(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 119


__ADS_3

"Kenapa Ibu kembali ke rumah ini? Bukankah Ibu mengikuti pria itu dan tinggal bersamanya?" Eva mendengus, memutar bola mata dengan malas. Dia lupa ada Gyan dan Lisa yang sedang bertamu dan masih duduk di teras rumah.


"Ibu menikah dengannya karena sebuah tujuan, Eva. Sekarang, apa yang Ibu inginkan sudah Ibu dapatkan. Untuk apa lagi masih ikut bersamanya? Lagipula dia sekarang mendekam di penjara karena perbuatannya," sahut ibunya Eva sembari tersenyum miring.


"Memang apa yang dimiliki pria miskin itu? Yang kudengar begitu," cibir Eva.


"Dia memang kelihatannya saja miskin, padahal dibalik kemiskinannya dia menyembunyikan sebuah fakta yang besar dari anak-anaknya. Ibu kira setelah menikah dia akan memberikan itu kepada Ibu, nyatanya dia tetap menyimpannya sendiri dan justru ingin mengambil rumah ini. Beruntung saat itu Ibu tidak menyetujuinya," ungkap wanita hampir tua itu sembari melipat kedua tangan di perut.


Eva menyelidik, penasaran apa yang didapatkan ibunya dari menikahi seorang pria miskin dan pelit. Setidaknya itu yang didengar telinga Eva.


"Lalu, apa yang Ibu dapatkan?" Eva melirik dengan ekor matanya.


"Tentunya, sesuatu yang sangat menguntungkan. Kau tidak akan percaya bila mendengarnya. Beruntung, anaknya yang bodoh itu tidak pernah mengetahuinya." Dia tertawa senang seperti baru saja mendapatkan harta karun yang melimpah.

__ADS_1


Jawabannya yang penuh misteri membuat Eva semakin penasaran. Melihat dari eskpresi wajah sang ibu dia tahu apa yang didapatkannya pastilah sesuatu yang sangat berharga.


"Apa Ibu tidak percaya padaku? Kenapa tidak mengatakan saja kepadaku apa yang Ibu dapatkan?" dengus Eva kesal sendiri.


Sang ibu menggelengkan kepala, matanya melirik bayangan dua orang yang berada di teras.


"Ibu percaya padamu, tapi tidak pada mereka. Apa tujuan mereka datang ke sini, apa mereka itu suami dan mertuamu?" bisik wanita itu sedikit mencondongkan tubuh ke hadapan Eva.


"Bukan, Bu. Dia mertua tiriku dan itu anaknya. Bukan suamiku. Apa Ibu tahu siapa suamiku? Ibu pasti syok saat mendengarnya." Eva ikut berbisik kemudian menjauh dengan sikap jumawanya.


"Memangnya siapa? Apa dia orang hebat? Sekelas keluarga Arya mungkin?" Wanita itu mendengus, memandang rendah pada anaknya.


"Kenapa Ibu bisa tahu? Ibu tahu Caesar Arya Pratama? Dia adalah suamiku," beritahu Eva pelan, tapi penuh penekanan.

__ADS_1


Mata wanita tua itu menjegil lebar, sungguh tak menduga bila anaknya akan menikah dengan seorang pewaris tunggal dari keturunan Arya.


"Apa kau sedang bergurau? Di mana kau bertemu dengannya? Dan kapan kalian menikah?" tanyanya tak percaya.


"Aku tidak sedang bergurau, Ibu. Tepatnya tujuh tahun lalu aku menikah dengannya, tapi sekarang karena kedatangan wanita lain Caesar mencampakkan aku. Dia menggoda suamiku, bahkan rela tidur dengannya. Aku ingin menuntut balas kepadanya, Ibu." Eva menggeram, kedua tangannya terkepal erat bila mengingat sosok Cempaka.


"Jika begitu, kau harus merebut kembali suamimu. Secantik apa dia sehingga bisa menyingkirkanmu? Ibu akan membantumu, kau harus bisa mengambil lagi suamimu itu," tegas sang ibu mendukung Eva untuk merebut kembali Caesar.


Eva tersenyum senang mendapat bantuan dari sang ibu. Dia tidak sendirian.


Namun, suara seruan seseorang menggangu obrolan mereka.


"Permisi!"

__ADS_1


__ADS_2