tertidur." Cempaka balas berbisik khawatir mengganggu bayinya yang sebentar lagi akan terlelap.


Caesar merebahkan diri di samping Cempaka, menunggu dengan sabar sampai bayi itu benar-benar terlepas dari benda kesukaannya itu.


"Apa sudah tertidur?" tanyanya ketika Cempaka beranjak hendak memindahkan bayi Zio ke dalam ranjangnya.


Tak lupa, ia menepuk-nepuk bokong mereka untuk memastikan keduanya telah terlelap sempurna. Tak sabar, Caesar beranjak duduk dan membalik tubuh wanita itu. Mendudukkannya di atas pangkuan, memagut kembali benda yang disukainya itu.


Tangannya nakal merayap, membuka ikatan kain di dalam pakaian Cempaka. Meraba hingga ke bagian depan, memainkannya dengan lembut. Suara-suara kenikmatan pun tak terelakan lagi, malam itu mereka kembali menyatu dalam ikatan yang sempurna.


Sebuah permainan yang didasari rasa cinta juga rindu yang terpendam selama satu tahun lamanya. Tak ada lagi penolakan, hanya ada penerimaan dengan sukarela. Cempaka membiarkan Caesar menjelajah setiap inci tubuhnya. Menumpahkan keinginan yang telah sampai pada puncak.

__ADS_1


Tak lupa pula, Caesar meninggalkan jejak kepemilikannya di berbagai tempat yang dia sukai. Berbahagialah kalian berdua.


__ADS_2