
Mata tajam bagai serangan elang itu menghujam seseorang yang sedang duduk sendirian di dalam pos jaga. Ia usai mengantarkan ibu dan keluarga lainnya untuk kembali ke kediaman mereka. Langkahnya pasti dan berat, menggetarkan hati mereka yang berdiri membungkuk di depan pos.
"Sedang apa kau di sana? Siapa yang mengizinkanmu untuk duduk di dalam sana? Keluar!" titah Caesar dengan dingin dan ketus.
Cempaka gelagapan, seketika saja hatinya mengkerut takut. Bukan menuruti perintah laki-laki itu, ia justru menundukkan kepala dan kedua tangan yang saling meremas satu sama lain.
"Kau tidak dengar?!" bentak Caesar menyentak tubuh Cempaka. "Katakan! Apa kau mendengar perintahku!" pintanya lagi masih dengan suara tinggi melengking.
Cempaka memejamkan mata takut, menggigit bibir kuat-kuat menekan kelemahan di hati. Namun, semua itu sia-sia, tetap saja hatinya bergetar.
"Kau-"
"I-iya, Tu-tuan. Sa-saya dengar," jawab Cempaka terbata dan lirih.
"Keluar! Dan masuk ke dalam rumah!" Perintah yang tak menginginkan sebuah bantahan.
Cempaka mengangguk tanpa mengangkat kepalanya. Menunggu Caesar berbalik dan pergi lebih dulu, barulah ia beranjak. Menghela napas panjang dan dalam, membawa kakinya yang gemetar untuk mengikuti jejak sang suami.
"Dia tidak akan menghukumku, bukan?" bisiknya pada Arjuna.
"Jangan terlalu dekat, Nona. Bukan Anda yang akan dihukum, tapi saya," balas Arjuna berbisik pula.
"Eh?"
Cempaka menegakkan tubuh, menolehkan kepala dan seketika menegang saat menerima tatapan tajam dari laki-laki yang berdiri di ambang pintu. Ia menunduk, selanjutnya membawa langkah mendekati teras.
"Si-silahkan, Tuan!" ucapnya mempersilahkan Caesar untuk memasuki rumah terlebih dahulu.
Pandangan laki-laki itu masih menyorot tajam pada sosok Arjuna yang menundukkan kepala. Cempaka mendongak karena tak mendapat sahutan dari sang suami.
"Tu-tuan-"
__ADS_1
"Aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya!" sengit Caesar lantas melengos memasuki rumah.
Eh?
Cempaka menatap bingung punggung laki-laki itu, ia berbalik melihat Arjuna yang masih berdiri bersama penjaga gerbang. Pemuda itu mengangguk meminta Cempaka untuk menuruti apa yang diucapkan Caesar.
"Hai! Kenapa kau masih di sana?" bentak Eva mengagetkan Cempaka.
"I-iya, Nyonya." Cempaka berpaling dan memasuki rumah. Sikapnya yang norak mendapatkan cibiran dari istri pertama Caesar itu. Ia menggelengkan kepala mensyukuri sikap Cempaka yang kampungan. Hal tersebut menguntungkan dirinya karena Caesar tak akan pernah melirik seorang wanita yang tidak memperhatikan penampilan.
"Seret kakimu dan ikuti Yudi!" titahnya ketus.
Cempaka menganggukkan kepala, memaksa kedua kakinya untuk mengikuti jejak laki-laki paruh baya menapaki anak tangga yang cukup besar lagi mewah. Cempaka berdecak pelan, menatap kagum sekeliling tiada henti. Dia benar-benar terhipnotis oleh keadaan tersebut.
Cempaka dibawa menuju ke salah satu kamar dari tiga kamar yang ada di lantai dua. Kamar utama tentu saja milik sang nyonya.
"Ini kamar utama, kamar Nyonya. Anda jangan sekali-kali memasukinya tanpa perintah dari saya!" Peringatan keras untuk Cempaka. Gadis itu mengangguk patuh, lagipula siapa yang akan memeriksanya.
Cempaka terhenyak ketika mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar tersebut. Ia mematung mendengarkan dengan saksama suara yang pertama kali didengarnya.
Cempaka menggaruk kepalanya dengan bingung, tapi tidak bertanya. Langkah mereka berlanjut melewati ruang tamu di lantai dua, di bagian kanan terdapat dua buah kamar. Salah satunya adalah kamar Cempaka.
"Ini kamar Anda. Masuklah!" Yudi membukakan pintu untuknya dengan lebar.
Cempaka memasukkan kepala ke dalam, melihat sebentar sebelum membawa dirinya masuk. Lagi-lagi ia dibuat kagum oleh keadaan kamar tersebut. Meski bukan kamar utama, tapi luasnya menyamai rumah petak yang dia huni bersama Baron.
"A-apa benar ini kamar saya, Pak?" tanya Cempaka. Seketika hati bergetar mengingat siapa yang telah menikahinya. Ia mereguk ludah membayangkan kehidupan seperti apa yang akan dia jalani ke depannya.
"Benar, Nona. Dan mohon maaf, panggil Yudi saja tidak usah memakai pak!" Laki-laki itu tersenyum memberitahu Cempaka.
Namun, gadis di depannya menggelengkan kepala, menolak permintaan dari laki-laki paruh baya itu.
__ADS_1
"Bapak seusia ayah saya. Jika menyebut nama saja, rasanya itu tidaklah sopan," cetus Cempaka mengulas senyum manis di bibir.
Hati Yudi menghangat, ini untuk pertama kalinya ia mendapat perlakuan hangat dari sang majikan.
"Terima kasih, Nona, tapi Tuan tidak akan menyukainya." Ia sedikit membungkuk, penuturannya membuat dahi Cempaka berkerut bingung.
"Kenapa?" Bertanya dengan wajah polosnya.
"Itu karena saya hanya pekerja di rumah ini, Nona." Ia tetap tersenyum, tak ada raut kecewa apalagi kebencian di wajahnya yang hampir keriput.
"Oh. Itu ... nanti saya coba bicara dengan tuan," ucapnya seolah-olah memiliki kesempatan untuk mengutarakan pendapat.
"Hanya jika Anda diberi kesempatan ... mari! Saya tunjukkan lemari pakaian Anda." Tangannya membentang, memaksa Cempaka untuk menghentikan percakapan dan melanjutkan untuk melihat-lihat.
Lagi-lagi, gadis itu berdecak kagum melihat lemari besar terbuat dari kayu terbaik di kelasnya, berdiri kokoh dengan ukiran bunga klasik yang menawan. Ada meja rias dengan cermin besar di samping lemari tersebut. Juga kamar mandi di dalam kamar.
"Ini besar sekali! Tidak seperti di rumahku," ucapnya mengusap pinggiran lemari tersebut. Ia menoleh seraya bertanya, "Boleh aku membukanya?"
"Silahkan!"
Cempaka memutar kunci, membuka perlahan lemari tersebut. Ia kira kosong karena tidak membawa sehelai benang pun kecuali yang melekat di tubuhnya.
"I-ini pakaian milik siapa?" tanyanya bingung.
"Itu milik Anda, Nona. Semua yang ada di kamar ini adalah milik Anda. Tuan yang meminta saya menyiapkan semua ini. Mulai sekarang gunakan pakaian yang ada di dalam sini. Peralatan make-up milik Anda sedang dalam perjalanan menuju rumah. Saya harap Anda bisa menggunakannya untuk menyenangkan hati tuan," papar Yudi panjang lebar.
Tercengang Cempaka, untuk seumur hidup dia tak pernah memiliki pakaian sebanyak yang ada di lemari itu. Tersusun sangat rapi dan teratur. Senyum puas tercetak di bibirnya, mengagumi tangan para pekerja yang begitu sempurna dalam melakukan pekerjaan.
"Tapi saya tidak bisa berdandan," cetus Cempaka jujur.
"Anda harus belajar. Menyenangkan hati tuan itu perlu, agar perasaannya selalu bahagia. Maka, keadaan rumah ini akan terhindar dari bala," ujarnya sambil tersenyum, tapi membuat Cempaka bingung.
__ADS_1
"Saya pamit undur diri. Silahkan menikmati waktu istirahat Anda," ucap Yudi seraya berbalik keluar dan menutup pintu dengan perlahan.
Cempaka termenung, melirik kasur yang sudah dapat dia pastikan kenyamanannya. Hawa sejuk dari AC yang berputar, membuatnya merasa nyaman. Ia merebah di atas ranjang mencoba untuk beristirahat dan melupakan semua luka yang pernah dilaluinya.