(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 71


__ADS_3

"GYAN!"


"Tidak! Jangan ganggu aku! Pergi!" teriak pemuda itu sambil terus mengibas-ngibaskan tangannya.


"Gyan! Buka matamu! Ini Ibu!" Lisa mengguncang kuat bahu anaknya, merasa cemas melihat keadaan Gyan yang tampak pucat dan gelisah.


"Gyan! Bangun, Nak! Kau kenapa?" Lisa masih berusaha membangunkan anaknya dari kemungkinan mimpi buruk yang menghampiri.


Gyan terperanjat, tubuhnya terlonjak duduk dengan peluh yang membanjiri. Napasnya memburu, dada naik dan turun mencari pasokan udara.


"Gyan! Apa yang terjadi padamu?" Lisa berdiri di hadapan anaknya, kembali mengguncang kedua bahu itu.


Mata Gyan membelalak lebar, menatap sang ibu dengan raut ketakutan.


"Ibu!" Dia berhambur memeluk Lisa, erat seolah-olah takut untuk melepasnya.


"Aku takut, Bu. Di-dia datang, Bu. Dia akan datang untuk menghancurkan aku, Bu. Aku takut!" racau Gyan sambil tersedu-sedan di pelukan ibunya.


Lisa melepas pelukan, menatap wajah anaknya yang terlihat ketakutan.


"Apa yang kau takutkan? Dan siapa dia? Siapa yang kau maksud?" tanya Lisa bingung.


Namun, Gyan diam tak menyahut, hanya terlihat semakin ketakutan karena dia tidak pernah memberitahu Lisa tentang gadis itu.


"Gyan! Apa yang terjadi? Katakan, siapa yang akan datang?" Lisa panik, meski tak tahu siapa yang dimaksud anaknya, tapi ketakutan terlihat jelas di kedua mata wanita hampir tua itu.


Gyan tetap bungkam, menggelengkan kepalanya enggan untuk berbicara. Dia terlalu takut untuk mengatakan kebenaran. Benar yang diucapkan si penelpon asing itu. Dia memang pengecut.


"Aku ingin sendiri, Bu. Tolong tinggalkan aku!" pinta Gyan sembari membungkus dirinya dengan selimut.


Lisa tampak bingung sekaligus khawatir, melihat wajah pucat sang anak juga ketakutan di matanya. Ia menarik selimut itu dengan kasar dan hendak melemparnya, tapi tangan Gyan dengan kuat memegangi.


"Apa yang kau sembunyikan dari Ibu?" tuding Lisa sambil menahan selimut agar tidak ditarik Gyan.

__ADS_1


Rasa takut berubah kesal, dia menatap Lisa nyalang. Dengan kasar Gyan menarik selimut hingga tubuh sang ibu tersentak.


"Sudah aku katakan aku ingin sendiri. Apa Ibu tuli? Pergi dari kamarku!" usir Gyan dengan bengis.


Melihat kemarahan yang besar di wajah sang anak, Lisa termangu tak dapat berkata-kata.


"Kenapa kau mengusir Ibu? Ibu hanya mencemaskan keadaanmu saja!" Lisa tidak terima, dia merasa harus berada di dekat anaknya untuk saat itu.


"Pergi! Tinggalkan kamarku! Pergi!" Gyan kembali mengusir Lisa. Ia bangkit dan mendorong tubuh ibunya itu untuk keluar.


"Tunggu, Gyan! Ibu masih ingin bicara padamu. Gyan!" pinta Lisa tak dapat menghentikan dorongan anaknya meski sudah menahan langkah.


Gyan mendorong Lisa keluar dan mengunci pintu kamarnya. Pukulan Lisa pada pintu tak digubrisnya. Gyan kembali duduk di ranjang, termenung memikirkan mimpi buruk yang baru saja dia alami.


"Gyan! Buka pintunya! Ibu ingin tahu mimpi yang kau alami!" teriak Lisa dari luar kamar anaknya.


Namun, pemuda itu tak mendengar, terus menatap balkon yang tirainya terbuka.


Dia memburu udara untuk meredakan sesak yang melanda dada. Dipandanginya pintu kayu itu dengan penuh curiga, dia yakin ada yang disembunyikan Gyan darinya.


"Apapun itu, Ibu akan mencari tahunya. Lihat saja, kau tak akan bisa mengelak lagi dari Ibu!" kecam Lisa sebelum pergi meninggalkan kamar sang anak dengan membawa perasaan kesal karena amarah tak tersalurkan.


Lisa membanting diri di sofa, memijat-mijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Kepergian tuan Arya tanpa kabar, membuat kehidupannya terasa sulit. Tiada kejelasan tentang rumah tangga mereka, tiada kabar dari laki-laki tua itu.


"Ke mana perginya si Tua Bangka itu! Kenapa sampai sekarang tidak ada kabar juga?" Lisa kesal sendiri mengingat kepergian tuan Arya yang tiada kabar berita.


"Jika begini aku bisa apa? Simpananku semakin lama akan semakin habis. Dia juga memblokir kartu belanjaku, dan tidak mengirimkan uang lagi pada rekeningku. Kurang ajar! Apa dia mulai menyadari jika selama ini hanya aku manfaatkan?" Lisa mengepalkan tangan, kedua matanya memicing tajam, menyiratkan dendam yang dalam.


Lisa melirik botol obat di atas meja, obat yang selalu ia berikan kepada tuan Arya yang perlahan mematikan fungsi sebagian anggota tubuhnya.


"Obat ini tidak berguna jika dia tidak di sini. Dia sudah terlihat lebih sehat, sepertinya dia memang tidak meminjam obat dariku. Kurang ajar! Siapa yang sudah memberi tahunya?"


Rahang Lisa mengeras ada yang ikut campur dengan urusannya. Dia tak senang.

__ADS_1


****


Pagi hari di kediaman Cempaka, wanita dua anak itu sudah bersiap untuk pergi mengunjungi tuan Arya di villa-nya. Sesuai alamat yang dikirimkan laki-laki tua itu, Cempaka dan dua anaknya pergi ditemani Gilang.


Teringat pada ucapan sekretaris tuan Arya, Gilang sedikit merasa gugup berada di samping Cempaka. Dia menyadari sedikitnya menyimpan rasa untuk wanita itu.


"Apa tempatnya jauh?" Pertanyaan dari Cempaka membuyarkan lamunan Gilang.


"Mmm ... sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar dua puluh menit jika kita tempuh dengan berjalan. Apa kau tidak apa-apa?" Gilang melirik wanita di sampingnya.


Hanya melihat senyum itu dari samping, cukup menggetarkan hatinya. Ia berpaling menetralkan perasaan yang tiba-tiba menggebu.


"Tidak masalah, lagipula aku ingin menikmati pantai ini dengan berjalan kaki. Udara pagi sangatlah bagus untuk kesehatan." Cempaka menoleh, tersenyum manis pada pemuda di sampingnya.


Gilang semakin gugup, lekas menatap ke depan mengalihkan suasana.


"Aku rindu melaut," gumamnya tiba-tiba saat melihat sekelompok nelayan yang baru saja datang dari melaut.


Cempaka memalingkan wajah ke depan, ikut menatap para pejuang rezeki di sana. Mereka bertaruh nyawa untuk mendapatkan ikan di laut lepas.


"Kau tidak akan pernah pergi melaut lagi." Tegas dan pasti Cempaka menyahuti gumaman Gilang.


"Benarkah? Ah, rasanya kau memang benar. Ibu tidak akan pernah mengizinkan aku pergi." Gilang menghela napas, mengingat larangan sang ibu untuknya juga ayah mereka.


"Yah. Resiko di laut sangatlah besar, kalian bertaruh nyawa di sana. Siapapun yang ditinggalkan akan dilingkupi rasa cemas dan gelisah. Aku selalu melihat itu di mata Lucy ketika kalian pergi melaut dulu," ungkap Cempaka mengingat keadaan mereka yang baru pertama kali pindah ke tempat tersebut.


Gilang melirik ke samping, menunduk menatap pasir yang meninggalkan jejak langkah orang-orang.


"Ya, karena kami bingung akan bekerja apa di sini saat baru tiba dulu. Beruntung teman-teman ayah mau mengajak kami melaut. Jika tidak, maka kita akan menjadi penjual ikan di pasar." Gilang tersenyum membayangkan Cempaka yang harus ikut berjualan di pasar kala itu.


"Kenapa kalian tidak mengajakku berjualan saja waktu itu? Pasti seru berteriak-teriak menjajakan dagangan, menawarkan ikan-ikan segar kepada pembeli." Dia tertawa, terlihat senang saat membayangkan hal itu terjadi.


Gilang diam-diam tersenyum, Cempaka memang berbeda dari wanita kebanyakan. Dia sederhana apa adanya, suka menolong dan tidak angkuh. Yang pasti, dia menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2