
"Arjuna, mau ke mana? Ada apa di sana?" tanya Caesar di saat mobil tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
"Sepertinya kecelakaan, Tuan." Arjuna bersiap membuka pintu untuk mendatangi kerumunan warga.
"Tidak usah. Kau tidak lihat, sudah ada tenaga medis di sana. Jika tidak memungkinkan untuk kita lewat, maka cari jalan lain. Aku ingin segera sampai di rumah ayah," sergah Caesar segera ketika Arjuna baru saja berhasil membuka pintu.
Ia kembali masuk dan duduk dibalik kemudi. Di depan sana, para petugas kepolisian menertibkan lalu lintas. Arjuna menoleh, tak ada jalan untuk mereka berputar. Di depan dan di belakang dipadati kendaraan, jadilah mereka menunggu kemacetan terurai.
Sepuluh menit lamanya, mereka terjebak macet. Sampai melewati kerumunan barulah jalanan kembali lancar.
"Untuk itulah selalu berhati-hati membawa kendaraan," celetuk Caesar saat melihat dua kendaraan beradu di satu jalur.
"Sepertinya salah satu kendaraan itu lepas kendali, Tuan."
Caesar menghendikan bahu, tidak terlalu peduli pada hal seperti itu. Entah mengapa hatinya ingin segera tiba di rumah sang ayah. Sebuah rasa yang bergejolak dan tiba-tiba membuncah membuat Caesar tak mengerti apa yang akan terjadi.
"Arjuna, percepat. Entah kenapa aku ingin segera sampai. Aku khawatir terjadi sesuatu di sana," titah Caesar gelisah.
Arjuna menginjak pedal gas mempercepat laju mobil, masuk ke dalam jalanan kecil, membuatnya harus ekstra hati-hati dalam mengemudi.
"Gerbangnya terbuka, Tuan. Sepertinya tuan besar berencana pergi hari ini," ucap Arjuna memberitahu Caesar apa yang dilihatnya.
"Kau benar. Ada mobil di sana. Kurasa mobil itu adalah mobil yang sama yang aku lihat di jalan kemarin ketika kita hendak menginap di resort. Apa kau ingat?" Caesar mengernyit teringat mobil yang berpapasan dengannya waktu itu.
"Benarkah? Saya ingat, tapi saya tidak terlalu memperhatikan waktu itu." Arjuna menimpali seadanya. Terlalu fokus mengemudi sehingga tidak memperhatikan jalanan.
Caesar menghela napas, semakin dekat semakin jelas penglihatannya. Dia ingat betul tentang mobil itu. Hanya saja, belum tahu siapa yang mengendarainya. Mobil mereka memasuki gerbang, bertepatan dengan itu, tuan Arya dan Cempaka keluar. Disusul Lucy bersama sang kepala pelayan.
__ADS_1
Caesar mematung, napasnya tercekat di tenggorokan. Sesuatu yang tak disangkanya ada di depan mata. Seseorang yang dia cari datang dengan sendirinya. Tubuhnya terhentak ketika jantung memompa dengan cepat. Darah berdesir hingga ke puncak, bergejolak hatinya menahan gelora rasa.
"Champa!" Bibir dan lisannya bergetar, seluruh tubuh pun ikut gemetar. Terlebih, ketika maniknya menangkap dua sosok kecil yang memiliki rupa sama di sana. Hatinya memanas, merambat hingga menyentuh kedua mata. Cairan bening lolos dari tempatnya, berjatuhan karena rindu yang membuncah.
"Anakku!" lirihnya.
Arjuna ikut mematung, melihat sendiri apa yang tidak diketahuinya selama ini. Dia merasa ditipu wanita itu, tapi selanjutnya mengerti kenapa jalan cerita berubah tanpa ia ketahui.
Kicauan Evan tak digubris Caesar, hatinya tak sabar ingin merengkuh ketiga sosok itu. Tidak! Perempuan itu. Perempuan yang berhasil mengisi hari-harinya dengan sesuatu yang lain. Perempuan yang berhasil mengalihkan cintanya dari Eva. Dia berdiri di sana, sambil tersenyum ramah pada semua orang.
"Tuan, sepertinya Nona akan pergi. Sebaiknya Anda segera turun dan temui mereka." Suara Arjuna membuyarkan lamunan Caesar.
Buru-buru tangannya menyeka air di pipi, menyerahkan bayi Evan kepada ibu pengasuh sebelum turun untuk menemui mereka. Bersamaan dengan Cempaka yang hendak masuk ke dalam mobil, Caesar keluar dan menahan pintu tersebut.
Angin kenangan berdesir menyentuh hati masing-masing. Membawa kerinduan yang selama ini terpendam. Rasa benci yang sempat singgah, pergi dengan sendirinya ketika kedua pasang manik itu bertemu satu sama lain.
Cempaka mematung, lengkungan di bibirnya hilang ketika melihat sosok yang berhasil mencuri cinta di hatinya itu. Tak ada yang dilakukannya selain menatap Caesar dalam diam. Sementara laki-laki itu, meneguk ludah menahan gelora.
Mata wanita itu membulat, hangat pelukan itu yang selama ini ia rindukan. Cempaka bisa merasakan getar tubuh Caesar. Namun, ia tak melakukan apa-apa, selain membiarkan laki-laki itu memeluknya.
Syukurlah! Mereka tidak terlambat. Terima kasih, Tuhan. Berkat kasih-Mu, berkat kuasa-Mu, mereka akhirnya bertemu.
Tuan Arya mengusap cairan yang hampir jatuh dari pelupuk. Hatinya menghangat melihat pertemuan itu. Termasuk Arjuna dan Lucy, ikut terharu melihat mereka. Caesar menarik diri dengan enggan, mengendus aroma tubuh yang ia rindukan. Seingatnya, dia tidak pernah mengucapkan kata talak selain Cempaka sendiri yang meminta.
Caesar menatap wanita di hadapannya dengan penuh kerinduan. Air menggenang di kedua sudut mata itu, membuat Cempaka bingung dengan apa yang terjadi.
"Kenapa Anda menangis, Tuan?"
__ADS_1
Ah, panggilan itu sekarang dibenci Caesar, tapi sentuhan lembut tangannya amat ia rindukan. Cempaka mengusap kedua pipi lelaki itu, menyapu air mata yang jatuh. Tak disia-siakan, Caesar menggenggam tangan tersebut, dan mengecupnya dengan mesra.
"Jangan pergi, champa. Kumohon jangan pergi. Tetaplah di sini, temani aku. Kumohon!" Bergetar, Caesar menangkup tangan wanita itu menggunakan kedua tangannya. Untuk seumur hidup, baru pertama itu dia memohon.
Berguncang hati Cempaka mendengar permohonan Caesar. Ada kesungguhan yang tak disembunyikan laki-laki itu.
"Jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak akan mempersalahkan kau yang tidak memberikan anakku karena aku bisa mengerti, tapi tolong kembalilah kepadaku, Champa. Aku menyadari semuanya. Aku mencintaimu." Caesar kembali memeluk Cempaka, getaran tubuhnya begitu nyata terasa.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Cempaka melirik Lucy, anggukan kecil ia dapatkan dari wanita itu. Tangis anak yang berada di gendongan Cempaka terdengar. Pelukan Caesar terlepas, dan beralih pada sang bayi.
"Di-dia anakku?" Ragu, Caesar takut Cempaka tak ingin memberikan anaknya.
Namun, anggukan kepala wanita itu, membuatnya memberanikan diri untuk mengambil sang anak dan menggendongnya. Diciuminya wajah itu dengan hati yang sulit untuk dijelaskan. Caesar tersenyum lebar meski tangis sang bayi terus mengiang. Bahkan, tubuh kecil itu menggeliat dan meronta ingin kembali kepada ibunya.
Cempaka tersenyum, pertemuan yang mereka inginkan. Akhirnya si Kembar dapat bertemu dan mengenal ayah mereka. Tuan Arya melangkah, mendekati keduanya. Menepuk bahu Caesar penuh syukur. Lihatlah! Bayi itu bahkan menjulurkan kedua tangan kepada tuan Arya meminta tolong dari cengkeraman lelaki asing.
"Sebaiknya kalian masuk dulu. Ayah rasa kalian perlu bicara," usul tuan Arya sembari mengambil alih bayi Zio.
Tangis bayi itu berhenti ketika sudah berpindah tempat. Kejadian tersebut tentu saja membuat Caesar bingung. Dia menatap sang ayah, menuntut penjelasan.
"Ayah harus menjelaskan semua ini kepadaku!" geramnya kesal sendiri karena mengira tuan Arya menyembunyikan Cempaka selama ini.
Tuan Arya terkekeh, menepuk-nepuk pundak sang anak dengan gemas.
"Ya, Ayah akan menjelaskannya kepadamu. Sekarang, masuklah dulu! Cempaka, apa kau tidak keberatan menunda kepulangan?" tanya tuan Arya merasa tak enak hati, tapi senang bukan main.
Cempaka menunduk, menghela napas sebelum mengangguk kecil. Di dalam hati, dia menduga adanya persengkokolan di antara mereka. Akan tetapi, reaksi Caesar sungguh diluar dugaan. Dia terlihat bingung ketika tuan Arya dengan mudah meredakan tangis anaknya.
__ADS_1
"Maaf, Lucy," lirih Cempaka saat mereka jalan berdampingan masuk kembali ke dalam rumah. Cempaka mengambil bayi Zia dari gendongan Lucy.
"Tidak masalah. Tuan Arya benar, kalian harus berbicara."