
"Apa yang kau lakukan?"
Caesar dengan cepat menahan tangan Arjuna saat pemuda itu hendak menepis apa yang ada di tangan Rina. Terkejut bukan main, karena untuk pertama kalinya Arjuna meninggikan suara pada wanita itu.
"Tuan?" Arjuna menatap bingung ke arah Caesar yang mencekal tangannya.
"Biarkan. Aku sering melihat Ani menyuapi Evan dengan bubur seperti itu. Kau jangan cemas," ucap Caesar seraya melepas cekalan tangannya dan duduk di hadapan Rina.
Wanita itu terlihat syok, tangannya yang memegang sendok bergetar menatap Caesar takut-takut.
"Tidak apa-apa. Lanjutkan!" titah Caesar karena melihat Evan yang begitu menikmati makanannya.
Arjuna menatap keduanya, dia memang tidak tahu apa-apa. Mengira Rina telah berbuat lancang dengan memberikan makanan sembarang kepada tuan mudanya.
"Tidak apa-apa, Juna. Duduklah! Kau tidak lihat, Evan begitu lahap." Caesar tersenyum sembari menatap ke arah anaknya yang begitu lahap.
Arjuna menggaruk rambutnya yang tak gatal, kemudian duduk di samping Caesar. Menatap Rina yang belum melakukan apapun karena masih syok dengan bentakan Arjuna.
"Maafkan aku, Ibu. Aku tidak tahu apa-apa. sepertinya Tuan Muda masih lapar," ucap Arjuna canggung. Ia melirik Caesar yang tak acuh sambil memainkan ponselnya. Lalu, beralih tatapan pada Rina yang lambat laun sudut bibirnya tertarik ke atas. Maklum, majikannya masih berstatus pemuda.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya terkejut saja tadi. Bayi yang berusia satu tahun seperti Tuan Muda ini memang sudah seharusnya diberi makanan pendamping selain susu. Ini bubur tim, ada sayuran di dalamnya. Ini bagus untuk Tuan Muda," jawab Rina sambil tersenyum dan melanjutkan kegiatannya menyuapi Evan.
Arjuna menghela napas, membanting punggung pada sandaran sofa. Tersenyum malu.
"Kau sudah menggerakkan orang-orang kita untuk mencarinya?" tanya Caesar tanpa menatap Arjuna.
"Sudah, Tuan. Saya meminta mereka untuk menyebar ke segala tempat," jawab Arjuna dengan mata terpejam.
Beberapa saat hening, keduanya memfokuskan pandangan pada Rina dan bayi Evan yang begitu lahap. Caesar tersenyum, anaknya kini berada di tangan yang benar. Ani memang berpengalaman, tapi Rina terlihat lebih telaten dan rapi mengurus Evan.
Arjuna dialihkan oleh getaran ponselnya, ia merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih itu untuk dapat melihat pesan yang masuk.
__ADS_1
"Tuan!" Arjuna menunjukkan pesan dari resepsionis di kantor mereka kepada Caesar. Memberitahukan kedatangan Eva di sana dan mencari sang Presdir.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Arjuna kemudian.
"Kau datanglah ke sana, aku akan pergi ke kantor cabang sekalian memeriksa karyawan di sana," titah Caesar. Rasanya muak bertemu dengan Eva untuk dekat-dekat ini, dia ingin menjauh dari wanita itu sampai hatinya benar-benar bisa menerima kembali.
"Baik, Tuan!"
Keduanya beranjak setelah cukup beristirahat. Caesar menggendong Evan setelah Rina selesai menyuapinya.
"Kau baik-baik di sini, ya. Ayah pergi bekerja dulu. Jangan menangis, di sini tidak ada Ani dan juga ibumu. Ayah berjanji akan mencari dan menemukan ibumu. Lalu membawanya pulang ke rumah kita," pamit Caesar sambil tersenyum, dikecupnya kepala sang anak seolah-olah tak rela berpisah.
Ia menyerahkan bayi tersebut kepada Rina dan berjalan keluar.
"Ingat! Ibu harus menjaga Tuan Muda seperti Ibu menjaga anak sendiri." Perintah dari Arjuna sebelum menutup pintu apartemen.
Rina mendesah, senyumnya mengembang saat menjatuhkan pandangan pada Evan yang menguap lebar.
Sudah tidak ada apapun yang perlu dikerjakan selain menyiapkan makan malam nanti. Waktunya beristirahat. Setengah jam kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Tak perlu menebak karena sudah pasti yang datang sang pemilik apartemen.
"Bu, ini keperluan Tuan Muda. Aku letakkan di sofa," teriak Arjuna kemudian kembali keluar dan pergi ke kantor.
Rina yang baru saja hendak memejamkan mata, terbangun mendengar suara teriakan sang majikan. Ia memastikan bayi Evan terlelap dan keluar untuk merapikan keperluannya.
****
Di kantor Caesar, Eva berdecak kesal berulangkali. Bosan menunggu Caesar datang tanpa melakukan apapun.
"Apa dia benar-benar marah? Ke mana dia membawa Evan pergi? Ya Tuhan, aku harus apa?" gumam Eva cemas. Ia menggigit bibir gelisah, mengepalkan tangan menahan gejolak rasa yang membuncah.
"Apa dia tidak akan kembali ke kantor? Bagaimana jika dia sudah kembali ke rumah?" Eva bertanya pada dirinya sendiri, bimbang menentukan pilihan. Apakah harus pulang atau tetap bertahan di sana.
__ADS_1
Sudah berjam-jam lamanya dia menunggu, tapi tak juga ada tanda-tanda kemunculan suaminya. Eva berdiri hendak meninggalkan kantor, ia berpikir mungkin Caesar telah pulang ke rumah.
Namun, pintu yang terbuka menghentikan langkahnya yang hendak keluar. Eva tersenyum, siap berakting agar tidak disalahkan. Matanya sudah dibuat berkaca-kaca, untuk menarik simpati Caesar.
Arjuna masuk tanpa menatap ke dalam, ia tahu istri sang tuan berada di dalam, tapi harus berpura-pura. Arjuna terhenyak saat melihat Eva yang juga mematung kesal.
"Nyonya? Sedang apa Anda di sini?" tanya Arjuna berpura-pura terkejut dengan kehadiran Eva.
"Di mana Caesar?" tanya Eva ketus.
"Tuan? Beberapa saat lalu saya mengantarnya kembali," jawab Arjuna.
Eva mendengus, tanpa bertanya lagi langsung membawa dirinya pergi dari ruangan Caesar. Sudah ia duga, bahwa Caesar telah kembali ke rumah. Sekalian saja Eva akan membahas soal surat yang ditemukannya di meja kerja Caesar.
Arjuna menghela napas lega setelah kepergian Eva. Dia mendatangi meja Caesar menggantikan pekerjaan laki-laki itu.
****
Di tempat lain, Gyan masih dalam ketakutan. Teror beberapa hari yang lalu, benar-benar memukul mentalnya. Seharian hanya mengurung diri di dalam kamar tanpa melakukan apapun juga.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin dihantui seperti ini. Aku ingin hidup tenang!" racau Gyan gelisah. Dia tidak mendapatkan ketenangan setelan mimpi buruk itu dialaminya. Ditambah penelpon misterius yang menakut-nakuti dirinya.
"Apa aku harus berbicara dengan ibu? Bagaimana jika dia justru tidak memberiku solusi apa-apa. Akan percuma dan sia-sia."
Gyan menggerutu tak jelas, membanting diri di ranjang, menyugar rambut dengan kasar. Dia memang tidak pernah mengatakan kepada Lisa tentang wanita yang dihamilinya itu. Bahkan, dia sering melakukan itu dengan kekasihnya.
Beberapa saat terdiam di dalam kebimbangan, ponselnya bergetar. Ia melirik, sebuah pesan dari nomor asing yang sama yang beberapa waktu lalu menelponnya. Gyan merasa ragu untuk membuka pesan tersebut, tapi juga penasaran dengan isinya.
Ia mengambil benda itu dengan tangan bergetar, mengusap layar membuka kunci. Berkali-kali jarinya urung membuka pesan, tapi pada akhirnya dia memberanikan diri untuk membukanya. Napas Gyan tercekat, matanya membelalak lebar. Ia meneguk ludah yang terasa begitu menyakitkan di tenggorokan.
Pesan apa yang diterima Gyan?
__ADS_1