(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 15


__ADS_3

Di rumah besar, Cempaka duduk bermenung di tepi ranjang. Seharian itu dia tidak beranjak dari kamarnya. Duduk diam sambil memainkan ponsel pemberian Caesar. Kini, ia tengah bimbang, pesan terakhir yang diketik Caesar sungguh meresahkan.


"Apa aku memang harus memakai ini?" gumamnya pelan. Ia pandangi kain di tangan, berdecak kesal dan meremasnya gemas. Pandangan Cempaka jatuh pada pantulan dirinya di dalam cermin.


Ia mengernyit, mendekat dan seketika membelalak melihat banyaknya cap merah kebiruan di sekitar leher.


"Ya ampun! Kenapa aku baru sadar?" pekiknya sambil menutupi leher menggunakan kedua tangan.


"Astaga! Malu sekali rasanya. Mereka pasti melihat ini." Dia meringis, tubuhnya luruh di lantai, ingin menangis.


"Nona, dalam waktu lima belas menit tuan akan tiba di rumah," beritahu Yudi setelah mengetuk pintu kamar Cempaka.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Bukankah tuan akan bermalam dengan nyonya?" sahut Cempaka kesal. Ia merapatkan gigi, geram dengan sikap Caesar yang semaunya.


"Pastikan Anda menjalankan perintah tuan dengan benar," ucap Yudi tegas.


Cempaka menurunkan bahu, menghela napas. Memangnya siapa dia? Hanya seorang budak belian yang tak pantas membantah. Bukan wanita bebas yang berhak menuangkan penolakan.


Terpaksa Cempaka beranjak dan mengenakan pakaian laknat itu. Melapisinya dengan blazer, dan duduk menunggu sesuatu yang sebenarnya tak ingin dia tunggu.


Pukul dua puluh malam, Caesar tiba di rumah. Hal pertama yang dia tanyakan adalah keberadaan Eva yang absen menyambut kepulangannya.


"Maaf, Tuan. Nyonya belum kembali sejak kepergiannya bersama Tuan tadi pagi," jawab pelayan dengan kepala tertunduk.


Caesar memicingkan mata, tak akan dia mengubungi wanita itu. Terlalu muak dengan sikapnya yang semau sendiri. Ia melanjutkan langkah menapaki anak tangga, menuju ke kamar Cempaka untuk mencari ketenangan.


"Tuan!" Wanita itu merapatkan blazer seraya beranjak dan menyambut kedatangan Caesar.


Ia meraih tas kerja laki-laki itu dan membantu membuka jasnya. Lalu, sepatu, bahkan membantunya melepas dasi dan kancing kemeja. Sesuatu yang tak pernah dilakukan Eva selama pernikahan mereka.


"Aku akan siapkan air, Tuan!" ucap Cempaka seraya masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Caesar.


Laki-laki itu mematung, yang dilakukan Cempaka padanya merupakan sebuah kejutan.


"Tuan, airnya sudah siap? Anda menyukai aroma apa? Aku tidak tahu," ucap Cempaka seraya menundukkan kepala.


Lamunan Caesar buyar oleh suara wanita itu, ia beranjak dan masuk ke kamar mandi. Tersenyum, melihat air yang ditaburi kelopak mawar merah.


"Kemarilah!" perintah Caesar pada Cempaka.


Tubuh yang masih bergeming membelakangi itu terhentak dan berlari masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Argh! Astaga!" Cempaka menutupi wajah sambil berpaling, tak sengaja melihat sang suami yang membuka celana dan hanya mengenakan ****** ***** saja.


"Kenapa kau bereaksi seperti itu? Bukankah kau sudah melihatnya?" cibir Caesar seraya masuk ke dalam bathtub. Mencari rasa nyaman dari sentuhan air hangat itu.


"Mendekat!"


Cempaka membuka tangan, mengintip untuk memastikan tak ada adegan vulgar di depannya. Ia berbalik dan duduk di tepi bak mandi sesuai perintah sang tuan.


"Kau bisa memijat?" tanya Caesar dengan mata terpejam.


Cempaka gugup. Dia sendiri tidak yakin apakah bisa memijat.


"Aku tidak tahu," sahut Cempaka lirih.


"Cobalah, pijat sebelah sini. Rasanya pegal," pinta Caesar menunjuk kedua bahunya tanpa membuka mata.


Cempaka beralih tempat duduk, ke belakang tubuh laki-laki itu. Mulai memijat dengan pelan, memberikan tekanan-tekanan lembut di bagian yang ditunjuknya.


"Mmm ... lumayan." Caesar menjatuhkan kepala di pangkuan Cempaka. Sedikit terkejut, tapi tak dapat mengelak. "Ini juga. Pekerjaanku banyak sekali, aku sakit kepala." Dia menunjuk bagian kepala, meminta Cempaka memijatnya di sana.


Sentuhan tangan yang sedikit kasar dari wanita itu, memberikan rasa nyaman pada tubuh Caesar. Dia terlihat sangat menikmati, mata yang terpejam itu tetap terlihat indah. Bibirnya yang terkatup membuai alam khayal Cempaka.


Adegan di malam pertama mereka membuat darahnya kembali berdesir. Ia tersenyum mematri tatapan pada sosok rupawan di pangkuan. Seandainya, dialah istri satu-satunya, mungkin tak akan pernah sungkan untuk bermesraan dengan laki-laki itu.


Wanita itu dengan cepat berpaling, merona kedua pipinya. Malu karena kedapatan mencuri pandang pada wajah itu. Caesar menegakkan kepala, berbalik menghadap Cempaka. Dia mengangkat kedua kaki wanita itu untuk ikut ke dalam bathtub.


"Argh! Tuan! Apa yang Anda lakukan? Aku sudah mandi tadi," pekik Cempaka sambil memegangi kedua tangan Caesar.


Namun, bukan melepaskan, Caesar justru meletakkan kepalanya kembali di pangkuan wanita itu.


"Biarkan beberapa saat seperti ini. Aku merindukan seseorang," pinta Caesar, ia memeluk pinggang Cempaka, memejamkan mata dengan nyaman.


Wanita itu bingung, apa dia sering seperti ini.


"Apa Anda merindukan nyonya, Tuan?" Memberanikan diri untuk bertanya, tangannya masih menempel di kedua lengan Caesar tanpa berani beranjak.


Ia semakin bingung saat Caesar mengangkat tangannya dan meletakkan di atas kepalanya sendiri tanpa menjawab pertanyaan.


"Lakukan ini, aku merindukan ini juga." Dia menggerakkan tangan Cempaka mengusap-usap rambutnya sendiri.


Wanita itu tersenyum, sebenarnya siapa yang dirindukan Caesar? Ibunya? Bukankah ada? Wanita angkuh yang kemarin dia temui. Dengkuran halus menguar dari sela-sela bibir laki-laki itu.

__ADS_1


Eh? Dia tertidur?


Cempaka menunduk, memastikan dugaannya. Dan benar, Caesar tertidur. Bagaimana bisa? Sedangkan dia berada di dalam bathub.


Sepertinya aku harus sering-sering melakukan ini. Dia terlihat nyaman.


Cempaka bergumam sambil mengulas senyum.


Boleh aku mencium kepalanya?


Dia berangan-angan, dengan gerakan cepat mencium pelipis laki-laki itu. Cempaka terkekeh tanpa suara. Wajahnya merona, merasa bebas melakukan apa saja terhadap sang suami.


Sekali lagi tak apa, bukan?


Nakal.


Yang dia tak tahu, Caesar sebenarnya tidak tertidur. Bibir tipis itu tersenyum, menunggu Cempaka melalukannya. Secepat kilat, tangan Caesar menyambar tengkuk sang istri dan menahannya.


Bibir mereka bertemu, meski meronta Cempaka tak dapat melepaskan diri. Tubuhnya perlahan luruh ke dalam bathtub, melakukan adegan yang tak terduga.


****


Pukul dua puluh dua, mobil Eva memasuki halaman, tergesa-gesa saat melihat mobil Caesar telah terparkir di garasi. Ia berlari memasuki rumah, terlihat panik.


"Selamat datang, Nyonya!" sambut Yudi dengan sopan.


"Di mana Caesar?" tanya Eva dengan cepat.


"Tuan di kamarnya, Nyonya. Mungkin sedang menunggu karena tadi menanyakan Anda," jawab Yudi dengan tubuh membungkuk.


Eva mengulas senyum, menapaki anak tangga menuju kamarnya. Ia melirik kamar Cempaka, mencibir ketika melihat lampu kamar itu padam. Langkahnya berlanjut menuju kamar sendiri, membuka pintu dengan cepat.


"Sayang! Maaf aku ter ... lambat." Ia tercengang begitu masuk ke dalam kamar, Caesar tak ada di sana. Senyumnya surut seketika, berganti kecewa.


"Di mana dia? Yudi bilang dia menungguku di kamar ... ah, mungkin di dalam kamar mandi." Kebiasaan Caesar saat menunggunya adalah berendam lama di dalam bathub.


Eva meletakkan tasnya, menanggalkan pakaian satu per satu. Ia tersenyum sendiri saat berdiri di depan pintu kamar mandi. Membukanya tanpa mengetuk, memberi kejutan pada laki-laki itu.


Namun, dia harus menelan kekecewaan lagi, Caesar tidak ada di sana. Hanya ada bak mandi kosong, bahkan pakaian kerja laki-laki itu pun tidak di kamarnya.


Eva meremas kepalan tangan sendiri, rahangnya mengeras penuh emosi. Dia tahu di mana laki-laki itu.

__ADS_1


"Sialan! Awas kau, Cempaka. Aku tidak akan tinggal diam!"


__ADS_2